NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Pagi itu sinar matahari sudah masuk cukup jauh melalui celah tirai kamar Clara. Udara di kamar terasa sejuk karena pendingin ruangan masih menyala pelan sejak semalam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Clara tidur tanpa memikirkan laporan keuangan, pengeluaran bulanan, atau bagaimana cara menghemat uang makan untuk beberapa hari ke depan. Tubuhnya benar-benar beristirahat. Ironis juga. Dulu kamar mewah baginya hanya tempat tidur biasa, sekarang justru terasa seperti hadiah langka dari kehidupan yang senang mempermainkan manusia.

Clara bergerak pelan sambil mengusap matanya. Kepalanya masih terasa berat karena tidur terlalu nyenyak. Ia meraih jam tangan di meja samping tempat tidur lalu langsung membelalakkan mata.

“Jam sepuluh?”

Ia segera duduk tegak di atas kasur.

Biasanya di hari libur Clara sudah bangun sejak pagi. Kadang ia pergi membeli sayur lebih awal agar lebih murah, atau sekadar mencari sarapan sederhana sebelum warung-warung mulai ramai. Namun hari itu ia benar-benar terlambat bangun tanpa sadar.

Clara menghela napas panjang sambil melihat sekeliling kamarnya. Tempat tidur yang empuk, aroma bersih seprai yang baru diganti, serta suasana tenang rumah membuat tubuhnya terlalu nyaman untuk terbangun cepat.

“Bahaya juga kalau terlalu nyaman begini,” gumamnya pelan.

Ia segera turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Clara turun menuju ruang makan dengan langkah sedikit terburu-buru.

Dari arah dapur terdengar suara ibunya sedang berbicara dengan beberapa asisten rumah tangga. Aroma makanan masih memenuhi rumah meskipun waktu sudah mendekati siang.

Begitu melihat Clara muncul, Bu Ida langsung tersenyum hangat.

“Kamu baru bangun?”

Clara terlihat sedikit malu.

“Iya, Bu. Clara ketiduran terlalu nyenyak.”

Pak Agung yang sedang membaca koran di meja makan mengangkat pandangan sekilas.

“Tumben.”

Clara menarik kursi lalu duduk.

“Clara juga kaget pas lihat jam.”

Bu Ida tertawa kecil lalu menuangkan teh hangat ke cangkir putrinya.

“Tidak apa-apa. Sekarang aktivitasmu memang padat. Mungkin badanmu capek.”

Clara tersenyum kecil mendengar itu.

“Clara jadi merasa bersalah tidak ikut sarapan.”

“Ibu tidak keberatan,” jawab Bu Ida lembut. “Dulu kamu memang sering bangun siang, tapi dulu karena malas. Sekarang beda.”

Clara langsung memandang ibunya sambil mengerucutkan bibir.

“Ibu tega sekali membandingkannya.”

“Memang kenyataannya begitu.”

Pak Agung menurunkan korannya pelan.

“Sekarang bahkan hari libur dipakai mengurus kebutuhan sendiri.”

Clara hanya tersenyum kecil. Ia mulai mengambil sarapan yang masih tersedia di meja. Ada nasi goreng, telur mata sapi, dan potongan buah yang sudah disiapkan rapi.

Bu Ida memperhatikan putrinya makan dengan wajah penuh rasa lega. Beberapa bulan lalu Clara bahkan hampir tidak pernah menyentuh dapur, tidak tahu harga kebutuhan sehari-hari, dan selalu bergantung pada orang lain. Sekarang putrinya justru mulai terbiasa hidup mandiri.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Bu Ida.

“Sangat nyenyak,” jawab Clara sambil mengangguk. “Sudah lama Clara tidak tidur senyaman ini.”

Pak Agung memperhatikan Clara beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

“Kalau begitu Ayah akan lebih sering datang ke kontrakanmu.”

Clara yang sedang minum langsung tersedak kecil.

“Hah?”

Bu Ida tertawa pelan melihat reaksi putrinya.

Pak Agung tetap tenang.

“Kemarin Ayah lihat kondisi tempat tinggalmu. Masih banyak yang perlu diperhatikan.”

Clara langsung menggeleng cepat.

“Jangan seperti kemarin lagi, Yah.”

“Kenapa?”

“Clara malu.”

Pak Agung mengernyit.

“Malu karena dibantu orang tua sendiri?”

