NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan paginya, Aira terbangun lebih awal. Kebiasaan bangun subuh di kontrakan tidak bisa hilang begitu saja. Ia melihat Dewa masih terlelap dengan sangat tenang. Aira memutuskan untuk turun ke dapur. Ia merasa lapar dan ingin membuatkan sarapan spesial untuk suaminya.

Namun, ada masalah kecil. Semua baju di lemari besarnya adalah gaun-gaun mewah dan gamis mahal yang disiapkan Nyonya Widya. Aira merasa tidak nyaman memasak dengan baju seheboh itu. Akhirnya, ia membongkar koper kecilnya yang ia bawa dari kontrakan.

Ia menemukan daster katun favoritnya, yang sudah agak tipis, bermotif bunga-bunga pudar, dan ada sedikit robekan di bagian ketiak yang sudah ia jahit sendiri.

"Ah, ini baru baju kerja!" gumam Aira senang.

Ia turun ke bawah dengan daster kebanggaannya itu. Di dapur, para koki kerajaan Pradipta yang sedang bersiap-siap dikejutkan oleh kehadiran sesosok wanita yang berlari-lari kecil menuju kompor.

"Pagi, Mas-mas semua! Jangan repot-repot, saya cuma mau goreng bakwan jagung buat Mas Dewa," sapa Aira ceria.

Para koki itu hanya bisa melongo. Mereka melihat Nyonya Muda Pradipta, istri dari orang terkaya di Jakarta, sedang berdiri di depan wajan berlapis emas dengan daster katun yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari harga satu ikat kangkung di supermarket mewah.

Tiba-tiba, Nyonya Widya masuk ke dapur. Beliau hendak meminta air lemon hangat, namun langkahnya terhenti saat melihat menantunya.

"Aira? Apa yang kamu lakukan di dapur? Dan baju apa yang kamu pakai itu?" tanya Nyonya Widya dengan mata membelalak.

Aira menoleh sambil memegang sutil. "Eh, Mama. Pagi, Ma. Ini daster keberuntungan saya, Ma. Adem banget kalau dipakai masak. Mama mau bakwan? Ini jagungnya manis banget lho."

Nyonya Widya memijat pelipisnya. "Aira... kita punya tamu jam sepuluh nanti. Kamu tidak bisa menemui mereka dengan baju... baju yang sudah tembus pandang di bagian belakang itu."

"Tenang saja, Ma. Nanti kalau tamu datang, saya ganti pakai gaun yang kemarin. Sekarang kan cuma di dapur," jawab Aira tanpa beban sambil membalik bakwan jagungnya dengan lincah.

Dewa yang baru turun, masih dengan piyama sutranya, langsung tertawa terpingkal-pingkal di ambang pintu dapur melihat perdebatan ibu dan istrinya.

"Biarkan saja, Ma. Itu namanya daster legendaris. Itu daster yang bikin aku jatuh cinta setiap hari," goda Dewa sambil memeluk Aira dari belakang, mengabaikan protes ibunya yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

Setelah sarapan, Dewa mengajak Aira berjalan-jalan di taman belakang rumah yang sangat luas. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon ek yang rindang. Suasana sangat tenang, hanya ada suara kicauan burung dan gemericik air terjun buatan.

Aira terdiam cukup lama, memainkan jemari Dewa yang besar.

"Mas," panggilnya lirih.

"Ya, Sayang?"

"Kadang aku merasa semua ini terlalu indah untuk jadi nyata. Aku takut ini cuma mimpi panjang. Aku takut nanti aku bangun, aku masih di kontrakan, dan Mas ternyata benar-benar cuma kuli yang bakal pergi kalau proyeknya selesai," Aira menunduk, matanya berkaca-kaca.

Dewa memutar tubuhnya, memegang kedua bahu Aira. Ia menatap mata istrinya dengan kesungguhan yang luar biasa.

"Aira, lihat aku. Memang benar semua kemewahan ini bisa hilang kapan saja. Gedung itu bisa runtuh, uang itu bisa habis. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah aku yang butuh kamu. Kamu yang menyelamatkan aku dari rasa sepi di rumah besar ini. Kamu yang membuat 'Dewa Arka Pradipta' merasa jadi manusia, bukan cuma mesin pencetak uang."

Dewa merengkuh Aira ke dalam pelukannya. "Jangan pernah merasa tidak pantas. Kamu adalah jantung rumah ini sekarang. Tanpa kamu, rumah ini cuma tumpukan semen dan marmer yang dingin. Maafkan aku karena sempat membohongimu, tapi percayalah, cintaku untukmu sama besarnya dengan cintaku di istana ini."

