"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membentengi diri
Mendengar cerita Mely, pikiran Kanaya langsung berkecamuk. Satu mantan saja sudah cukup membuat energinya terkuras habis di posko ini, ia sama sekali tidak sudi jika harus terseret ke dalam pusaran drama masa lalu orang lain—apalagi menjadi sasaran amukan cemburu Clarissa.
"Pokoknya, gue harus jaga jarak sama Kak Wisnu," batin Kanaya tegas. Ia tidak ingin KKN yang baru dimulai ini hancur berantakan hanya karena urusan asmara.
Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, perut para anggota mulai kembali berbunyi. Sesuai jadwal, kelompok satu harus kembali turun ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Kanaya menarik napas panjang sebelum keluar kamar, menata hatinya agar bisa bersikap sedingin dan seprofesional mungkin.
Di dapur sederhana itu, keempatnya kembali berkumpul: Kanaya, Lisa, Wisnu, dan Arman. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda dari tadi subuh.
Begitu masuk dapur, Kanaya langsung mengambil posisi di sebelah Lisa yang sedang mencuci beras. Ia sengaja menempel ketat di dekat sahabatnya itu.
"Lis, biar aku yang potong tempe sama tahunya ya. Pakai tangan kiri masih bisa kok, pelan-pelan," ujar Kanaya setengah berbisik, langsung mengambil alih pekerjaan tanpa memberikan celah bagi siapa pun untuk melarangnya.
"Eh, Nay..." Wisnu yang baru saja masuk sambil membawa sayuran menoleh ke arah Kanaya. "Jari kamu beneran udah nggak apa-apa? Kalau masih perih, jangan dipaksa. Biar gue aja yang—"
"Nggak apa-apa, Kak Wisnu. Udah sembuh kok, cuma luka kecil," potong Kanaya cepat, bahkan sebelum Wisnu menyelesaikan kalimatnya.
Suara Kanaya terdengar sangat datar, formal, dan penuh jarak. Ia bahkan sengaja tidak menatap mata Wisnu sama sekali, melainkan terus memfokuskan pandangannya pada pisau dan papan talenan di hadapannya.
Wisnu sempat tertegun di tempatnya. Ia merasakan perubahan sikap Kanaya yang mendadak dingin dan acuh tak acuh, sangat berbeda dengan respons hangat yang perempuan itu berikan tadi pagi. Wisnu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bingung dan agak kikuk dengan penolakan halus tersebut.
Sementara itu, di sudut dapur yang lain, Arman yang sedang memotong cabai diam-diam mengamati perubahan dinamika tersebut. Ada rasa lega yang menyelusup di dadanya saat melihat Kanaya mulai menarik diri dari Wisnu. Namun di saat yang sama, Arman juga tahu diri; ia tetap menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak bersikap lancang seperti tadi subuh, meski hatinya masih berdenyut perih setiap kali melihat plester putih yang melingkar di jari manis Kanaya.
Dapur posko di tengah sawah itu pun diselimuti keheningan yang canggung. Hanya ada suara denting pisau Kanaya dan tawa renyah Lisa yang berusaha mencairkan suasana, menemani Kanaya yang kini sibuk membangun benteng pertahanan baru demi kedamaian hidupnya selama di Desa Sukamukti.
Aroma gurih ikan goreng yang baru diangkat dari wajan berpadu sempurna dengan wangi sedap tumisan capcay bakso yang masih mengepulkan asap. Lisa dengan bangga memindahkan capcay sewarna-warni itu ke mangkuk besar, sementara Kanaya menata ikan goreng garing dan sepiring penuh sambal lalapan segar di nampan.
"Selesai! Menu makan siang mewah ala kelompok satu siap dihidangkan!" seru Lisa, mencoba mengusir kecanggungan yang sejak tadi menggantung di udara dapur.
"Biar gue yang bawa nampan ikannya ke depan, Lis," ujar Wisnu, melangkah maju untuk membantu. Namun, gerakannya kali ini terasa lebih berhati-hati. Ia sempat melirik Kanaya, berharap mendapatkan respons atau tatapan mata seperti tadi pagi, tetapi Kanaya dengan cekatan langsung berbalik badan, berpura-pura sibuk merapikan sisa potongan sayur di meja konter.
Melihat respons dingin Kanaya, Wisnu hanya bisa menghela napas pelan lalu membawa nampan tersebut keluar menuju ruang tengah.
Arman, yang sejak tadi bertugas mengulek sambal lalapan hingga halus, meletakkan cobek batunya di samping mangkuk capcay. Ia menatap punggung Kanaya yang masih tampak kaku. "Ini sambalnya sudah siap, Nay. Mau dibawa sekarang?" tanya Arman lirih, suaranya terdengar sangat menjaga jarak agar tidak membuat Kanaya merasa tidak nyaman.
"Iya, bawa ke depan aja, Man. Makasih," sahut Kanaya pendek, tanpa menoleh sedikit pun. Kalimatnya formal, sama datarnya dengan cara ia berbicara pada Wisnu sebelumnya. Kanaya benar-benar menerapkan mode membentengi diri dari semua laki-laki di posko ini.
Arman mengangguk maklum, lalu mengangkat cobek itu dan melangkah keluar menyusul Wisnu.
Begitu kedua laki-laki itu tidak ada di dapur, Kanaya baru bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bahunya yang tegang perlahan rileks.
"Hebat lo, Nay. Kuat banget pertahanan lo," bisik Lisa sambil menyenggol pelan lengan Kanaya, memberikan senyum penuh dukungan. "Yuk, kita ke depan. Jangan sampai anak-anak yang lain kelaparan nungguin capcay buatan kita."
Kanaya tersenyum tipis, mengangguk, lalu bersama Lisa melangkah membawa sisa hidangan ke ruang tengah, siap menghadapi makan siang bersama seluruh anggota kelompok di tengah riuhnya suasana posko Desa Sukamukti.