NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Setelah semua pasukan masuk kembali ke dalam benteng, Kaelen memerintahkan untuk memperketat penjagaan dan jangan sampai pos komando kosong tanpa orang satupun untuk menghindari kejadian hari ini terulang kembali.

Sementara itu, setelah kembali dari medan perang Jax terus berjalan melewati tenda tenda di barak dan tidak memperdulikan panggilan temannya untuk beristirahat. Ia langsung menuju ke desa, merebut palu yang sedang digenggam oleh Xavier. Mendorongnya hingga terjatuh ke tanah dan mengambil alih pekerjaan Xavier.

Xavier terduduk di tanah dan diam melihat pria besar itu yang kali ini terlihat lebih berinisiatif untuk membantu.

“Bagaimana kondisi di depan?” tanyanya karena melihat hanya Jax saja yang kembali.

“Musuh sudah mundur.”

“Baguslah, tapi kenapa kamu langsung ke sini? bukankah yang lain sedang beristirahat?”

BUK! BUK! BUK!

Jax memukul paku di depannya sekuat tenaga menggunakan palu di tangannya. Ia diam membisu. Tangannya memukul dengan keras. Xavier yang melihat itu perlahan menyingkir dan mengerjakan pekerjaan lain.

Kini isi kepala Jax penuh dengan adegan demi adegan yang baru saja terjadi. Musuh menyerang dari segala sisi membuatnya kewalahan. Evren yang sudah dimakinya di depan semua petinggi malah melindunginya. Lalu ia melihat sosok yang harus ia awasi ternyata memiliki kemampuan yang begitu tinggi. Dan ada juga seorang penyihir yang melindungi seluruh benteng dengan sihirnya.

Dulu ia selalu merasa bangga karena selalu menjadi yang terbaik. Setelah keluar dari istana, ia baru sadar kalau ternyata ada orang yang jauh lebih hebat darinya.

Di Istana, kabar kilat dari Draven akhirnya tiba.

Seorang prajurit berlari dengan begitu panik saat menerima surat tersebut.

“Yang Mulia, ada surat darurat dari Draven!”

Di Alterus, surat kilat hanya digunakan saat keadaan darurat seperti perang. Apalagi di Draven memang menjadi benteng dengan tingkat perang tertinggi.

Cassian langsung membuka surat tersebut dan membaca isinya. Sudut bibirnya sedikit berkedut dan hampir saja ia tersenyum. Cassian mempertahankan ekspresinya lalu berdehem pelan.

“Benteng Draven dikepung Eryndor, hubungi benteng terdekat untuk mengirimkan bantuan,” perintahnya.

“Baik Yang Mulia.”

Cassian mengetukkan jarinya ke meja lalu ia memanggil kembali Prajurit yang membawa kabar.

“Tunggu!”

Prajurit tersebut langsung kembali ke hadapan Cassian dan berlutut, “ya Yang Mulia, apa ada perintah lain?”

“Bantu Draven hanya ketika garis pertahanan berhasil dipukul mundur.”

Sang Prajurit terdiam sesaat mendengar perintah dari Sang Kaisar, tapi sedetik kemudian langsung mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut untuk menjalankan perintah sang Kaisar.

Namun baru dua jam sejak merpati pos diterbangkan, seekor merpati datang lagi. Bukan balasan surat yang dikirim tadi, melainkan sebuah surat susulan.

Sang prajurit kembali berlari ke ruangan Cassian dan memberikan kabar tersebut.

“Yang Mulia, perang di Draven sudah berakhir!” lapornya sambil memberikan surat itu kepada Cassian.

“APA?” Cassian menggebrak meja di depannya lalu ia membuka surat tersebut dengan tergesa-gesa. Hanya ada kabar, tidak ada alasan kemunduran pasukan musuh.

“Tapi kenapa?”

Prajurit yang membawa pesan menatap Cassian dengan sedikit kebingungan karena responnya yang terlihat tidak senang dengan kemenangan perang ini.

Cassian melirik prajurit yang masih berlutut di depannya kemudian mengangkat tangan dan mengibaskannya pelan.

“Baiklah, keluar!”

Setelah Prajurit itu keluar, Cassian meremas surat di tangannya lalu melemparnya sembarang arah.

“Keluarlah!” Serunya.

Dari balik bayangan tiang penyangga, seorang pria berjubah hitam keluar tanpa menimbulkan suara. Berlutut hormat siap menerima perintah dari sang Kaisar.

“Selidiki apa yang sebenarnya terjadi di Draven hari ini…”

“Terutama gerak-gerik Lysander!” perintahnya.

Matanya menatap tajam ke arah pria berjubah itu dengan tangan yang masih mengepal kuat. Urat di lehernya juga terlihat sangat jelas.

“Baik Yang Mulia.”

Di Draven, langit sudah gelap dan obor pun sudah dinyalakan sebagai penerangan. Suara gemericik air sejak tadi terus terdengar di dekat tenda dapur. Air dari pompa air akhirnya berhenti mengalir setelah lobak terakhir selesai dicuci dan dimasukkan ke dalam keranjang. Seorang wanita paruh baya mengangkat keranjang terakhir itu lalu membawanya ke depan tenda dapur.

