Mengisahkan seorang gadis yang berjuang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
Di umurnya yang ke 25 tahun, dia harus rela menyandang status sebagai janda.
Bagaimana kisah selanjutnya Sob.
Tetep pantengin nih novel, karena author insya alloh akan rajin update.
Budayakan tinggalkan Like and comment, karena itu sangat berarti for Author.
By. YINGJUN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEADAAN JARWO
Masih di dalam ke kalutannya, Dirmo berjalan dengan gontai ke arah tempat dimana Suminah dan cucunya berada.
Sesampainya di kamar dimana Jarwo di rawat, ternyata Suminah yang telah di temani Dul Hamid dan Syarifah sudah terlihat siap membombardir Dirmo dengan banyak pertanyaan.
"Pak, Dokter bilang apa tadi ?" tanya Suminah sambil menggoyang tangan Dirmo.
"I ya Pak Dirmo, tadi Dokternya bilang apa?" timpal Dul Hamid pada Dirmo dengan muka cemas.
Dirmo masih terdiam seribu bahasa menanggapi kedua pertanyaan yang telah di lontarkan kepadanya, sejenak Dirmo memalingkan pandangan ke arah cucunya yang terlihat telah tertidur di sofa bersama temannya Adien.
"Bu, apa Jono sudah tidur dari tadi?" tanya Dirmo pada Suminah sekedar memastikan.
"Sudah pak, dari tadi Jono menangis melihat kondisi bapaknya hingga terlelap tidur. "
Dengan suara yang tak begitu keras Dirmo menceritakan kepada Suminah dan kedua orang tua Adien tentang apa yang di sampaikan sang Dokter kepadanya.
Kesedihan yang teramat mendalam terlihat dari ke tiga orang tersebut, sesekali Suminah memandang ke arah Jono yang telah tertidur.
"Ya alloh, malang sekali nasib cucuku" ucap Suminah sambil menangis memandang Jono.
"Sing sabar Bu. " ucap Syarifah sambil memeluk Suminah mencoba menenangkanya.
Setiap hari Dirmo dan Dul Hamid bergantian menjaga Jarwo yang masih di rawat di rumah sakit karena keadaanya yang makin drop.
Sementara Jono masih terdiam duduk di bangku panjang di sekolahnya, Jono masih terlihat menunggu kedatangan sang ayah yang masih sakit untuk mengambil buku raportnya.
Sementara tak jauh dari tempat Jono duduk, terlihat Adien sahabat kentalnya sedang berjalan menghampiri Jono.
"Hi Jon, " sapa Adien pada Jono sambil menepuk pundaknya.
"Hi Dien, apakah Ibu dan Bapakmu sudah datang?" tanya Jono pada Adien yang baru saja duduk di sampingnya.
"Mungkin sebentar lagi beliau akan datang Jon. " jawabnya pada Jon.
Adien masih memperhatikan raut kesedihan yang mendalam yang tak bisa di pungkiri dari raut wajah Jono.
"Sudahlah Jon, kamu jangan terus bersedih seperti ini, " ucap Adien pada Jono.
Tak berselang lama datanglah Syarifah menghampiri kedua anak kecil yang terlihat sedang duduk berbicara.
"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Syarifah pada mereka berdua.
"Belum Bu, baru saja saya sampai disini. " jawab Adien.
"Jon Bapakmu masih sakit, ibu akan wakili kamu untuk mengambil raport mu, "
"Terima kasih Bu. " ucapnya pada Syarifah.
Loncel sekolah telah berbunyi, waktu tepat menunjukan Jam 08:00, semua orang tua siswa berkumpul di dalam kelas, sementara para siswa menunggu di luar kelas.
Sebelum acara pembagian raport di mulai, wali kelas 1 sedikit memberi masukan kepada seluruh orang tua siswa.
Sang wali kelas bangga terhadap salah satu murid yang terlihat sangat cerdas dan terlihat bakat kepintarannya, semu orang tua siswa merasa penasaran, sebenarnya siapakah siswa yang di maksudkannya tersebut.
Terlihat sang wali kelas membuka raport salah satu murid, dan memanggil nama orang tuanya si murid yang pintar tersebut.
"Bapak Sujarwo, " panggilnya sang wali kelas sambil mengedarkan pandanganya.
Tak ada sahutan dari seseorang yang sebagaimana namanya telah di panggil oleh sang wali kelas tersebut.
Berdirilah Syarifah dia berjalan ke depan menghampiri sang wali kelas, dengan suara yang tidak begitu kencang, Syarifah terlihat menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi tentang Jono kepada sang wali kelas.
Terlihat sang wali kelas menganggukan kepalanya, dia terlihat mengerti dengan apa yang telah di sampaikan Syarifah kepadanya.
