Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Matt dan Riko melanjutkan SMA bersama lalu kuliah bersama. Bahkan mereka terbiasa menginap di rumah satu sama lain. Saling meminjam baju, dan selalu kemanapun bersama. Hingga akhirnya saat semester akhir, Matt jarang masuk kuliah karena dia mulai mengemban tanggungjawab sebagai direktur utama. Belum menjabat memang, tapi sudah mulai mengambil alih pekerjaan sedikit demi sedikit.
Mereka bertemu lagi saat wisuda lalu di perusahaan milik keluarga Klein. Riko pikir akhirnya ia akan menjelajahi dunia ini sendiri, ternyata masih harus bersama dengan kawan karibnya. Bahkan sekarang saat Matt mengejar wanita pun masih harus ia yang mengurus semuanya.
"sepertinya aku terlahir untuk menjadi babumu."
"ya itu cocok untukmu."
"sialan!"
Riko keluar dari ruangan Matt dan membanting pintunya. Sekertaris yang berada di luar sudah terbiasa melihat hal itu. Tapi tidak dengan anak baru atau anak magang. "apa yang terjadi, apa ada masalah?"
"bukan masalah, sudah biasa kok. Lanjutkan saja pekerjaanmu."
Saat menjelang jam makan siang, Matt bergegas keluar dari gedung perusahaannya untuk menjemput Llyn. Sebelumnya ia sudah mengirim pesan agar mereka makan siang di luar saja dan wanita itu pun mengiyakannya. Llyn sudah menunggu di gerbang kampus di bawah sebuah pohon rindang. Cuaca hari ini cukup terik membuatnya memilih tempat itu untuk berteduh.
"maaf lama, ayo masuk."
Matt turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Llyn. Perhatian kecil yang selalu ia berikan untuk Llyn seorang. Tanpa mereka berdua sadari, sosok Ray dari seberang jalan melihat semua itu dengan wajah merah karena kesal. Ia merasa terlambat satu langkah lagi dari pria bule itu.
Sepanjang perjalanan seperti biasa, tidak terlalu banyak hal dibicarakan. Apalagi Llyn tipe seorang introvert yang tenaganya sudah habis untuk bekerja. Tidak tersisa tenaga untuk berinteraksi dengan intens. Matt juga memahami karakter Llyn dengan baik dan ia rasa situasi seperti ini tidak terlalu buruk. Ia fokus menyetir dan Llyn sibuk dengan ponselnya dengan sesekali percakapan singkat yang random muncul begitu saja.
Saat mobil berhenti di depan sebuah butik, Llyn menoleh ke arah Matt. "untuk apa kita ke sini?"
"aku punya sesuatu untukmu, ayo masuk."
Mereka berdua masuk dan langsung disambut oleh seorang pegawai. Pegawai tersebut langsung mengarahkan Llyn dan Matt ke sebuah ruangan di mana pesanan khusus disimpan.
"ini gaun yang Anda pesan tuan," ucap pelayan tersebut sambil menunjukkan sebuah gaun yang terpasang di manekin.
Gaun dengan bahan sifon yang lembut dan jatuh terlihat sangat cantik dihiasi dengan motif bunga. Bagian baju terbuka menampilkan keindahan bahu dan tulang selangka si pemakai. Meskipun ke bawahnya tidak press body, tapi bahan sifon yang sedikit menerawang memberikan tampilan siluet kaki jenjang si pemakai. Llyn menyukai gaun tersebut, sangat cocok dengan seleranya.
"cobalah."
"aku?"
"iya, aku memesan ini khusus untukmu."
"tunggu, memangnya kamu punya uang? kalaupun punya, bukankah sebaiknya ditabung saja? ini seri limited dari brand X kan?"
"kalau aku bilang aku tidak tau, kamu percaya?"
Llyn menatap Matt dengan tatapan curiga. "aku benar-benar tidak tau karena Riko yang memesankannya untukmu."
"Riko? siapa dia? aku seperti pernah mendengarnya."
"sudah jangan dipikirkan, coba saja bajunya biar kalau perlu diperbaiki bisa segera dikerjakan. Aku memiliki uang kalau hanya sekedar membeli satu gaun saja. Kamu tidak perlu khawatir dan nanti tolong pakai di acara besok malam ya."
Llyn dengan ragu mengikuti pegawai butik menuju ruang ganti. Cukup lama ia berada di dalam sana sebelum akhirnya keluar dengan penampilan yang memukau. Padahal baru bajunya saja yang dipakai, belum dirias wajahnya dan belum ditata rambutnya. Aura wanita kaya memang berbeda dan tidak bisa dibeli.
"Matt, hei."
Llyn menggoyangkan tangannya di depan wajah Matt tapi pria itu masih tidak sadar juga. Hingga ia mendekat lalu menepuk pelan pipinya.
"malah melamun."
"eh maaf maaf, kamu terlalu cantik aku jadi terpesona."