Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — Jangan Tinggalin Aku
“Maaf.”
Senyum kecil itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Naresha.
“ARVEN JANGAN!”
Suara Naresha pecah.
Namun Arven tetap melangkah masuk ke dalam lingkaran merah.
Dan begitu kakinya menyentuh simbol itu—
Brakkk!
Seluruh ruangan bergetar keras.
Bayangan hitam langsung bergerak liar di lantai seperti makhluk hidup.
Suara bisikan berubah menjadi jeritan memekakkan telinga.
“PENGGANTI!”
“AKHIRNYA!”
“AMBIL DIA!”
Naresha mencoba bangkit meski akar hitam masih melilit kakinya.
“VEN!”
Arven menggenggam buku hitam erat sambil menahan sakit.
Simbol merah mulai merambat naik ke tubuhnya sekarang.
Melingkari tangannya.
Lehernya.
Seperti sesuatu sedang mencoba menariknya masuk.
Pak Damar langsung terlihat panik.
“Cepat hancurkan bukunya!”
Penjaga berdiri tepat di depan Arven sekarang.
Tubuh tinggi tanpa wajah itu membungkuk perlahan.
Seolah sedang mengamati calon pengikat baru.
“Cocok…”
Suara banyak orang keluar dari tubuhnya.
“Dia cocok…”
Arven mengepalkan rahangnya kuat-kuat.
Tatapannya tetap lurus.
Meski tubuhnya mulai gemetar menahan rasa sakit.
“Lo ga bakal dapet siapa-siapa lagi.”
Penjaga mengangkat tangannya perlahan.
Dan tiba-tiba—
Bayangan hitam mencengkeram tubuh Arven dari bawah.
Deg.
Cowok itu langsung jatuh berlutut.
“ARGH—”
“VEN!”
Naresha akhirnya berhasil melepaskan salah satu kakinya dari akar hitam.
Namun saat ia hendak maju—
Evelyn tiba-tiba menahan tangannya.
“Jangan!”
Naresha langsung menoleh.
Air mata hitam mengalir di wajah Evelyn.
“Kalau kamu masuk sekarang…” bisiknya lirih, “kalian bakal terikat berdua.”
Deg.
Naresha langsung membeku.
Sementara di tengah lingkaran merah…
Arven mulai kesulitan bernapas.
Bayangan hitam terus naik ke tubuhnya.
Seperti mencoba menelan dirinya hidup-hidup.
Pak Damar mundur satu langkah.
Wajahnya pucat.
“Penjaga memilih terlalu cepat…”
“Apa maksudnya?!”
Pak Damar menatap Arven dengan panik.
“Dia memang dari awal mengincar Arven.”
Sunyi.
Naresha langsung menoleh cepat.
“Hah?”
Pak Damar mengepalkan tangannya.
“Makanya dia bisa melihat arwah sejak kecil.”
Deg.
“Arven memang calon pengikat berikutnya.”
Suasana mendadak terasa semakin dingin.
Naresha menatap Arven dengan napas gemetar.
Dan sekarang semuanya masuk akal.
Kenapa Arven selalu bisa melihat mereka.
Kenapa Penjaga terus memanggil namanya.
Kenapa Evelyn tadi terlihat takut saat Penjaga datang.
Karena sejak awal…
Arven memang target sebenarnya.
“VEN KELUAR DARI SANA!” teriak Naresha.
Namun Arven justru menggeleng pelan.
Tatapannya masih tertuju pada buku hitam di tangannya.
“Kalau gue keluar…” napasnya berat, “dia bakal ambil lo lagi.”
“Biarin aja!”
Deg.
Semua langsung terdiam.
Naresha bahkan baru sadar kalimat itu keluar begitu saja.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku ga peduli…” suaranya bergetar. “Aku ga mau lo kenapa-kenapa.”
Arven terlihat benar-benar terkejut.
Tatapan cowok itu melembut.
Dan di tengah semua kekacauan itu…
Ia justru tersenyum kecil.
Senyum paling hangat yang pernah Naresha lihat darinya.
“Lo bodoh ya,” bisiknya pelan.
Naresha menangis sambil menggeleng kuat-kuat.
“Pokoknya keluar sekarang.”
Namun tiba-tiba—
Penjaga bergerak.
Cepat.
Tangannya langsung mencengkeram leher Arven.
Deg.
“VEN!”
Tubuh Arven terangkat dari lantai.
Buku hitam hampir terlepas dari tangannya.
Suara jeritan langsung memenuhi ruangan.
“TERIMA IKATAN!”
“JADI PENGIKAT!”
“JANGAN MELAWAN!”
Arven berusaha bernapas sambil tetap memegang buku itu erat.
Wajahnya mulai pucat.
Sementara simbol merah di lantai kini naik sampai ke dadanya.
Pak Damar terlihat panik.
“Kalau simbolnya sampai ke jantung—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
Evelyn tiba-tiba bergerak.
Hantu perempuan itu melesat cepat menuju Penjaga.
“Aku ga akan biarin dia jadi sepertiku!”
Brakkk!
Tubuh Evelyn menghantam Penjaga keras.
Cengkeraman di leher Arven langsung terlepas.
Cowok itu jatuh ke lantai sambil batuk keras.
Namun saat itu juga—
Tubuh Evelyn mulai retak.
Seperti kaca pecah.
Deg.
Naresha langsung membeku.
“EVELYN?