NovelToon NovelToon
Aku Berhak Bahagia

Aku Berhak Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Rumah Tangga / Janda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"

Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.

Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?

Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?

Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Berhak Bahagia - episode 9

Sebelas jam perjalanan, Mila tiba di kota seberang. Berbekal pesan dari teman semasa SMP, Mila menaiki becak motor menuju alamat itu.

Kurang lebih 30 menit dari terminal bus, Mila berhasil menemukan alamat temannya bernama Indah. Keduanya berpelukan sebab sudah lebih dari 10 tahun tak bertemu.

Indah berada di kota itu karena bekerja, dia sudah merantau lebih dari 7 tahun. Setahun sekali dia pulang mengunjungi kedua orang tuanya. Indah kini telah berumah tangga dan dikaruniai bayi perempuan berusia 5 bulan.

"Maaf, aku tidak bisa menjemputmu di terminal. Anakku masih bayi dan tak mungkin kubawa atau ditinggalkan."

"Tidak apa-apa, aku maklum. Aku malah berterima kasih kepadamu karena masih mau membalas pesan dariku dan membantuku mencari tempat tinggal untukku." Mila telah menceritakan masalah hidupnya kepada temannya itu dan niatnya ingin merantau ke kota orang.

"Sama-sama, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Memang tak mudah dan sangat berat. Semoga kau betah di kota ini."

"Ya."

"Aku akan mengantarmu ke tempat kos-kosan itu kalau ibu mertuaku pulang dari rumah temannya. Sekarang, kau masuklah dulu dan beristirahat. Suamiku pulangnya sore, jadi kau tidak perlu sungkan atau segan."

Mila masuk ke rumah Indah yang tak terlalu besar, ada 2 kamar dan 1 kamar tidur. Dia hidup bersama suami dan seorang ibu mertua. Indah juga bekerja, namun karena putrinya masih kecil dia memutuskan berhenti sementara hingga putrinya berusia 1 tahun.

Indah menyuguhkan 2 gelas minuman, satu teh hangat dan satu lagi air putih. Ada juga sepiring pisang goreng dan bakwan yang dibelinya dari tetangganya.

Mila meneguk teh hangat lalu menyantap 2 potongan gorengan. Perutnya memang terasa lapar apalagi perjalanannya yang dilaluinya sangat lama. Nasi bungkus yang diberikan Hanny disantapnya saat bus sedang berhenti sejenak di salah satu rest area tadi malam.

"Kalau kau mau tidur, aku ambilkan tikar dan bantal. Nanti siang setelah ibu pulang, kita ke sana."

"Ya, aku memang butuh bantal dan beristirahat sebentar," kata Mila yang memang sangat lelah dan mengantuk.

Indah lantas ke kamarnya, mengambil tikar dan sebuah bantal serta sarung lalu diberikannya kepada Mila.

Tikar telah terbentang dan Mila merebahkan tubuhnya diatasnya, memiringkan posisinya ke kiri dan perlahan memejamkan matanya.

Tiga jam berikutnya, Mila sudah bersiap berangkat ke tempat kos-kosannya, berbekal uang dari hasilnya bekerja dengan Hanny. Menggunakan motor Indah pun mengantarkannya. Jarak tempat kos dari kediamannya mertuanya Indah hanya 1 kilometer.

Sesampainya, mereka menemui pemilik kos yang hanya berjarak 200 meter dari tempat kos. Mila menyerahkan uang untuk 1 bulan ke depan.

Setelah itu mereka ke tempat kos-kosan, ruang kamar yang tidak terlalu besar tetapi ada sebuah dapur kecil. Indah pun membantu Mila menata barang-barang. Ia juga membelikan makan siang buat berdua.

"Semoga kau betah di kos-kosan ini!" kata Indah.

"Ya, semoga saja kehidupan aku lebih baik dari sebelumnya!" harap Mila.

"Aamiin..."

Jam 3 sore Indah pamit karena sebentar lagi suaminya pulang dari bekerja. Mila merebahkan tubuhnya sembari menunggu kumandang adzan Ashar. Ia juga mengirimkan pesan kepada Hanny dan Della bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat tadi pagi namun belum sempat mengabari.

***

Pagi ini, Mila menunggu kedatangan Indah yang menjanjikan pekerjaan buatnya. Tepat jam 8, Indah muncul dengan motornya. Keduanya pun berangkat ke sebuah kedai nasi yang jaraknya cukup jauh dari tempat kos-kosan. Waktu tempuh mereka lalui sekitar 20 menit dengan berkendara, jika berjalan kaki mungkin sekitar 45 menit.

Mila lalu diperkenalkan kepada sepasang suami istri paruh baya. Mereka adalah pemilik kedai nasi yang sudah berjalan lebih dari 15 tahun. Mila kemudian diberitahu mengenai upah dan pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya.

Di kedai nasi bukan hanya Mila saja yang bekerja sebagai karyawan, ada 2 orang wanita dan seorang pria yang bekerja. Ketiganya telah berumah tangga dan memiliki anak.

"Hari ini kamu sudah mulai bekerja," kata Pak Bagas, si pemilik kedai.

"Baik, Pak."

Siang ini pelanggan kedai nasi Pak Bagas ramai pengunjung. Mila yang belum menguasai bagian melayani pelanggan, ditugaskan mencuci piring dan perabotan masak dibantu seorang rekan wanita.

"Asal kamu darimana?" tanya Wina, 33 tahun, seraya membilas piring dan gelas dengan air bersih mengalir.

Mila menjawab asal kota kelahirannya.

"Apa tadi itu saudaramu?" tanya Wina lagi sambil meletakkan peralatan makan dan dapur ke dalam baskom besar.

"Dia teman semasa SMP," jawab Mila, tangannya masih memegang piring yang penuh busa sabun cucian.

