NovelToon NovelToon
Aku Tak Sempurna

Aku Tak Sempurna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Meitania

Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.

Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.

"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....

......

Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...

Semoga suka dengan cerita baru nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip

Setelah semalam Dita tak bisa tidur karena terus terbayang saat tangannya di pegang Feri. Terlihat berlebihan mungkin bagi sebagian orang tapi bagi Dita itu suatu hal yang sangat mendebarkan. Jangankan bersentuhan tangan melihat Feri saja jantung Dita sudah berdenyut kencang dan Dita belum pernah mengalami hal ini sejak remaja.

Dengan muka kusut Dita turun menuju meja makan. Seingatnya Papi nya seharusnya sudah pergi ke rumah sakit karena ada jadwal operasi tapi Dita mendengar samar-samar Mami nya tengah berbincang dan terdengar suara laki-laki menjawab ucapan Mami nya. Dita pun tak ambil pusing dirinya langsung saja menuju meja makan.

"Pagi Mi.." Sapa Dita lesu.

"Pagi sayang. Kok lesu begini?" Tanya Ibu Rani.

"Dita ngga bisa bobo Mi." Jawab Dita belum menyadari kehadiran seseorang di meja makan.

Dita duduk dan menyendok nasi goreng ke dalam piringnya dan sepotong telur. saat Dita membuka mulutnya untuk memasukkan nasi goreng barulah Dita melihat ada orang yang sudah membuatnya tak tidur semalaman.

"Hm..."

"Kenapa sayang? Nasi gorengnya keasinan ya?" Tanya Ibu Rani.

"Hm.. Ngga Mi." Jawab Dita singkat setelah menelan nasi goreng di mulutnya.

"Pagi Dita." Sapa Feri.

"Hm.. Pagi.." Jawab Dita gugup.

"Hari ini Mami pake mobilnya ya. Mobil Mami jadwal servis. Kamu ikut sama Nak Feri ngga apa-apa kan?" Ibu Rani.

"Uhuk...uhuk...uhuk..."

"Sayang pelan-pelan.. Minum dulu." Ibu Rani.

"Makasih Mi." Jawab Dita setelah meminum air putih yang di sodorkan Ibu Rani.

"Nak Feri ngga apa-apa kan antar Dita ke rumah sakit?" Tanya Ibu Rani.

"Dengan senang hati Tante."

"Dita naik taksi aja Mi. Nanti ngerepotin." Dita.

"Ngga kok. Sekalian jalan." Feri.

Setelah beberapa kali menghindar akhirnya Dita pun menyerah untuk di antarkan Feri ke rumah sakit. Ini kali pertama Dita melihat Feri menggunakan seragam dinasnya. Terlihat gagah dan berkali-kali lipat gantengnya.

"Kenapa liatin aku terus?" Tanya Feri karena selama di perjalanan Dita terus mencuri-curi melihatnya.

"Hah! Ngga kok.." Dita.

"Kalo mau liat tuh langsung aja liat ngga apa-apa kok ikhlas. Jangan lirik-lirik gitu." Feri.

"Apaan sih. Nyetir aja deh yang bener entar kenapa-napa lagi." Jawab Dita malu-malu.

"Nanti pulangnya aku jemput lagi ya. Kita ketemu anak-anak." Feri.

"Hah! Eh, Ng..."

Belum sempat Dita mencari alasan Feri langsung memotong kegugupan Dita.

"Ngga terima penolakan Bu Dokter. Saya telfon nanti ya. Jangan kabur." Feri.

Tanpa menjawab lagi Dita turun dari mobil Feri dan bergegas masuk ke dalam lobi rumah sakit. Semua mata melihat ke arah Dita. Gosip terbaru Dita di antarkan seorang pria. Karena biasanya jika tidak dengan Dokter Wijaya maka Dita akan di antar Hendrik atau Nanda yang kebetulan datang ke kota Y.

"Dokter Dita. Pacarnya ya? Satuan mana Dok?" Tanya seorang perawat yang kebetulan memiliki kekasih seorang polisi juga.

"Hah! Aduh maaf saya ngga tau." Jawab Dita jujur.

Kemudian Dita pun segera melangkahkan kakinya kembali menuju ruangannya. Laela yang melihat gelagat sahabatnya yang aneh pun mengikuti Dita sampai ke ruangannya.

"Astaga! Laela... Bisa bersuara ngga sih kamu?! Kenapa tiba-tiba di sini sih." Dita.

"Perasan gw jalan biasa aja deh ngga melayang." Laela.

