Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau Saga
Dengan kepakan sayap terakhir yang kuat, Elang Hitam mendaratkan Jaka dengan lembut di puncak sebuah bukit batu yang tinggi dan tandus. Angin di sana bertiup sangat kencang, membawa aroma asin laut dan bau tanah merah yang khas.
Hwakk!
"Terima kasih, Kak Elang. Kau boleh kembali sekarang. Jagalah dirimu baik-baik," kata Jaka sambil membelai leher burung raksasa itu.
Elang Hitam memekik panjang seolah berpamitan, lalu kembali terbang melesat tinggi menghilang di balik awan, meninggalkan Jaka sendirian di tanah asing itu.
Jaka berdiri tegak memandang sekeliling. Pulau Saga lalu, melangkah turun dari bukit menuju ke tengah pulau di mana konon pusat keramaian dan tempat pusaka itu mun
Belum jauh Jaka berjalan, dari balik semak belukar dan bebatuan, tiba-tiba muncul sesosok pendekar bertubuh kekar membawa sepasang golok berkarat. Matanya merah menyala, tatapannya penuh kebencian dan ketakutan.
"Hei! Anak muda asing! Berani-beraninya kau datang ke sini! Mau ikut merebut Pedang Kilat juga ya?!" teriak pendekar itu dengan suara parau.
"Aku hanya ingin melihat pisaka apa yang membuat kekacauan ini," jawab Jaka tenang.
"Bohong!! Semua orang di sini sama saja! Serakah! Mati kau!!"
Hiaaaaat!
wuuut
Tanpa basa-basi, pendekar itu menyerang. Goloknya diayunkan ke kiri dan kanan dengan gerakan liar.
Wush!
Wush!
Trang!
Trang!
Jaka dengan sigap menangkis menggunakan pedangnya
Bugh!
aaaargh
Kurang ajar
Dengan satu tendangan cepat, Jaka memukul ulu hati lawan. Pendekar itu terlempar mundur beberapa langkah, namun bukannya menyerah, ia justru semakin mengamuk dan menyerang lagi dengan lebih ganas.
" nekat juga ..." batin Jaka.
Jaka tak punya pilihan. Ia harus bertarung demi menyelamatkan diri sendiri dan bergerak maju.
swing!
Jaka mencabut pedangnya. Kilauan besi memantul di mata lawan.
Wush!
Plak!
Bugh!
Gerakan Jaka seluwes angin, setajam cakar elang. Hanya butuh beberapa jurus, pendekar golok kembar itu terpental pingsan, tak berdaya. Jaka tidak membunuhnya, ia hanya melumpuhkan.
Semakin Jaka masuk ke dalam pulau, suasana semakin panas. Di setiap tikungan jalan, di setiap celah bebatuan, selalu ada mata yang memandang dengan curiga. Dan setiap kali mata itu bertemu, pedang pun terhunus.
Situasi di Pulau Saga sudah menjadi hukum rimba: Siapa kuat dia yang hidup, siapa lemah dia yang mati.
Dari atas pohon, seseorang menyerang dengan senyap. Ia menggunakan cambuk yang ujungnya berbentuk kepala ular besi.
Sret! Sret!
Cambuk itu melayang cepat bagaikan ular berbisa, menyambar leher Jaka.
Trang!
Jaka menangkis dengan gagang pedang, lalu memutar tubuhnya.
Wush! Duar!
" henrikan!" seru Jaka. Ia menendang perut lawan hingga terlempar ke semak belukar.
Namun mereka malah
Mereka menyerang Jaka secara bersamaan. Tombak, Pedang, dan Kapak.
Hyaaaat! Hyaaaat!
Trang! Trang! Wush! Bugh!
Jaka dikepung dari tiga sisi. Namun Jaka tersenyum miring.
"Main banyak-banyak nih ya..."
Jaka mengerahkan tenaga dalam. Tubuhnya berputar bagaikan kincir angin.
Duar!
Hentakan tenaga menghempaskan ketiga lawan sekaligus. Mereka terlempar ke belakang, terkapar tak sanggup bangun lagi.
