Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Duel
Xiao Liu Xuan menyipitkan mata. Serangan tadi seharusnya cukup untuk mematahkan lengan seorang praktisi tahap 4 biasa. Ia kembali menyerang dengan rangkaian tebasan melingkar yang cepat dan mematikan.
Ting! Tak! Ting!
Tian Hao bergerak seperti daun yang terbawa angin. Setiap tebasan Xiao Liu Xuan hanya meleset beberapa milimeter dari kulitnya.
Ia tidak menggunakan kekuatan ototnya secara maksimal; ia menggunakan pengalaman tempur lima ratus tahun. Ia membaca arah angin, posisi kaki lawan, dan bahkan kontraksi otot di bahu sang pangeran sebelum serangan diluncurkan.
Xiao Liu Xuan mulai merasa geram. Ia meningkatkan kecepatannya. Pedangnya mulai memancarkan cahaya biru—Manifestasi Qi.
"Kau menyembunyikannya dengan sangat baik," bisik Xiao Liu Xuan di tengah benturan senjata. "Tapi di bawah tekanan kematian, tidak ada rahasia yang bisa tetap tertutup!"
Tebasan vertikal yang membawa energi Qi menghantam ke bawah. Tian Hao menyamping, namun energi yang meluap itu merobek bajunya dan menggores bahunya hingga berdarah.
Sret!
Darah segar menetes. Tian Hao menyadari bahwa orang ini benar-benar berniat membunuhnya demi memuaskan rasa penasarannya. Topeng "lemah" tidak akan berguna lagi jika kepalanya terlepas.
Tatapan Tian Hao mendadak menjadi kosong dan gelap. Ia merendahkan kuda-kudanya. Kali ini, ia yang bergerak maju.
Bukan dengan teknik yang indah, melainkan gerakan yang sangat efisien dan brutal. Ia menyusup ke bawah jangkauan pedang panjang Xiao Liu Xuan, menggunakan gagang pedang kayunya untuk menghantam ulu hati sang pangeran.
Xiao Liu Xuan terkejut, ia memutar tubuhnya di udara, namun Tian Hao sudah memprediksi hal itu. Ia melepaskan pedang kayunya, menangkap pergelangan tangan sang pangeran, dan menggunakan momentum lawan untuk membantingnya.
BRAK!
Tubuh sang pangeran menghantam lantai batu arena hingga retak. Penonton ternganga. Pangeran yang agung baru saja dibanting oleh si "sampah"?
Namun, Xiao Liu Xuan segera bangkit. Wajahnya tidak lagi ramah. Matanya memancarkan kegilaan seorang jenius yang merasa terhina sekaligus bersemangat. Ia melepaskan seluruh energi Qi-nya. Arena batu di bawah kaki mereka mulai bergetar hebat.
"Lagi! Berikan aku lebih banyak lagi, Tian Hao!" teriaknya.
Pertarungan berlanjut dalam tempo yang jauh lebih gila. Xiao Liu Xuan melancarkan serangan jarak jauh dengan tebasan energi, sementara Tian Hao harus bermanuver di antara ledakan-ledakan kecil di atas arena.
Tian Hao menggunakan pecahan batu arena sebagai senjata lempar, mengincar titik-titik vital sang pangeran untuk mengganggu aliran Qi-nya.
Setiap gerakan Tian Hao adalah pelajaran tentang efisiensi. Ia tidak membuang energi untuk gerakan indah; setiap langkahnya adalah untuk membunuh atau bertahan hidup.
Bagi para penonton, ini bukan lagi duel murid. Ini adalah pertarungan antara dua monster yang memiliki sifat berbeda. Xiao Liu Xuan adalah badai yang menghancurkan, sementara Tian Hao adalah lubang hitam yang menelan segala serangan dengan ketenangan yang menakutkan.
Di akhir pertukaran serangan yang panjang, keduanya berdiri terengah-engah di dua ujung arena. Baju Tian Hao compang-camping, penuh luka goresan. Xiao Liu Xuan memiliki memar di wajahnya dan pakaian mewahnya kotor oleh debu.
Tian Hao menatap sang pangeran dengan pandangan datar. Ia tahu, jika ia menang secara mutlak sekarang, ia akan menjadi target seluruh kerajaan. Namun jika ia kalah, ia mati.
"Dunia ini penuh dengan orang-orang yang ingin melihat apa yang ada di balik tirai," batin Tian Hao. "Jika kau ingin melihatnya, pangeran... bersiaplah untuk kehilangan matamu."