NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25 pertengkaran Ratih dan Regan

Pagi ini seperti hari-hari sebelumnya, Ratih sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.

Ratih berjalan keluar dari kamarnya menuju ke teras depan apartemen nya. Taxi online yang sudah dia pesan ternyata belum datang.

Ratih mengecek ke ponselnya, dia mau melihat status taxi yang di pesannya tadi sudah sampai mana.

Belum sempat Ratih mengecek tiba-tiba saja Regan sudah menyambar tangan Ratih dengan kasar dan membawa paksa dirinya untuk masuk ke dalam apartemen lagi.

Ratih terkejut bukan kepalang melihat sikap Regan dengan wajah yang penuh amarah itu.

"Ada apa sih Regan?" tanya Ratih sambil berusaha menepiskan tangan Regan yang mencengkeram lengannya dengan kuat itu.

Setelah berhasil membawa Ratih masuk kembali ke apartemen akhirnya Regan melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Ratih. Ratih mengusap lengannya yang terasa sakit.

Tanpa angin tanpa hujan Regan melemparkan sebuah map ke arah Ratih. Ratih terkejut untuk yang kedua kalinya, dia masih tidak mengerti kenapa Regan bersikap seperti itu padanya.

"Mulai hari ini! Detik ini juga kamu harus resign dari kantor itu! aku tidak mau dengar alasan apapun. Buat surat pengunduran diri sekarang juga!" bentak Regan penuh amarah.

Ratih yang sekarang sudah punya "harapan" tidak lagi diam. Dia membalas dengan teriakan, "Kamu egois, Regan! Kamu cuma mau mengurungku! Aku di sana bekerja, tidak ada hubungannya dengan Pak Dimas!"

Melihat Ratih yang mulai keras kepala, Regan mengeluarkan ancaman pamungkasnya dengan senyuman iblis yang licik.

Kamu lupa siapa yang menyelamatkan ayahmu dari serangan jantung? Kamu lupa siapa yang bikin perusahaan keluargamu tetap berdiri? Sekali saja aku tarik saham dan duniaku dari sana, ayahmu akan langsung membusuk di penjara karena utang, Ratih! Dan cowok sialan bernama Dimas itu... dia gak akan bisa menyelamatkanmu!"

Mendengar nama Dimas disebut oleh Regan, Ratih langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ratih sadar, Regan sudah tahu sesuatu tentang Dimas.

"Tapi kontrak kerjaku masih belum habis," Ratih mencoba membantah lagi.

"Kamu lebih sayang pekerjaanmu atau ayahmu!" Teriak Regan sambil memukul keras meja yang ada di sampingnya yang membuat Ratih terlonjak kaget.

Untuk sesaat Ratih terdiam, di satu sisi dia masih ingin bekerja untuk mengumpulkan uang guna membayar semua utang ayahnya pada Regan tapi di sisi lain dia juga tidak ingin Dimas di apa-apain oleh Regan.

Ketakutan Ratih kembali memuncak, bukan takut untuk dirinya sendiri, melainkan takut Regan akan mencelakai Dimas jika dia terus membangkang. Dengan air mata yang mengalir deras karena menahan amarah dan kehancuran, Ratih akhirnya terpaksa mengangguk lemah.

Ratih kemudian setuju untuk resign dari kantornya hari itu juga dan akan membuat surat pengunduran diri.

"Baiklah aku akan mengundurkan diri dari kantor hari ini juga," ucap Ratih lesu.

Regan tersenyum puas, dia berjalan mendekat ke arah Ratih dan mengecup kening Ratih dengan posesif dan menjijikkan.

"Bagus sayang," ucapnya lalu pergi meninggalkan Ratih.

Begitu Regan keluar dari apartemennya. Ratih langsung luruh ke lantai, dengan tangan gemetar dia meraih ponselnya dan mengirim pesan ke nomor rahasia Dimas. "Dimas, gawat...Regan sudah tahu sesuatu. Hari ini juga dia memaksaku untuk keluar dari kantor," begitu bunyi WhatsApp Ratih.

...----------------...

Di dalam ruang kerjanya, ponsel rahasia Dimas bergetar. Begitu membaca pesan dari Ratih, jantung Dimas mencelos. Namun, sebagai pria yang harus menjadi sandaran Ratih, Dimas menolak untuk panik. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetik balasan.

