NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kyai Umar terdiam, matanya menatap kosong ke deretan kitab di dinding ruangan, seolah sedang memutar kembali memori yang sudah tersimpan rapat.

Air mata perlahan luruh membasahi pipinya yang sudah mulai berkeriput.

Beliau memegang pundak Fathan yang masih bersimpuh dengan tangan yang gemetar.

"Fathan, kamu tahu kenapa Abah begitu kukuh menjodohkan keluargamu dengan keluarga Abi Sasongko?" suara Kyai Umar terdengar parau.

Fathan menggelengkan kepalanya di sela isaknya.

"Sejak kecil, Humairah adalah anak yang luar biasa. Dia bukan sekadar santri bagi Abah, dia adalah anugerah. Dulu, Abah menjodohkannya dengan Abraham karena Abah pikir Abraham butuh bimbingan wanita sepertinya. Tapi Abraham justru mengecewakannya tepat di hari pernikahan mereka," Kyai Umar menarik napas panjang, mencoba menahan sesak.

"Dan sekarang kamu yang Abah harapkan bisa menyembuhkan lukanya, justru memberikan luka yang jauh lebih dalam."

Kyai Umar menunduk, menatap putranya dengan tatapan yang sangat menyayat hati.

"Kamu bilang dia wanita murahan, Fathan? Kamu ingat saat kamu umur tujuh tahun? Saat kamu hampir kehilangan nyawa karena tenggelam di kolam belakang pondok?"

Fathan tertegun. Ingatan itu muncul samar; rasa dingin yang mencekam dan air yang masuk ke paru-parunya.

"Waktu itu semua orang sedang sibuk di masjid. Tidak ada yang mendengarmu," lanjut Kyai Umar.

"Hanya ada satu anak kecil yang berteriak histeris, berlari tanpa alas kaki sejauh mungkin untuk mencari bantuan. Dia terus berteriak 'Mas Fathan tenggelam! Tolong Mas Fathan!' sampai suaranya habis. Anak kecil itu Humairah, Fathan."

Tangisan Fathan seketika terhenti, ia mendongak dengan wajah kaget.

"Dia yang menyelamatkan nyawamu dengan suaranya yang kecil itu. Dia yang menunggu di depan kamarmu selama tiga hari sampai kamu sadar, sambil terus memegang tasbih kecilnya. Dan sekarang, setelah dia memberikan seluruh hidupnya untuk menjaga kehormatan keluargamu dengan bersedia menikahimu demi menutupi rasa malu akibat ulah adikmu dan kamu membalasnya dengan hinaan itu?"

Hati Fathan seperti dihantam badai. Ia teringat kembali wajah kecil Humairah yang selalu tersenyum malu-malu saat mereka masih anak-anak di pondok.

Ternyata, wanita yang ia sebut murahan itu adalah orang yang sama yang pernah menjadi malaikat penyelamat nyawanya.

"Abah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Abi Sasongko," gumam Kyai Umar sambil menyeka air matanya.

"Kamu tidak hanya menghancurkan hati Humairah, Fathan. Kamu sudah menghancurkan separuh nyawa Abah dengan perbuatanmu."

Fathan hanya bisa bersujud lebih dalam di kaki ayahnya.

Rasa malu dan sesal kini menyatu, membakar dadanya hingga ia merasa tak lagi pantas disebut sebagai seorang suami, apalagi seorang ustadz.

Di luar pintu, Nyai Latifah mengerucutkan bibirnya.

"Dulu, ya dulu. Jangan disamakan dengan sekarang," gumam Nyai Latifah.

Kyai Umar menarik napas panjang, menatap putranya yang masih tergugu di bawah kakinya.

Ruangan itu terasa makin pengap oleh rahasia yang selama ini tersimpan rapat.

"Fathan, Abah tahu kenapa Umimu begitu keras pada Humairah. Umi merasa Humairah tidak selevel denganmu karena ia hanya anak santri biasa dari desa. Umi ingin kamu mendapatkan wanita dari keluarga bangsawan atau anak Kyai besar agar posisimu di pondok semakin kuat,"

Kyai Umar menggeleng pelan. "Umi hanya melihat kulitnya saja, tanpa pernah mau tahu isinya."

Fathan kembali menangis sesenggukan Penjelasan Abahnya membuat dadanya semakin sesak.

Ia menyadari betapa selama ini ia membiarkan istrinya menjadi bulan-bulanan kebencian ibunya sendiri.

"Bahkan Abah pun baru tahu hal ini kemarin malam dari Sasongko," lanjut Kyai Umar dengan nada menyesal.