"Oh," ucap Wina.

"Mba Wina sudah lama bekerja di sini?" Mila gantian bertanya.

"Kurang lebih sepuluh tahun," jawab Wina.

"Oh," Mila manggut-manggut.

"Berapa usia kamu?" Wina balik bertanya.

"Tiga bulan lagi dua puluh sembilan tahun, Mba."

"Apa sudah menikah?" tanya Wina lagi, karena biasanya usia segitu telah menikah dan memiliki keturunan.

Mila tersenyum tipis dan menundukkan wajahnya.

"Apa aku salah bicara, ya?" Wina tambah bersalah ketika melihat ekspresi wajah Mila tiba-tiba berubah.

"Aku baru saja bercerai, Mbak." Mila berbicara jujur dan terus terang.

"Maaf, aku tidak tahu." Wina jadi merasa bersalah sebab mengungkit masa lalu teman kerjanya yang baru.

"Tidak apa-apa, Mbak." Mila mengangkat wajahnya dan tersenyum.

"Nanti kita bicara lagi, maaf kalau pertanyaan aku tadi menyinggung perasaanmu!" Wanita merasa tak enak hati.

Jam 5 sore, Mila selesai bekerja. Tak ada bekal makanan yang dibawa. Karena Pak Bagas dan istrinya meminta para karyawannya untuk makan ditempat tanpa boleh membawanya pulang ke rumah.

Mila tiba di rumah pukul 6 sore, dari tempatnya kerja ia menaiki angkutan umum. Jika berjalan kaki maka menguras tenaganya dan kemungkinan besok dirinya tak dapat bekerja lagi.

Mila membersihkan diri lalu melangkah ke masjid terdekat melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Kehadirannya untuk pertama kalinya menjadi pusat perhatian para tetangga yang juga kebetulan berada di tempat itu.

Mila balik ke kos-kosannya, sambil menunggu salat Isya ia menghabiskan waktunya membaca Alquran dan berzikir. Tak ada teman yang dapat diajaknya mengobrol karena beberapa tetangga penghuni kos-kosan rata-rata kembali pukul 9 malam. Hanya hari Minggu dan libur nasional saja membuat mereka saling bertegur sapa dan mengobrol ringan.

Begitu terdengar suara adzan, Mila bergegas kembali ke masjid. Hanya kegiatan ini yang mampu menghilangkan rasa kesedihan dan kesepiannya selama tinggal di kota orang.

"Penghuni baru, ya, Mbak?"

Mila yang baru saja keluar dari masjid dan hendak membuka pintu pagar kos-kosan menoleh ke belakang dan tersenyum tipis lalu mengiyakan pertanyaan pria yang ada dibelakangnya.

"Saya baru lihat hari ini." Pria itu membukakan pagar dan mempersilakan Mila lebih dulu masuk.

"Ya," ucap Mila singkat, ia tak mau banyak bicara takutnya menjadi kesalahpahaman.

Pria yang wajahnya tampak lebih muda dari Mila mensejajarkan posisi langkahnya. "Saya tinggal di lantai atas dan kita adalah tetangga."

Mila lagi-lagi cuma tersenyum tipis.

"Lain waktu kita mengobrol lagi, sampai jumpa. Selamat malam!" pria itu meninggalkan Mila dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.

Mila hanya menatap punggung pria itu dari kejauhan, ia tak berani banyak bicara sebab belum terlalu mengenal para tetangganya. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkannya apalagi dia tak mempunyai sanak keluarga atau saudara di kota dan tak mau merepotkan temannya.

1
Murni Zain
siapapun jodoh untuk mila yg penting bs menerima dia sebagai menantu, semua masalalu mila. 🤗🥰
Dew666
Hasbi nikah sm sepupu mila kali, mila jodoh Aldo aja
Murni Zain
Gass,,, otw halal🤭
Dew666
👑👑👑
Dew666
🍎🍎🍎
Murni Zain
akhirnya bs mengungkapkan kata suka'🥰
Mami AL: walaupun baru cuma dalam hati 🤭
total 1 replies
Murni Zain
Hasbi,, pernah sama² tersakiti. 🤭🤭
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
Murni Zain
🤗🤗🤗Alhamdulillah msh d ketemu kn sama orang baik ya mbak Mila.
Murni Zain
ehh kenapa Mas Hasbi 🤔🤔🤔 cemburu apa ada trauma???
Dew666
Aldo
Murni Zain
2 laki-laki memcoba dekat sm Mila🤭
Mami AL: kita buat Mila bingung memilih 😅🤭
total 1 replies
Mami AL
kebetulan yang tepat sekali, ya, Kak😄🤭
Murni Zain
ohhh so sweet banget🥰🥰🥰

jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
Murni Zain
Hasbi kan🤔🤔🤔

atw sang mantan. 🤔🤔🤔
Murni Zain
semoga jodoh Mila.... Hasbi🤗
Murni Zain
mungkin kn jodoh mila..🤔
Mami AL: kita lihat nanti, ya, Kak🤭
total 1 replies
Murni Zain
Semoga ada kebahagiaan d t4 baru ya mbak.. 🥰😍🤗💪🏼💪🏼💪🏼
Murni Zain
Semangat mbak Mila.. 🥰🤗
Murni Zain
baik bgt nih ibu mertua... klo aku dl sebaliknya😄 tp tu masa lalu q.. yg sekarang sdh terbayar dgn suami yg setia, baik bertanggung jawab sm keluarga. 🤗🥰
Mami AL: Alhamdulillah, Kak.. Bahagia selalu 😊
total 1 replies
Murni Zain
Ternyata mertuanya baik ya.. klo aku dl... seperti enggak d Terima krn aku ank kampung. 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!