NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

Aku terbangun dengan rasa pusing yang menguasai kepalaku. Sangat malas untuk bangkit sebenarnya, namun erangan kecil yang terdengar di samping kananku membuatku menoleh ke arah kak Ivan yang terbaring membelakangiku.

"Kak,,," ada gerakan kecil darinya merespon panggilanku. Namun tidak terdengar suara apa pun untuk menjawab panggilan ini.

Langsung ku putar badan ke arah kiri dan mencoba membangunkan om Hendry.

"Om,,, om Hendry!" Aku menepuk-nepuk pelan lengan tangan kanannya dan tidak membutuhkan waktu lama om Hendry pun membuka mata.

"Om, kak Ivan kayaknya sakit!" Aku berusaha memberikan informasi yang sarat dengan nada kekhawatiran ku.

Tanpa menjawab apapun, om Hendry langsung beranjak dan mendekat ke tempat kak Ivan berbaring.

"Van, kenapa?"

"Anterin gue ke dokter bedah habis ini ya. Sakit banget perut gue."

Aku mendekati kak Ivan juga, wajah pucat itu semakin terlihat pias dengan buliran titik keringat yang cukup banyak di dahi nya.

"Gue coba observasi sampai malam ini gimana?" Om Hendry menatapku sebentar sebelum mencoba memberikan pilihan itu pada kak Ivan.

"Ada yang nggak beres hen. Kayaknya ada yang tertinggal." Suara lirih kak Ivan membuat om Hendry tiba-tiba terbelalak.

"Dit! Kita tinggal bentar nggak apa-apa? Om mau anter Ivan dulu."

"Aman om, aku bisa lanjut tidur lagi. Masih agak pusing, aku bawa tidur lagi aja biar enakan." Aku mengangguk menyetujuinya. Meski aku tidak begitu paham situasinya, tapi bisa kulihat kepanikan di wajah om Hendry. Sepertinya kondisi kak Ivan cukup serius dan butuh penanganan segera.

Selanjutnya om Hendry sedikit memapah kak Ivan keluar, aku hanya bisa melihat dari sini. Kepalaku terasa berputar jika aku bangkit. Sehingga kuputuskan tetap berdiam di tempat agar tidak menambah khawatir om Hendry.

Setelah pintu tertutup, Kesunyian menyelimutiku sekarang.

Aku masih mempertahankan posisi duduk bersandarku sambil memejamkan mata ini, berharap rasa pusing ini segera hilang. Karena rasa bosan, akhirnya aku memaksakan tubuhku ini untuk bangkit. Aku ingin ke kamar, disana aku tinggalkan iPhone ku. Setidaknya aku bisa membuka iPhone ku untuk mengusir kebosanan ini. Aku berjalan sedikit limbung menuju kamar. Kujadikan semua perabot yang kulewati sebagai tumpuan tubuhku yang berjalan limbung. Akhirnya langkah ku sampai juga di sisi bed yang kutuju. Kuhempaskan tubuh ini perlahan diatasnya. Nafasku sampai tersengal karena perjalanan penuh perjuanganku tadi.

Aku merasa obat ini mempunyai efek paling mengerikan diantara semua obat yang sudah kuminum. Aku benar-benar seperti orang sakit dengan tubuh lemas, kepala pusing, perut mual, ditambah dengan nafas ku yang terasa sangat berat. Dan yang paling ku benci, serangan vertigo yang kadang tiba-tiba muncul.

Kuraih iPhone ku, dan dengan posisi terbaring aku mulai mengaktifkan nya. Entah kapan aku mematikan iPhone ini, aku tidak ingat sama sekali.

Ting!

Ting!

Ting!

Bunyi notifikasi bertautan saat iPhone ku telah sempurna diaktifkan. Aku tidak berminat membuka aplikasi chat apa pun. Sekarang aku terfokus mencoba mencari tau tentang virus HIV di halaman web yang kupunya. Aku ingin tahu lebih lanjut, aku ingin bisa membentengi diriku sendiri dengan semua serangan yang mungkin akan kudapatkan berikutnya.

Pencarianku terhenti saat sebuah panggilan masuk datang.

Ferdy...

Kenapa anak ini telepon sekarang?

Bukankah seharusnya dia masih disibukkan acara persiapan pensi?!

