"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: PEMBERONTAKAN SANG PENJAGA
Aku berdiri tegak di samping Sersan, merasakan angin dingin Niskala mulai mengikis sisa-sisa bangunan di Arcapada. Kota ini benar-benar sedang runtuh. Tanpa adanya frekuensi emosi dari penghuninya, dunia yang diciptakan untukku ini mulai kehilangan bentuk. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah kehadiran yang sangat kukenal mendadak muncul dari balik kabut kelabu yang bergulung-gulung.
Sesosok tinggi dengan jubah putih bersih yang seolah tidak terpengaruh oleh debu reruntuhan berdiri sepuluh langkah di depan kami. Sang Penjaga. Dia yang selama ini memberiku instruksi, dia yang memberiku belati hitam ini, kini menatapku dengan aura yang sangat berbeda. Tidak ada lagi ketenangan palsu; yang ada hanyalah tekanan yang membuat dadaku terasa sesak.
"Haidar..." Suaranya bergema langsung di dalam kepalaku, terdengar seperti gesekan batu nisan. "Kau telah memilih jalan yang salah. Tugasmu adalah menjaga stabilitas tempat ini sebagai kompensasi atas keberadaan jiwamu yang tersisa. Bergabung dengan orang ini hanya akan mempercepat kepunahanmu."
Aku mencengkeram gagang belatiku lebih erat. "Aku bukan budakmu lagi! Kamu bilang ini tempat untuk menjagaku, tapi nyatanya ini adalah penjara yang menjauhkanku dari Kinaya. Aku akan pergi dari sini, dengan atau tanpa izinmu!"
"Kau tidak akan bisa pergi jauh, Penjaga Kecil," ucap Jubah Putih itu dingin. Dia mengangkat sebuah buku besar bersampul kulit hitam dari balik jubahnya. Begitu buku itu dibuka, seluruh Arcapada bergetar hebat. Huruf-huruf kuno mulai keluar dari halaman-halaman tersebut, terbang berputar-putar seperti kawanan serangga yang haus darah.
Sersan melangkah maju, memposisikan dirinya di depanku. Dia sama sekali tidak tampak terintimidasi. "Jadi ini 'majikan' yang memberimu pisau itu, Haidar? Dia terlihat seperti birokrat yang takut kehilangan asetnya."
"Hati-hati, Sersan. Buku itu... aku bisa merasaka energinya. Itu bukan buku biasa," peringatku.
Sersan hanya mendengus, tangannya bersiap di posisi tempur yang sangat efisien. "Aku sudah sering menghadapi yang lebih buruk dari sekadar buku tua. Haidar, dengar instruksiku. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kamu cari kesempatan untuk menghancurkan buku itu. Di duniaku—maksudku, di pengalamanku—kekuatan seorang penyihir atau penjaga seperti dia biasanya tertanam pada benda yang mereka bawa. Hancurkan bukunya, maka gerbang kota ini akan terbuka."
"Tapi Sersan, dia kuat sekali!"
"Jangan banyak bicara! Bergerak sekarang!" perintah Sersan dengan nada militer yang tak terbantahkan.
Dalam sekejap, Sersan melesat. Gerakannya sangat taktis, berpindah dari balik satu puing ke puing lainnya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Sang Penjaga mengangkat tangannya, memerintahkan huruf-huruf hitam itu untuk mengejar Sersan. Huruf-huruf itu memadat menjadi rantai-rantai tajam yang menghantam aspal hingga hancur berantakan.
BOOM!
Sersan melompat tinggi, melakukan tendangan berputar di udara untuk menangkis rantai tersebut dengan energi biru yang keluar dari sepatunya. Dia mendarat dengan mulus dan langsung melepaskan rentetan pukulan cepat ke arah pelindung gaib Sang Penjaga.
Melihat Sersan yang berjuang sekuat tenaga, aku tidak bisa hanya diam. Aku berlari memutar, memanfaatkan kekacauan yang diciptakan Sersan. Aku menyelinap di antara reruntuhan gedung, mencoba mendekati Sang Penjaga dari sisi butanya. Jantungku berdegup kencang. Setiap langkahku terasa seperti taruhan nyawa.
Sang Penjaga menyadari kehadiranku. Dia membalikkan tangannya, menciptakan ledakan energi tekanan udara yang membuatku terpental menabrak tiang lampu. "Kau hanyalah debu, Haidar! Tanpa pemberianku, kau sudah lenyap sejak hari pertama!"
Aku terbatuk, merasakan dadaku panas. Namun, saat aku melihat Sersan berhasil memukul mundur Jubah Putih dengan kombinasi serangan yang brutal, semangatku bangkit lagi. Aku melihat buku itu terbuka lebar di tangan kirinya. Itulah targetnya.
"Sersan! Sekarang!" teriakku.
Sersan melakukan gerakan manuver yang luar biasa, dia melempar beberapa pisau lempar kecil untuk memaksa Sang Penjaga bertahan, menciptakan celah kecil selama beberapa detik. Tanpa membuang waktu, aku bangkit dan melesat maju dengan sisa tenaga yang kupunya.
Aku melompat, mengangkat belati hitamku tinggi-tinggi. Seluruh emosiku—kemarahanku karena terpisah dari Kinaya, rasa bersalahku pada Bimo, dan tekadku untuk bangun—menyatu dalam satu serangan ini.
CRASH!
Belatiku menebas tepat di tengah halaman buku hitam tersebut. Detik itu juga, teriakan melengking yang menyakitkan keluar dari mulut Sang Penjaga. Buku itu meledak dalam cahaya abu-abu yang menyilaukan. Huruf-huruf kuno yang tadi melayang-layang mendadak tersedot masuk ke dalam kedua mataku.
"AAAAARGHHHH!"
Aku jatuh tersungkur, memegangi wajahku. Rasanya seperti ada besi panas yang dipaksa masuk ke dalam rongga mataku. Pikiranku dibombardir oleh ribuan gambar, peta, dan rahasia tentang duniaku yang selama ini disembunyikan. Aku melihat struktur sembilan kota, aku melihat kelemahan-kelemahan makhluk Niskala, dan aku melihat bagaimana sistem ini bekerja.
Pengetahuan itu begitu besar sehingga kepalaku terasa ingin pecah. Di tengah rasa sakit itu, aku melihat tubuh Sang Penjaga hancur menjadi serpihan debu, lenyap bersamaan dengan runtuhnya seluruh gedung di Arcapada.
"Haidar! Tahan!" suara Sersan terdengar samar. Dia memegang bahuku, mencoba menstabilkan kondisiku.
Dunia di sekitarku mulai memudar. Tanah yang kupijak runtuh menjadi jurang tanpa dasar. Kekalahan Sang Penjaga telah menghancurkan dimensi Arcapada sepenuhnya. Kami terjatuh ke dalam kegelapan yang dalam, terseret oleh arus energi yang tak terkendali