Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat yang Semakin Menjerat
Hari Rabu, Pukul 15.00
Kembali ke kantor Densus 88.
Inspektur Widi mendengarkan ceritaku dengan saksama.
“Dr. Hendra mendekatimu di tempat umum?” tanyanya.
“Iya, Bu. Di kantin sekolah. Banyak orang yang melihat.”
“Itu taktiknya. Dia ingin membuatmu merasa tertekan dan takut, tapi melakukannya di tempat terbuka agar punya alasan—‘saya hanya berbicara baik-baik dengan siswa’.”
“Licik sekali,” gerutu Sasha.
“Semua pengusaha besar seperti itu. Tapi Dr. Hendra… dia berada di level yang jauh lebih berbahaya.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan, Bu?” tanya Rasya.
“Untuk saat ini, jaga jarak. Jangan berusaha melawannya secara terbuka. Dia memiliki tim pengacara yang siap menuntut balik siapa saja yang menuduhnya tanpa bukti kuat.”
“Jadi kami hanya bisa diam saja?” tanyaku dengan nada kecewa.
“Tidak. Kalian bisa mengumpulkan bukti. Tapi harus sangat berhati-hati, nyawa kalian dipertaruhkan.”
Inspektur Widi membuka laptopnya. “Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui.”
“Apa itu, Bu?”
“Densus menemukan fakta bahwa Dr. Hendra… mengirim orang ke sekolah kalian. Bukan hanya sebagai donatur, tapi sebagai…”
“Sebagai apa?”
“Sebagai guru baru.”
---
Keesokan Harinya
Pak Firmansyah mengumumkan lewat pengeras suara: “Kepada seluruh siswa, hari ini kita kedatangan guru baru. Beliau akan mengajar mata pelajaran Kewarganegaraan. Mohon sambut dengan baik.”
Seorang pria muda masuk ke dalam kelas. Wajahnya terlihat ramah, senyumnya manis, memakai kacamata tebal. Dia melambai ke arah kami.
“Perkenalkan, nama saya Bapak Andi. Senang bisa mengajar di sini.”
Aku menatapnya dengan perasaan curiga. Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
“Nay, kamu lihat itu?” bisik Sasha.
“Apa?”
“Tato di pergelangan tangannya.”
Aku memperhatikan dengan saksama. Di pergelangan tangan kanan Pak Andi, tersembunyi di balik lengan kemejanya, ada tato kecil berbentuk tengkorak.
“Guruku di kehidupan sebelumnya juga punya tato yang sama. Dia anggota jaringan kejahatan,” bisikku. “Kita harus menyelidiki latar belakangnya.”
---
Saat jam istirahat, Kayla sedang duduk sendirian di bangku taman ketika Pak Andi mendekatinya.
“Kayla Maharani?”
Kayla menoleh, wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
“Iya, Pak.”
“Ayahmu mengirimku menjemputmu.” Pak Andi tersenyum—senyum yang persis seperti senyum Dr. Hendra. “Dia menyuruhmu pulang sekarang.”
“Saya tidak mau, Pak.”
“Ini bukan permintaan, Kayla.” Suara Pak Andi berubah menjadi dingin dan tajam. “Ini perintah.”
Aku dan Rasya segera berjalan mendekat.
“Pak Andi,” sapa Rasya.
Pak Andi menoleh. “Ada apa, Rasya?”
“Saya mau bertanya soal tugas yang Bapak berikan.”
“Tugas? Sekarang?”
“Iya, Pak. Ini mendesak.”
Pak Andi menghela napas kesal. “Baiklah. Kayla, kita lanjutkan nanti.”
Dia pergi bersama Rasya menuju ruang guru. Sementara itu, aku menggandeng tangan Kayla menjauh.
“Kay, kamu tidak apa-apa?”
“Aku… aku takut sekali.”
“Kenapa? Siapa dia sebenarnya?”
“Pak Andi adalah tangan kanan Dr. Hendra. Di kehidupan sebelumnya, dialah yang membunuh ayah kandungmu, Nayla.”