“Tuan Xavier, lobaknya sudah dicuci semua,” ucapnya sambil meletakkan keranjang itu di samping keranjang lain yang juga penuh dengan lobak segar.

Xavier melihat enam keranjang besar berisi penuh dengan lobak yang terlihat basah.

“Yang baru dicuci taruh di sana. Yang sudah dijemur dari kemarin bawa ke sini, kita mulai potong.”

“Kenapa harus dijemur dulu Tuan?” tanya seorang pekerja dapur.

“Biar nanti acarnya tidak cepat rusak dan bisa disimpan lama,” jawabnya sambil memeriksa lobak yang baru saja dibawa dari tempat jemuran.

Setelah itu, ia mengambil sebuah kursi kecil, talenan dan pisau dapur.

“Ayo semuanya, kita potong kecil-kecil lobaknya,” ucap Xavier sambil menggulung lengan bajunya. Ia duduk di kursi kecil dengan tangan kanan memegang pisau. Kemudian mengambil satu lobak, lalu mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil berbentuk kotak.

“Seperti ini,” ucapnya sambil menunjukkan hasil potongannya.

Semua pekerja dapur pun mengikuti instruksi Xavier. Jumlah pekerja di dapur tidak banyak, hanya tiga orang tukang masak, dan lima pelayan. Merekalah yang selama ini bekerja keras menyiapkan hidangan untuk seluruh pasukan yang berjumlah ribuan orang. Namun setiap kali waktu makan tiba, beberapa prajurit yang sedang tidak bertugas akan datang membantu mereka mengangkat air, menyiapkan bahan, membagikan makanan, hingga mencuci peralatan.

“Apa kita akan memotong semua lobak ini?” tanya seorang wanita pekerja dapur. Berkat pertanyaan itu, Xavier mengingat sesuatu yang terlupakan sejak tadi.

“Oh iya! aku baru ingat,” Xavier menatap para pekerja dapur.

“Lobak yang baru dicuci tadi, sisakan satu keranjang untuk dimasak besok. Yang lain kita potong semua.”

“Baik Tuan Xavier.”

“Tapi untuk apa lobak sebanyak ini?” tanya seorang pelayan sambil menatap sepuluh keranjang besar penuh lobak yang harus dipotong malam ini juga.

Orang yang tidak tahu, mungkin akan mengira mereka memiliki kebun lobak sendiri. Tidak ada yang mengira bisa mendapatkan bahan makanan sebanyak ini dari bukit belakang barak.

“Tuan Xavier kan sudah bilang tadi mau buat acar, biar bisa disimpan setidaknya sampai empat minggu. Kalau prosesnya sempurna, bisa disimpan hingga beberapa bulan. Ini bisa menjadi cadangan makanan kita selama musim dingin nanti,” ucapnya rekannya sambil menatapnya.

Xavier yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tanpa berkomentar apapun. Ia terus melakukan pekerjaannya memotong lobak.

Sementara itu di tenda Lysander, Gavin melaporkan hasil penyelidikannya di benteng kecil di sekitar Draven. Setelah seharian mengerjakan banyak hal, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk mengatakan langsung kepadanya

“Tuan muda, di tempat lain tidak ada perintah penghematan dan menerima logistik sesuai jatah yang seharusnya,” ucapnya.

Lysander yang sedang mengelap pedangnya pun mengerling ke arah Gavin. Tatapan matanya tajam dan dalam namun ia tetap diam.

“Apa kita perlu memberitahukan hal ini kepada Komandan Kaelen?” tanya Gavin yang langsung disambut gelengan pelan dari Lysander.

“Untuk saat ini tidak perlu…”

Lysander meletakkan lap di atas meja lalu menyarungkan pedangnya sebelum meletakkan ke tempatnya.

“Jangan dulu membuat kepanikan yang tidak perlu.”

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Lysander menarik kursinya lalu duduk dan menuangkan teh ke dalam cangkir. Menyeruputnya pelan lalu berkata tanpa menoleh.

“Panggilkan Xavier.”

“Baik Tuan Muda.”

Beberapa saat kemudian, Xavier datang dan masuk ke dalam tenda diikuti oleh Gavin.

“Tuan Lysander memanggil saya?” tanyanya begitu masuk ke dalam tenda.

Lysander masih duduk di kursinya, kini dengan sebuah cangkir di tangannya. Pedang panjangnya sudah ia simpan sebelum Xavier datang. Ia tidak berdiri bahkan tidak menoleh sedikitpun.

“Bagaimana dengan persiapan logistiknya?” tanya Lysander kepada Xavier.

“Lancar, perkiraan kita bisa bertahan dua bulan tanpa bantuan dari istana sama sekali. Kalau kiriman logistik dari istana tetap datang sesuai jadwal, kita bisa melewati musim dingin tanpa perlu khawatir tentang makanan.”

