Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan harinya, seberkas cahaya matahari pagi mulai menembus sela-sela gorden rumah utama pesantren.
Fathan sudah rapi dengan kemeja koko polos dan wajah yang tampak sedikit lebih segar setelah membersihkan diri, meski gurat kelelahan dan lingkar hitam di matanya tak bisa disembunyikan.
Pikirannya sama sekali tidak berada di pesantren. Sejak membuka mata di sepertiga malam terakhir, hatinya sudah tertinggal di kamar perawatan rumah sakit.
Nasihat abahnya semalam terus terngiang-ngiang, membakar semangatnya untuk mengubur dalam-dalam ego dan kesombongannya. Pagi ini, ia bersiap menuju ke rumah sakit.
Ia ingin melihat keadaan istrinya, memastikan dengan matanya sendiri bagaimana kondisi Humairah setelah malam mencekam yang terjadi karena perbuatannya.
Fathan melangkah cepat menuju pintu depan, berniat segera memanaskan mesin mobil. Namun, langkahnya terhenti tepat di area dapur bersih saat sosok Nyai Latifah menghadangnya.
Di tangan sang ibu, tercengkeram sebuah kresek hitam berukuran sedang.
Tanpa aba-aba, Nyai Latifah menyodorkan kresek itu tepat ke depan dada Fathan.
"Bawa ini ke rumah sakit," ucap Nyai Latifah dengan nada ketus, tanpa ada guratan rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
Fathan mengernyitkan dahi. Belum sempat ia menerima bungkusan itu, indra penciumannya langsung dihantam oleh aroma busuk yang sangat menyengat.
Bau anyir, masam, dan basi seketika menguar hebat, memenuhi rongga udara di sekitarnya.
Fathan refleks mundur satu langkah, menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya bergejolak hebat, ia hampir mual karena bau itu.
"Umi, bau apa ini?" tanya Fathan dengan suara tertahan, menahan gejolak di lambungnya.
Nyai Latifah mencibir, wajahnya tampak sinis. "Itu kepala dan tulang ayam sisa kemarin lusa yang belum sempat dibuang ke tempat sampah luar. Sudah agak basi memang, tapi kalau direbus lagi dengan air, masih ada kaldunya."
Wanita paruh baya itu mengibaskan tangan, seolah perkara ini adalah hal sepele.
"Berikan itu kepada istrimu agar lekas sembuh dan tidak manja. Jadi wanita itu jangan ringkih, baru diuji begitu saja sudah pingsan dan masuk rumah sakit, merepotkan semua orang!"
Deg!
Dada Fathan seperti dihantam ombak besar. Rasa bersalah, malu, dan amarah bercampur menjadi satu, mendidih di dalam darahnya.
Ia teringat kembali pengakuan Humairah semalam kepada abahnya—tentang bagaimana wanita itu dipaksa memakan sisa tulang ayam di dapur ini secara sembunyi-sembunyi demi menjaga kehormatan keluarganya. Dan hari ini, di saat Humairah sedang bertaruh nyawa di atas ranjang rumah sakit, ibunya masih berniat menginjak-injak martabat istrinya dengan menyuguhkan makanan basi.
Nasihat Kyai Umar semalam seketika berdentum keras di kepala Fathan: Lindungi dia dari lisan Umimu, dan belajarlah menjadi tameng untuknya.
Fathan menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menatap mata ibunya bukan dengan kepatuhan yang buta, melainkan dengan ketegasan penuh sebagai seorang suami yang siap melindungi makmumnya.
"Umi, cukup!"
Suara Fathan meninggi satu oktav, dalam dan bergetar hebat oleh amarah yang tertahan.
Nyai Latifah tersentak, matanya membelalak tidak percaya mendengar putranya yang selalu penurut kini berani memotong kalimatnya.
"Fathan bisa memberikan ayam satu ekor, bahkan sepuluh ekor yang paling segar untuk istri Fathan!" ucap Fathan dengan rahang mengeras dan mata yang berkaca-kaca. "Dan tolong, hargai Humairah, Umi! Dia bukan pelayan di rumah ini, dia istri Fathan! Dia wanita terhormat yang punya derajat tinggi di mata Abah dan di mata Allah!"
Sebelum Nyai Latifah sempat membalas dengan makian, Fathan menyambar kresek hitam bertuah bau busuk itu dari tangan ibunya secara kasar.
Dengan langkah lebar dan penuh emosi, ia berjalan menuju halaman samping.
SREKK!
PLOP!
Fathan membuang kresek itu ke tempat sampah besar di pojok halaman, memastikan benda yang menjadi simbol penghinaan terhadap istrinya itu lenyap dari pandangan.
Nyai Latifah yang menyaksikan hal itu berteriak histeris dari teras, "FATHAN! Kamu berani membangkang pada Umi demi wanita itu?! Kamu anak durhaka!"
Fathan tidak menoleh lagi. Ia menulikan telinganya dari jeritan sang ibu.
Dibukanya pintu kemudi dengan cepat, lalu segera ia melajukan mobilnya membelah jalanan pagi, melesat sekencang mungkin menuju ke rumah sakit.
Di dalam dadanya, tekad Fathan sudah bulat: ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ibunya sendiri, menyakiti mutiara berharga yang kini sedang coba ia selamatkan dari ambang kehancuran.