“Bukan begitu,” jawab Clara cepat. “Clara cuma tidak ingin semuanya disediakan terus.”

Suasana meja makan menjadi lebih tenang. Clara menatap ayahnya dengan serius.

“Clara ingin kebutuhan sehari-hari Clara dipenuhi dari gaji Clara sendiri.”

Bu Ida tersenyum tipis mendengar jawaban itu.

Kalimat sederhana, tetapi sangat berbeda dari Clara yang dulu. Dulu putrinya bisa membeli barang mahal tanpa berpikir panjang, namun tidak pernah benar-benar memahami nilai uang yang digunakan.

Pak Agung menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kalau kesulitan bagaimana?”

“Ya Clara belajar mengaturnya.”

“Kemarin saja masih bingung membedakan harga cabai dan tomat.”

Clara langsung memprotes.

“Itu cuma sekali.”

“Dua kali,” sahut Bu Ida sambil tertawa kecil.

Clara memijat pelipisnya.

“Kalian kompak sekali menyerang Clara pagi-pagi.”

“Karena lucu,” jawab ibunya santai.

Clara menghela napas pasrah lalu kembali makan.

Meski begitu, jauh di dalam hati, ia merasa hangat. Untuk pertama kalinya ia bisa berbicara santai seperti ini tanpa merasa harus melawan ayahnya atau membuktikan sesuatu setiap waktu.

Setelah beberapa saat, Clara tiba-tiba memandang Pak Agung.

“Yah.”

“Hm?”

“Kalau nanti hukuman Clara selesai... Clara boleh pindah ke bagian lain tidak?”

Pak Agung langsung menatap putrinya penuh perhatian.

“Maksudmu pindah divisi?”

Clara mengangguk.

“Iya.”

Pak Agung tampak sedikit terdiam. Bu Ida pun ikut memperhatikan pembicaraan mereka.

“Kenapa ingin pindah?” tanya Pak Agung akhirnya.

“Clara ingin mencoba bagian lain.”

“Kamu sekarang sudah cocok di finance.”

Clara mengangguk pelan.

“Clara tahu. Tapi Clara merasa masih banyak yang harus dipelajari.”

Pak Agung melipat korannya lalu benar-benar fokus mendengarkan.

“Finance itu bagian penting.”

“Clara mengerti.”

“Kalau suatu hari kamu ingin mengelola perusahaan, pemahaman keuangan sangat dibutuhkan.”

Clara tersenyum kecil.

“Tapi perusahaan bukan cuma soal angka.”

Pak Agung tampak sedikit terkejut mendengar jawaban itu.

Clara melanjutkan dengan tenang.

“Semakin lama Clara kerja, Clara sadar setiap bagian punya kesulitannya sendiri. Orang pemasaran harus memahami pelanggan. Bagian operasional harus memastikan semuanya berjalan lancar. Bagian gudang bahkan harus berpikir soal distribusi barang.”

Bu Ida terlihat mulai tertarik mendengarkan putrinya berbicara.

Clara menatap ayahnya.

“Kalau cuma duduk di satu bagian terus, Clara merasa pandangan Clara sempit.”

Pak Agung tidak langsung menjawab.

Ia memang mendidik Clara agar memahami perusahaan dari sisi keuangan terlebih dahulu. Menurutnya, seseorang yang tidak memahami arus uang akan kesulitan memimpin bisnis besar.

Namun sekarang cara berpikir Clara mulai berbeda. Dan anehnya, perbedaan itu justru terdengar masuk akal.

“Kamu ingin pindah ke bagian apa?” tanya Pak Agung.

“Mungkin pemasaran.”

Pak Agung langsung mengangkat alis.

“Pemasaran?”

“Iya.”

“Kamu?”

Clara langsung mendecakkan lidah.

“Kenapa reaksinya begitu?”

“Karena dulu kamu paling malas bertemu orang baru.”

“Itu dulu.”

Pak Agung masih tampak tidak percaya.

“Bagian pemasaran tidak mudah. Kamu harus bertemu klien, memahami pasar, bahkan menghadapi komplain.”

Clara mengangguk santai.

“Makanya Clara ingin belajar.”

Bu Ida tersenyum kecil melihat putrinya berbicara penuh keyakinan.

Pak Agung memandang Clara beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Kamu berubah cukup jauh.”

Clara tersenyum tipis.