Aku terdiam kaku seolah membeku.
“Apa?”
“Ayah kandungmu—Komisaris Aditya—ditembak mati oleh Pak Andi. Di bawah perintah langsung Dr. Hendra.”
Dunia terasa berputar di sekelilingku.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
“Aku baru tahu dari laporan rahasia Densus. Aku baru saja mendapat akses ke data itu tadi malam.”
“Kay—”
“Aku serius, Nayla. Pak Andi tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Dia akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan Dr. Hendra. Termasuk kita.”
---
Saat pulang sekolah, aku berbicara dengan Rasya:
“Ras, kita harus melaporkan ini ke polisi.”
“Melaporkan apa? Kita belum punya bukti yang nyata. Hanya keterangan Kayla saja tidak cukup untuk menahan orang sekuat dia.”
“Tapi Kayla mengatakan dia pembunuh ayahku—”
“Kata-kata saja tidak cukup di mata hukum, Nay.”
Aku merasa frustrasi. “Jadi kita hanya bisa diam saja? Sementara dia bergerak bebas di sekolah kita?”
Rasya menghela napas panjang. “Kita bisa menyelidiki. Secara diam-diam.”
“Caranya bagaimana?”
“Aku sudah memasang alat perekam suara di ruang guru.”
Mataku terbelalak kaget. “Kamu—kapan kamu melakukannya?”
“Tadi pagi, sebelum pelajaran pertama dimulai.”
“Rasya, itu tindakan ilegal!”
“Semua yang kita lakukan selama ini sudah melanggar aturan, Nayla. Tapi jika kita tidak berani mengambil risiko, kita akan berakhir seperti ayahmu.”
Aku terdiam. Dia benar.
---
Pukul 20.30
Rasya mengirim pesan ke grup kami:
Rasya (20.30): “Dengarkan ini.”
Sebuah file audio dikirim. Aku segera memutarnya. Suara Pak Andi dan Pak Firmansyah—Kepala Sekolah—terdengar jelas.
Pak Andi: “Bagaimana perkembangan situasi?”
Pak Firmansyah: “Nayla masih keras kepala. Tapi saya akan mengurusnya.”
Pak Andi: “Jangan bertindak terlalu kasar. Kita tidak ingin menarik perhatian orang luar.”
Pak Firmansyah: “Saya paham.”
Pak Andi: “Dr. Hendra ingin Nayla disingkirkan dari sekolah ini.”
Pak Firmansyah: “Dikeluarkan? Atau…”
Pak Andi: “Terserah caranya. Yang penting dia tidak lagi mengganggu rencana kita.”
Pak Firmansyah: “Baik.”
Rekaman berakhir.
Aku menggigil kedinginan. Ternyata Kepala Sekolah juga terlibat dalam jaringan mereka.
“Sial,” bisikku.
Sasha (20.35): “GILA! KEPALA SEKOLAH JUGA IKUTAN?”
Kayla (20.35): “Pak Firmansyah sudah lama menjadi anak buah Dr. Hendra. Dialah yang mengatur dana beasiswa—beasiswa palsu yang digunakan untuk pencucian uang.”
Nayla (20.36): “Kenapa kamu tidak bercerita dari awal, Kay?”
Kayla (20.36): “Karena aku takut. Tapi sekarang mereka sudah mulai bergerak. Aku tidak punya pilihan lain selain jujur.”
Rasya (20.37): “Besok kita bawa rekaman ini ke kantor Densus.”
Nayla (20.37): “Tapi kita harus sangat berhati-hati. Pak Firmansyah mungkin sudah sadar ada yang mencurigakan.”
Rasya (20.38): “Aku sudah melepas alat perekamnya. Tidak ada jejak yang tertinggal.”
Sasha (20.38): “Rasya, kamu benar-benar seperti mata-mata sungguhan.”
Rasya (20.39): “Aku belajar banyak hal.”
Nayla (20.39): “Dari mana?”
Rasya (20.40): “Dari YouTube.”
Aku tertawa kecil meskipun situasinya masih tegang.