Pertarungan 3: Pendekar Tangan Kosong
Seorang bongsor datang tanpa senjata, ia percaya pada kekuatan otot dan ilmu besi kerasnya.
"Mati kau bocah!"
Pukulannya datang bagaikan hujan badai.
Bugh! Bugh! Plak!
Jaka menangkis dengan tangan kosong juga. Dang! Terdengar bunyi besi beradu saat tangan mereka bertemu.
"Keras juga kulitmu," gumam Jaka.
"Tentu! Aku kebal senjata!" teriak lawan sombong.
"Kalau begitu coba yang ini!"
Jaka mengubah serangannya, menggunakan titik lemah.
Tepuk! Tepuk! Wush!
Aaaagh!
Pendekar itu menjerit saat siku Jaka menghantam tepat di ulu hatinya yang tak terlindungi. Ia ambruk napasnya tersengal.
Jaka terus melangkah. Di sepanjang jalan, pemandangan yang ia lihat sungguh mengerikan. Tidak hanya dirinya yang diserang, tapi pendekar lain pun saling membunuh sesuka hati.
Di sebuah lembah sempit, terlihat dua pendekar hebat sedang bertarung sampai mati hanya karena berpapasan.
TRANG! TRAAANG! WUSH! DUAR!
"Berikan pedang itu padaku!!"
"Mimpimu!! Lebih baik kau mati!!"
Mereka saling tebas, saling tikam, wajah mereka dipenuhi darah dan amarah. Tidak ada lagi sopan santun bela diri, yang ada hanya nafsu membunuh yang buta. Jaka menyadari betapa dahsyatnya pengaruh jahat dari Pedang Kilat itu. Benda itu tidak hanya senjata, tapi juga iblis yang memakan akal sehat manusia.
"Tidak boleh dibiarkan terus..." batin Jaka semakin mantap. "Aku harus segera menemukan pusaka itu dan menghentikan malapetaka ini!
Tiba-tiba, angin berubah arah. Dari arah depan, datanglah sesosok figur yang sangat berbeda. Ia mengenakan baju zirah lengkap dan topeng besi yang menutupi seluruh wajahnya, hanya menyisakan celah untuk mata yang bersinar dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah pedang panjang yang berkilauan mematikan.
Aura yang dipancarkan orang ini jauh lebih kuat dan berbahaya daripada semua lawan yang ditemui Jaka sebelumnya.
Orang itu berhenti tepat di hadapan Jaka, memblokir jalan.
"Anak muda... kau cukup tangguh. Sudah ada berapa nyawa yang kau ambil di jalan tadi?" tanya orang itu dengan suara yang terdengar datar dan dingin, seolah keluar dari gua.
"Aku tidak membunuh, aku hanya melumpuhkan," jawab Jaka tegas.
"Hahaha... bodoh! Di Pulau Saga, tidak ada tempat bagi orang lemah dan perasaian! Jika kau tidak membunuh, kau yang akan dibunuh! Pedang Kilat hanya milik yang terkuat!"
Swiiinng!
Pendekar Topeng Besi mencabut pedangnya sepenuhnya. Suaranya nyaring menusuk gendang telinga.
"Nama aku Bayu Geni. Dan hari ini, kau akan menjadi korban pertamaku hari ini! Minggir atau mati!"
"Jalan ini milik siapa saja yang berjalan di atasnya. Aku tidak akan minggir," tantang Jaka.
"Sialan!!"
HIAAT!!
Bayu Geni menyerang. Serangannya luar biasa cepat dan presisi. Setiap tebasan membidik titik vital Jaka.
TRAAANG!!!
WUSH!!
KLING!! KLING!!
Pertarungan pun meletus! Ini adalah pertarungan yang paling berat sejak Jaka menginjakkan kaki di pulau ini. Pedang mereka beradu berkali-kali, percikan api beterbangan ke mana-mana, suara benturan besi memekakkan telinga seolah guntur bergemuruh di siang bolong.
