Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Ibu Bonyok
Siang itu, suasana di ruang tengah kediaman Pak Kusnadi mendadak mencekam. Bu Nimas berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Ia menatap Sekar menantunya yang biasanya diam saja jika diberi seribu bahasa dengan tatapan ngeri.
"Ka-kamu mau apa, Sekar???" suara Bu Nimas bergetar. Ekspresi Sekar yang datar namun tajam sukses membuat mertuanya itu menahan napas.
"Bu... itu..." desis Sekar. Matanya terpaku fokus pada satu titik tepat di dahi Bu Nimas.
"Apa??? Mau apa kamu????" Karena nyalinya ciut, Bu Nimas mencoba menutupi rasa takutnya dengan bentakan.
Sekar tidak menyahut. Tangannya perlahan terangkat ke udara.
PLAKKK!
Satu tamparan keras mendarat tepat di kening Bu Nimas. Suaranya bergema di ruangan itu.
"Aduh! Gila kamu ya, Sekar! Apa yang kamu lakukan, hah???? Kurang ajar kamu, berani-beraninya mukul orang tua!" pekik Bu Nimas sambil memegangi keningnya yang mulai berdenyut nyeri.
Sekar malah cengengesan tanpa dosa. Ia menunjukkan telapak tangannya yang sedikit berdarah. "Hehe... maaf, Bu. Habisnya nyamuknya gede banget! Lihat nih, kalau nggak ditepok, bisa habis darah Ibu disedot sama nyamuk kloset itu."
Sekar tidak sepenuhnya bohong. Memang ada nyamuk di sana. Tapi jujur saja, melihat kesempatan emas untuk membalas semua sakit hatinya selama ini, Sekar sengaja mengerahkan tenaga ekstra. Kapan lagi bisa melampiaskan kekesalan lewat bantuan nyamuk?
"Ya tapi nggak sekencang itu juga, Sekar! Kepala Ibu rasanya kayak mau copot, oneng semua ini!" ketus Bu Nimas sambil sempoyongan.
"Perasaan setiap hari Ibu memang sudah oneng deh. Buktinya Ibu nyerempet terus kayak petasan banting." celetuk Sekar santai.
"Heh, apa kamu bilang???" Bu Nimas mulai tantrum. "Kamu pasti sengaja kan? Lihat nih, kening Ibu sampai benjol kena tinjumu!"
"Eh, siapa yang sengaja? Itu namanya gerak spontan, Bu. Nyamuk raksasa gitu kalau nggak segera ditabok bisa bahaya. Bisa-bisa satu rumah kehabisan darah semua nanti." seloroh Sekar setengah benar, setengah mengarang bebas.
Bu Nimas mendengus kesal, napasnya memburu. Namun sebelum mertuanya itu sempat meledak lebih jauh, Sekar sudah berbalik.
"Dah ya, Bu. Aku pamit dulu mau keluar. Assalamualaikum!" seru Sekar sambil melenggang pergi.
"Heh! Siapa yang izinin kamu pergi? Ibu belum kasih izin ya, Sekar!" teriak Bu Nimas dari ambang pintu.
Sekar tidak menoleh sedikit pun. Ia hanya melambaikan tangan tanpa beban. "Huh, siapa juga yang butuh izin dari nenek lampir sepertimu." gumamnya dalam hati.
**
Sekar segera mencegat ojek online menuju rumah sahabatnya, Amelia.
"Loh, Bestie! Kok nggak bilang-bilang mau main?" sapa Amelia kaget saat membuka pintu.
"Hehehe, biar surprise dong..." Sekar nyengir lebar, memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis.
"Aish, kamu ini. Ngomong-ngomong, bawa apa tuh?" Amelia melirik kantong kresek di tangan Sekar.
"Taraaa! Aku bawain bakso sama pempek alun-alun kesukaanmu!"
"Wuih! Dalam rangka apa nih tumben-tumbenan traktir?" Amelia langsung menyambar bungkusan itu dengan semangat.
"Dalam rangka menepati janji. Kan dulu aku bilang, kalau gaji pertamaku cair, kamu orang pertama yang aku traktir." ujar Sekar bangga.
"Eh, bentar... jadi gaji nulis kamu sudah turun?" tanya Amelia kepo sambil menarik Sekar masuk ke rumah.
"Iya, akhirnya ngerasain juga hasil begadang tiap malam."
