apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pukul 15.12. Mall Grand Orion.
“papa, jangan jauh-jauh,” tegur Langit sambil menenteng dua paperbag. “Tadi katanya mau beli dasi buat Ion.”
Saga mengangguk, matanya jelalatan ke etalase. “Iya, Langit. Tapi yang ini lucu. Cocok buat Ion pas meeting.” Ia menunjuk dasi biru dongker dengan motif bintang kecil. “Ion suka warna gelap.”
Langit mendengus. “Om Ion mah dikasih apa aja suka. Soalnya dari Papa.”
Saga nyengir malu. “Ish, tau aja.”
Mereka masuk ke toko. Langit ke kasir, Saga masih muter-muter. Ponselnya bunyi. Ion ❤️ Calling
“Ion?” Saga angkat sambil senyum. “Aga lagi beliin Ion dasi. Bagus banget. Nanti—”
Tutup mulut.
Sebuah sapu tangan menekan hidung dan mulut Saga dari belakang. Bau menyengat. Matanya membelalak. Ponselnya jatuh ke lantai.
“Pa?!” Langit menoleh, paperbag terlepas.
Dua pria bertubuh besar menyeret Saga yang sudah lemas keluar pintu darurat. Langit mengejar, tapi pintu ditendang tutup dari luar.
“PAPA!”
Di apartemen, Arion menatap layar ponsel. Sambungan putus.
“Aga?” Ia telepon balik. Tidak aktif.
Detik berikutnya, ponsel Rasya masuk.
“Om Ion, Papa diculik,” suara Rasya dingin. Terlalu dingin. “CCTV mall. Edwin.”
Arion berdiri. Kursi kantornya jatuh. “Titik terakhir?”
“Parkiran B2. Mobil van hitam. Plat dipalsuin.”
“Aku ke sana. Kamu urus polisi.”
Pukul 15.47. Gudang tua di pinggiran Jakarta Barat.
Kepala Saga berdenyut. Matanya dibuka pelan. Tangan diikat ke kursi, mulut dilakban. Bau apek dan oli masuk ke hidung.
Di depannya, Edwin duduk santai, kaki naik ke meja.
“Sayang,” sapanya. Senyumnya mengerikan. “Akhirnya kita berdua saja.”
Saga meronta. “Mmmph!”
“Tenang.” Edwin bangkit, membuka lakban Saga kasar. “Sakit?”
Saga batuk, napas tersengal. “Ed... Edwin... lepasin Aga. Anak Aga bakal—”
“Anakmu?” Edwin tertawa. “Rasya? CEO ingusan itu? Dia nggak akan nemuin kamu. Tempat ini nggak ada di peta.”
Saga menggeram. “Aga bukan milik Om! Aga punya Ion!”
Plak.
Tamparan mendarat di pipi Saga. Kepalanya tertoleh.
“Jangan sebut nama pria lain di depanku,” desis Edwin. “Kamu itu seharusnya jadi istriku. Cantik, manis, penurut. Bukan jadi mainan pria macam Arion.”
Air mata Saga jatuh. Bukan karena sakit. Karena marah. “Aga bukan mainan. Aga manusia. Aga pilih Ion karena Ion sayang Aga. Nggak kayak Om. Om cuma obsesi!”
Edwin menjambak rambut Saga. “Kalau nggak bisa jadi milikku, nggak akan jadi milik siapa-siapa!”
Pukul 16.20. Mobil Arion melaju 140km/jam.
“Rasya, posisi?”
“Sinyal terakhir HP Papa ke tower dekat pelabuhan lama. Gudang bekas pabrik tekstil. Aku sama Revan udah di jalan. Polisi lima menit lagi.”
“Jangan masuk dulu,” kata Arion. “Edwin pegang Aga. Dia bisa nekat.”
“Aku tidak peduli,” suara Rasya bergetar marah. “Dia tampar Papa saya di CCTV. Saya lihat sendiri.”
Arion mengepal setir. “Kita jemput bareng. Aku nggak akan biarin dia kenapa-napa.”
Di gudang, Edwin mengeluarkan ponsel. Merekam.
“Senang, Sayang? Bilang ke kekasihmu, kamu pilih aku.” Ia mengarahkan kamera ke wajah Saga yang lebam. “Bilang, atau aku kirim video ini ke anak-anakmu. Biar mereka lihat Papanya nangis.”
Saga meludah ke arah Edwin. “Nggak akan! Ion tau Aga nggak mungkin khianatin dia! Anak Aga tau Papanya kuat!”
Edwin mengangkat tangan lagi.
