NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

“Bang, yang atas masih dijaga dua orang atau nambah lagi?” Genesis menyelipkan pertanyaan itu sambil mengangkat peti sayur, nadanya santai seperti sekadar basa-basi pekerja baru yang masih bingung alur kerja.

Pria di sampingnya mendengus kecil. “Nambah. Dari siang udah dua, malam ini jadi empat. Ada tamu penting, katanya. Lo jangan macam-macam deh, fokus kerja aja.”

Genesis mengangguk pelan, pura-pura menerima. “Iya, bang. Cuma nanya biar nggak salah jalan.”

“Di sini salah jalan bisa panjang urusannya,” balas pria itu sambil terkekeh, lalu berlalu membawa troli.

Genesis menunduk, tangannya tetap sibuk, tapi matanya bergerak cepat membaca sekitar. Jam dinding di dapur menunjukkan pukul hampir sebelas malam. Pergantian shift mulai terasa, beberapa pelayan keluar masuk, sebagian mulai santai, sebagian lain justru sibuk beres-beres. Ritme itu dia hafal sejak satu jam terakhir—dan sekarang mulai terlihat celahnya.

“Kalau lewat sini… dua menit kosong,” gumamnya pelan sambil menaruh peti terakhir ke meja stainless.

Ia mengambil kain lap, pura-pura membersihkan tangan, lalu berjalan ke arah koridor belakang. Langkahnya tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Ia sudah menghitung jalurnya. Dari dapur ke tangga servis, naik satu lantai, belok kiri, lalu koridor panjang menuju kamar utama. Di situlah Alexa.

Sekali salah, habis.

Sekali tepat, dia bisa menyentuh jarak yang selama ini memisahkan mereka.

“Eh!” suara seorang petugas keamanan menghentikannya di ujung koridor. “Lo dari dapur ya? Ngapain ke sini?”

Genesis tidak panik. Ia langsung mengangkat kain di tangannya. “Disuruh ngecek air bocor, Pak. Katanya dari atas netes ke bawah.”

Petugas itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Cepat. Jangan lama-lama.”

“Iya, Pak.”

Genesis melanjutkan langkah. Begitu melewati tikungan, napasnya yang sempat tertahan akhirnya keluar perlahan. Tangga servis sudah di depan mata. Ia menaikinya satu per satu, pelan, tanpa suara. Setiap anak tangga terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena tekanan yang makin mendesak di dada.

Di atas sana… Alexa.

Di sisi lain villa, di dalam kamar yang dikunci dari luar, Alexa berdiri di dekat jendela. Tirai setengah terbuka, angin malam menyusup masuk membawa udara dingin yang menusuk kulit. Ia memeluk lengannya sendiri, tapi bukan dingin yang membuatnya gemetar.

Perasaannya.

“Aneh…” bisiknya pelan, napasnya tidak beraturan. “Kenapa malam ini rasanya… beda banget…”

Ia berjalan mondar-mandir, langkahnya gelisah. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya. Ia mencoba duduk, tapi langsung berdiri lagi. Ia mencoba menenangkan diri, tapi justru dadanya makin sesak.

“Gen…” ia menyebut nama itu tanpa sadar, suaranya nyaris tidak terdengar. “Kamu jangan nekat… jangan sampai kamu kenapa-kenapa…”

Tapi tubuhnya sendiri seakan tidak percaya pada kata-katanya. Ada sesuatu yang menariknya. Seperti ada benang yang ditarik dari luar sana, memanggilnya.

Tok.

Langkah kaki terdengar di luar kamar.

Alexa langsung menoleh. Napasnya tertahan.

“Siapa?” tanyanya cepat, suaranya lebih tajam dari biasanya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang lewat begitu saja.

Alexa menelan ludah. Tangannya menekan dada, mencoba meredam detak jantung yang semakin liar.

Di waktu yang hampir bersamaan, di koridor lantai dua, Genta berjalan pelan menyusuri lorong. Tangannya masuk ke saku celana, langkahnya tenang, tapi tatapannya tajam memperhatikan sekitar. Ia berhenti sejenak di ujung koridor, menatap ke arah tangga servis.

“Ada yang berubah malam ini,” gumamnya pelan.

Seorang staff mendekat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Genta menggeleng ringan. “Pengamanan sudah diperiksa?”

“Sudah, Tuan. Semua aman.”

Genta tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit, melihat bayangan seseorang lewat di ujung lorong—cepat, hampir tidak terlihat.

“…Pastikan lagi,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Saya tidak suka kejutan.”

“Baik, Tuan.”

Staff itu pergi, tapi Genta tetap diam di tempatnya. Matanya menyipit sedikit.

Pergerakan tadi… familiar.

Di tangga servis, Genesis berhenti tepat sebelum pintu keluar ke koridor utama. Ia menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan. Sepi. Ia membuka sedikit, cukup untuk mengintip.

Koridor kosong.

Ia keluar perlahan.

Langkahnya kini lebih hati-hati. Tidak ada lagi peran pekerja di sini. Ia bukan siapa-siapa. Ia penyusup.

Beberapa meter di depannya, dua bodyguard berdiri di depan sebuah pintu. Pintu itu tertutup rapat, tapi entah kenapa Genesis tahu.

Itu kamar Alexa.

Tangannya mengepal tanpa sadar. Dadanya terasa sesak melihat jarak yang begitu dekat tapi masih terhalang.

Sementara itu, di dalam kamar, Alexa tiba-tiba berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah pintu, matanya membesar.

Napasnya tercekat.

“Gen…” bisiknya, lebih jelas kali ini.

Ia melangkah mendekat ke pintu, pelan, seolah takut suara kakinya terdengar. Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu.

