Dalam sekejap identitas pribadinya diganti oleh kekasih suaminya. Ia dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Kejahatan apa yang dituduhkan oleh kekasih suaminya hingga dirinya harus menebus kejahatan itu dibalik jeruji besi? apakah Kiara mampu melepaskan jeratan permainan orang-orang hebat yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap? apakah ada yang bisa membantunya untuk melewati semua ujian hidupnya itu? ikuti cerita gadis cantik nan jenius bernama Kiara...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Bertemu Keluarga
Dokter Faisal masih bingung dengan pengakuan Evert. Setahunya putri nyonya Rubby belum menikah. Namun ia memilih untuk tidak peduli. Urusannya hanya kesehatan pasiennya.
"Begini tuan, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Setelahnya kita tunggu saja bagaimana kondisi pasien pasca operasi. Kami akan terus memonitor kondisi pasien di ruang ICU sampai dinyatakan pulih baru dipindahkan ke ruang rawat. Untuk saat ini tidak ada kunjungan keluarga pasien," ucap dokter.
"Apakah saat ini pasien sedang berada di ruang observasi?" tanya Evert.
"Iya tuan. Setelah obat biusnya hilang akan dipindahkan ke ruang ICU. Sebaiknya kalian pulang saja. Kalau ada apa-apa nanti kami kabari," ucap dokter Faisal lalu kembali ke dalam ruang operasi.
"Terimakasih dokter..!" Evert begitu senang lalu menghampiri Kiara. Melihat Kiara yang masih terlelap membuat Evert tidak tega untuk membangunkannya. Evert membenahi jaketnya ditubuh Kiara yang sudah melorot.
Saat wajahnya lebih dekat ke wajah Kiara, gadis cantik itu tiba-tiba membuka matanya dengan sikap waspada. "Apa yang kamu lakukan, hah?!" pekik Kiara yang langsung dibekap mulutnya oleh Evert.
"Hussst diam...! kau ingin membangunkan seisi rumah sakit ini?" omel Evert. Kiara buru-buru bangun dan duduk sambil memeluk jaket milik Evert seakan membuat perisai melindungi dirinya.
"Aku menyelimutimu agar kamu tidak kedinginan bukan ingin menciummu. Kau sangat menyebalkan sekali," Evert duduk lagi ditempat duduknya lalu mengambil ponselnya.
"Bunda...! lampu kamar operasinya sudah mati. Itu berarti bunda...-"
"Bundamu sudah selesai operasi. Beliau akan dipindahkan ke ruang ICU. Dokter mengatakan tidak boleh ada kunjungan sampai beliau siuman. Sekarang kamu diminta untuk pulang dan tunggu kabar selanjutnya dari dokter," ucap Evert.
"Jadi kamu yang menemui dokter?" geram Kiara.
"Sebagai calon suamimu, aku harus belajar bertanggungjawab padamu termasuk ibumu," ucap Evert tenang.
"Calon suami? apa-apaan kamu?"
"Inilah kompensasinya Kiara. Jadilah istri kontrakku sampai semua aset kakekku beralih kepadaku jika aku sudah menikah denganmu. Cukup tiga bulan saja dan aku janji tidak akan menyentuhmu bagaimana?" tawar Evert.
"Kau sangat licik. Disamping otakmu hanya urusan ranjang, ternyata kau juga haus kekuasaan. Aku kira masih ada sedikit kebaikan dalam dirimu namun semuanya nol. Baiklah. Nyawa bundaku jadi alat judi bagimu. Mari kita menikah dan kamu harus penuhi janjimu untuk tidak menyentuhku sampai urusan diantara kita selesai," tukas Kiara tanpa ingin banyak drama.
"Ok. Kalau begitu kau harus berdandan rapi pagi ini dan kita akan sarapan dirumah keluargaku. Maafkan aku Kiara...! aku tidak mau warisan keluarga ibuku jatuh pada ayahku yang akan dikuasai oleh ibu tiri dan saudara tiriku," lirih Evert.
Kiara tidak peduli dengan kehidupan Evert. Baginya kesembuhan ibunya lebih penting saat ini. Iapun berjalan keluar terlebih dahulu. Evert mensejajarkan langkah mereka.
"Aku akan mengantarmu pulang. Kamu tidak boleh hilang dari pandanganku...!" ucap Evert namun tidak digubris oleh Kiara yang terus melangkah.
Setibanya dikontrakan Kiara, Kiara buru-buru masuk ke rumah kontrakannya. Evert memperhatikan sekitarnya. Tidak ada apapun di dalam rumah kontrakan petakan itu. Evert duduk dilantai sambil memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, Kiara sudah terlihat rapi dengan pakaian sederhana namun wajahnya sudah nampak lebih segar namun tidak ada polesan makeup diwajah itu. Itulah kelebihan Kiara yang sangat dikagumi Evert.
