Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Mansion keluarga Wheeler bukan sekadar hunian mewah; itu adalah benteng luas yang memisahkan antara dunia luar yang bising dengan privasi yang mencekam.
Di bagian belakang properti, terbentang area pacuan kuda pribadi yang dipagari kayu ek putih mengkilap. Aroma rumput yang baru dipotong dan bau khas pelana kulit memenuhi udara sore yang mulai mendingin.
Vivian berdiri di tengah arena, mengenakan pakaian berkuda lengkap—celana breeches ketat berwarna krem, sepatu bot hitam setinggi lutut, dan rompi pelindung yang membuatnya tampak seperti ksatria wanita yang tak tertembus.
Di tangannya, ia menggenggam tali kendali seekor kuda stallion hitam besar bernama Nero.
"Vivian!"
Suara itu memecah konsentrasinya. Vivian tidak menoleh. Ia menuntun Nero berjalan memutar, seolah suara bariton yang memanggilnya itu hanyalah desau angin yang tak berarti.
Logan berlari kecil mendekati pagar pembatas. Napasnya masih terengah-engah setelah perdebatan singkat bin aneh dengan ayah Vivian di ruang tamu tadi. Melihat Vivian dalam balutan pakaian berkuda, dengan postur tubuh yang tegak dan tatapan dingin yang tajam, Logan merasa jantungnya mencelos. Wanita ini tampak begitu jauh, begitu sulit digapai.
"Sayang... tolong, dengarkan aku dulu. Bisa kau turun—maksudku, berhenti sebentar?" Logan berdiri di pinggir pagar, suaranya terdengar serak, penuh dengan nada memohon yang belum pernah ia gunakan pada siapa pun sepanjang hidupnya.
Vivian akhirnya menghentikan langkah Nero. Ia berdiri menyamping, membelakangi Logan, namun telinganya menangkap setiap getaran suara pria itu.
Di dalam dadanya, rasa sakit dari video itu masih berdenyut kencang, meski ia mencoba menutupi semuanya dengan topeng ketenangan yang sempurna.
"Kau punya waktu dua menit, Logan. Setelah itu, aku ingin kau pergi dari rumah orang tuaku," ucap Vivian datar, dingin, dan menusuk.
Logan menelan ludah. Ia tahu ia sedang berada di ambang jurang. "Video itu... itu tidak seperti yang kau lihat, Vivian. Maksudku, kata-katanya memang buruk, tapi aku hanya—"
"Hanya apa? Hanya menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya di depan teman-teman kampusmu?" Vivian berbalik perlahan. Matanya yang biasanya hangat kini berkilat seperti belati. "Aku adalah 'bekas' yang bisa kau buang? Aku hanyalah 'bagian dari permainan'? Katakan padaku, Logan, apa semalam saat aku mengatakan aku mencintaimu, kau juga sedang tertawa di dalam hati sambil menghitung poin kemenanganmu?"
"Demi Tuhan, tidak!" Logan memukul pagar kayu itu dengan frustrasi. "Aku mencintaimu, Vivian! Ronal... pria brengsek itu menghinamu. Dia bilang kau tante-tante yang haus belaian. Aku tidak tahan mendengarnya! Aku memukulnya, dan saat teman-temanku menahanku, aku merasa terpojok. Aku hanya ingin dia diam. Aku menggunakan kesombonganku agar dia tidak punya celah untuk meremehkan kita lagi. Itu ego yang bodoh, aku tahu! Aku mengakuinya, aku berandalan yang bodoh!"
Vivian terdiam. Ia menatap Logan yang tampak kacau—rambutnya berantakan, pipinya merah (bekas tamparan Sang Mommy), dan matanya memancarkan keputusasaan yang nyata. Vivian bukan wanita naif. Ia tahu bagaimana ego pria muda bekerja, terutama pria seperti Logan yang selalu menjadi pusat perhatian. Namun, luka itu tetap ada.
"Ego yang bodoh bisa menghancurkan kepercayaan, Logan," suara Vivian sedikit melunak, namun tetap tegas. "Kau tidak bisa menggunakan aku sebagai tameng harga dirimu di lapangan basket, lalu kembali menjadi kekasih yang manis di apartemen. Aku bukan aksesori untuk status sosialmu."
Logan menunduk, bahunya merosot. Ia mengalah. Ia tidak akan membela diri lagi karena ia tahu, sedalam apa pun alasannya, kata-kata yang terlontar dari bibirnya telah melukai wanita yang paling ia hargai.
"Aku salah. Aku benar-benar salah," bisik Logan. "Hukum aku sesukamu, Vivian. Jangan maafkan aku dengan mudah. Tapi tolong... jangan pergi."
Melihat Logan yang biasanya angkuh kini tampak seperti anjing yang dipukuli, Vivian merasakan dorongan untuk tertawa di dalam hati, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia teringat kembali pada pertemuan logan dan ayahnya tadi.
"Kau bicara apa saja dengan ayahku di dalam?" tanya Vivian, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum hatinya benar-benar luluh.
