NovelToon NovelToon
Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Kereta Singa Kuno

​Tiga hari berlalu dalam sekejap mata.

​Di Puncak Awan, ketiga murid inti tidak membuang sedetik pun waktu. Meskipun mereka tidak lagi masuk ke Menara Ilusi Waktu karena butuh waktu untuk menstabilkan fondasi Pembangunan Yayasan mereka yang baru, hanya dengan bermeditasi di lingkungan sekte yang kini telah menjadi Tanah Suci, kultivasi mereka semakin padat dan murni.

​Di pagi hari ketiga, matahari baru saja mengintip dari ufuk timur ketika raungan menggelegar memecah kesunyian.

​ROAAAAAR!

​Dua ekor Singa Api Bersayap Sisik Naga, masing-masing sebesar gajah dewasa, mengepakkan sayap api mereka di pelataran utama. Mereka menarik sebuah kereta perang raksasa yang terbuat dari emas gaib dan perunggu kuno. Kereta itu tidak memiliki atap, melainkan sebuah singgasana mewah di tengahnya, dikelilingi oleh pilar-pilar pelindung yang memancarkan rune formasi tingkat tinggi.

​Lin Chen melangkah keluar dari aula, jubah putihnya berkibar anggun. Ia melompat ringan dan mendarat di singgasana kereta.

​Di bawah, Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian sudah bersiap dengan Seragam Awan Ilahi mereka. Ye Fan dengan pedang hitam usangnya, Su Yue dengan pita penutup mata dan aura peri yang dingin, serta Lin Tian yang memancarkan hawa jurang tak berdasar.

​"Naiklah," perintah Lin Chen malas. "Sudah waktunya kita melihat dunia luar dan mencari sedikit hiburan."

​Ketiga murid itu melompat naik, berdiri di sisi kiri dan kanan singgasana Guru mereka bagaikan pengawal dewa.

​"Berangkat."

​Lin Chen menjentikkan jarinya. Kedua singa raksasa itu mengaum membelah awan dan melesat ke langit. Kecepatan monster tingkat Puncak Pembentukan Inti itu sangat tidak masuk akal. Mereka meninggalkan jejak api keemasan di langit biru, melintasi ribuan mil bagaikan bintang jatuh.

​Lembah Kabut Jatuh, Reruntuhan Kuno Bintang.

​Lembah raksasa ini dulunya adalah tempat yang sunyi dan berbahaya, namun hari ini, tempat ini menjadi pusat gravitasi seluruh Wilayah Selatan. Puluhan ribu kultivator berkumpul, mendirikan tenda dan paviliun melayang di sekitar ngarai raksasa yang memancarkan pendaran cahaya bintang dari kedalamannya. Itulah pintu masuk Reruntuhan Kuno.

​Hanya para jenius di bawah usia 25 tahun yang bisa masuk, namun para elit sekte, master, dan leluhur ikut datang sebagai pengawal. Ini bukan hanya ekspedisi, melainkan ajang pamer kekuatan antar faksi.

​Di area perkemahan paling depan dan paling mewah, berdiri bendera raksasa bergambar Matahari Ungu. Ini adalah wilayah Istana Matahari Ungu, satu-satunya Sekte Bintang 3 dan penguasa mutlak Wilayah Selatan.

​Di tengah paviliun ungu tersebut, seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh dua tahun berdiri dengan tangan di belakang punggung. Ia mengenakan mahkota emas, matanya memancarkan arogansi yang seolah menganggap semua orang di sekitarnya adalah semut.

​Dia adalah Chu Tiankuo, Jenius Nomor Satu Wilayah Selatan.

​"Kakak Seperguruan Chu," seorang murid inti lain mendekat dengan penuh hormat. "Semua faksi Bintang 2 telah hadir. Sekte Pedang Angin, Sekte Lembah Bulan, dan Lembaga Besi Darah. Reruntuhan akan terbuka dalam satu jam."

​Chu Tiankuo mendengus pelan. "Sekumpulan udang kecil. Apakah ada di antara mereka yang menembus Pembangunan Yayasan?"

​"Ada, Kakak Chu. Putra Mahkota Sekte Pedang Angin menembus Lapis ke-1 Pembangunan Yayasan sebulan yang lalu. Namun, tentu saja dia bukan tandingan Anda yang sudah berada di Lapis ke-5 Pembangunan Yayasan! Bakat Anda adalah yang tertinggi dalam lima ratus tahun sejarah Istana!"

​Sanjungan itu membuat Chu Tiankuo tersenyum puas. Di usia 22 tahun mencapai Lapis ke-5 Pembangunan Yayasan memang sebuah mukjizat di Wilayah Selatan yang tandus ini. Ia yakin, Reruntuhan Kuno kali ini hanya akan menjadi taman bermain pribadinya.

​Tiba-tiba, suara gemuruh aneh terdengar dari kejauhan.

​Bukan suara guntur, melainkan suara gelombang panas yang merobek udara. Langit di sebelah utara tiba-tiba berubah warna menjadi merah jingga. Suhu di seluruh lembah meroket secara drastis, membuat ribuan kultivator yang hadir berkeringat dingin dan mendongak dengan panik.

