NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN DI ATAS MEJA MAHONI

Malam jamuan privat antara Alveric Group dan Barito Group berlangsung di private dining room lantai teratas restoran bintang lima yang menyajikan pemandangan kilau lampu kota dari ketinggian. Meja mahoni panjang di tengah ruangan dipenuhi hidangan haute cuisine berstandar internasional, namun atmosfer yang tercipta terasa kaku, berat, dan dikepung oleh perhitungan dingin.

Alexander Lauren Alveric duduk di ujung meja bersama Eleanor. Di sebelah kanan mereka, Adrian dan Julian tampak sibuk memeriksa draf laporan berkala melalui gawai masing-masing. Di seberang meja, Gatan Aldous Rain memimpin keluarganya dengan senyum lebar yang tak pernah menyentuh matanya, didampingi oleh Gadrian dan Salmania.

Nayla duduk di antara Julian dan ibunya. Gaun malam berwarna pastel yang dikenakannya tampak serasi dengan riasan tipis di wajahnya, namun tatapan matanya redup dan menyimpan kelelahan yang teramat dalam. Kata-kata sang Ayah di ruang kerja sore tadi masih bergaung tajam di telinganya, menyisa luka yang kian menganga.

"Kerja sama logistik di wilayah timur menunjukkan prospek yang sangat menjanjikan, Alexander," ujar Gatan Rain, memotong keheningan seraya mengangkat gelas kristal berisi air mineral mewahnya. "Dengan bergabungnya jaringan Barito, kita bisa menekan biaya distribusi Alveric hingga belasan persen. Ini langkah efisiensi yang luar biasa."

Alexander menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh wibawa. "Tentu, Gatan. Alveric selalu memilih mitra yang sanggup memberikan nilai tambah secara riil. Langkah ini juga memperkuat bargaining position kita di dalam konsorsium utama."

Gadrian yang duduk berhadapan langsung dengan Nayla memanfaatkan momen tersebut untuk melayangkan perhatiannya. Cowok itu menyunggingkan senyum menawan yang terkesan dipaksakan, lalu merapikan kerah jasnya.

"Nayla kelihatan sedikit pucat malam ini," potong Gadrian dengan nada suara dibuat secermat mungkin agar menarik perhatian para orang tua. "Apa tugas persiapan ujian sekolah terlalu membebanimu? Kalau kamu butuh bantuan untuk materi hukum bisnis atau ekonomi, aku bisa datang ke rumahmu kapan saja."

Salma yang duduk di sebelah Gadrian melirik adiknya dengan dengusan tipis yang disembunyikan di balik senyum palsu. "Gadrian ini memang selalu perhatian, Papa. Di sekolah pun dia sering menanyakan kabar Nayla pada teman-teman kelasnya."

Eleanor tersenyum formal, mengusap pelan jemari Nayla di bawah meja untuk memberi dorongan moral. "Nayla memang anak yang sangat rajin, Gadrian. Terima kasih atas tawaran baikmu."

Nayla mengangkat pandangannya perlahan, menatap Gadrian dengan tatapan datar yang dingin. "Terima kasih, Gadrian. Tapi aku punya metode belajar sendiri dan kakak-kakakku selalu memantau pergerakan nilaiku."

Gatan Rain terkekeh bass, mengibaskan tangannya santai. "Anak-anak muda zaman sekarang memang penuh gengsi. Tapi Alexander, pembicaraan kita soal aliansi jangka panjang ini tentu tidak berhenti di meja rapat korporasi, bukan? Hubungan baik antara Gadrian dan Nayla bisa menjadi jembatan yang sangat kokoh untuk memutus ketergantungan kita pada pengaruh Mahendra Group."

Pernyataan Gatan membuat suasana di meja makan mendadak menjadi lebih intens. Adrian menghentikan ketukan jemarinya di atas tablet, sementara Alexander mempertahankan raut wajahnya yang tak terbaca.

"Mahendra Group masih memegang porsi saham terbesar di konsorsium utama, Gatan," tanggap Alexander tenang. "Namun, kestabilan aliansi ini memang memerlukan fleksibilitas. Siapa pun yang sanggup menjaga kepentingan Alveric akan mendapatkan porsi yang sepadan."

