Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Itu Butuh Tantangan!
Sesampainya di pusat tinju, Melody langsung melompat turun dari mobil Messy. Jantungnya berdegup kencang saat melihat mobil BMW hitam yang diparkir tak jauh dari situ. Bentuknya persis seperti milik Adden.
"Melody..." Messy memanggil, lalu menganggukkan kepala menunjuk arah pintu masuk. "Ayo, lewat sini."
Melody mengikutinya masuk. Hidungnya langsung disambut bau khas karet, keringat, dan hawa dingin AC. Suara hentakan, napas terengah, serta obrolan cowok-cowok terdengar jelas dari balik dinding cat hitam dan merah.
Lantai berwarna hitam dan abu-abu terasa empuk di bawah sepatunya. Messy membawa tas olahraga di bahunya saat mereka berjalan melewati sekat dinding itu.
Mata Melody langsung terpaku melihat tiga ring tinju berdiri tegak di ruangan luas itu. Di sebelah kanan ada ring khusus MMA. Sepanjang dinding tertata rapi matras, beban, dan samsak merah. Lengkap sekali untuk latihan kickboxing.
Di sisi kiri, ada instruktur yang sedang mengajar anak-anak kecil. Ada juga tribun kecil buat penonton. Beberapa cowok sibuk memukuli samsak, yang lain fokus angkat beban. Melody tak menyangka Messy ternyata juga latihan kickboxing selain sepak bola.
"Aku mau ganti baju dulu. Kamu duduk aja di situ. Kalau haus, ambil minum di resepsionis, sebutin nama aku, nanti ditagih ke akun aku."
Melody menghela napas lega. Setidaknya dia tidak perlu repot cari botol kosong atau antre di tempat isi ulang air.
"Oke," jawabnya singkat.
Ia berjalan menuju area tribun dan langsung melihat sosok Giggi duduk di sana.
"Ya ampun, Melody! Kamu beneran datang? Gila banget!" seru Giggi antusias.
Melody mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Messy nanya mau ikut atau enggak."
Senyum mengembang di bibir Giggi. "Jojo pasti senang kalau aku sering ke sini. Nanti habis ini kita bisa ngobrol dan makan bareng."
Melody duduk di sebelahnya, merapikan hoodie yang dikenakan, lalu menyibakkan kedua kepang panjangnya ke depan dada. "Kamu sering nonton di sini?"
Mata Giggi langsung berbinar saat melihat Messy keluar dari ruang ganti. Pria itu hanya pakai celana pendek dan tanpa baju. Dari cara pandangannya yang tak lepas, Melody bisa langsung menebak jawabannya.
Melody ikut menoleh mengikuti arah pandang itu. Dadanya seketika sesak. Sialan. Dia ada di sini. Melody sama sekali tidak tahu kalau Adden ikut latihan bareng Messy. Pria itu bertelanjang dada, membiarkan seluruh tato yang menghiasi tubuhnya terlihat jelas.
Salah satu tato berbentuk seperti perban besar tepat di area jantung menarik perhatian Melody. Matanya lalu turun menyapu perut six-pack-nya yang bergerak ritmis setiap kali tinju dan kakinya menghajar samsak. Tubuhnya sempurna.
Adden memang jago bertarung. Melody sudah sering melihat cowok berkelahi, tapi belum pernah ada yang memukul sebersih dan sekuat dia.
Tak heran kalau murid-murid di Gonzaga sangat menghormatinya. Bahkan yang badannya besar pun tak berani cari masalah sama Adden.
Pandangan Melody tak bisa lepas. Lengan kekar itu kini basah oleh keringat. Rambut hitam legamnya yang tampak kebiruan kini basah dan berkilau.
Ingatan tentang bagaimana tubuh kokoh itu menempel di belakangnya saat di sofa, kembali menerpa pikirannya. Sekarang Melody mengerti kenapa orang-orang takut kalau dia sudah mendekat. Adden benar-benar tahu cara melumpuhkan lawan mainnya.