"Ayo kita berangkat....!" ajak Kiara.
"Tidak sabar ketemu calon mertua ya...!" goda Evert.
Lagi-lagi Kiara tetap bersikap datar. Evert hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal." Kapan aku bisa melihat gadis ini tersenyum," Batin Evert yang langsung membuka pintu mobil untuk Kiara.
Perjalanan pagi itu terasa sangat membosankan bagi Kiara. Ia mondar-mandir memeriksa notifikasi pesan dari rumah sakit, namun tidak ada kabar dari ibunya. Kiara mengeluarkan tasbih digital miliknya untuk berzikir. Evert melirik apa yang dilakukan Kiara. Hatinya makin mencelos melihat perbedaan akhlak Kiara dan dirinya yang bagaikan bumi dan langit.
Kiara yang ahli ibadah menurutnya sementara dirinya ahli maksiat. Mana mungkin bisa bersatu. Namun kriteria seorang istri yang diinginkan kakek dan neneknya jatuh pada Kiara. Itulah sebabnya Evert berusaha mencari keberadaan Kiara dimanapun namun siapa yang menyangka mereka bisa bertemu ditempat yang tak terduga. Sama-sama saling membutuhkan saat ini.
Tidak terasa mereka sudah tiba di kediaman tuan Hilman. Kiara menarik nafas panjang sambil membaca doa untuk memohon perlindungan dari Allah. Evert turun terlebih dahulu. Kakek dan neneknya dari bagian ibu menyambutnya dengan sukacita karena Evert akan membawa mereka calon cucu menantu.
"Turunlah...!perankan drama ini dengan baik seolah kita saling mencintai, kamu paham?" bisik Evert dan Kiara mengangguk.
"Assalamualaikum kakek, nenek..!" sapa Kiara tersenyum ramah. Tuan Hilman dan istrinya Sarah mengamati penampilan Kiara.
"Dia sungguh cantik, sayang," bisik nenek Sarah pada suaminya.
"Silahkan masuk nak....!Panggil saja aku nenek Sarah dan ini kakek Hilman...!"Ucap nenek Sarah.
"Nama saya Kiara Nenek," ucap Kiara memperkenalkan dirinya.
"Kiara. Nama yang cantik. Terimakasih sudah mau menjadi kekasih cucuku," puji tuan Hilman.
Mereka akhirnya duduk bersama dimeja makan di taman belakang. Kiara tidak begitu peduli dengan kemewahan disekitarnya. Baginya diri hanya ingin menyelesaikan misi nikah kontak ini lalu kembali ke kehidupannya bersama sang ibunda. Beberapa pertanyaan diajukan oleh tuan Hilman kepada Kiara. Kiara menjawabnya dengan baik tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Selama ini kamu kerja di mana nak?" tanya nenek Sarah.
Sarah ingin menjawab jika dirinya pernah bekerja di cyber kriminal digital, namun ada perjanjian pekerjaannya sebelumnya untuk tidak membicarakan tempat kerjanya karena bagian dari rahasia negara.
"Aku kerja serabutan nenek karena aku harus mengurus ibuku yang sakit," ucap Kiara.
"Oh iya, Evert sudah menceritakan sakitnya ibumu. Kami turut prihatin nak. Tapi tenang saja kakek sudah menghubungi rumah sakit untuk memberikan layanan terbaik untuk ibumu. Kamu tenang saja ya nak...!" ucap nenek Sarah.
"Terimakasih kakek, nenek. Barakallah untuk kakek dan nenek," ucap Sarah.
"Sekarang kita sarapan dulu sambil ngobrol. Ayo dimakan nak....!Ini makanannya nenek yang masak sendiri untuk menyambut kedatanganmu," ucap nenek Sarah.
"Evert. Cepat urus pendaftaran pernikahan kalian...! Kakek ingin kalian segera menikah minggu ini. Jangan terlalu lama pacaran karena kamu selalu berubah haluan...!" titah kakek Hilman.
"Baik kakek. Asalkan kakek menempati janji kakek, Evert akan secepatnya menikahi Kiara," ucap Evert seakan penuh penekanan pada kalimatnya.
"Tidak semudah itu Evert. Kakek ingin melihat cicit kakek lahir dulu baru janji itu akan kakek penuhi," ucap kakek Hilman seakan sedang mempermainkan cucunya.
Uhuk...uhuk...
Kiara tersedak mendengar persyaratan sang kakek begitu juga dengan Evert yang merasa terjebak dengan permainan kakeknya.
"Kiara, minum nak...!" Nenek Sarah menyodorkan air pada Kiara yang langsung meneguk nya.
"Dasar kakek tua...! kenapa jadi begini ceritanya?" umpat Evert dalam hati.
sampe punya anak dan cucu dan alat alat canggihnya yg bs menghilang dll.
aq penggemar author dari cerita nenek amina lupa namanya🤭