Aira menangis sesenggukan di dada Dewa. Rasa haru menyelimuti mereka berdua. Di balik tembok tinggi Pradipta, ada dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan yang sesungguhnya.

Jam menunjukkan pukul sepuluh. Aira sudah berganti pakaian menjadi sangat anggun dengan gaun berwarna navy yang membuatnya terlihat sangat berkelas namun tetap bersahaja.

Di ruang kerja Dewa yang luas, sudah duduk tiga orang pria tua berwajah serius, mereka adalah anggota dewan komisaris.

"Tuan Dewa, apakah Anda yakin?" tanya salah satu komisaris dengan nada ragu. "Mengalihkan 15% saham pribadi Anda kepada... Nyonya Aira?"

Dewa menandatangani berkas itu tanpa ragu sedikit pun. Ia menggeser kertas itu ke depan Aira.

"Sangat yakin. Istriku adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini. Jika aku tidak ada, dialah yang akan menjaga warisan Pradipta," tegas Dewa.

Aira gemetar saat memegang pulpen. Ia melirik Dewa. Dewa mengangguk, memberikan kekuatan melalui tatapan matanya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aira membubuhkan tanda tangannya.

Para komisaris itu terdiam, tidak berani membantah keputusan mutlak sang Tuan Muda. Namun, di sudut ruangan, Hans masuk dengan wajah yang sangat pucat.

"Tuan Muda... ada tamu tak diundang di gerbang depan," bisik Hans.

Dewa mengerutkan kening. "Siapa?"

"Bapak Surya dan Siska. Mereka membawa pengacara dan... mereka bilang bahwa keluarga Pradipta telah menipu tentang status Anda pada keluarga mereka. Mereka menuntut itu!"

Aira tersentak. Papa Surya? Siska? Kenapa mereka tidak pernah berhenti mengejarnya?

Dewa berdiri dengan tenang, namun aura membunuhnya keluar. "Suruh mereka masuk. Aku ingin lihat drama apalagi yang akan mereka mainkan."

Pintu ruang kerja terbuka. Papa Surya masuk dengan angkuh, diikuti Siska yang mengenakan baju sangat mewah, namun terlihat sangat norak.

"Wah, wah... jadi begini ya rasanya rumah orang kaya?" Siska berdecak sambil melihat sekeliling. Matanya tertuju pada Aira. "Heh, Aira! Jangan pikir karena kamu sudah jadi Nyonya Pradipta kamu bisa lupa pada keluargamu. Kami ke sini mau ambil apa yang seharusnya jadi milik kami!"

Papa Surya menggebrak meja kerja Dewa. "Dewa! Kau sudah menipuku. Aku akan menuntutmu atas penipuan yang kau lakukan pada putriku!"

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah belakang.

Duuaarr....

"MAS DEWA! LIHAT!" teriak Aira sambil menunjuk ke arah jendela.

Ledakan itu tidak hanya mengguncang kaca jendela ruangan kerja Dewa, tapi juga mengguncang nyali Papa Surya dan Siska.

Asap hitam yang membumbung di taman belakang menciptakan kepanikan sesaat, namun Dewa tetap berdiri kokoh, tangannya masih mencengkeram map hitam yang menjadi kartu as miliknya.

"Mas! Taman belakang!" teriak Aira dengan suara bergetar. Ia hendak berlari menuju taman, namun Dewa dengan sigap menarik lengan istrinya, menjaganya tetap berada di balik perlindungannya.

"Hans! Cek keamanan sekarang! Pastikan tidak ada penyusup masuk lebih jauh!" perintah Dewa dengan suara menggelegar. Hans langsung menghilang di balik pintu dengan langkah seribu.

Dewa kembali memutar tubuhnya, menatap Papa Surya dan Siska yang kini tampak gemetar, namun Siska yang keras kepala mencoba mengalihkan ketakutannya dengan kemarahan.

"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan dengan ledakan itu, Dewa!" teriak Siska sambil menunjuk-nunjuk wajah Dewa. "Kamu sudah menipu kami habis-habisan! Kamu datang ke rumah kami, membiarkan kami menghinamu, berpura-pura jadi kuli bangunan yang tidak punya masa depan, lalu menikahi Aira dengan mahar seratus ribu rupiah? Itu penghinaan bagi keluarga kami!"

Papa Surya ikut menguatkan posisinya, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Benar! Kau mempermainkan martabat kami! Kau sengaja menjebak Aira agar mau hidup susah di kontrakan kumuh itu padahal kau punya istana ini! Ini penipuan publik, penipuan status! Aku bisa menuntutmu atas dasar eksploitasi dan manipulasi terhadap putri kandungku!"