Tak berselang lama setelah obrolan kedua orang dewasa itu selesai, sang Wali Kelas terlihat menyerahkan buku raportnya kepada Syarifah.
"Ya sudah, tidak apa-apa Bu, terima kasih sudah mewakilkannya. " jawab sang wakil kelas pada Syarifah.
Terlihat Syarifah telah kembali duduk dan menunggu kembali, karena raport Adien kebetulan belum di bagikan.
Acara pembagian raport siswa berjalan khidmat, semua orang tua terlihat ada yang puas, ada juga yang terlihat kecewa dengan hasil yang telah di raih anaknya.
Setelah acara selesai, Syarifah berjalan menghampiri Jono dan Adien yang terlihat sudah menunggunya dari tadi.
"Ayo kita pulang, " ajaknya pada Adien dan Jono.
Kedua anak kecil tersebut terlihat bangun dari duduknya, mereka merapikan kembali seragamnya dan berniat untuk kembali pulang.
"Ibu Syarifah, " panggil seseorang yang membuat ketiga orang tersebut menghentikan langkahnya.
"I ya saya pak, ada yang bisa saya bantu. " jawabnya pada sang wali kelas.
"Ibu ditunggu di ruangan kepala sekolah sekarang, bisa?" tanya wali kelas tersebut pada Syarifah.
"Bisa pak, bisa. " jawabnya singkat.
Syarifah kembali menyuruh kedua anak kecil tesebut untuk menunggunya, dia memberikan selembar uang lima ribuan kepada Adien untuk jajan berdua dengan Jono.
"Kalian jajanlah dulu, Ibu ada keperluan sebentar, " ucapnya sambil mengusap kepala kedua anak kecil tersebut.
Kedua anak kecil itu terlihat berlalu pergi mencari jajanan kecil di kantin area sekolah tersebut.
Sementara Syarifah mengikuti Sang wali kelas untuk menuju ruang kepala sekolah.
Tok.. Tok.. Tok..
"I ya silahkan masuk" ucap sang kepsek.
Sang wali kelas terlihat menarik kursi dan mempersilahkan Syarifah untuk duduk.
"Maaf Bu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Jarwo?" tanya sang kepsek tanpa berbasi basi lagi.
Syarifah menjelaskan panjang lebar semuanya pada sang kepsek, dan sang kepsek terlihat sedikit meneteskan air mata keprihatinannya.
Sang kepsek menjelaskan kepada Syarifah, bahwasanya dia dan wali kelas Jono ingin membesuk siang ini.
Syarifah terlihat senang akan kepedulian yang besar dari seorang kepsek dan wali kelas murid terhadap orang tua siswanya.
"Silahkan Pak, dengan senang hati, " ucap Syarifah kepada mereka berdua.
"Baiklah Bu, bagaimana kalau sekarang saja sekalian kita membeli buah tangan untuk di bawa kesana?" usul sang kepsek.
"Baiklah pak, saya ikut usul Bapak saja. " jawabnya.
Sang kepsek segera mengambil kunci mobil dan jaket kulitnya, sementara Syarifah dan sang wali kelas mengikuti dari belakang.
Setelah keluar dari ruangan kepsek, Jono dan Adien sudah terlihat menunggu di luar.
"Ayo anak anak ikut bapak sekarang, " ajak sang wali kelas pada Jono dan Adien.
"Kita mau kemana Pak?" tanya Adien yang masih terlihat penasaran.
"Kita akan menjenguk Bapak Jarwo nak. " jawab Syarifah pada Adien.
Senyum mengembang terlihat dari wajah tampan Jono, akhirnya setelah beberapa hari dia bisa menemui ayahnya kembali di rumah sakit.
"Ayo masuk anak anak " titahnya pada kedua anak anak tersebut.
Sang kepsek duduk di kursi depan sebelah kiri, sementara sang wali kelas mendapat mandat untuk menjadi supir.
Setelah semua siap sang wali kelas menghidupkan mesin mobilnya, dan perlahan meninggalkan area sekolah.
Jono masih terlihat senang, dia membayangkan ketika sampai di rumah sakit, ayahnya akan datang dan memeluknya dengan erat.
Sementara Syarifah yang sedari tadi memperhatikan Jono hanya bisa menahan dirinya agar tidak terlihat bersedih di depan Jono.
Bagaimana tidak, sebenarnya Syarifah sudah mengetahui keadaan sebenarnya saat ini, dia masih merahasiakan semuanya ini agar Jarwo tidak bersedih.
GOOD😳❤
Semangat!🙏🙏🙏❤❤
sm dgn kenyataan hidup.disaat keingnan tercapai disertai kehilangan yg lain