"Termasuk membatasi pergerakan anak bungsu Kael Mahendra?" tembak Gatan terang-terangan dengan senyum miring. "Kudengar Zavier Mahendra baru saja dicabut dari calon jajaran direksi muda oleh ayahnya sendiri karena tindakan indisipliner. Orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya tidak layak berada di lingkaran kita."

Nayla meremas serbet kain di pangkuannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mendengar nama Zavier direndahkan secara terbuka oleh Gatan Rain di depan keluarganya sendiri membuat dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang tertahan.

Julian, yang menangkap perubahan raut wajah adiknya, berdeham pelan untuk memotong ketegangan. "Urusan internal Mahendra adalah wewenang Kael Mahendra, Om Gatan. Alveric fokus pada profesionalitas eksekusi proyek, bukan pada rumor keluarga mitra."

"Tentu saja, Julian," sahut Gadrian cepat, tak mau kehilangan muka. "Tapi kita juga harus rasional. Seseorang yang tidak punya posisi resmi di perusahaannya sendiri tidak akan punya daya tawar apa pun di masa depan."

Nayla meletakkan garpunya ke atas piring porselen dengan bunyi tring yang cukup nyaring untuk menghentikan percakapan di meja tersebut. Seluruh pasang mata seketika tertuju padanya.

"Posisi di atas kertas tidak pernah menentukan nilai sejati seorang manusia, Gadrian," ujar Nayla dengan suara yang sangat halus namun bergetar oleh ketegasan mutlak. Matanya mengunci tatapan Gadrian tanpa ada sedikit pun rasa gentar. "Seseorang yang berani berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bersembunyi di balik nama besar ayahnya jauh lebih terhormat daripada mereka yang cuma memanfaatkan jabatan keluarganya untuk menekan orang lain."

Ruang makan privat itu seketika dibalut keheningan yang mencekam. Salma membelalakkan matanya kaget, sementara Gatan Rain menyipitkan mata dengan raut terkejut atas keberanian putri Alveric tersebut.

Alexander menatap Nayla dengan kilatan peringatan yang amat tajam. "Nayla. Jaga bicaramu di depan tamu kita."

Nayla membalas tatapan ayahnya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. "Nayla cuma menyampaikan sudut pandang rasional, Ayah. Permisi, Nayla izin ke toilet sebentar."

Tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun, Nayla berdiri secara anggun, merapikan gaunnya, lalu melangkah keluar dari ruangan berudara tebal itu.

Saat pintu kayu tebal kedap suara itu tertutup rapat di belakangnya, Nayla bersandar pada dinding koridor restoran yang sepi, menghirup udara malam dalam-dalam. Di balik permainan kekuasaan dan transaksi terselubung di atas meja mahoni tadi, satu hal makin jelas di benaknya: tak peduli seberapa keras klan Rain dan Alveric mencoba menghapus keberadaan Zavier dari papan catur ini, keberanian pria itu telah memberi Nayla alasan untuk tidak akan pernah tunduk pada aturan mereka lagi.

Nayla berdiri di lorong restoran yang dingin, mengusap telapak tangannya yang gemetar karena emosi yang baru saja ia luapkan di dalam ruangan. Dinding marmer di sekelilingnya terasa asing dan membekukan, seolah menjadi pengingat bahwa tak peduli ke mana pun ia melangkah, bayang-bayang aturan Alveric akan selalu mengikutinya.

Langkah kaki teratur yang amat familier dari arah belokan koridor membuat Nayla menoleh. Zavier berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Kehadirannya yang tiba-tiba di tempat itu tampak begitu kontras dengan keformalan restoran elite ini, namun pancaran matanya yang tenang seketika meredakan kekacauan di dada Nayla.