Aira melangkah maju, melepaskan diri dari pegangan Dewa. Matanya yang berkaca-kaca menatap ayahnya dengan rasa pedih yang amat dalam.

"Tuntut? Papa mau menuntut Mas Dewa karena apa? Karena dia ingin tahu siapa yang tulus mencintainya saat dia tidak punya apa-apa?" suara Aira parau. "Papa dan Siska tidak pernah peduli padaku. Papa justru yang menipu dirimu sendiri dengan keangkuhan itu. Selama di kontrakan, Mas Dewa bekerja keras, dia memperlakukan aku seperti ratu meskipun kami hanya makan tempe. Apakah itu yang Papa sebut penipuan? Mas Dewa memberikan kejujuran hati, sesuatu yang tidak pernah Papa berikan padaku!"

"Diam kamu, anak tidak tahu diuntung!" bentak Papa Surya. "Kau sudah dicuci otak oleh harta Pradipta ini!"

Dewa tertawa, suara tawa yang rendah, dingin, dan penuh kemenangan.

"Papa Surya," Dewa memajukan wajahnya, menatap pria tua itu dengan mata tajam bak elang. "Kau bilang aku menipu? Mari kita bicara tentang penipuan yang sesungguhnya. Mahar seratus ribu itu adalah tes. Dan kalian gagal total. Kalian membuang Aira saat kalian mengira aku miskin, dan sekarang kalian datang mengemis saat tahu aku kaya?"

Dewa melingkarkan tangannya di bahu Aira, menariknya mendekat. "Hans, seret mereka keluar. Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di tanah Pradipta lagi."

"Dewa! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja! Aku akan menuntutmu di pengadilan untuk hak mahar anakku yang seharusnya pantas untuk keluargaku!" teriak Papa Surya saat Hans dan dua orang penjaga keamanan berbadan besar menarik lengan mereka.

"Aira! Ikut Papa! Papa pastikan kau mendapatkan hak yang seharusnya kau dapatkan!"

Aira memalingkan wajahnya, ia membenamkan wajahnya di dada Dewa. Hatinya hancur, namun ia tahu bahwa memaafkan mereka hanya akan membuat mereka kembali menyakitinya.

"Keluarga yang sebenarnya, tidak akan membiarkan anaknya menderita di tangan orang lain demi uang, Pa," gumam Aira pelan, hampir tidak terdengar.

Siska terus berteriak-teriak histeris sampai suaranya menghilang di koridor gedung.

Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Para komisaris yang sejak tadi menonton drama itu hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa Dewa Arka Pradipta bukanlah orang yang bisa mereka remehkan.

Setelah semua orang pergi, Dewa menuntun Aira duduk di sofa. Ia berlutut di depan istrinya, memegang kedua tangan Aira yang masih dingin dan bergetar.

"Maafkan aku, Ai. Gara-gara aku, keluargamu jadi seperti itu," ucap Dewa tulus.

Aira menggeleng, air matanya jatuh membasahi pipi. "Bukan salahmu, Mas. Mereka memang sudah seperti itu sejak lama. Aku hanya... aku hanya tidak menyangka Papa setega itu mau menuntutmu hanya karena kamu berpura-pura miskin."

Dewa mengusap air mata Aira dengan ibu jarinya. "Dulu aku takut memberitahumu, karena aku takut kamu akan pergi karena merasa dibohongi. Tapi ternyata, dunia luar jauh lebih kejam daripada kebohonganku."

Aira menatap Dewa, lalu tiba-tiba ia mencubit lengan Dewa dengan cukup keras.

"Aw! Sakit, Sayang! Kenapa dicubit?" keluh Dewa sambil mengusap lengannya.

"Itu hukuman karena mahar seratus ribu!" celetuk Aira sambil terisak namun ada sedikit tawa di wajahnya. "Mas tahu tidak, gara-gara mahar seratus ribu itu, Siska pamer padaku kalau maharnya nanti bakal satu miliar! Aku jadi malu di depan para tetangga!"

Dewa tertawa, ia menarik Aira ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.

"Iya, iya, aku minta maaf. Nanti malam, aku akan berikan 'mahar tambahan'. Kamu mau apa? Mall? Atau mau beli seluruh pabrik tempe di Jakarta supaya kamu tidak perlu makan tempe kotak lagi?"

Aira tertawa kecil di dalam dekapan Dewa. "Aku cuma mau Mas jangan pernah bohong lagi. Dan... aku mau makan bakwan jagung buatanku sendiri, tanpa diganggu masa lalumu atau Papa Surya."

"Siap, Nyonya Besar Pradipta," bisik Dewa.

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!