Di luar, Genesis berdiri diam. Ia tidak berani mendekat terlalu jauh karena dua penjaga di depan. Tapi sesuatu di dalam dirinya bergetar kuat.

Ia bisa merasakannya.

“Lex…” suaranya sangat pelan, hanya cukup untuk dirinya sendiri.

Di ujung koridor, langkah lain terdengar. Genesis langsung menoleh.

Genta.

Pria itu berdiri beberapa meter dari sana, menatap lurus ke arahnya. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada kebingungan. Hanya satu hal. Kesadaran.

“Jadi…” suara Genta rendah, tapi jelas. “Kamu benar-benar datang.”

Genesis tidak mundur. Tatapannya langsung mengunci Genta. Tidak ada lagi pura-pura. Tidak ada lagi sembunyi.

“Iya,” jawabnya singkat, tapi berat. “Gue dateng buat ngambil dia.”

Dua bodyguard langsung siaga, suasana berubah tegang dalam sekejap.

Di dalam kamar, Alexa menutup mulutnya sendiri, air matanya jatuh tanpa suara. Dia di sini.

Mereka di sini. Dan jarak di antara mereka… tinggal satu pintu.

Genta tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju satu langkah, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit dan lebih berat. Tatapannya turun sebentar ke pakaian Genesis yang masih berbau dapur, lalu kembali naik ke wajahnya dengan tenang, seolah sedang membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penampilan.

“Cara kamu masuk berubah,” ucapnya pelan, nada suaranya datar tapi menusuk. “Biasanya kamu lebih suka sembunyi.”

Genesis tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Kalau sembunyi terus, kapan selesainya? Gue capek muter-muter.”

Dua bodyguard di depan pintu langsung bergeser sedikit, posisi mereka makin siap. Satu tangan sudah hampir menyentuh alat komunikasi di pinggang. Tapi Genta mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar mereka tidak bergerak dulu.

“Berani juga kamu,” lanjut Genta, kali ini lebih pelan. “Datang ke sini… terang-terangan. Kamu tahu ini bukan tempat yang bisa kamu masuki seenaknya.”

Genesis melangkah satu langkah ke depan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan dia tidak mundur. “Dan lo tahu gue nggak bakal berhenti sebelum ketemu dia.”

Hening. Tegang. Udara di koridor itu terasa makin berat, seolah ikut menahan napas.

Di balik pintu, Alexa berdiri membeku. Tangannya menempel di permukaan kayu, jari-jarinya gemetar. Ia bisa mendengar suara mereka dengan jelas sekarang. Dua suara yang sama-sama dikenalnya. Dua suara yang menariknya dari dua arah berbeda.

Air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan.

“Gen…” bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam di dalam ruangan itu.

Di luar, Genta menatap Genesis lebih lama. Kali ini bukan sekadar menilai, tapi benar-benar mengamati. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda di depannya. Bukan lagi sekadar laki-laki yang nekat karena cinta. Ada tekad yang keras, hampir seperti… familiar.

“Kalau kamu pikir kamu bisa bawa dia pergi begitu saja,” ucap Genta pelan, “kamu salah tempat.”

Genesis tidak langsung membalas. Ia menoleh sekilas ke arah pintu di belakang dua bodyguard itu, lalu kembali ke Genta. Rahangnya mengeras.

“Kalau gue pikirin tempat yang benar, gue nggak bakal sampai di sini,” jawabnya tenang, tapi berat. “Gue nggak datang buat izin.”

Satu bodyguard maju setengah langkah. “Tuan, sebaiknya—”

“Diam.” Genta memotong tanpa menoleh.

Suasana kembali hening. Kali ini lebih tajam.

Genta menarik napas pendek, lalu mendekat satu langkah lagi. Kini jarak mereka hanya beberapa meter. Cukup dekat untuk melihat jelas sorot mata masing-masing. Tidak ada lagi ruang untuk salah paham.

“Kamu tahu siapa yang kamu lawan?” tanya Genta, suaranya rendah.

Genesis menatap lurus, tanpa goyah. “Gue nggak peduli.”

Jawaban itu cepat. Tanpa ragu.

Dan justru itu yang membuat sesuatu di dalam diri Genta bergeser sedikit.

Di dalam kamar, Alexa menutup matanya erat-erat. Dadanya naik turun cepat. Ia ingin membuka pintu. Ia ingin berlari keluar. Tapi tubuhnya seperti terkunci di tempat.

“Jangan…” bisiknya pelan, entah untuk siapa. “Jangan sampai… kalian saling hancur…”

Di luar, Genesis akhirnya melangkah lebih dekat. Bodyguard langsung menghalangi, tapi kali ini dia tidak berhenti karena takut. Dia berhenti karena memilih.

“Gue cuma mau satu hal,” katanya pelan, matanya masih di Genta. “Geser. Biar gue ketemu dia.”

Genta tidak bergerak.

Beberapa detik berlalu tanpa siapa pun berbicara.

Lalu perlahan, sudut bibir Genta terangkat tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

“Kamu datang ke tempat yang salah… di waktu yang salah,” katanya.

Genesis menggeleng kecil. “Enggak. Justru sekarang waktunya.”

Tatapan mereka kembali bertabrakan.

Dan untuk pertama kalinya, di koridor itu, tidak ada lagi yang bersembunyi. Tidak ada lagi permainan diam-diam. Tidak ada lagi jarak aman.

Yang ada hanya dua pria, berdiri saling berhadapan—membawa alasan masing-masing untuk tidak mundur satu langkah pun.

Di balik pintu, Alexa terisak pelan. Dan malam itu, bukan lagi sekadar penyusupan. Ini awal dari tabrakan yang tidak bisa dihindari.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!