"Zav?" bisik Nayla terperanjat, melangkah dua tapak mendekati pria itu. "Kamu... kenapa kamu ada di sini? Kalau pengawal Ayah atau orang-orang Barito melihatmu—"

"Aku tahu kamu ada di sini, Nay," potong Zavier dengan suara rendah yang amat dalam. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi kayu segar dari tubuhnya menyelimuti pancaindra Nayla. "Vanya bilang kamu dipaksa ikut makan malam dengan keluarga Rain. Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."

Nayla menatap wajah Zavier, mendapati sisa-sisa kelelahan di sudut matanya, namun tak ada sedikit pun keraguan di sana. Rasa bersalah dan kepedihan yang berkecamuk sejak sore tadi kembali membumbung ke permukaan.

"Aku baru saja bertengkar dengan Gadrian dan Om Gatan di dalam, Zav," tutur Nayla dengan suara bergetar pelan. "Mereka bicara seolah kamu sudah hancur hanya karena Om Kael mencabut posisimu di dewan direksi. Dan Ayah... Ayah cuma diam membiarkan mereka merendahkanmu."

Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh ketenangan yang tak sanggup digoyahkan oleh gertakan siapa pun. Ia mengulurkan tangannya, perlahan mengusap jemari Nayla yang terasa dingin.

"Biarkan mereka bicara apa saja, Nayla," ujar Zavier lembut namun sarat akan penekanan. "Status di dewan direksi Mahendra atau jabatan di kertas aliansi itu tidak pernah mendefinisikan siapa aku. Mereka pikir mereka sedang menang karena berhasil mengisolasiku, padahal mereka cuma sedang memperlihatkan seberapa takutnya mereka pada apa yang tidak bisa mereka kendalikan."

Nayla memandangi genggaman tangan Zavier yang kokoh melingkari jemarinya, menyerap kehangatan dan rasa percaya yang disalurkan pria itu. "Tapi Ayah makin menekan, Zav. Sore tadi... aku sampai bertanya pada Ayah, kenapa harus aku? Kenapa bukan Aurora yang diatur dan dijadikan bahan aliansi bisnis? Kenapa aku yang harus mengorbankan segalanya?"

Mendengar pengakuan jujur itu, mata Zavier menyempit tajam dipenuhi rasa iba sekaligus amarah yang tertahan pada ketidakadilan yang dialami Nayla. Ia merapatkan genggamannya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih gadis di hadapannya.

"Kamu bertanya begitu karena kamu manusia yang punya perasaan, Nay," bisik Zavier mantap. "Dan kamu tidak bersalah karena menginginkan kebebasanmu sendiri. Jangan pernah merasa bersalah karena menolak dijadikan alat."

"Zav..." Nayla menatapnya dengan mata berbinar pasrah. "Suatu saat nanti... saat benteng ini benar-benar meretak, apa kita benar-benar bisa lepas dari Mahendra dan Alveric?"

Zavier memajukan tubuhnya sedikit, menatap penuh ke dalam manik mata Nayla dengan keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan oleh ancaman klan mana pun.

"Bukan cuma bisa, Nay," jawab Zavier dengan suara beratnya yang menembus hingga ke dasar hati Nayla. "Kita yang akan memastikan benteng itu runtuh dengan cara kita sendiri. Mereka boleh memegang uang, pengawal, dan dokumen saham... tapi mereka tidak akan pernah memegang kendali atas jalan yang kita pilih."

Suara gagang pintu kayu dari private dining room yang mulai tergerak memecah keheningan koridor tersebut.

Zavier mengusap punggung tangan Nayla untuk terakhir kalinya sebelum melangkah mundur perlahan ke dalam keremangan lorong samping. "Kembalilah ke dalam. Tatap mata mereka tanpa rasa takut, Nayla. Aku selalu ada di belakangmu."

Nayla mengangguk pelan, menghirup napas panjang yang memenuhi paru-parunya dengan keberanian baru. Saat pintu ruangan terbuka dan Adrian melangkah keluar untuk mencarinya, Nayla membalikkan tubuh dengan tegak, siap menghadapi permainan di atas meja mahoni itu hingga akhir, dengan keyakinan penuh bahwa di luar tembok tebal ini, ada satu jiwa yang tak akan pernah membiarkannya berjuang sendirian.

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!