Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Seminggu berlalu sejak kejadian di kediaman keluarga Anderson, dan suasana di SMA Global Bangsa terasa makin berubah. Kabar tentang kedekatan Kiyo Anderson yang biasanya tertutup, bersama siswi beasiswa bernama Bianca, sudah jadi pembicaraan semua orang, meski belum ada pernyataan resmi dari pihak mana pun.
Siang itu di kelas XII-IPA 1, ruangan terasa agak riuh setelah guru biologi mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas besar. Takdir seolah sengaja mempertemukan mereka lagi saat nama Kiyo dan Bianca disebutkan berada dalam satu kelompok yang sama.
"Oke, kelompok tiga: Kiyo, Bianca, Jonathan, dan Sarah," ucap sang guru sebelum menutup pelajaran hari itu.
Bianca hanya bisa diam sambil membereskan buku-bukunya. 'Satu kelompok sama Kiyo... dan juga Jonathan? Benar-benar bikin segalanya makin rumit,' batinnya dalam hati. Ia sempat melirik sekilas ke arah Jonathan yang duduk beberapa bangku di sebelah, namun cowok itu sedang menatapnya dengan sorot mata yang sulit ia pahami maknanya.
Begitu bel istirahat berbunyi nyaring, Kiyo langsung berdiri tegak. Tanpa banyak bicara lagi, ia berjalan menuju meja tempat Bianca duduk. "Ayo ke kantin. Kita bahas tugasnya di sana aja."
Bianca mendongak, tampak ragu dan sedikit gugup. "Eh, Kak, tapi aku—"
Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, Kiyo sudah menggenggam lembut pergelangan tangan gadis itu. Sentuhannya mantap dan sama sekali tidak menyakitkan, namun membawa rasa menuntut yang halus namun pasti. "Nggak ada tapi-tapian. Gue laper, dan lo harus makan."
Bianca akhirnya mengalah dan mengikuti langkah panjang Kiyo meninggalkan kelas. Sepanjang lorong menuju kantin, ratusan pasang mata tertuju tepat ke arah mereka. Bisikan-bisikan terdengar di mana-mana persis seperti suara kawanan lebah yang terganggu sarangnya.
"Lihat deh, itu beneran Kiyo Anderson jalan berpegangan tangan sama si anak beasiswa?"
"Gila, apa yang dilakuin Bianca sampai bisa bikin Kiyo berubah kayak gitu?"
"Kasihan ya Kiyo, seleranya kok jadi jauh beda banget dari biasanya."
Bianca menundukkan wajah sambil berusaha menyembunyikan ekspresinya di balik helaian rambut panjangnya. 'Teruslah berbisik sesuka hati, kalian sama sekali nggak sadar kalau cowok ini sedang gue arahkan menuju kehancurannya sendiri,' batinnya dengan nada sinis, meski jauh di dalam hati ia merasakan hangat yang tak wajar dari genggaman tangan Kiyo.
Sesampainya di kantin sekolah, Kiyo langsung menuju satu meja di sudut ruangan yang posisinya paling strategis sekaligus paling sepi. Tidak ada satu pun siswa yang berani mendekat atau duduk di sana karena tempat itu sudah lama dianggap wilayah khusus keluarga Anderson. Kiyo menarik kursi dengan gerakan sopan lalu menyodorkannya ke arah Bianca.
"Duduk di sini. Jangan ke mana-mana," ucapnya dengan nada tenang.
Begitu Bianca duduk di kursi itu, suasana kantin yang tadinya ramai mendadak berubah jadi aneh. Bisikan-bisikan itu kini terdengar makin jelas karena jarak mereka yang makin dekat.
"Wah, dia berani banget duduk di situ? Cewek itu kayaknya nggak paham aturan deh."
"Paling cuma dijadikan hiburan sementara aja sama Kiyo, liat aja nanti pasti ditinggal juga."
Bianca berusaha tetap tenang dan diam, tapi telinganya mulai terasa panas mendengar ucapan-ucapan itu. Di samping meja, Kiyo yang masih berdiri mulai terlihat berubah suasana hatinya. Raut wajahnya makin gelap dan rahangnya mengeras karena ia sama sekali tidak terima mendengar orang-orang membicarakan Bianca seolah gadis itu barang tak berharga, apalagi bagi dirinya sendiri.
Brak!