Di dalam kamar perawatan nomor 304, ketenangan yang damai perlahan-lankan mulai kembali.
Semburat cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Humairah yang tidak lagi sepucat kemarin malam.
Selang oksigen yang sempat terpasang di hidungnya kini telah dilepas, menyisakan selang infus yang masih setia mengalirkan cairan penutrisi ke pembuluh darahnya.
Seorang perawat wanita dengan seragam putih bersih baru saja selesai memeriksa tekanan darah dan mengganti botol infus Humairah yang hampir habis.
Ia mencatat perkembangan berkala pada papan klip di tangannya sambil mengulas senyum ramah.
"Alhamdulillah, Ibu Humairah. Tekanan darahnya sudah mulai stabil di angka 110/70, dan demamnya juga sudah turun drastis menjadi 37,2'. Kondisinya jauh lebih baik daripada semalam," ujar perawat itu dengan nada lega.
Humairah mencoba mengulas senyum tipis di balik bibirnya yang masih agak kering.
"Terima kasih, Sus," ucap Humairah dengan suara yang masih terdengar lirih namun sudah jauh lebih bertenaga.
Begitu perawat itu berpamitan dan melangkah keluar dari balik tirai, Abi Sasongko yang sejak subuh duduk terjaga di kursi kayu langsung menggeser posisinya mendekati brankar.
Beliau menatap wajah putrinya dengan gurat kecemasan yang mendalam, lalu mengusap lembut puncak kepala Humairah yang terbalut khimar instan berwarna abu-abu.
"Bagaimana keadaan putri Abi? Masih pusing, Nak?" tanya Abi Sasongko, suaranya sarat akan kelembutan seorang ayah yang teramat menyayangi darah dagingnya.
Humairah menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha menenangkan hati sang ayah.
"Sudah tidak terlalu pusing, Abi. Alhamdulillah, badan Humairah sudah terasa jauh lebih ringan sekarang."
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang ritmis dan pelan seketika memotong percakapan hangat itu.
Suasana di dalam kamar mendadak kembali kaku.
"Assalamualaikum," sebuah suara bariton yang sangat dikenal mengalun dari balik pintu. Suara itu bergetar, sarat akan keraguan dan rasa bersalah yang teramat besar.
"Waalaikumsalam," jawab Abi Sasongko dengan nada suara yang seketika berubah menjadi datar dan berat.
Wibawa hangat seorang ayah langsung berganti menjadi benteng kokoh yang siap siaga.
Pintu perlahan terbuka. Fathan melangkah masuk dengan tubuh yang agak membungkuk, menunjukkan sikap takzim yang penuh dengan kerendahan hati.
Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong kertas yang mengeluarkan aroma gurih yang sangat menggugah selera—berbeda total dengan bau anyir yang sempat disodorkan ibunya tadi pagi.
Kedatangan Fathan sambil membawa sop ayam kampung hangat yang sengaja ia beli dari restoran terbaik dan semangkuk bubur halus membuat Abi Sasongko harus kembali tegas.
Beliau langsung bangkit dari tempat duduknya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap menantunya itu dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam.
"Untuk apa kamu ke sini lagi, Fathan? Bukankah semalam Umar sudah berjanji akan membawamu menjauh dari putriku?" tanya Abi Sasongko tanpa basa-basi, menusuk langsung pada inti pertahanan Fathan.
Fathan tertunduk dalam, ia tidak berani membalas tatapan mertuanya.
Ia meletakkan kantong kertas bawaannya di atas meja dorong dengan sangat hati-hati sebelum kembali menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Abi, Fathan ke sini hanya ingin memastikan keadaan Humairah," bisik Fathan dengan suara parau.
"Fathan membawakan sop ayam kampung segar dan bubur untuknya. Fathan mohon, izinkan Fathan menebus kesalahan semalam, Abi."
Abi Sasongko mendengus dingin. Beliau bersiap melayangkan penolakan keras demi melindungi ketenangan batin putrinya, namun sebelum kata-kata tajam itu sempat meluncur dari bibirnya, sebuah suara lembut dari atas brankar menghentikan segalanya.
"Abi, biarkan dia di sini. Abi dan Umi pulang dulu untuk istirahat," ucap Humairah tenang, tatapannya lurus mengarah pada sang ayah.
Abi Sasongko tersentak. Beliau berbalik, menatap Humairah dengan raut wajah tidak percaya.
"Tapi, Nak. Abi tidak mau pria ini membuatmu tertekan lagi. Tubuhmu belum sepenuhnya pulih."
Humairah meraih tangan ayahnya, meremasnya lembut seolah menyalurkan keyakinan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Humairah tidak apa-apa, Abi. Abi dan Umi sudah semalaman terjaga di sini tanpa tidur. Humairah tidak mau Abi dan Umi ikut jatuh sakit. Biarkan Ustadz Fathan yang menjaga Humairah di sini."
Abi Sasongko merasa berat meninggalkan putrinya sendirian bersama pria yang telah menorehkan luka fisik dan batin itu, tapi ini permintaan Humairah yang disampaikan dengan tatapan mata yang sangat teguh dan tidak bisa diganggu gugat.
Beliau tahu, putrinya bukan lagi wanita rapuh yang bisa diintimidasi; ada ketegasan baru di dalam diri Humairah yang sedang memegang kendali atas nasib rumah tangganya sendiri.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