Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Interogasi di Bawah Langit Paris
Gema langkah kaki Enzo Romano yang menjauh masih menyisakan getaran halus di lantai dapur praktik yang dingin. Kiandra Zanitha tetap mematung di samping meja marmer, tangannya meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Udara di sekitarnya seolah masih menyimpan sisa panas dari tubuh pria itu—aroma maskulin yang merupakan perpaduan antara kayu cendana, kesegaran lemon, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: otoritas murni.
Napas Kiandra masih memburu, pendek dan patah-patah. Di dalam kepalanya, sebuah sirkus kekacauan sedang berlangsung.
Tuhan? Dia bilang dia Tuhan di sini? Kiandra membatin dengan nada merana yang absurd. Tuhan macam apa yang membiarkan handuknya meluncur bebas ke lantai kayu di depan mahasiswinya sendiri? Kalau dia Tuhan, berarti kemarin aku melihat... ah, lupakan! Fokus, Kiandra! Fokus!
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau bayangan otot punggung Enzo yang bergerak seksi saat pria itu membungkuk memungut handuk semalam. Namun, memori itu seolah memiliki resolusi 4K yang menolak untuk buram.
Dengan gerakan kasar, ia merogoh saku apronnya, memastikan kertas "aturan tambahan" yang baru saja ia tandatangani masih ada di sana. Kertas itu terasa kaku dan dingin, sebuah bukti otentik bahwa ia baru saja menjual sisa-sisa kebebasannya pada iblis berwujud Chef Italia.
Kiandra merapikan apron putihnya yang sedikit kusut, memastikan tidak ada noda wortel yang tertinggal, lalu menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia harus keluar. Ia tidak bisa bersembunyi di dapur ini selamanya, meskipun rasanya lebih aman berada di antara pisau-pisau tajam daripada menghadapi dunia luar sekarang.
Begitu ia mendorong pintu ganda dapur praktik, sebuah "ambush" sudah menantinya.
"Spill the tea, Kiandra Zanitha! Sekarang juga!"
Mei Ling berdiri tepat di depan pintu dengan tangan bersedekap di dada. Matanya yang biasanya ceria kini menyipit penuh selidik, seolah ia sedang menginterogasi tersangka utama kasus pencurian resep rahasia.
Di sampingnya, Diya Kapoor muncul sambil mengibaskan rambut hitam tebalnya yang berkilau. Aroma parfum mahal—sesuatu yang berbau seperti mawar gurun dan kemewahan—langsung menyerbu indra penciuman Kiandra.
"Kedipan itu bukan kedipan biasa, Darling," Diya menimpali dengan suara serak yang elegan. "Itu kedipan 'aku-tahu-rahasiamu'. Kamu punya skandal dengan Chef Romano?"
Kiandra terkesiap, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. Ia menggelengkan kepala dengan kecepatan yang bisa membuat lehernya terkilir.
"Nggak, Diya! Mana mungkin? Aku baru sampai di Paris dua hari lalu! Aku bahkan nggak tahu dia itu dosen di sini sampai dia masuk kelas tadi!"
Telapak tangan Kiandra mendadak dingin. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang yang penuh dengan gosip kampus yang mematikan.
"Tapi Bro Enzo nggak pernah ngedipin mahasiswi, apalagi yang masih maba kayak kamu," Jaxson Cole berjalan mendekat dengan langkah santai, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Seringai lebarnya memperlihatkan deretan gigi putih yang kontras dengan kulit gelapnya.
"Kamu beneran nggak pakai pelet dari Indonesia, kan? Aku dengar di sana ada ilmu hitam yang bisa bikin orang jatuh cinta?"
"Pelet apaan? Yang ada aku yang kena pelet handuk melorot dia semalam!" Kiandra menjerit dalam hati, sementara wajahnya mulai memanas hebat.
"Mungkin itu hanya... iritasi mata?" Adele Moreau menyela dengan suara lembut, mencoba memberikan pembelaan yang terdengar sangat tidak masuk akal bahkan di telinganya sendiri.
Juliette Laurent yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum elegan, namun matanya yang berwarna hijau zamrud memancarkan rasa penasaran yang sama besarnya.