Kiyo memukul permukaan meja dengan keras menggunakan telapak tangannya. Suara dentuman itu menggema memenuhi seluruh ruangan kantin hingga semua orang seketika diam serentak. Bunyi dentingan sendok dan garpu yang tadinya terdengar pun langsung lenyap. Semua mata menatap ke arah Kiyo dengan rasa takut.
"Lo semua kalau punya mulut mending dipake buat makan daripada buat ngurusin hidup gue!" bentak Kiyo dengan suara berat dan berwibawa yang bergema keras. "Sekali lagi gue denger ada yang nyebut nama Bianca dengan nada rendah atau menghina, gue pastiin kalian nggak bakal betah sekolah di sini lagi. Paham?!"
Suasana berubah jadi sangat mencekam. Bianca yang terkejut langsung berdiri dan memegang lengan Kiyo lalu berusaha menenangkan keadaan. "Kak, udah... Kak Kiyo, aku nggak apa-apa. Jangan marah-marah begini, aku malu diliatin orang."
Kiyo menoleh ke arah Bianca sementara napasnya masih terasa berat karena emosi yang meluap. "Mereka harus dikasih pelajaran, Bi. Gue nggak suka lo dihina kayak gitu."
"Iya, aku tau. Tapi tolong, buat aku aja... tenang ya?" Bianca menatap mata Kiyo dengan pandangan memohon yang terlihat sangat lembut.
Melihat sorot mata itu, amarah Kiyo perlahan mereda dengan sendirinya. Ia menghela napas panjang lalu kembali duduk di kursinya. "Oke. Buat kali ini gue lepasin mereka." Kiyo kemudian berdiri lagi hendak berjalan ke tempat penjual makanan. "Gue pesenin makanan dulu. Lo mau apa?"
"Terserah Kakak aja, yang penting nggak ngerepotin," jawab Bianca pelan.
Kiyo mengacak rambut Bianca sekilas dengan gerakan santai sebelum berjalan menuju deretan etalase makanan.
Tak jauh dari situ, Jonathan berdiri diam kaku di dekat tempat penampungan air minum. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Matanya menatap tajam ke arah Kiyo yang sedang memesan makanan lalu beralih menatap Bianca yang duduk sendirian di meja itu.
Ada rasa sesak yang berat dan menyakitkan di dada Jonathan. Ia sangat benci melihat Kiyo bisa menyentuh dan bersikap dekat dengan Bianca sebebas itu. Ia benci melihat Bianca memberikan senyum meski ia yakin itu mungkin palsu kepada cowok lain.
'Kenapa harus Kiyo, Bi? Kenapa bukan gue lagi?' batin Jonathan dengan rasa perih yang mendalam.
Sebuah rahasia besar tersimpan rapat di masa lalu antara Jonathan dan Bianca. Mereka bukan sekadar teman sekolah biasa. Saat masih SMP dulu, mereka pernah menjalin hubungan kasih yang sangat bahagia dan saling mencintai. Jonathan adalah cinta pertama bagi Bianca begitu pun sebaliknya. Namun semuanya hancur saat Jonathan memilih mendekati dan berpacaran dengan Joy adik perempuan Kiyo hanya demi mendapatkan keuntungan dan koneksi dari keluarga Anderson. Pengkhianatan itu membuat hubungan mereka berakhir menyakitkan.
Jonathan sudah berulang kali berusaha meminta maaf. Setiap ada kesempatan, ia mencoba mendekat dan memohon kesempatan kedua. Namun Bianca selalu menolak dan memasang dinding pertahanan yang sangat kuat. Bianca membencinya dan Jonathan sadar betul itu adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Tapi melihat Bianca kini makin dekat dengan Kiyo orang paling berpengaruh di sekolah sekaligus kakak dari pacarnya saat ini membuat rasa cemburu dan sakit hati itu makin menjadi-jadi.
'Gue nggak bakal biarin Kiyo milikin lo sepenuhnya, Bi. Meskipun gue harus bongkar siapa hubungan kita yang sebenernya di depan dia,' desis Jonathan di dalam hati dengan tekad yang kuat.
Tak lama kemudian, Kiyo kembali membawa nampan besar berisi pesanan mereka. Di atasnya terlihat dua porsi nasi goreng lengkap, satu piring large berisi dimsum, jus jeruk, dan beberapa jenis camilan tambahan lainnya.
Bianca tertegun melihat jumlah makanan sebanyak itu. "Kak! Ini kebanyakan banget! Lagian... aku nggak punya uang buat bayar makanan semahal ini."