Ku lirik jam digital yang ada di pojok kiri atas iPhone ku. Mataku langsung terbuka lebar saat kusadari sudah jam 15 sekarang. Ternyata hari sudah menjelang sore.

Kugulir tombol hijau dan mendekatkan iPhone ku ke telinga.

"Dit, bentar lagi ya. Gue masih beberes nih." Suara berisik disana tidak menyamarkan suara Ferdy sama sekali.

Aku heran dengan pernyataan yang dibuatnya.

Maksudnya apa?

"Maksudnya?" Aku bertanya memastikan maksud pernyataan Ferdy tadi.

"Ish! Lo nggak usah sok nggak ngerti deh. Gue udah tahu Lo ada dimana. Gue otw kesana nunggu beres ini bentar lagi. Lo aman kan sendiri?! Gue pastiin lima belas menit lagi deh gue sampai sana. Udah ya. Baik-baik Lo disana, jangan aneh-aneh. Kalau butuh sesuatu masih bisa ditahan tungguin gue Dateng aja."

Aku masih mencerna nya sampai panggilan ini diputuskan secara sepihak oleh Ferdy.

Apa dia sudah tahu?!

Dari mana?!

Selanjutnya dering panggilan kembali masuk ke iPhone ku. Nomor tidak dikenal.

"Dit?! Ini om Hendry." Suara di seberang sana langsung bisa ku kenali.

"Oh, iya om. Ada apa?"

"Kamu apa kabar? Masih lemes nggak?"

"Udah enakan si om, lemesnya tinggal dikit." Aku sedikit berbohong menjawab pertanyaan nya. Jika ku deskripsikan bagaimana kondisiku sekarang sangat jauh dari kata baik-baik saja.

"Jadi gini Dit, Ivan ternyata perlu ada pembedahan ulang. Tadi hasil CT dan USG ada benda asing yang tertinggal. Sepertinya kasa. Om akan lama disini, karena om diminta ikut menangani juga. Dokter yang lain sedang full job."

"Astaghfirullah... Kok teledor banget dokter bedah yang kemaren.." aku hanya bisa menanggapi dengan keterkejutan ku.

"Satu lagi, om udah minta Ferdy nemenin kamu. Om baru ngasih tau dia kalau kamu lagi sakit di apartemen Ivan. Dia segera datang sepulang sekolah katanya."

"Iya om. Thanks."

Om Hendry mengakhiri panggilannya setelah berpamitan dan memintaku untuk tetap berusaha terjaga sampai Ferdy datang nanti. aku hanya mengangguk menanggapinya, meski ku tahu om Hendry tidak akan melihat respon ku ini.

Terungkap!

Ternyata Ferdy tahu aku ada disini dari om nya sendiri. Mungkin aku memang harus memberitahu semuanya pada sahabat baik ku itu. Semoga respon nya tidak seperti Dheka.

Hampir dua puluh menit berlalu saat kudengar pintu depan terbuka dari luar. Selain menggunakan kunci fisik, kunci pintu di apartemen ini juga menggunakan pin yang bahkan aku pun lupa belum menanyakan nya pada kak Ivan.

"Dit?! Lo dimana?" Suara Ferdy, ya, aku sangat tahu itu adalah suara Ferdy.

"Di kamar Dy." Aku berusaha menjawab dengan mengerahkan seluruh tenaga ku agar suara ini terdengar sampai padanya.

"Ya Allah Dit, sakit apa Lo? Kayaknya lemes banget." Aku menghela nafas lega melihat Ferdy di hadapan ku.

"Lo mandi dulu gih sana. Jangan bawa kuman kesini." Aku mencoba terlihat santai di depannya. Aku ingin segera memejamkan mata ini, pesan om Hendry tadi untuk tetap terjaga sampai Ferdy datang sudah ku lakukan. Sekarang aku ingin tidur lagi.

"Ish! Lo, apaan si. Meski gue belum mandi, kuman-kuman nggak akan bisa nempel di badan gue. Mereka udah langsung terpental dengan sendirinya." Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Biarlah Ferdy berasumsi apapun.

"Lemari kanan atas itu baju gue smua. Lo ambil aja buat ganti sampai penutup buat yg di dalem-dalem juga ambil aja." Aku berkata sambil memejamkan mata. Ada sedikit rasa bahagia melihat Ferdy disini.