"Enzo Romano itu sangat dingin, Adele," Juliette berujar sambil merapikan letak syal sutranya.
"Dia bahkan tidak pernah tersenyum di depan publik selama tiga tahun terakhir. Dia adalah definisi dari profesionalisme yang kaku. Kedipan itu... itu adalah anomali sejarah di Le Cordon Bleu."
"Iritasi mata kepalamu!" Mei Ling mendengus, lalu menarik lengan Kiandra dengan paksa. "Itu jelas-jelas sinyal radio aktif! Ayo, kita ke kantin. Kamu nggak akan bisa lolos sebelum cerita semuanya."
Kiandra terpaksa mengikuti tarikan Mei Ling, kakinya melangkah gontai menyusuri koridor kampus yang ramai. Dinding-dinding kaca yang memperlihatkan dapur-dapur canggih di sisi kiri dan kanan seolah ikut menatapnya dengan penuh tanya.
Kepalanya berputar cepat, mencari alasan yang paling logis dan paling aman untuk menyelamatkan reputasinya.
"Oke, oke! Dengar," Kiandra memulai saat mereka mulai menjauh dari area dapur praktik.
"Aku... aku sempat bertemu dia di jalan kemarin. Dekat Rue de Rivoli."
Langkah rombongan itu melambat. Mei Ling menoleh dengan mata membelalak. "Di jalan?"
"Iya," Kiandra mengangguk mantap, mencoba memasang wajah paling jujur sedunia.
"Aku hampir tertabrak sepeda karena aku masih bingung sama arah jalan di sini. Dia yang kebetulan lewat dan menolongku. Mungkin dia cuma ingat wajahku yang memalukan saat itu."
Diya berhenti melangkah, menatap Kiandra dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. "Hanya itu? Dia menolongmu, lalu dia mengingatmu sampai ke kelas?"
"Mungkin karena aku hampir menabraknya juga?" Kiandra menambahkan dengan nada ragu yang dibuat-buat.
"Dia kelihatan kesal banget kemarin. Makanya tadi pas dia lihat aku di barisan depan, dia kayak... 'oh, anak ceroboh ini lagi'."
Jaxson tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di koridor. "Wah, beruntung banget. Kalau aku yang hampir tertabrak, paling dia cuma bilang 'fokus pada langkahmu, amatir!' sambil melotot. Kamu beneran punya keberuntungan maba, Ki."
Kiandra mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Sepertinya kebohongannya cukup bisa diterima. Mereka sampai di kantin kampus yang bising dengan denting alat makan perak dan obrolan dalam berbagai bahasa—Prancis, Inggris, Mandarin, hingga Spanyol. Ruangan luas itu memiliki jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah Sungai Seine yang berkilau di bawah matahari musim gugur.
Aroma mentega yang gurih, saus anggur merah yang pekat, dan kopi espresso yang kuat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sangat Parisian. Juliette memilih meja di sudut yang agak tenang, meletakkan tas tangannya dengan gerakan yang sangat anggun.
"Aku akan pesan Salade Niçoise," ucap Diya sambil duduk. "Aku harus diet ketat karena minggu depan ada pesta besar di kedutaan India. Aku tidak mau terlihat seperti karung gandum di depan para diplomat."
"Aku mau Croque Monsieur yang ekstra keju," Mei Ling menimpali dengan semangat. "Ki, kamu mau apa? Aku yang traktir sebagai bayaran gosip setengah matangmu tadi."
"Eh, nggak usah Mei. Aku pesan sendiri saja," Kiandra menolak halus. Ia butuh waktu beberapa detik untuk sendirian, menjauh dari tatapan selidik teman-temannya.
Ia berjalan menuju konter makanan, berdiri di antrean yang cukup panjang. Matanya menatap kosong ke arah deretan pastry yang tertata cantik di balik kaca. Pikirannya kembali melayang ke dapur praktik tadi. Sentuhan tangan Enzo di atas tangannya saat memandu pisau... panasnya masih terasa di kulitnya. Dan bisikan pria itu di telinganya...
Jangan membayangkan apa yang kamu lihat kemarin di apartemen ke dalam dapurku, Piccola.