Bayu Geni menggunakan ilmu pedang "". Gerakannya liar, kuat, dan tak kenal ampun.menekan Jaka terus menerus dengan rentetan serangan yang tak putus-putus.
Bugh!
Jaka sempat terkena hantaman gagang pedang di bahunya. Terasa panas dan nyeri.
"Hebat... kau memang pantas menjadi lawan," seru Jaka mulai bersemangat.
"Matilah kau!!"
Bayu Geni melompat tinggi ke udara, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengumpulkan tenaga.
heaaaaas
Angin berputar kencang di sekitar mereka, membentuk pusaran pasir dan debu. Ia menebas ke bawah dengan kekuatan penuh.
DUAAAAAR!!!
Jaka berdiri kokoh, kedua tangannya memegang gagang pedang, matanya tajam memandang serang lawan.
Pertemuan dua kekuatan dahsyat itu menghasilkan ledakan suara yang sangat keras. Tanah di sekitar mereka retak-retak. Bayu Geni terkejut, serangan sekuat itu ternyata ditangkis dengan mudah oleh pemuda di hadapannya.
"Bagaimana mungkin...?"
"Kini giliranku!" seru Jaka.
Jaka mengubah gaya bertarungnya. Dari bertahan, kini ia menyerang balik dengan kecepatan kilat.
Wush! Wush! Wush!
Bayangan pedang Jaka tampak di mana-mana. Bayu Geni kewalahan, ia hanya bisa menangkis secara membabi buta.
Trang! Plak! Bugh!
"Aaaagh!"
Siku Jaka menghantam dada lawan.
Duar!
Diikuti dengan tendangan melingkar yang sangat kuat tepat ke wajah topeng lawan.
BRAKK!!
Topeng besi itu pecah berantakan, terlempar jauh. Wajah asli Bayu Geni terlihat, penuh kaget dan ketakutan. Ia terpental jauh, terguling-guling di tanah.
Jaka melangkah mendekat, ujung pedangnya diarahkan ke leher lawan.
"Siapa yang kuat sekarang?" tanya Jaka dingin.
Bayu Geni gemetar ketakutan, mata yang tadi penuh amarah kini dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Ia akhirnya sadar, ada langit di atas langit.
"Ampun... Ampunlah aku, Pendekar Hebat..." rintihnya. "Aku... aku hanya kesetanan karena ingin punya pusaka..."
"Berbaringlah di sana dan sadarlah. Kekuatan sejati bukan berasal dari benda mati, tapi dari hati yang bersih dan ilmu yang benar," ucap Jaka bijaksana.
Jaka tidak membunuhnya. Ia pun melangkah pergi meninggalkan lawan yang kini sudah sadar diri itu.
Setelah mengalahkan Bayu Geni, aura Jaka terasa semakin mengerikan bagi para pendekar lain. Beberapa yang melihat kejadian itu dari jauh menjadi takut dan memilih lari menjauh, tidak berani menghalangi jalan lagi.
Namun, kekacauan di sekitarnya belum berhenti. Di kiri dan kanan jalan, masih terdengar bunyi pertarungan.
TRANG! TRANG! AAAAAARGH!
Suara jeritan kesakitan dan dentingan senjata terdengar di mana-mana. Darah telah membasahi tanah Pulau Saga. Jaka menghela napas panjang.
"Segera kutemukan kau, Pedang Kilat..." gumam Jaka. "Akhiri semua pertumpahan darah ini!"
Jaka terus melangkah dengan gagah berani. Di hadapannya kini terbentang sebuah lembah besar yang dikelilingi tebing-tebing tinggi. Di tengah lembah itu, terlihat sebuah bangunan candi tua yang rusak berat, dan dari arah sana memancarkan cahaya kilat berwarna biru putih yang menyilaukan mata disertai aura gelap yang sangat pekat.
"Itu dia!" batin Jaka bersorak. "Tempat itu pasti!"
Jaka mempercepat langkahnya, menuju ke pusat bencana, menuju ke tempat di mana benda sakti yang menjadi sumber malapetaka itu berada.