"Iya sih ... Aku merasa aman aja tahu ada kakak yang bisa jagain aku," sahut Giggi memecah keheningan.
Melody paham betul perasaan itu. Dulu dia juga sangat berharap punya sosok pelindung seperti itu. Yang paling dekat hanyalah Noah.
Namun diam-diam, ada keinginan kecil di hatinya. Ia berharap sosok itu adalah cowok yang kini sudah dewasa dan sedang memukuli samsak di depannya.
Adden akhirnya berhenti memukul. Napasnya tersenggal, tubuhnya basah kuyup, membuatnya terlihat sangat memikat.
"Hei, Adden! Lihat nih siapa yang datang!"
Seketika, sebuah senyuman tipis terukir di bibir Adden saat ia menoleh ke arah Giggi.
Melody merasa cemburu melihatnya. Kenapa cuma dia yang dapat tatapan dingin, sementara Giggi bisa mendapatkan senyuman itu?
Untuk sesaat, Melody bahkan merasa benci pada temannya itu. Tapi ia segera menepis pikiran buruk itu. Giggi sudah sangat baik padanya selama ini. Melody harus bisa menghargai itu.
"Giggi..." panggil Melody.
"Kenapa?"
Melody mengedarkan pandangan sekilas, memastikan tidak ada orang yang berada di dekat mereka. Giggi menatapnya penuh rasa ingin tahu, menunggu gadis itu mulai bicara.
"Cerita aja semua. Aku tahu kamu suka sama dia."
Giggi menunduk memandangi tangannya sendiri. "Ya jelaslah, aku kenal dia sejak kelas enam. Dia itu sahabat kakakku."
Gerak-gerik gadis itu terlihat gelisah, persis seperti pencuri yang ketahuan. Melody tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Santai aja, Giggi. Aku nggak bakal teriak-teriak kasih tahu semua orang. Apalagi di depan Messy dan kakakmu."
Bahu Giggi langsung terlihat lebih rileks. Gadis itu mendongak, menatap mata Melody dengan tatapan lega.
"Aku naksir dia sejak kelas delapan, tapi dia nggak tahu, lah. Dia nggak pernah nganggep aku lebih dari teman."
Melody melirik sekilas ke arah sekumpulan cowok yang sedang mengobrol di kejauhan. Suara mereka tak terdengar dari sini karena jaraknya cukup jauh.
Punggung Adden menghadap ke arah mereka, sementara Messy berdiri membelakangi pandangan Jojo. Posisi itu membuat cowok itu tidak bisa melihat mereka berdua.
"Abaikan aja dia."
"Hah?"
Melody memang sering melihat Messy melirik Giggi. Cowok itu jelas tertarik secara fisik dan selalu bersikap sopan, tapi tidak lebih dari itu.
Messy tidak pernah bergerak karena Giggi terlalu ramah dan murah senyum pada semua orang. Di mata Messy, Giggi hanyalah 'si manis'.
Ditambah lagi, status Giggi sebagai adik sahabatnya membuat cowok itu sadar kalau gadis itu adalah 'larangan'. Kalau sampai ketahuan dia punya pikiran liar tentang adiknya, pasti habis dia dimarahi kakaknya Giggi.
Dari pengamatannya, Messy tipe cowok yang kalau terlalu dikejar atau diberi perhatian lebih malah jadi bosan. Dia suka tantangan. Dia mau sesuatu yang sulit didapat. Dan dalam hal ini, Giggi adalah tantangan yang pas buat dia.
"Abaikan aja dia. Kalau dia lihatin kamu, jangan senyum. Jangan juga kamu yang nyamperin atau nyapa duluan di sekolah. Kalau dia natap, buang muka. Berhenti kasih perhatian penuh ke dia. Jangan bikin orang yang kamu suka jadi gampang banget dapetin perhatianmu."
"Oh ...." Giggi menggeser duduknya mendekat di bangku itu. Melody menunduk sedikit saat gadis itu berbisik pelan. "Kamu dulu juga gitu ya biar Adden suka sama kamu?"