"Rat, dengarkan aku. Jangan bantah dia lagi untuk saat ini. Ikuti maunya. Ajukan surat resign itu hari ini. Keluar dari kantor bukan berarti kita kalah, tapi ini cara untuk melonggarkan kecurigaannya. Aku bersumpah, ini tidak akan lama. Aku dan Kenzo akan mempercepat semuanya. Kamu aman, Rat. Percaya sama aku."

Membaca balasan itu, tangis Ratih yang tadinya senyap mulai pecah. Setidaknya, di tengah ruang apartemen yang terasa seperti penjara ini, kata-kata Dimas menjadi satu-satunya udara bersih yang bisa dia hirup.

Siang harinya, Ratih datang ke kantor dengan langkah gontai namun wajahnya dipasang sedatar mungkin. Kedatangannya yang tiba-tiba hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri membuat Cindy dan rekan kantor lainnya syok.

Ratih masuk ke dalam ruangannya, semua mata rekan-rekannya yang satu ruangan dengan Ratih tertuju padanya. Begitu juga dengan Cindy yang tak habis pikir dengan keputusan yang sudah di ambil oleh Ratih.

Cindy langsung menahannya di koridor: "Rat, kamu gila? Kenapa mendadak resign? Ini pasti karena si Regan bajingan itu, kan?!"

Ratih hanya bisa tersenyum getir, menahan air matanya, dan berbisik pelan: "Tolong jangan bahas ini di sini, Cin. Aku gak punya pilihan." Ratih sengaja tidak memberitahu Cindy tentang rencana rahasianya dengan Dimas demi keamanan Cindy sendiri.

"Oke oke aku tahu. Dasar bajingan! Emang benar-benar keterlaluan itu orang ya," Cindy mengepalkan tangannya menahan kekesalannya pada Regan.

"Jangan lupakan aku ya Rat. Kita masih bisa sering-sering ketemu kan?" ucap Cindy nanar menatap Ratih sahabat baiknya itu.

"Ya. Kamu jaga diri baik-baik ya," merekapun berpelukan.

Sebelum meninggalkan gedung kantor untuk selamanya, Ratih harus menyerahkan berkas pekerjaan terakhirnya langsung ke ruangan Dimas.

Ratih berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang kantor Dimas. Saat tiba di depan pintu ruang kantor itu, sejenak Ratih menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dia mengetuk pintu itu.

Ratih sudah berada di dalam ruangan itu. Saat pintu tertutup dan mereka hanya berdua, suasana terasa begitu berat.

Tidak ada pelukan atau sentuhan fisik, karena mereka tahu dinding kantor pun bisa punya mata dan telinga suruhan Regan. Mereka hanya saling bertatapan. Netra Ratih berkaca-kaca, menyiratkan ketakutan akan masa depan.

Dimas berdiri dari kursinya, menatap Ratih dengan intensitas yang begitu dalam. "Terima kasih untuk semuanya, Ratih. Mulai besok, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi di sini. Fokus saja menjaga dirimu di dekat Regan. Biar aku yang menyelesaikan sisa pertempuran ini."

Ratih menganggukkan kepalanya pelan, dia menahan sekuat tenaga agar air mata yang sudah mendesak di ujung matanya itu tidak jatuh.

"Aku permisi," ucap Ratih setelah meletakan berkas-berkas itu di atas meja kerja Dimas.

"Kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik," ucap Dimas sebelum Ratih benar-benar pergi dari ruangannya.

Ratih mengangguk, berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan menguatkan hatinya.

Dari balik jendela kaca besar ruang kerjanya, Dimas berdiri diam menyaksikan punggung Ratih yang perlahan berjalan menjauh meninggalkan area kantor, lalu masuk ke dalam taksi.

Tangan Dimas mengepal sangat erat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyorotkan kilat kemarahan yang dingin. Dimas langsung meraih ponsel utamanya, menelepon Kenzo dengan suara rendah yang penuh penekanan: "Ken, kita eksekusi rencananya sekarang. Majukan jadwalnya. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu mengurung Ratih lebih lama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!