NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 - Kaisar Baru Dinasti Leiting

Sementara itu, jauh dari ketenangan desa Jianxin...

di suatu tempat yang tersembunyi dari cahaya matahari dan mata dunia, sebuah ruangan besar berdiri dalam kesunyian yang menekan.

Ruangan itu luas, namun gelap.

Dindingnya terbuat dari batu hitam dingin, dipenuhi ukiran simbol kuno dan formasi penyegel tingkat tinggi. Beberapa pilar raksasa menopang langit-langitnya, sementara di keempat sudut ruangan, lilin-lilin spiritual menyala dengan api kebiruan yang tidak bergoyang sedikit pun.

Udara di tempat itu terasa berat.

Begitu berat hingga siapa pun yang lemah mungkin akan berlutut hanya karena berdiri terlalu lama di sana.

Di tengah ruangan, terdapat meja batu bundar besar.

Dan mengelilingi meja itu, duduk empat sosok yang kehadirannya saja cukup untuk membuat satu negara gemetar.

Mereka adalah para penguasa tertinggi dari empat dinasti yang telah menghancurkan Dinasti Leiting.

Empat pria, masing-masing duduk di atas tahtanya sendiri.

Empat kehendak yang telah menumpahkan darah demi menghentikan satu ramalan.

Yang pertama adalah Chu Yu, Kaisar Dinasti Huangtu.

Wajahnya tegas, matanya tajam seperti pisau yang tak pernah tumpul. Jubahnya berwarna cokelat keemasan, dihiasi pola gunung dan sungai besar. Ia duduk tegak dengan tangan bertaut di atas meja, membawa aura berat dan menekan seperti bumi itu sendiri.

Di sisi kirinya duduk Shi Hao, Kaisar Dinasti Longhuang.

Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan tatapannya dipenuhi kesombongan alami seorang penguasa yang terbiasa memerintah tanpa dibantah. Aura naga samar berputar di sekelilingnya, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat api lilin di dekatnya meredup setiap kali ia bergerak.

Di seberangnya ada Qin Xuan, Kaisar Dinasti Moyuan.

Wajahnya tampan namun dingin, dengan sorot mata yang terlalu tenang untuk disebut normal. Ia terlihat seperti pria yang lebih berbahaya saat diam daripada saat marah. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan, seperti seseorang yang selalu berpikir beberapa langkah lebih jauh daripada lawannya.

Dan yang terakhir adalah Tang San, Kaisar Dinasti Fenyan.

Rambutnya kemerahan gelap, matanya tajam dan penuh temperamen tersembunyi. Di antara keempatnya, dialah yang paling terlihat seperti bara yang siap meledak kapan saja. Aura api samar memancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitarnya terasa sedikit lebih panas.

Mereka tidak perlu memperkenalkan diri.

Karena nama mereka saja sudah cukup untuk menentukan nasib jutaan orang.

Suasana ruangan itu hening beberapa saat.

Lalu Chu Yu membuka suara pertama kali.

“Perang di Leiting telah usai.”

Suaranya rendah dan berat.

Namun tidak ada kemenangan dalam nadanya.

Yang tersisa hanyalah dingin, serta urusan yang belum terselesaikan.

“Namun target utama kita...” ia berhenti sejenak, matanya menyipit tipis, “gagal dibunuh.”

Tang San menghela napas pelan dengan nada tidak suka.

Qin Xuan menghentikan ketukan jarinya.

Shi Hao tidak bergerak, tetapi sorot matanya langsung menjadi lebih tajam.

Chu Yu melanjutkan pembicaraan.

“Han Li telah melaporkan bahwa Lu Feng , putra pertama kaisar dinasti Leiting kemungkinan besar telah tewas "

Tatapannya turun ke permukaan meja.

“Tapi Ye Chen...”

Ia mengucapkan nama itu perlahan, seolah nama itu sendiri sudah cukup mengganggu ketenangan ruangan.

“...salah satu dari Tujuh Pendekar Pedang Legendaris, berhasil membawa bayi itu kabur.”