"Gimana? Lumayan kan? Aku bilang juga apa, jadi penulis di aplikasi itu kalau ditekuni hasilnya bisa lebih gede dari gaji kantoran." sahut Amelia. Ia lalu menunjukkan layar ponselnya. "Nih, lihat saldo aku bulan ini. 700 dollar."
Mata Sekar hampir melompat keluar. "Busyet! Banyak banget, Mel! Itu kalau dirupiahkan bisa buat beli motor!"
"Ya namanya juga sudah senior. Tapi buat pemula kayak kamu, bisa gajian dalam dua bulan itu sudah hebat banget, Kar. Banyak yang belum dapat sebesar kayak kamu meski pun babnya sudah puluhan bahkan ratusan. Ya itu karena bab mereka belum terpilih sih.” puji Amelia tulus.
Sekar mengangguk penuh syukur. Setidaknya, ia punya pegangan finansial sekarang. Ia tidak akan selamanya bergantung pada nafkah Ferdiansyah yang selalu diberikan dengan wajah masam.
**
Sore harinya, Sekar pulang dengan hati yang lebih tenang. Namun, ketenangan itu hancur seketika saat ia melangkah masuk ke rumah. Ferdiansyah sudah berdiri di ruang tamu dengan wajah merah padam.
"Kamu habis dari mana saja, Sekar??? Perasaan sekarang hobi banget ngelayap!" bentak Ferdiansyah.
"Main ke tempat Amelia, Mas. Bosan di rumah terus." jawab Sekar malas.
"Jangan kebanyakan main! Lupa kamu sudah punya suami, hah???" Ferdiansyah mulai berang.
"Lah, Mas sendiri kan kerja. Dari pada aku bengong di rumah mirip zombi, mending aku main biar nggak stres."
"Makanya kerjakan kerjaan rumah! Jangan cuma bengong!"
"Hadeh, Mas ini lama-lama mirip emak-emak kekurangan nafkah deh. Merepet terus kerjaannya." sindir Sekar telak.
Ferdiansyah membuang napas gusar. Istrinya ini benar-benar sudah berubah, sekarang sudah berani menjawab!
"Kata Ibu, tadi kamu mukul dia ya???" tuding Ferdiansyah tajam.
"Lah iya. Eh bukan deng. Cuma nepuk nyamuk doang kok." sahut Sekar hampir keceplosan.
"Nepuk nyamuk katamu? Lihat tuh kening Ibu, sampai sebesar bola bekel!" teriak Ferdiansyah sambil menunjuk ke arah kamarnya.
Tak lama, Bu Nimas muncul bersama Riska. Sekar sontak terbelalak. "Eh, busyet! Kenapa wajah Ibu jadi bengep begitu?"
Sekar kaget sekaligus heran. Keningnya memang benjol, tapi kenapa pipi dan matanya juga ikut bengkak?
"Ini pasti perbuatan Mbak Sekar, kan??? Wajah Ibu sampai hancur berantakan begini." tuduh Riska, sang adik ipar, dengan nada sangat emosional.
"Aku?" Sekar menunjuk dirinya sendiri. "Hadeh, jangan lebay deh. Hancur gimana? Kayak yang habis diinjak ban tronton aja. Itu mah wajah Ibu kayak habis disengat tawon..."
"Sekar! Kamu doain Ibu ketabrak truk???" pekik Ferdiansyah tidak terima.
Sekar mengorek kupingnya. "Aduh, siapa yang doain sih? Telinga Mas congekan apa gimana? Udah ah, malas ribut. Yang pasti tadi aku cuma nepuk pelan karena ada nyamuk. Masalah wajah Ibu bonyok, aku nggak tahu. Aku kan langsung pergi tadi."
Tanpa memedulikan makian dan teriakan mereka, Sekar masuk ke kamar dan membanting pintu.
“ Sekar…..Sekar…. Kurang ajar kamu yah. Suami masih ngomong kamu langsung main pergi saja.” teriak Ferdi.
“ Memang istri kamu kurang ajar, Mas. Nggak tau menghargai orang rumah.” tambah Riska.
Di dalam kamar, Sekar termenung.
"Eh, tapi beneran deh, kenapa wajah Ibu sampai bonyok gitu ya? Kayak habis dipukuli warga sekampung. Padahal tadi aku cuma pukul sekali di kening..."gumam Sekar penasaran. "Hemm... patut diselidiki nih. Jangan-jangan ada yang mau main drama biar aku makin tersudut."
Sekar tersenyum tipis. Apapun rencananya, ia tidak akan tinggal diam lagi. Perang baru saja dimulai.
kapoooooooook