​"A-apa itu?!"

​"Lihat ke atas! Ada lautan api yang turun dari langit!"

​Seekor burung bangau spiritual milik Istana Matahari Ungu menjerit ketakutan dan langsung jatuh pingsan di tanah, tak berani menatap langit.

​Dari balik awan merah, sebuah Kereta Perang Emas Kuno merobek langit, ditarik oleh dua monster raksasa yang memancarkan aura mengerikan. Setiap kepakan sayap kedua Singa Api itu membuat udara di lembah terdistorsi oleh panas.

​Tekanan aura dari dua monster tingkat Puncak Pembentukan Inti itu menyapu ke bawah seperti palu godam raksasa!

​Bruk! Bruk! Bruk!

​Ribuan murid dari berbagai sekte yang kultivasinya masih di tahap Kondensasi Qi langsung jatuh berlutut, tak mampu menahan tekanan garis keturunan buas tersebut. Bahkan para Tetua dari Sekte Bintang 2 memucat, terpaksa menggunakan seluruh Qi mereka hanya agar tidak ikut terjatuh.

​Di paviliun utama, Tuan Istana Matahari Ungu—seorang pria tua dengan jubah ungu tebal—berdiri dengan wajah penuh kengerian. Ia sendiri adalah ahli Pembentukan Inti Lapis Akhir, namun melihat dua monster penarik kereta itu, jantungnya berdegup kencang. Kekuatan tempur kedua monster itu... tidak di bawahku!

​Kereta emas itu berhenti di udara, tepat di atas perkemahan puluhan ribu orang.

​Di singgasana kereta, Lin Chen bersandar malas, menopang dagu dengan satu tangan. Tatapannya setengah tertutup, sama sekali tidak menaruh minat pada kerumunan di bawahnya.

​Di sampingnya, ketiga muridnya berdiri tegap, memandang rendah lautan manusia itu layaknya dewa yang menatap semut fana.

​"S-Sekte mana ini?!" bisik Putra Mahkota Sekte Pedang Angin dengan bibir gemetar. "Apakah Tanah Suci dari Benua Tengah turun ke wilayah pinggiran kita?!"

​Utusan Istana Matahari Ungu yang tempo hari mendatangi Puncak Awan—yang kini berdiri di samping Tuan Istana—menelan ludah dengan susah payah. Kakinya bergetar.

​"T-Tuan Istana..." bisik utusan itu pucat pasi. "I-Itulah... Sekte Puncak Awan..."

​"Apa?!" Mata Tuan Istana membelalak. "Inikah sekte kecil yang kau bilang mengambil alih wilayah Api Biru?! Kereta perangnya saja ditarik oleh monster Pembentukan Inti?! Kau sebut ini sekte kecil, dasar bodoh?!"

​Tuan Istana Matahari Ungu adalah orang yang sangat cerdik. Menyadari kekuatan yang jauh melampaui akal sehat, ia tidak berani bertingkah arogan. Ia langsung melayang ke udara, membungkuk dalam-dalam dengan kedua tangan dikepalkan di depan dada.

​"Istana Matahari Ungu menyambut kedatangan Rekan Dao dari Sekte Puncak Awan! Mohon maafkan kami karena tidak menyambut dengan layar penuh, kami tidak tahu kereta agung Anda akan tiba secepat ini!" sapa Tuan Istana dengan nada merendah yang membuat seluruh orang di lembah ternganga.

​Penguasa Wilayah Selatan baru saja menundukkan kepalanya kepada seorang pemuda berjubah putih yang bersandar santai di kereta?!

​Lin Chen bahkan tidak repot-repot berdiri. Ia hanya melirik Tuan Istana itu dengan ekor matanya.

​"Kau Tuan Istana Matahari Ungu? Utusanmu memberitahuku bahwa aku diwajibkan datang. Jadi di sinilah aku. Bukankah acaranya sudah mau mulai?"

​Nada bicara Lin Chen sangat arogan, tanpa embel-embel sopan santun. Namun, Tuan Istana tidak berani marah, ia hanya tersenyum canggung.

​Namun, darah muda selalu panas dan bodoh.

​Di bawah sana, Chu Tiankuo, sang Jenius Nomor Satu, merasa harga dirinya diinjak-injak melihat sekte antah-berantah merenggut semua perhatian dan membuat Tuan Istana-nya bersikap seperti pelayan. Terlebih lagi, ia melihat Lin Chen dan ketiga pemuda di kereta itu sepertinya seumuran dengannya.

​"Guru, mengapa Anda begitu merendah pada mereka?!" teriak Chu Tiankuo dari bawah, mengumpulkan Qi-nya agar suaranya terdengar jelas. "Hanya karena mereka memiliki tunggangan langka, bukan berarti mereka kuat! Reruntuhan ini adalah ajang unjuk kekuatan para jenius, bukan ajang pamer harta hewan peliharaan!"

​Keheningan seketika menyelimuti lembah. Ribuan orang menahan napas. Tuan Istana Matahari Ungu pucat pasi dan nyaris pingsan mendengar kebodohan murid kesayangannya.