Braak!
Pintu gudang ditendang dari luar.
Arion masuk pertama, napas memburu. Di belakangnya, Rasya, Revan, dan tim polisi.
“LEPASIN DIA, EDWIN!”
Edwin panik, menarik Saga berdiri, pisau menempel di leher Saga. “Jangan dekat! Atau dia mati!”
Saga menatap Arion. Matanya basah, tapi dia geleng pelan. Jangan nyerah.
Arion angkat tangan. “Oke. Oke. Aku nggak bawa senjata. Kamu mau apa?”
“Aku mau dia!” Edwin menarik Saga lebih erat. “Dia harusnya sama aku! Lima tahun aku tunggu! Aku yang pertama lihat dia di acara amal itu!”
“Aga bukan barang, Edwin,” suara Arion bergetar menahan emosi. “Dia bisa milih. Dan dia milih aku. Milih anak-anaknya. Bukan kamu.”
“DIAM!”
Rasya maju selangkah. “Om Edwin. Lepasin Papa saya. Sekarang. Atau saya yang maju. Dan saya nggak janji Om selamat.”
“Rasya,” bisik Arion. “Jangan.”
Saga mengumpulkan sisa tenaga. Kepalanya menghantam dahi Edwin sekuatnya.
“AGHH!” Edwin lengah sedetik.
Detik itu cukup.
Arion menerjang, menghantam tangan Edwin yang pegang pisau. Pisau jatuh. Polisi langsung membekuk Edwin ke lantai.
Saga ambruk. Arion menangkapnya sebelum jatuh, memeluk erat.
“Aga? Aga? Lihat aku!”
Saga membuka mata, senyum lemah. “Ion... Aga keren kan? Nanduk dia...”
“Stt, iya. Kamu keren. Paling keren.” Arion mengusap darah di sudut bibir Saga. Tangannya gemetar. “Maaf... maaf aku telat...”
Rasya, Revan, Langit langsung mengerubung.
“Papa!” Langit nangis, memeluk kaki Saga. “Jangan nakut-nakutin lagi!”
“Pa, sakit nggak?” Revan mengecek ikatan di tangan Saga, melepasnya hati-hati.
Rasya menatap Edwin yang diborgol, lalu menatap Arion. “Om. Bawa Papa ke rumah sakit. Sekarang. Sisanya biar aku urus.”
Pukul 18.05. RS Medika Sentral, kamar VIP.
Saga tidur dengan infus di tangan. Pipinya diperban. Arion duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Saga yang bebas. Tidak lepas sedetik pun.
Pintu kebuka. Rasya masuk, diikuti Revan dan Langit.
“Dokter bilang Papa cuma luka luar. Trauma ringan. Besok boleh pulang,” kata Rasya.
Arion mengangguk. “Makasih.”
Hening.
“Om,” panggil Rasya pelan. “Tadi... makasih udah maju duluan. Kalau bukan Om, aku nggak yakin bisa nahan diri buat nggak bunuh Edwin di tempat.”
Arion menatap tiga anak itu. “Kalian yang bikin aku kuat. Karena aku tau, kalau aku gagal, ada tiga orang yang bakal hancur selain aku.”
Langit menyeka mata. “Om Ion, janji ya? Jangan biarin Papa lepas dari pengawasan Om lagi. Walau semenit.”
“Aku janji,” jawab Arion tanpa ragu.
Saga menggeliat. Matanya membuka pelan.
“Ion?” suaranya serak.
Arion langsung mendekat. “Aku di sini, Aga.”
Saga menatap sekeliling. Rasya, Revan, Langit. Semuanya ada. Dia senyum. “Aga mimpi buruk ya? Kok... semuanya kumpul?”
Revan mengusap kepala Papanya. “Bukan mimpi, Pa. Tapi udah lewat. Papa aman.”
Saga menarik tangan Arion, lalu tangan Rasya. “Aga takut...”
Rasya menggenggam balik. “Nggak usah takut lagi, Pa. Ada kita. Ada Om Ion.”
Arion mengecup kening Saga. “Tidur lagi, Sayang. Besok kita pulang. Aku suapin bubur. Aku gendong ke mana-mana. Janji.”
Saga mengangguk, memejamkan mata. “Ion jangan pergi...”
“Nggak akan. Nggak pernah lagi.”
Di luar kamar, polisi mengawal Edwin yang teriak-teriak. Tapi di dalam, Saga tidur dikelilingi orang-orang yang mencintainya.
Luka bisa sembuh. Trauma bisa hilang.
Selama Aga punya Ion, dan Ion punya Aga.