Kiandra merinding. Pria itu benar-benar tahu cara mempermainkan mental seseorang.
Gila, hampir saja, batin Kiandra sambil memijat pelipisnya. Kalau mereka tahu aku tinggal satu atap sama dia, aku bisa dideportasi dari pertemanan ini. Atau lebih buruk lagi, aku dianggap mahasiswi yang 'menjual diri' demi nilai.
Suara tawa Jaxson terdengar dari meja mereka, ia sedang memperagakan gaya bicara Enzo yang kaku dengan punggung tegak.
"Aku adalah Tuhan kalian! Hahaha, dia pikir ini film Godfather apa? Dia tinggal butuh kucing hitam di pangkuannya dan dia resmi jadi mafia kuliner!"
"Tapi dia memang punya aura itu, Jax," Juliette menyahut sambil menyesap air mineralnya.
"Otoritasnya tidak bisa dibantah. Ada alasan kenapa dia menjadi dosen termuda yang memegang gelar Wine Expert legendaris di sini."
Kiandra kembali ke meja dengan nampan berisi sepotong Quiche hangat dan botol air mineral. Ia duduk dengan tenang, mencoba ikut dalam obrolan ringan teman-temannya.
"Tapi serius, Ki," Mei Ling menatap Kiandra dengan nada yang tiba-tiba serius. "Hati-hati sama dia. Enzo Romano itu perfeksionis gila. Jangan sampai kamu jadi sasaran empuk cuma karena insiden 'tabrakan sepeda' itu. Dia nggak segan-segan menendang mahasiswa keluar kalau kemampuan orang itu dianggap tidak sesuai standarnya."
"Iya, Mei. Aku bakal jaga jarak. Banget," jawab Kiandra sungguh-sungguh. Ia bahkan berencana untuk menjadi bayangan yang tidak terlihat di kampus.
"Omong-omong," Diya memutar garpunya di atas selada. "Kalian sudah dengar soal Blake Harrington dari Sciences Po? Katanya dia sering mampir ke perpustakaan kita cuma buat cari 'pemandangan baru'. Dia bosan dengan gadis-gadis politik yang terlalu serius."
"Maksudmu cari mahasiswi kuliner buat diajak kencan mewah?" Mei Ling terkekeh. "Keluarga Harrington itu kan yang punya setengah dari aset di London dan Paris."
"Blake itu sangat pemilih," Juliette menambahkan. "Tapi kalau dia sudah mengincar seseorang, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkannya. Dia punya reputasi sebagai 'pemburu' yang sangat sabar."
Kiandra hanya mendengarkan sambil mengunyah quiche-nya yang terasa hambar di lidah. Ia tidak tertarik pada nama asing itu. Pikirannya masih tertuju pada kertas di saku apronnya. Ia merogoh sakunya, menyentuh kertas itu dengan ujung jarinya, merasakan teksturnya yang kaku dan kasar.
Satu tahun. Aku harus bertahan satu tahun dengan monster itu tanpa ketahuan siapa pun. Aku harus jadi anak baik, lulus dengan nilai sempurna, dan pulang ke Jakarta tanpa cacat sedikit pun, tekadnya dalam hati.
Tiba-tiba, ponsel Kiandra yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar, menampilkan nama yang paling ia takuti di dunia ini.
Papa (Dirga): "Ki, nanti malam Papa mau video call jam 8 malam waktu Paris. Papa mau bicara sama teman sekamarmu, mau titip kamu secara resmi biar Papa tenang di sini."
Uhuk!
Kiandra tersedak potongan quiche-nya dengan hebat. Rasa panas menjalar dari tenggorokan hingga ke hidungnya. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah padam dan matanya berair.
"Ki! Kamu nggak apa-apa?" Mei Ling panik, segera berdiri dan menepuk-nepuk punggung Kiandra dengan keras. "Minum, Ki! Minum!"
Kiandra menyambar botol air mineralnya, meneguknya dengan rakus, namun matanya tetap terkunci pada layar ponsel dengan horor yang murni. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena Enzo, tapi karena ancaman bencana yang jauh lebih besar.
"Aku harus bilang apa kalau Papa tanya tentang teman kontrakanku?"