Logan mendongak, wajahnya tampak sedikit linglung. "Ayahmu? Dia... dia orang yang sangat unik. Dia bilang kau punya kepribadian ganda. Dia bilang kau... kau tidak suka laki-laki. Dia memanggilmu 'putranya' seolah kau benar-benar akan berganti identitas besok pagi."
Kali ini, Vivian benar-benar ingin meledak dalam tawa. Ia sudah menduga ini. Ayahnya, Tuan Wheeler, adalah penguji paling sadis bagi setiap pria yang berani mendekatinya.
Ayahnya selalu melemparkan kebohongan
paling konyol untuk melihat apakah pria itu akan lari ketakutan atau tetap tinggal. Dan Logan... si bocah mesum ini rupanya menjadi korban kesekian kalinya dari selera humor gelap ayahnya.
Namun, ada satu hal yang Vivian sadari: jika Logan masih berdiri di sini, itu berarti ayahnya tidak mengusirnya. Jika Tuan Wheeler memberikan izin pada Logan untuk menemuinya di arena pacuan, artinya ayahnya menyukai si "bocah" ini. Itu adalah pencapaian besar, mengingat mantan-mantan Vivian yang "matang" dan "berkelas" biasanya langsung kabur dalam waktu sepuluh menit setelah diinterogasi ayahnya.
"Lalu kau percaya padanya?" tanya Vivian, satu sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Awalnya aku kaget!" jawab Logan jujur, mulai merasa sedikit lebih tenang. "Aku sempat berpikir, apa itu alasan kau selalu menolakku semalam? Tapi kemudian aku sadar, kau menciumku dengan sangat... yah, kau tahu. Jadi aku bilang padanya, aku tidak peduli kau suka apa pun, kau tetap milikku."
Vivian menggelengkan kepala. "Kau benar-benar bodoh, Logan Valerio. Ayahku hanya mengerjaimu. Dia selalu melakukan itu pada setiap pria yang datang kemari."
Logan tertegun. "Jadi... kau tidak suka wanita?"
"Tentu saja tidak, Bodoh! Aku memacari seorang pria berotot yang otaknya kadang tertinggal di lapangan basket, bukan?"
Logan menghela napas lega yang sangat panjang, seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari dadanya. Ia memberikan senyum kecil yang mulai memperlihatkan sisi nakalnya kembali. "Syukurlah. Karena aku sudah berencana membawamu ke psikiater atau ke toko mainan dewasa untuk membuktikan kalau aku cukup menarik untukmu."
"Jangan mulai, Logan," Vivian memperingatkan, meski matanya kini tidak lagi sedingin tadi. Ia menuntun Nero kembali ke kandang, diikuti oleh Logan yang berjalan di sisi luar pagar.
"Vivian, soal video itu... aku akan membereskannya. Aku akan membuat permintaan maaf publik jika perlu. Aku akan melakukan apa pun agar kau tahu bahwa kau adalah segalanya bagiku, bukan sekadar 'permainan'," ucap Logan sungguh-sungguh.
Vivian berhenti di depan pintu kandang kuda. Ia menatap Logan cukup lama. "Aku tidak butuh permintaan maaf publik, Logan. Aku hanya butuh kau tumbuh dewasa. Hubungan ini bukan tentang siapa yang lebih dominan di depan orang lain. Ini tentang bagaimana kau menghargaiku saat tidak ada seorang pun yang melihat."
Logan mengangguk mantap. "Aku mengerti. Aku berjanji."
Vivian menghela napas, ia melepas sarung tangan berkudanya. "Baiklah. Karena ayahku tampaknya 'menyukaimu'—entah bagaimana caranya kau bisa lolos dari jebakan konyolnya—aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Tapi jangan harap aku akan memaafkanmu malam ini. Kau akan tidur di sofa tamu, dan kau harus menghadapi makan malam dengan ayahku yang mungkin akan menanyakan hal yang lebih gila lagi."
Logan tersenyum lebar, ia ingin melompat pagar dan memeluk Vivian, namun ia menahan diri. "Sofa tamu pun tidak masalah, asalkan itu di dalam rumah yang sama denganmu. Dan soal ayahmu... selama dia tidak memintaku berganti jenis kelamin, aku akan menghadapinya."
Vivian memutar mata, namun kali ini ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya. Si bocah mesum ini memang menyebalkan, namun keberaniannya menghadapi ayahnya dan kejujurannya dalam mengakui kesalahan membuat Vivian menyadari bahwa mungkin, di balik egonya yang meledak-ledak, Logan adalah pria yang ia butuhkan untuk mewarnai hidupnya yang selama ini terlalu datar.
"Ayo masuk," ajak Vivian. "Dan bersiaplah. Ayahku biasanya menyajikan minuman yang bisa membuat pria paling perkasa sekalipun menangis jujur."
Logan tertawa. "Bawa saja semuanya. Aku sudah melewati tamparan Mommy dan kemarahanmu. Minuman ayahmu hanya akan terasa seperti jus jeruk bagiku."
Keduanya berjalan menuju mansion besar itu, sementara matahari terbenam di balik perbukitan, memberikan rona keemasan pada awal baru dari hubungan mereka yang penuh badai namun tak terpisahkan.