NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelapan Yang Menguasai

Ruang makan PT Aksara Murni tidak lagi dipenuhi oleh tawa basa-basi korporat. Hanya ada suara dengung halus dari mesin ventilator dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur ajal.

​Satya Aksara duduk tegak di kursi kebesarannya. Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, auranya telah melampaui orang dewasa mana pun. Ia mengenakan kemeja sutra hitam pekat. Matanya terpejam rapat, namun kepalanya bergerak-gerak kecil dengan presisi yang mengerikan.

​Di ujung meja, Alexa Kejora—wanita yang dulu memimpin dengan tangan besi—kini duduk menunduk. Tangannya yang memegang garpu gemetar halus. Ia tidak berani menatap wajah putranya sendiri.

​Satya hanya menggeser piringnya beberapa milimeter. Suara gesekan keramik itu membuat Alexa tersentak.

​"Terlalu matang," ucap Satya datar. Suaranya rendah, namun memiliki tekanan yang sanggup meremukkan mental.

​"Maaf, Satya. Akan Ibu ganti," bisik Alexa, ia menelan ludah, menahan supaya bahunya tidak bergetar hebat.

​Satya tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kecilnya, memerintahkan Alexa untuk tetap diam. Kepalanya perlahan menoleh ke arah ruang medis kaca di sudut ruangan. Di sana, Wijaya Aksara terbaring. Tubuhnya menyusut, kulitnya menghitam legam seolah-olah terpanggang dari dalam.

​Satya menyeringai tipis. Ia ingat hari itu. Hari ketika ayahnya mencoba melangkahi titahnya.

"Aku sudah memperingatimu, Ayah... tapi kau tidak mau mendengar." bisiknya.

​Tujuh Tahun Silam...

​Satu hari setelah kegagalan misi di Indramayu, Wijaya diliputi amarah, misinya menyingkirkan Jalal gagal total, ia sudah menghukum kedua orang itu, tapi hatinya tidak puas.

Alexa sedang pergi ke kantor, meninggalkan Satya bersama seorang pengasuh bernama Siska.

"Pak, maaf saya izin ke kamar mandi dulu." Siska menundukkan tubuhnya.

Wijaya hanya mengangguk, tiba-tiba Satya menangis meraung-raung, Wijaya membiarkan, menunggu Siska yang belum kembali dari kamar mandi. Raungan itu semakin kencang.

​Wijaya menghampiri boks bayi dengan kasar. "Diam, Satya!"

​Begitu tangan Wijaya menyentuh tubuh bayinya, Satya berhenti menangis. Bayi itu justru mengeluarkan tawa kering yang ganjil. Tangan mungil Satya mencengkeram pergelangan tangan kanan Wijaya.

​Seketika, Wijaya merasa ribuan jarum beracun menghujam pembuluh darahnya. Ia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman bayi itu sekuat baja. Wijaya melihat dengan ngeri; dari titik sentuhan itu, warna hitam pekat menyebar melalui urat-urat lengannya, merambat cepat menuju jantung.

​Satya melepaskan genggamannya dan kembali tertidur. Wijaya ambruk, kejang-kejang di lantai dengan kulit yang menghitam seketika. Siska yang baru kembali menjerit, ia lari kebawah memanggil penjaga.

Wijaya dibawa langsung ke rumah sakit, dalam keadaan tidak sadarkan diri.

----

​Laporan medis dari Rumah Sakit Pusat menunjukkan kondisi yang mustahil.

​"Nyonya Alexa," ujar Kepala Dokter dengan wajah pucat setelah observasi di ICU. "Tuan Wijaya mengalami Disseminated Intravascular Coagulation. Darahnya membeku secara instan di seluruh tubuh. Kami telah melakukan Total Blood Exchange untuk mengganti seluruh darahnya dengan darah bersih, namun racun neurotoksin itu sudah merusak saraf pusatnya secara permanen."

​Wijaya berhasil dipertahankan hidup, namun ia jatuh ke dalam koma yang tak berujung. Sejak saat itu, Alexa sadar: ia telah melahirkan sesuatu yang jauh lebih purba dari manusia.

bertahun-tahun Wijaya koma, tanpa ada perkembangan, dan Alexa menyaksikan perkembangan Satya yang mengerikan.

Umur enam bulan, Satya sudah bisa berjalan, seperti bayi umur satu tahun setengah.

Umur dua tahun, tempat tidur bayi yang terbuat dari besi bengkok, dan bayi itu sudah berdiri di atas lantai, tersenyum dingin.

Umur tiga tahun, Satya menuliskan di atas kertas, sebuah nama penjaga yang berkhianat, dan satu kata pertama yang diucapkannya, 'habisi'.

Umur lima tahun, Satya memukul salah seorang pembantu yang telat membawakan makan. Pembantu terpental sejauh empat meter, terbentur ke dinding dan harus dilarikan ke rumah sakit.

​Kembali ke Masa Kini...

​Seekor lalat terbang masuk, berputar-putar di dekat jendela. Satya tidak menoleh. Telinganya hanya bergetar halus mengikuti kepak sayap serangga itu.

​Zzzzt... zzzzt...

​Satya menjentikkan jarinya di udara. Takk! Lalat itu mendadak hancur berkeping-keping, seolah dihantam beban berton-ton dari ruang hampa.

​Alexa menahan napas. Putranya benar-benar bisa "melihat" segalanya tanpa perlu membuka mata.

​Satya memotong dagingnya, lalu meletakkan pisaunya dengan denting yang tajam.

​"Panggil dua orang itu," perintah Satya singkat.

​Alexa tahu siapa yang dimaksud. Dua pembunuh bayaran yang menyerang Ahmad tujuh tahun lalu. "Satya... mereka hanya menjalankan perintah Ayahmu saat itu."

​Satya tidak membalas. Ia hanya memberikan satu geraman kecil dari tenggorokannya. Suhu di ruangan itu seolah anjlok drastis. Aura kegelapan yang menyesakkan menyelimuti meja makan.

​"Panggil," ulang Satya. Kali ini lebih pelan, namun jauh lebih mengancam.

​Alexa segera berdiri dengan langkah gemetar. "Baik, Satya."

​Sambil berjalan keluar, Alexa menyadari bahwa ia kini hanyalah pelayan di rumahnya sendiri. Satya bukan lagi seorang anak; ia adalah pemangsa puncak yang sedang menunggu mangsa utamanya tumbuh di pesisir sana.

​Di meja makan, Satya kembali menyantap dagingnya dengan tenang. Di kepalanya, ia bisa merasakan getaran dari sebuah tempat yang jauh—tempat yang berbau garam dan lumpur.

​"Jalaludin..." bisik Satya pelan, hampir tak terdengar.

​Di luar, petir menyambar langit Jakarta yang cerah, seolah alam sedang memberi hormat pada sang raja kegelapan yang sedang menikmati kesunyiannya.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!