Setelah kalimat itu keluar, suhu ruangan terasa turun.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menganggap nama Ye Chen sebagai masalah kecil.

Karena orang itu bukan sekadar pendekar biasa.

Ia adalah sisa dari legenda lama.

Dan legenda, betapapun jatuhnya, tetaplah ancaman.

Tang San menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melontarkan kata-kata kasar.

“Memalukan.”

Api di dekat sisi tangannya berkedip sedikit lebih tinggi.

“Kita sudah mengerahkan pasukan sebesar itu, menyerbu satu dinasti penuh, bahkan membantai keluarga kekaisaran—dan tetap saja kita gagal membunuh satu bayi itu.”

Nada bicaranya terdengar seperti ejekan, namun tidak ada yang menyangkalnya.

Karena itu memang kegagalan.

Chu Yu menatapnya datar.

“Han Li udah berusaha mengalahkan Ye Chen semaksimal mungkin meskipun begitu dia mampu menewaskan Lu Feng , Dia sudah melakukan bagiannya dengan baik.”

Tang San sedikit mengangkat alisnya.

“Sekarang Han Li gimana keadaannya?”

“Dia masih selamat,” jawab Chu Yu singkat. “Ada beberapa luka luar dan tulangnya sempat retak. Dia butuh waktu untuk pulih, tapi kondisinya tidak berbahaya.”

Tang San kembali menghela napas pelan dengan rasa kesal.

“Dia sangat beruntung karena hanya mendapatkan luka ringan saja.”

Qin Xuan yang sejak tadi diam akhirnya bersandar sedikit ke depan.

Tatapannya tenang, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar jauh lebih dingin daripada kemarahan.

“Jika Lu Feng benar-benar mati,” katanya pelan, “lalu siapa yang sekarang menduduki takhta Leiting?”

Ruangan mendadak sedikit lebih sunyi.

Karena pertanyaan itu menyentuh inti masalah berikutnya.

Sebuah dinasti besar tidak bisa dibiarkan kosong terlalu lama.

Jika takhta Leiting dibiarkan tanpa penguasa, maka wilayahnya akan segera diperebutkan, rakyatnya akan memberontak, dan kekacauan akan meluas melebihi rencana awal mereka.

Chu Yu menjawab datar, tanpa banyak ekspresi.

“Untuk saat ini penggantinya sedang diproses.”

“Apakah udah ada pengumuman nya ?” tanya Tang San, nadanya cepat, penuh rasa ingin tahu.

“untuk sekarang Belum diumumkan ke publik,” balas Chu Yu singkat.

Shi Hao, yang sejak tadi hanya mendengarkan dalam keheningan, akhirnya berdiri.

Namun begitu tubuhnya tegak sepenuhnya, tekanan spiritual di seluruh ruangan langsung berubah.

Api lilin di empat sudut tiba-tiba meredup, membuat bayangan di dinding ikut bergerak perlahan.

Dan untuk sepersekian detik, semua orang di ruangan itu bisa merasakan aura naga kuno yang sangat samar... namun nyata.

Tatapan Shi Hao sangat dingin.

“Masalah takhta bisa diselesaikan nanti.”

Suaranya dalam.

Penuh wibawa.

Dan tidak memberi ruang untuk dibantah.

“Masalah yang sebenarnya,” lanjutnya, “adalah bayi itu masih hidup.”

Tangannya perlahan bertumpu di atas meja batu.

“Selama dia bernapas, maka kemungkinan ramalan itu menjadi nyata masih ada.”

Tang San mengerutkan dahi, sementara Qin Xuan menatapnya lurus tanpa berkedip.

Chu Yu tetap diam, tetapi jelas menyimak dengan serius.

Di sisi lain, Shi Hao mengalihkan pandangannya, menelusuri wajah mereka satu per satu.

“Kita tidak bisa mengerahkan pasukan besar lagi. Itu hanya akan menarik terlalu banyak perhatian.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu bibirnya terangkat tipis.