"Humairah itu cerdas, Fathan. Sangat cerdas. Dia mendapatkan beasiswa penuh ke Mesir karena prestasi hafalannya. Kamu juga tahu sendiri, kan? Istrimu itu lulusan S2 dengan nilai terbaik. Tapi dia memilih diam, memilih untuk tetap rendah hati dan melayani kamu seolah dia bukan siapa-siapa."

Fathan tertegun. Ia teringat kembali wajah tenang Humairah saat ia meremehkan kecerdasannya.

Ternyata, wanita yang ia anggap tak berilmu itu memiliki derajat pendidikan yang setara, bahkan mungkin melampauinya dalam hal kesabaran.

"Sekarang, di mana istrimu?" tanya Kyai Umar tegas, sambil berdiri dan mengambil sorbannya.

"Dia di rumah sakit, Abah. Humairah terkena tipes," jawab Fathan dengan suara parau.

"Astaghfirullah! Ayo kita ke sana sekarang!" seru Kyai Umar. Beliau melangkah lebar keluar ruangan tanpa memedulikan hal lain.

Di ruang tengah, Nyai Latifah masih berdiri mematung.

Meski mendengar pengakuan tadi, hatinya masih dikuasai ego.

"Abah! Fathan! Kalian mau ke mana? Paling-paling Humairah itu hanya berpura-pura sakit agar kita merasa iba. Dia itu pintar sekali mencari simpati!"

Kyai Umar berhenti sejenak, menatap istrinya dengan pandangan yang belum pernah dilihat Nyai Latifah sebelumnya—tatapan penuh kekecewaan yang sangat dalam. Tanpa sepatah kata pun, Kyai Umar menarik lengan Fathan.

Mereka berdua berjalan cepat menuju mobil, meninggalkan Nyai Latifah yang terdiam mematung sendirian di teras rumah.

Mesin mobil menderu, lalu kendaraan itu melesat meninggalkan gerbang pesantren menuju rumah sakit, membawa beban penyesalan yang kini seolah siap meruntuhkan seluruh dunia Fathan.

Sementara itu di dalam ruang perawatan yang hening, aroma obat-obatan terasa kian mencekam.

Abi Sasongko duduk di sisi tempat tidur, menggenggam erat tangan Humairah yang terasa panas karena demam.

Pria paruh baya yang biasanya tegar itu kini tak kuasa menahan bendungan air matanya.

"Maafkan Abi, Nak. Maafkan Abi karena telah salah menitipkanmu kepada Fathan," ucap Sasongko dengan suara yang pecah.

Ia menangis sesenggukan, meratapi nasib putrinya yang selama ini ia besarkan dengan penuh kemuliaan, namun justru layu di tangan orang lain.

Humairah berusaha menguatkan diri. Dengan jari-jarinya yang lemas, ia mengusap punggung tangan ayahnya.

"Abi, jangan menangis. Ini bukan salah Abi. Humairah ikhlas menjalani takdir ini. Mungkin ini cara Allah mengangkat derajat Humairah."

Tak berselang lama, pintu kamar terbuka. Kyai Umar melangkah masuk dengan wajah yang dilingkupi kesedihan mendalam, diikuti oleh Fathan yang berjalan menunduk di belakangnya.

Begitu sosok suaminya terlihat, Humairah segera memalingkan wajahnya ke arah tembok, tak sanggup lagi menatap pria yang telah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

Kyai Umar mendekat ke sisi brankar. Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa di sana, melainkan langsung memegang kepala Humairah dan membacakan doa-doa kesembuhan dengan suara yang bergetar.

"Syafakillah, Humairah. Sabar ya, Nak..." bisik Kyai Umar setelah selesai berdoa.

Humairah menoleh perlahan, menatap Kyai yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

"Abah, terima kasih atas doanya. Tapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."

Pandangan Humairah beralih sejenak ke arah Fathan yang mematung, lalu kembali pada Kyai Umar.

"Abah, saya ingin bercerai dengan Ustadz Fathan. Saya mohon, biarkan saya pergi dengan sisa martabat yang saya miliki."

Mendengar kata "cerai" keluar secara resmi di depan Kyai Umar, Fathan seolah kehilangan pijakan.

Ia ingin berteriak memohon, namun suaranya tersangkut di tenggorokan.

Kyai Umar memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas panjang untuk menetralkan sesak di dadanya.

Beliau menyadari bahwa badai ini terlalu besar jika dibicarakan di depan banyak orang.

"Sasongko, Fathan tolong tinggalkan kami berdua sebentar," ucap Kyai Umar dengan nada tenang namun berwibawa.

"Saya ingin berbicara empat mata dengan putri saya, Humairah."

Abi Sasongko mengangguk pelan dan berdiri, sementara Fathan melangkah keluar dengan tubuh yang gemetar, menyadari bahwa di dalam ruangan itu, nasib pernikahannya sedang berada di ujung tanduk.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!