Belum genap sehari aku menghilang dari nya ternyata dia sudah berhasil menemukan ku.

"Apaan penutup buat yang dalem-dalem?" Aku tahu Ferdy akan sangat paham apa yang ku katakan sebelumnya.

Perlukah di perjelas?!

"Buat burung Lo, biar ga terbang. Kandangnya bisa Lo ambil disitu juga." Aku sedikit terkekeh menjawabnya. Dan suara tawa cukup nyaring juga kudengar dari mulut Ferdy.

Kenapa hal sekecil ini harus menjadi pembahasan di awal pertemuan kami?!

Sungguh aneh memang si anak babeh itu.

Aku bisa mendengar suara pintu lemari yang dibuka, selanjutnya langkah kaki terdengar sedikit terseret menjauhi kamar ini. Aku merasakan kesunyian kembali, dan situasi ini sangat sempurna untuk ku memulai tidur kembali.

***

POV Ferdy

Selesai membersihkan diri aku langsung kembali menuju kamar dimana Adit berada. Kulihat Adit telah tertidur, wajah pucatnya juga kernyitan di dahinya sangat terlihat, pasti ada rasa sakit yang dia alami sekarang.

"Dit, bangun yuk." Aku membangunkan nya dengan ucapan penuh kelembutan di dekat telinganya. Geliat kecil pun langsung di lakukan menandakan bahwa aku telah berhasil mengusik tidurnya yang mungkin belum sampai terlelap.

"Lo udah mandi?" Suara serak nya langsung keluar begitu dia membuka matanya dan menyoroti ku dengan intens.

"Udah... Udah steril gue!" Kulihat senyum tipis menghias wajah pucatnya sekarang.

Ah, Adit... Andai kamu bisa berbagi dari awal, aku pasti akan selalu mengusahakan senyuman itu tidak akan hilang dari wajahmu.

"Kata om Hendry Lo belum makan. Kita order via aplikasi aja ya. Lo mau makan apa?" Aku mengikuti berbaring disebelah nya. Meski dengan posisi yang berbeda, posisiku tengkurap dan dia menyamping untuk melihatku.

"Gue nggak laper, tapi boleh lah beli bubur aja Dy. Buat isi perut."

"Oke, gue orderin bubur ayam ya."

Mata itu kembali tertutup. Ada banyak pertanyaan yang ingin kugali sebenarnya. Tapi mungkin Adit benar-benar drop saat ini, tidak sepatutnya aku mengganggu waktu pemulihan nya seperti sekarang ini.

Uhuk!

Uhuk uhuk!

"Dit?! Lo oke?" Adit masih bersusah payah berusaha menetralkan batuknya saat ku tanya. Aku langsung sigap membantunya bangkit dan mulai terduduk dengan bersender pada kepala bed ini.

Kenapa batuknya tidak kunjung berhenti?

Gue harus apa?!

"Lo coba minum dulu Dit. Gue ambilin air hangat ya." Aku membukakan Tumbler miliknya yang ada diatas nakas, Adit menerimanya dan langsung berusaha meminumnya. Melihat itu, langsung kulangkahkan kaki ke mini bar di dekat dapur dan secepat kilat mengambil air hangat dari dispenser yang ada disana.

"Dit,, ini minum yang hangat." Batuknya sudah tidak seintens tadi, tapi sesekali masih terdengar batuk dari nya. Aku membantunya meminum air hangat yang kubawa.

"Thanks Dy, udah aman." Nafasnya yang memburu dan tersengal masih membuatku khawatir.

"Gue telepon om Hendry dulu ya Dit. Bingung gue harus ngapain. Mungkin ada obat yang harus Lo minum." Aku mencoba meminta persetujuan nya kali ini.

Sejujurnya ingin sekali aku bertanya Lo sakit apa?

Apa yang Lo rasain?

Gue bisa bantu apa?

Atau pertanyaan lainnya yang bisa sedikit memberikan gambaran padaku tentang keadaanya saat ini. Tapi aku merasa belum saatnya mencecar semua pertanyaan itu. Om Hendry bilang Adit sakit dan saat kutanya sakit apa dia hanya bilang Adit lah yang akan cerita sendiri.

Ayolah Dit...

Jujur dan terbuka seperti Lo biasanya ke gue...

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!