"Ada apa gerangan dokter Laela yang cantik jelita tapi masih kalah cantik sama gw?" Tanya Dita.

"Lu di anterin cowok mana? Heboh bener di lobi." Laela.

"Feri." Jawab Dita singkat.

"Eh, Pak polisi itu?" Laela.

"Bukan tukang parkir. Ya iya lah mana lagi." Dita.

"Kok bisa?" Laela.

"Bisa aja. Itu buktinya tadi gw di anterin dia." Jawab Dita santai.

"Ada gosip yang gw lewati sepertinya." Laela.

"Ngga usah bikin gosip pagi-pagi Dok. Berdosa. Sebaiknya Dokter segera kembali bekerja. Jangan bawa keponakan saya ini jadi biang gosip." Ucap Dita mengusap perut Laela.

"Hus... Bisa-bisanya lu ya." Laela.

"Udah sana ah. Visit gw." Dita.

Mereka pun berpisah mengerjakan tugas masing-masing. Kali ini Dita tidak menerima pasien pemeriksaan karena tidak ada jadwal. Dita hanya di kantor dan menghadiri rapat mingguan. Dokter Wijaya pun ikut hadir dalam rapat sebagai pemilik rumah sakit yang memang belum di alihkan pada Dita. Bukan tak percaya memberikan aset secara sah hanya saja Dita yang masih menolak.

Dita selalu beralasan jika semuanya milik Dania Dita hanya menjalankan saja. Tapi satu hal. Dania telah tiada dan Dita mau tak mau harus siap menerima semua aset milik Dokter Wijaya. Karena Dokter Wijaya tak memiliki adik atau Kakak. Orang tuanya pun telah berpulang. Jadi hanya Dita dan Ibu Rani yang dia miliki.

Tak ingin menjadi perdebatan akhirnya Dokter Wijaya pun masih ikut berkecimpung di rumah sakit miliknya walau kepemilikan sudah berganti nama menjadi milik Dita. Karena Dokter Wijaya sudah merubahnya tanpa sepengetahuan Dita.

Rapat berjalan lancar perkembangan rumah sakit terus menunjukan kemajuan. Seperti biasa rumah sakit akan mengadakan acara amal tahunan di pertengahan tahun. Rumah sakit akan bersiap mengadakan pemeriksaan gratis selama 3 hari. Itu sudah menjadi jadwal yang tak bisa di rubah.

"Pi, tadi Mas Feri ngajakin Dita pulang ke rumah nya buat ketemu anak-anak nya. Boleh?" Dita.

"Selama kamu nyaman boleh saja nak." Dokter Wijaya.

"Hm... Sebenarnya Dita belum siap Pi. Tapi Dita ngga enak." Dita.

"Jangan di paksakan ya. Ikuti kata hati saja. Jika belum siap boleh besok atau lusa. Bilang saja dengan Feri baik-baik pasti dia mengerti." Dokter Wijaya.

"Tapi Dita ngga tau kapan siap nya Pi. Dita gugup.." Dita.

"Anak Papi anak hebat. Bertemu bayi dan anak-anak sudah menjadi makanan sehari-hari. So, anggap saja kamu mau home visit. Jangan banyak di fikirin oke." Dokter Wijaya.

"Makasih Pi." Jawab Dita memeluk Dokter Wijaya.

Mereka berdua masih di ruang rapat. Dita sengaja menahan Dokter Wijaya untuk berbicara terlebih dahulu.

"Papi langsung pulang atau masih ada jadwal?" Tanya Dita kemudian.

"Papi mau visit dulu sebentar terus pulang. Ada 1 lagi harusnya tapi plus." Dokter Wijaya.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Ibu bayi nya Pi?" Dita.

"Iya Nak. Keluarga menolak di keluarkan bayinya. Entahlah masih dalam perdebatan keluarganya. Kita hanya memberikan masukan saja semuanya tergantung kepercayaan masing-masing." Dokter Wijaya.

"Ya sudah.. Papi hati-hati di jalan ya pulangnya. Dita langsung pulang sekarang. Mas Feri sudah ada di depan katanya." Dita.

"Ya sudah. Bilang sama Feri hati-hati nyetirnya soalnya bawa berliannya papi sama Mami ini." Dokter Wijaya.

"Siap Dokter!" Jawab Dita.

Mereka pun berpisah pada tujuan masing-masing. Walau terasa gugup namun Dita berusaha sebagai mungkin. Karena, mau menghindar pun pasti tetap harus bertemu juga.

1
farah
baru awal cerita sdh bikin penasaran, ada apa dgn dhita?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!