Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sinar matahari pagi mulai menyelinap, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan sisa dinginnya malam. Perlahan kelopak mata Clark itu terbuka, menampakkan manik hitam yang jernih dan teduh.
"Sudah bangun?" Sapaan berat namun lembut menyambutnya. Alih-alih menjawab, ia hanya mengangguk pelan.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya sambil merentangkan tubuh lemas.
"Masih terlalu pagi. Kalau masih mengantuk, kau boleh tidur lagi," jawab Dante sambil berjalan mendekat ke tepi ranjang.
Clark menggeleng pelan. "Kakak sudah mandi?" Dante mengangguk. Wajah Clark seketika merengut kecewa. "Kenapa tidak membangunkanku? Kan kita bisa mandi bersama... aku ingin mandi berdua sama Kakak.." Nadanya terdengar begitu manja dan menggoda.
Dante tersenyum tipis, mengusak rambut istrinya dengan sayang lalu mengecup keningnya. "Kalau begitu biar Kakak yang memandikanmu. Kemarilah." Tanpa ragu Clark langsung menurut, merapat dan memeluk punggung Dante persis seperti koala yang tak mau lepas.
Dante pun bangkit, menggendong tubuh ramping itu menuju kamar mandi. Dagu Clark menempel erat di bahu suaminya, sesekali ia meniupkan napas hangat ke leher Dante, cukup untuk membuat telinga pria itu memerah seketika.
"Jangan menggoda," peringatnya singkat, meski jelas sekali kesabarannya kini menipis setipis benang.
"Aku tidak menggoda... aku kan cuma bernapas. Apa Kakak melarangku bernapas? Kalau begitu aku tahan saja napasku, hffft..." Clark menggembungkan pipinya, membuat Dante hanya bisa menghela napas pasrah.
Ia mendudukkan Clark di atas wastafel, mencubit gemas pipi yang mengembang itu sebelum menyalakan air untuk mengisi bak mandi. "Jangan nakal."
"Aku tidak nakal. Aku anak baik," jawabnya cepat, seolah itu adalah fakta mutlak.
Setelah memastikan suhu air pas, Dante perlahan membuka kancing piyama Clark satu per satu.
"Kakak lihat deh..." Clark menunjuk sekujur tubuhnya yang kini penuh dengan bercak merah keunguan. "Bagaimana bisa Kakak meninggalkan lukisan sebanyak ini? Apa aku terlihat begitu lezat sampai Kakak tak kuasa menahan diri?"
"Bukankah kau sendiri yang memintanya begitu?" balas Dante sambil geleng-geleng kepala. Istrinya memang selalu begitu, saat sedang meluapkan gairah, mulutnya tak pernah berhenti meminta lebih, namun setelahnya ia malah menatap semua bekas itu seolah tak percaya.
"Benarkah aku begitu?" Clark berpura-pura berpikir.
"Ayo masuk ke air," suruhnya sambil menepuk permukaan air hangat.
Clark menggeleng, memeluk leher suaminya erat. "Gendong..."
Dante tak menolak, ia bahkan tak pernah sekalipun merasa lelah memanjakan wanita itu. Sudah hampir setahun pernikahan mereka, namun rasa sayangnya tak pernah surut bahkan semakin dalam. Jika Clark meminta bintang pun, ia akan berusaha meraihkannya. Begitulah cinta Dante yang tulus, meluap, dan tak kenal lelah.
Setelah selesai merawat istrinya, Dante bersiap berangkat ke kantor. Kebalik dari pasangan kebanyakan, ia justru yang selalu lebih sigap mengurus segala hal demi sang istri. Cinta buta itu sudah merasukinya sedemikian rupa, tak bisa lagi disembuhkan.
"Kau tidak ikut hari ini?" tanyanya heran. Biasanya Clark selalu menempel seperti bayangan ke mana pun ia pergi.
Clark menggeleng. "Aku ada janji bertemu seseorang."
Dante menyipitkan mata sesaat, namun segera mengerti saat mendengar kelanjutan kalimatnya. "Aku akan bertemu Kakak Chlara." Meski sedikit cemburu, ia tahu posisi Chlara tak tergantikan, ia adalah saudara kandung, sedangkan ia adalah belahan jiwanya.
"Baiklah. Aku berangkat. Bawa Yohan bersamamu, dia akan menjagamu saat Kakak tak ada di sampingmu," ucapnya sebelum mengecup bibir Clark sekilas.
"Iya."
Yohan mengikuti ke mana pun langkah kaki sang nyonya melangkah, dari satu toko ke toko lainnya, dan selalu siap saat dimintai pendapat. Sesuai janjinya, Clark meminta Dante memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih atas keberhasilan rencana mereka tempo hari.
Tanpa banyak tanya, Dante langsung menghadiahkan sebuah mobil sport hitam mewah. Mendapatkan kado tak terduga itu, Yohan bahkan spontan berlutut bersyukur di hadapan tuannya, namun Dante segera mengangkatnya dan menepuk pundak pria itu. Mulai saat itu, tugas utamanya berubah menjadi pengawal pribadi khusus bagi sang nyonya.
"Kak Yohan, menurutmu mana yang lebih cocok?" Clark menunjuk dua setelan jas elegan, ingin memilihkan yang terbaik untuk Dante. Sebenarnya ia berbohong soal janji bertemu Chlara, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan pertama mereka, dan ia ingin memberikan kejutan.
"Keduanya sama bagusnya, Nyonya."
"Tapi mana yang paling pas untuk Kak Dante? Yang ini atau yang ini?"
"Tuan Dante akan tetap terlihat berwibawa apa pun yang ia kenakan. Bukan pakaiannya yang membuatnya tampil menonjol, melainkan karisma yang ia miliki sejak awal," jelas Yohan dengan tulus. Clark bertepuk tangan mendengarnya.
"Tolong pilihkan aku, aku bingung."
"Sepertinya warna biru tua lebih elegan, dan Tuan Dante jarang memakai warna itu."
Akhirnya pilihan jatuh pada setelan itu. Clark meminta pelayan toko membungkusnya dengan rapi. Setelah itu mereka mampir ke toko kue, memesan kue sederhana namun bermakna yang bertuliskan nama mereka berdua Dante & Clark.
Segala persiapan selesai. Kini Clark masuk ke sebuah restoran untuk makan siang. "Kak Yohan, duduklah di sini. Makan bersamaku," pintanya saat melihat pria itu tetap berdiri menjaga jarak.
Yohan tentu menolak. Ia hanyalah seorang pengawal, tak pantas duduk setara dengan tuannya. Namun Clark bangkit, menarik paksa tangan pria itu agar duduk di hadapannya.
"Duduk dan makan! Ini perintahku," ucapnya tegas. Yohan pun tak berani menolak lagi.
"Menurutmu... apakah Kak Dante akan menyukai hadiahku?" tanyanya di sela suapan makanan.
"Tuan pasti akan sangat menyukai apa pun yang Nyonya berikan."
"Benarkah?"
"Benar sekali."
Clark tersenyum lega. Mereka menikmati hidangan dengan tenang, hingga tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja mereka dan menyapa dengan nada yang tak asing.
"Clark... lama tak jumpa. Apa kabarmu?"
Clark memalingkan wajah dan mendapati sosok yang selalu membencinya atau bisa dikatakan iri padanya ada disana.
'Dasar cewek gila..'
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