​Chu Tiankuo menunjuk ke arah kereta emas itu. Matanya terkunci pada Ye Fan. "Hei, bocah berpakaian putih yang membawa pedang karatan! Kau dan aku sama-sama murid generasi muda. Turun ke sini dan bertarunglah denganku jika kau memang pria sejati! Jangan hanya bersembunyi di balik rok Master Sektemu!"

​Di atas kereta, Lin Tian dan Su Yue menoleh ke arah Ye Fan. Bukannya marah, sudut bibir mereka justru melengkung membentuk senyuman mengejek yang identik.

​"Kakak Ye, sepertinya ada lalat yang menantangmu," gumam Lin Tian datar.

​Lin Chen terkekeh pelan sambil mengambil cangkir tehnya dari meja kecil di sebelahnya. "Ye Fan. Kau dipanggil. Seseorang menyebut pedangmu karatan."

​Mata Ye Fan perlahan menjadi sedingin es abadi. Niat Pedang Pembelah Surga di dalam tulangnya mulai beresonansi, mengeluarkan suara dengungan yang membuat ruang di sekitar kereta bergetar.

​"Murid akan memotong lidahnya untuk Guru."

​Ye Fan melangkah maju ke tepi kereta. Ia tidak melompat turun. Ia hanya berdiri di udara, menatap Chu Tiankuo yang masih berpose arogan di bawah sana.

​"Turun untuk bertarung denganmu?" Suara Ye Fan bergema ke seluruh lembah, memancarkan kedinginan mutlak. "Kau melebih-lebihkan dirimu sendiri."

​Ye Fan bahkan tidak repot-repot mencabut Pedang Pemutus Surga dari punggungnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, membentuk dua jarinya seperti pedang, dan menebas dengan santai ke arah bawah.

​Sring!

​Dunia seolah kehilangan suaranya selama sepersekian detik.

​Sebuah Niat Pedang yang tidak terlihat oleh mata telanjang, namun bisa dirasakan oleh insting yang paling primal, jatuh dari langit. Ia tidak memancarkan ledakan cahaya yang berlebihan, namun ia membawa hukum "pemotongan" yang absolut.

​Mata Chu Tiankuo yang awalnya penuh kesombongan langsung melebar dipenuhi teror murni. Ia mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun energi pedangnya hancur berantakan bahkan sebelum terbentuk.

​BUMMMMM!

​Niat pedang itu menghantam tepat di tempat Chu Tiankuo berdiri. Bumi di Lembah Kabut Jatuh terbelah! Sebuah jurang selebar lima meter dan sepanjang seratus meter membelah perkemahan Istana Matahari Ungu menjadi dua!

​Chu Tiankuo terpental seperti boneka kain yang putus talinya, menabrak tebing batu di kejauhan hingga hancur. Seluruh pakaian bertarungnya robek, dan sebuah luka sayatan pedang yang panjang membentang dari bahu kiri hingga pinggang kanannya, memuntahkan darah segar. Kultivasinya di Pembangunan Yayasan Lapis ke-5 hancur total oleh tebasan santai dua jari tersebut.

​Jenius Nomor Satu Wilayah Selatan, tumbang bahkan tanpa lawannya mencabut pedang dari sarungnya!

​Lembah itu mati rasa. Ribuan rahang jatuh ke tanah.

​Tuan Istana Matahari Ungu menatap jurang yang diciptakan oleh Niat Pedang Ye Fan dengan tubuh gemetar hebat.

​Pembangunan Yayasan Lapis Awal... batinnya menjerit. Kultivasi bocah itu hanya Pembangunan Yayasan Lapis 1, tapi Niat Pedangnya telah mencapai tahap 'Mewujudkan Hukum'! Monster dari langit mana ini?!

​Ye Fan menurunkan jarinya dan mendengus dingin. "Sangat lemah. Mengotori tanganku." Ia berbalik dan kembali berdiri di samping singgasana Lin Chen, seolah ia baru saja memukul nyamuk.

​Lin Chen menatap lautan manusia di bawah yang kini semuanya menunduk tak berani menatap ke atas. Ia tersenyum, menyesap tehnya perlahan.

​"Tuan Istana," ucap Lin Chen dengan nada bosan. "Kudengar Reruntuhan ini ada batasan kuota untuk jumlah murid yang masuk. Karena Sekte Puncak Awan-ku adalah tamu... kami akan mengambil setengah dari total kuota. Apakah ada yang keberatan?"

​Tuan Istana Matahari Ungu, bersama seluruh Master Sekte Bintang 2 di sana, serempak menggelengkan kepala mereka dengan panik.

​"T-Tidak ada! Tidak ada yang keberatan! Master Sekte Puncak Awan sungguh adil dan bijaksana!"

​Tepat saat kata-kata itu diucapkan, pusaran cahaya bintang di dasar ngarai tiba-tiba meledak terang ke langit. Fluktuasi energi kuno menyapu wilayah tersebut.

​Pintu Reruntuhan Kuno Bintang telah terbuka!

1
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Ress
Kurang ajar memang🤣/Sob/
Deevy Tresiyana
💪Thor karya mu sangat kereeen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!