Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Belanda
Setelah berpamitan dan menyalami Pak RT, kelompok mahasiswa itu segera mengangkat tas carrier mereka dan berjalan sesuai arah yang ditunjukkan. Dengan langkah penuh semangat—dan sedikit rasa ingin tahu mengenai rumah tua di ujung jalan mereka mulai menyusuri jalur kecil yang dikelilingi oleh pohon bambu.
Suara daun bambu yang berdesir karena tiupan angin seolah mengiringi langkah mereka saat meninggalkan pusat desa, menuju tempat tinggal baru yang akan menjadi saksi pengabdian mereka di Desa Pasir Angin.
Di sepanjang jalur setapak yang makin sempit dan dikelilingi oleh deretan pohon bambu, Bagas mulai menunjukkan gejala kegelisahan. Ia beberapa kali menggeser tas carrier yang berat sambil sesekali mengusir nyamuk yang hinggap di lehernya.
"Yan, apakah kamu merasakannya? Suasana di sini semakin aneh, aku tidak bermaksud mengeluh, tapi sinyal di sini benar-benar hilang total. Bagaimana kita bisa memantau data Real-Time jika untuk membuka WhatsApp saja begitu sulit?”. Keluh Bagas sambil melirik semak-semak yang lebat.
"Sabar ya, Gas. Ini kan desa terpencil." Dinda, yang sebelumnya mencari area bagus untuk berfoto, mendengar dan menengok.
"Ini bukan hanya soal sinyal, Din. Cobalah lihat jalan ini. Licin, becek, dan gelap. Aku gak bisa membayangkan harus bolak-balik ke Jarian malam-malam untuk mengambil sampel. Belum lagi yang dibilang Pak RT tadi, udara di sini lebih tajam. Apa maksudnya? Aku curiga rumah ini bukan hanya kosong, tetapi benar-benar sudah ‘dikosongkan’ oleh alam.”. Potong Bagas lagi, dengan suara yang semakin rendah.
"Gas, fokuslah pada tujuan kita. Masalah teknis seperti sinyal itu adalah tantangan, bukan hambatan. Mengenai suhu dingin, itu hanya karena kelembapan di sini sangat tinggi akibat banyaknya pepohonan. Jangan berpikir yang aneh-aneh.". Adrian yang berada di depan hanya melirik sejenak.
"Iya, iya, si jago logika,". Umpat Bagas sambil mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal jauh dari rombongan.
Setelah mereka tiba di ujung jalur setapak, sebuah bangunan tua tampak berdiri dengan kokoh seolah menyambut kedatangan mereka. Rumah bergaya kolonial Belanda tersebut terlihat mencolok di tengah hutan pepohonan, dengan dinding tebal yang cat putihnya sudah mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan corak semen hitam akibat lembap.
Jendela-jendela terbuka lebar dengan daun pintu jati yang kuat namun mulai lapuk dimakan usia. Pilar-pilar besar yang menyangga teras depan memberikan kesan megah sekaligus mencekam, apalagi dengan langit-langit rumah yang sangat tinggi dipenuhi dengan sarang laba-laba di sudut-sudutnya. Lantainya terdiri dari tegel kunci dengan motif klasik yang terasa dingin di telapak kaki, menambah suasana sepi di dalam rumah.
Meski Pak RT mengatakan rumah itu sudah bersih, bau musty khas bangunan tua langsung tercium setiap kali pintu utama terbuka. Ruangan di dalam sangat luas namun kosong; gema langkah kaki mereka terdengar berulang di antara dinding-dinding yang dingin.
Di beberapa bagian plafon, terlihat bekas rembesan air hujan yang membentuk pola-pola aneh, sementara sinar matahari yang masuk melalui ventilasi hanya mampu menerangi partikel debu yang bergerak di udara, tampak mengingatkan bahwa rumah ini sudah lama terputus dari kehidupan di luar.
"Gila, ini bukan sekadar rumah tua, ini seperti lokasi syuting film horor! Yan, apakah kamu yakin kita aman di sini? Lihat plafonnya, sudah terlihat mau ambruk menimpa kita saat tidur.". Bagas segera melempar tas carrier-nya ke lantai tegel yang berdebu, membuat bunyi dentuman yang menggema ke seluruh ruangan.
"Aduh, baunya sangat menyengat. Gas, jangan sembarangan letakkan tasnya, nanti jadi kotor! Tapi lihat jendelanya tinggi sekali. Jika diambil foto dengan filter vintage sih mungkin bagus, tetapi saat malam seperti ini, jujur aja aku merinding." Dinda mengernyitkan dahi, menutup hidungnya dengan ujung jilbab.
"Strukturnya masih kokoh, ini ciri khas arsitektur Belanda. Dari segi keselamatan, tempat ini masih sangat aman, Gas. Aroma ini hanya muncul karena sirkulasi udara yang terhalang cukup lama. Ayo, kita buka semua jendela sekarang supaya udara baru bisa masuk." Adrian melangkah ke tengah ruangan, berusaha mengetuk salah satu pilar besar yang mendukung ruang tamu.
"Buka jendela? Kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Pak RT. Udara di sini tajam. Jika kita membukanya lebar-lebar, yang masuk bukan hanya angin, tetapi tamu lain, bagaimana?"?" Bagas memperhatikan jendela kayu besar yang tampak berat dengan wajah terkejut. "
"Ini masalah logika, Gas. Satu-satunya yang boleh masuk ke ruang ini adalah oksigen. Kita butuh tempat ini sebagai markas proyek Smart Waste, jadi jangan bersikap rewel. Dinda, silakan lihat ketersediaan air di belakang. Gas, kamu bisa membantuku membuka engsel-engsel yang macet ini?". Jawab Adrian singkat sambil berusaha memutar kunci besi yang sudah berkarat.
"Baiklah, baiklah. Tapi jika mendengar suara langkah di lantai dua saat kita semua ada di bawah nanti malam, jangan menyalahkan jika aku langsung kabur kembali ke Jakarta, ya!" Bagas menghela napas panjang sambil melihat ke arah sudut langit-langit yang gelap.