Kiyo terkekeh pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia duduk kembali di hadapan Bianca lalu dengan lembut ia merapikan rambut panjang Bianca yang jatuh menutupi bahu.
"Bi, dengerin gue," ucap Kiyo sambil menatap wajah gadis itu lekat-lekat. "Gue ini nggak cukup miskin cuma buat sekadar traktir lo makan siang. Lo makan aja yang banyak, nggak usah mikirin soal bayar. Anggap aja ini gaji karena lo udah mau satu kelompok sama gue."
"Tapi Kak—"
"Sstt. Makan, Bianca. Atau gue suapin di depan semua orang nih?" goda Kiyo dengan kerlingan mata yang sukses membuat pipi Bianca memerah seketika.
Bianca akhirnya menunduk dan mulai mengambil sendoknya. "Makasih ya, Kak. Kak Kiyo baik banget hari ini."
"Gue emang selalu baik, lo aja yang kelamaan sadarnya," sahut Kiyo santai sambil mulai menyantap makanannya sendiri.
Di sisi lain ruangan, di meja yang agak tersembunyi, Rebecca dan Isabella duduk santai sambil pura-pura asyik menatap layar ponsel masing-masing, padahal mata mereka terus memperhatikan kejadian di meja pojok itu. Rebecca adalah kakak kandung Bianca, jadi ia sangat paham betul apa yang sedang disusun adiknya.
"Gila, kalau soal akting Bianca emang juara banget ya, Bec," bisik Isabella sambil menyeruput minumannya. "Liat deh raut mukanya, bener-bener kayak gadis lugu yang lagi senyum karena diperhatiin orang yang disukai. Padahal di dalem otaknya mungkin lagi nyusun cara buat ngeruntuhkan kekuasaan Maxwell."
Rebecca menyeringai puas sambil diam-diam memotret adegan Kiyo dan Bianca. "Itu kelebihan terbesar dia, Isa. Dia bisa memisahkan sepenuhnya antara perasaan pribadi dan misi kita. Semakin Kiyo percaya dan dekat sama dia, semakin gampang Bianca dapat informasi rahasia. Liat aja nanti, benteng Anderson bakal roboh dari dalam sendiri."
"Tapi gue agak ngeri juga liat Kiyo marah tadi. Dia beneran rela berantem sama semua orang cuma demi ngelindungin Bianca. Gimana kalau nanti dia tau kenyataan yang sebenernya? Bisa jadi dia jauh lebih galak dari tadi," ujar Isabella sedikit merasa khawatir.
"Itu urusan nanti belakangan. Yang penting sekarang semua rencana kita berjalan mulus," jawab Rebecca dengan nada yang tenang dan mantap. "Gue pengen banget liat hari di mana Maxwell Anderson harus tunduk dan mengakui semua kejahatannya. Dan soal Kiyo... dia cuma korban yang terjebak dalam dosa ayahnya sendiri."
Kembali ke meja tempat Kiyo dan Bianca duduk.
"Bi, nanti pulang sekolah gue jemput di kelas lo ya. Kita mulai bahas kerangka tugas biologi itu di rumah gue atau di apartemen lo?" tanya Kiyo sambil mengambil tisu dan mengusap pelan sudut bibir Bianca yang terkena bumbu.
Bianca terdiam sejenak karena kaget. 'Aduh, kalau di apartemen nanti ada Rebecca sama Isa lagi sibuk nyusun strategi. Bahaya banget kalau dia ke sana!' batinnya cemas.
"Di perpustakaan sekolah aja gimana, Kak? Kayaknya lebih tenang buat belajar dan nggak ada gangguan," Bianca mencoba memberi usulan yang aman.
Kiyo tampak berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. "Oke, terserah lo aja. Asal sama lo, di mana pun nggak masalah."
Bianca tersenyum tipis, namun di balik senyum itu ia kembali melirik ke arah Jonathan yang masih menatapnya dari kejauhan. Ia sadar betul Jonathan sedang tersiksa oleh rasa cemburu dan kenangan masa lalu, dan sejujurnya ada rasa puas kecil di hati Bianca melihat mantan kekasihnya itu menderita. Namun ia juga paham bahwa Jonathan adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan merusak semua rencana yang sudah disusunnya.
'Lo harus tetep diam dan nggak usah ikut campur, Jonathan. Jangan sampe rahasia lama kita ngerusak apa yang udah gue bangun susah payah,' batin Bianca dengan pandangan yang tajam dan penuh peringatan.