“Jadi kita harus menggunakan semacam kelompok.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Shi Hao melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, namun jauh lebih berbahaya.

“Kita harus membentuk sebuah organisasi rahasia.”

Tang San menyipitkan mata.

“Untuk apa kita perlu membentuk organisasi seperti itu?”

Shi Hao menjawab tanpa ragu.

“Yaitu satu tujuan.”

Tatapannya berubah dingin seperti logam.

“Memburu siapa pun yang menunjukkan potensi Petir Kuning di seluruh sepuluh dinasti.”

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Tidak ada yang langsung menjawab, karena mereka semua tahu—begitu keputusan itu diambil, pertumpahan darah akan kembali terjadi.

Qin Xuan kemudian mengetukkan satu jari ke meja, pelan dan teratur.

“kalau begitu apa Nama organisasinya yg cocok?”

Shi Hao tidak menjawab seketika.

Ia memandang nyala lilin biru yang bergetar tipis di salah satu sudut ruangan, lalu berkata dengan suara rendah—

“Moonlight Shadow Guild.”

Nama itu menggantung di udara seperti kutukan.

Tang San mengangkat sudut bibirnya.

“Bayangan di bawah cahaya bulan, hm? Terdengar cocok untuk sekelompok pemburu.”

Chu Yu akhirnya mengangguk pelan.

“Organisasi ini tidak boleh terkait langsung dengan salah satu dinasti.”

“Sudah pasti,” balas Qin Xuan. “Mereka harus bergerak seperti hantu. Tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak meninggalkan jejak.”

Shi Hao menyatukan kedua tangannya di belakang punggung.

“Mulai malam ini, setiap anak, pemuda, atau kultivator di seluruh sepuluh dinasti yang menunjukkan gejala garis darah Petir Kuning harus dipantau.”

Tang San mendengus pelan.

“Kalau kita berhasil menemukan kultivator lain yang punya potensi teknik petir emas, lalu apa yang akan kita lakukan?”

Shi Hao sedikit menoleh, sorot matanya dingin.

“Kita bunuh dia.”

Dan cukup untuk membuat keputusan itu terasa jauh lebih mengerikan daripada perang terbuka.

Qin Xuan menatap meja beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,

“Kapan menurutmu kekuatan anak itu akan mulai bangkit?”

Shi Hao menjawab dengan tenang.

“Jika segel darahnya memang benar-benar aktif, maka titik retaknya akan muncul saat dia menginjak usia enam belas tahun.”

Chu Yu mengangguk pelan.

“Berarti kita masih punya waktu untuk bergerak.”

“Tidak,” sahut Shi Hao.

Tatapannya mengeras, menjadi jauh lebih tajam.

“Kita harus melakukan itu secepat mungkin.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Lalu Shi Hao menambahkan dengan suara rendah yang hampir terdengar seperti bisikan iblis—

“Dan saat anak itu berusia enam belas tahun...”

Matanya menyala dingin.

“...kita akan menemukannya.”

Di bawah cahaya lilin biru yang nyaris padam, empat penguasa tertinggi itu pun diam-diam menyepakati lahirnya satu organisasi yang kelak akan bergerak di balik layar sejarah.

Sebuah organisasi yang tidak akan pernah dikenal oleh publik—tidak dipuji, tidak pula dicatat dalam sejarah.

Namun, keberadaannya akan menjadi mimpi buruk yang diam-diam mengintai dari balik bayang-bayang dunia.

Beberapa Bulan Kemudian — Istana Dinasti Leiting

Waktu berlalu.

Musim berganti.

Dan perlahan, luka besar Dinasti Leiting mulai ditutupi oleh lapisan tipis stabilitas palsu.

Di ibu kota Leiting, jalan-jalan utama kembali dibersihkan. Gerbang istana yang rusak diperbaiki. Bendera-bendera kekaisaran baru dikibarkan. Para pedagang mulai kembali membuka lapak, rakyat mulai turun ke jalan, dan kehidupan perlahan bergerak lagi... seolah darah yang pernah membanjiri istana hanya tinggal cerita yang dipaksa dilupakan.