“Clara juga baru sadar banyak hal ternyata tidak sesederhana yang Clara pikir dulu.”

“Contohnya?”

“Mencari uang.”

Pak Agung terkekeh kecil.

“Nah, akhirnya.”

“Dan menghadapi orang,” lanjut Clara. “Kadang Clara harus mengalah walaupun Clara merasa benar.”

Bu Ida memandang putrinya dengan lembut.

“Itu memang bagian dari hidup.”

Clara mengangguk.

“Dulu Clara pikir semua bisa diatur dengan marah atau menyuruh orang. Ternyata tidak.”

Pak Agung terlihat diam sesaat sebelum akhirnya berbicara lagi.

“Kalau memang ingin belajar bagian lain, Ayah tidak melarang.”

Mata Clara langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Tapi tidak bisa pindah begitu saja.”

Clara segera mengangguk.

“Clara tahu.”

“Setiap divisi punya sistem. Tidak mungkin kamu tiba-tiba masuk lalu langsung bekerja tanpa proses.”

“Clara tidak masalah.”

Pak Agung memperhatikan putrinya dengan tatapan serius.

“Kamu yakin bukan karena bosan di finance?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Clara tersenyum kecil sebelum menjawab,

“Clara ingin memahami perusahaan dari banyak sisi.”

Ruangan mendadak terasa lebih tenang.

Pak Agung tidak menyangka suatu hari ia akan mendengar kalimat seperti itu dari putrinya sendiri. Dulu Clara bahkan sulit bertahan mendengarkan rapat lebih dari lima belas menit. Sekarang ia justru ingin memahami fungsi setiap bagian perusahaan.

Bu Ida menepuk pelan tangan Clara.

“Ibu mendukung apa pun yang kamu pilih selama hasilnya baik.”

Clara menoleh pada ibunya lalu tersenyum hangat.

“Terima kasih, Bu.”

Pak Agung menghela napas kecil.

“Memang setiap pemimpin harus memahami fungsi semua bagian.”

Clara langsung tersenyum lebih lebar.

“Berarti Ayah setuju?”

“Ayah bilang memahami. Bukan berarti pindah seenaknya.”

Clara tertawa kecil.

“Iya, Pak Agung.”

Pak Agung menatap tajam.

“Sekarang mulai berani mengejek Ayah?”

“Sedikit.”

Bu Ida tertawa pelan melihat keduanya.

Sudah lama rumah itu tidak terasa setenang dan sehangat sekarang. Tidak ada suara bentakan, tidak ada Clara yang membanting pintu karena marah, dan tidak ada Pak Agung yang terus menahan emosi menghadapi putrinya.

Perubahan kecil itu terasa sangat jelas.

Clara kemudian bersandar santai di kursinya sambil meminum teh hangat.

“Clara sebenarnya takut Ayah menolak.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah selalu bilang finance paling penting.”

Pak Agung mengangguk.

“Memang penting.”

“Tapi sekarang Ayah tidak marah.”

Pak Agung menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya menjawab,

“Karena sekarang kamu bicara dengan alasan yang jelas.”

Clara sedikit terdiam mendengar itu.

Dulu setiap keinginannya hanya berdasarkan rasa bosan atau emosi sesaat. Namun kali ini berbeda. Bahkan Clara sendiri menyadari dirinya mulai memikirkan masa depan dengan lebih serius.

“Berarti Clara sudah lebih dewasa?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

Pak Agung langsung menjawab datar.

“Sedikit.”

“Yah.”

“Jangan cepat puas.”

Clara mendecakkan lidah kesal sementara Bu Ida kembali tertawa kecil.

Namun meski jawabannya terdengar dingin, Clara tahu ayahnya sebenarnya bangga padanya. Pak Agung memang bukan tipe ayah yang mudah memuji secara langsung. Manusia jenis itu memang aneh. Perasaannya ada, tetapi disimpan seperti dokumen rahasia perusahaan.

Clara menatap kedua orang tuanya bergantian.

Untuk pertama kalinya sejak hukuman hidup mandiri dimulai, ia merasa benar-benar diterima sebagai seseorang yang sedang bertumbuh, bukan sekadar anak manja yang terus membuat masalah.

Dan perasaan itu membuat hatinya jauh lebih tenang dibanding kamar mewah atau fasilitas apa pun yang dulu selalu ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!