Namun bagi mereka yang cukup cerdas untuk melihat lebih dalam, semuanya terasa berbeda.

Terlalu cepat.

Terlalu rapi.

Terlalu... dipaksakan.

Hari itu, alun-alun istana dipenuhi lautan manusia.

Rakyat berkumpul sejak pagi.

Para bangsawan, pejabat, jenderal, pendeta istana, dan utusan dari wilayah sekitar berdiri rapi di sisi tangga utama istana, menunggu satu momen yang akan menentukan wajah baru Dinasti Leiting.

Setelah berbulan-bulan hidup tanpa penguasa yang jelas, hari itu akhirnya diumumkan sebagai hari penobatan kaisar baru.

Sorak-sorai warga menggema di seluruh alun-alun.

Beberapa orang menangis haru.

Beberapa lainnya bertepuk tangan penuh harapan.

Bagi rakyat biasa, siapa pun yang mampu membawa ketenangan setelah perang adalah penyelamat.

Mereka tidak lagi peduli siapa yang duduk di atas takhta.

Asal perut mereka bisa makan.

Asal rumah mereka tidak dibakar.

Asal anak-anak mereka bisa tidur tanpa mendengar suara perang.

Lalu—

pintu utama balkon istana terbuka perlahan.

Semua suara mendadak mereda.

Puluhan ribu pasang mata langsung tertuju ke atas.

Seorang pria melangkah keluar.

Jubah kebesaran kekaisaran berkibar pelan di tubuhnya, dihiasi bordir petir emas khas keluarga kerajaan Leiting. Langkahnya mantap. Posturnya tegak. Dari kejauhan, ia tampak seperti sosok penguasa yang layak berdiri di atas dunia.

Namun ada satu hal yang membuat suasana di alun-alun terasa sedikit aneh.

Wajah pria itu...

tertutup sepenuhnya.

Sebuah topeng perak dingin menutupi seluruh wajahnya, tanpa celah untuk memperlihatkan ekspresi asli di baliknya.

Topeng itu halus, mengilap, dan tanpa hiasan berlebihan.

Sederhana.

Namun justru karena itulah, ia terasa lebih misterius.

Beberapa pejabat saling pandang.

Sebagian rakyat berbisik pelan.

Namun tidak ada yang cukup berani untuk mempertanyakan keputusan istana secara terbuka.

Selama sosok itu mengenakan jubah kaisar dan berdiri di balkon istana Leiting—

maka dunia akan dipaksa menerima bahwa dialah penguasa baru mereka.

Pria bertopeng itu berhenti di tepi balkon.

Angin tinggi menyapu jubahnya.

Di bawahnya, lautan rakyat bersorak.

Namun ia tidak melambaikan tangan.

Tidak tersenyum.

Tidak berbicara.

Ia hanya berdiri diam.

Diam yang terlalu panjang.

Diam yang terlalu berat.

Lalu perlahan, kepala bertopeng itu terangkat.

Tatapannya—meski tersembunyi di balik topeng perak—mengarah jauh ke cakrawala.

Ke luar kota.

Ke pegunungan.

Ke tempat yang tidak mungkin dijangkau pandangan manusia biasa.

Seolah...

ia sedang mencari seseorang.

Atau mungkin...

menunggu seseorang kembali.

Angin berembus lebih kencang.

Topeng perak itu memantulkan cahaya matahari sore.

Dan entah kenapa, ada sesuatu dalam diam sosok itu yang terasa begitu asing...

namun sekaligus sangat mengenal semua yang telah hilang.

Di bawah balkon, rakyat terus bersorak memanggil nama kaisar baru mereka.

Namun di atas sana, pria bertopeng itu tidak menanggapi.

Ia hanya berdiri dalam diam.

Seperti bayangan masa lalu yang menolak mati.

Dan jauh di dalam balik topeng dingin itu—

sepasang mata menatap dunia dengan bara yang belum padam.

End Chapter 6

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!