Setelah mendengar pernyataannya, Lysander berdiri lalu memutar kursinya dan duduk kembali. Namun kali ini menghadap langsung ke arah Xavier.

“Meskipun jatah logistik kita dipangkas?” tanyanya lagi.

“Iya, meskipun dipangkas, kita tidak akan kelaparan,” jawab Xavier dengan penuh keyakinan.

Lysander mengangguk paham lalu ia melirik ke Gavin. Gavin pun mengangguk dan mempersilahkan Xavier untuk keluar dari tenda. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, Xavier langsung menahan tangan Gavin dan menatap Lysander.

“Tapi tuan Lysander.”

“Ada apa?”

“Bolehkah aku meminjam dia? aku kekurangan tenaga.”

Xavier bertanya sambil melirik ke arah Gavin membuat yang dilirik pun mendelik ke arahnya.

“Tidak bisa, saya harus berada di sisi Tuan Muda!” tolak Gavin dengan tegas. Namun responnya ternyata berbeda jauh dengan yang ditanya. Lysander mengangguk lalu kembali menyeruput tehnya.

“Bawa saja,” ucapnya dengan tenang.

Xavier menarik tangan Gavin agar mengikutinya.

“Ta.. Tapi Yang Mu…”

Lysander menatap tajam Gavin karena lagi lagi ia memanggil panggilan yang tidak seharusnya. Bak anak anjing yang ketakutan, Gavin menurunkan pandangannya dan pasrah ditarik oleh Xavier.

Para pekerja dapur mengangkat kepala mereka dan menatap Xavier yang sudah kembali. Lalu pandangan mereka beralih ke belakang Xavier.

“Nahh.. Potong semua lobak ini.”

Tangan kanan Xavier masih memegang tangan Gavin. Sementara tangan kirinya memegang tangan Jax yang menunjukkan wajah masam.

Saat berada di jalan dari tenda Lysander menuju ke dapur, mereka berdua berpapasan dengan Jax. Xavier langsung menghampirinya tanpa ragu.

“Apa kamu sedang menganggur?” tanyanya tanpa basa basi.

“Kenapa?”

“Ayo ikut aku!”

“Kemana? eh jangan tarik-tarik!”

Dan di sinilah mereka berakhir, berada di antara tumpukan lobak yang harus selesai dipotong malam ini juga.

“Besok kan bisa,” gerutu Jax.

“Tidak bisa ditunda lagi, kalau menunggu besok keburu lobaknya rusak,” jawabnya sambil menggeser keranjang lobak yang belum dipotong ke arah Gavin dan Jax.

“Lalu, aku tidak mau bekerja setelah salju turun, terlalu dingin,” ucapnya lagi.

Akhirnya mereka berdua melakukan pekerjaan itu tanpa protes lagi. Mereka memotongnya dengan begitu serius. Gavin berkali-kali mengecek hasil potongannya lalu membandingkan dengan potongan pekerja dapur di sampingnya.

“Kenapa potonganku miring ya?” gumamnya sambil menatap wadah potongan lobak miliknya dan di sampingnya secara bergantian. Kemudian ia mengambil lobaknya lagi dan memotongnya dengan lebih berhati-hati.

Sementara Jax memotongnya dengan cepat tanpa peduli hasilnya. Ia hanya melihat contohnya berbentuk kotak kecil, maka ia pun memotongnya kotak kecil. Meskipun ukurannya tidak sama rata atau bentuknya berakhir berantakan.

Xavier tidak memedulikan mereka berdua selama pekerjaannya bisa segera selesai.

Setelah selesai memotong semua lobak, malam sudah benar-benar larut. Xavier berdiri dan meregangkan tubuhnya. Duduk dengan posisi membungkuk cukup lama membuat punggung dan bahunya sangat pegal.

“Kerja bagus semuanya, kalian bisa istirahat sekarang. Sisanya biar aku yang mengurusnya.”

Para pekerja dapur pun membereskan semua peralatan dan membawanya masuk ke dalam tenda dapur.

Jax dan Gavin berdiri lalu mengambil air untuk mencuci tangan. Gavin langsung kembali ke tenda untuk menjaga Lysander. Sementara Jax berdiri di sisi tenda dapur sambil memperhatikan Xavier yang masih sibuk sendiri. Pemuda tinggi itu terlihat mondar mandir sendiri mengurus semua potongan lobak itu.

Tanpa disadarinya, kakinya melangkah mendekati Xavier.

“Ehem!”

“Apa kamu masih butuh bantuan?”

Xavier yang sedang melumuri garam di atas lobaknya pun menoleh ke arah Jax.

“Kamu tidak kembali ke tenda?”

“Aku… aku belum mengantuk.”

Xavier mengangguk lalu kembali fokus ke pekerjaannya.

“Kalau begitu duduk saja di situ, nanti kalau butuh bantuan aku akan memanggilmu,” ucap Xavier sambil menunjuk sebuah kursi kecil yang masih tertinggal di depan tenda. Jax menuruti ucapan Xavier dan duduk di kursi tersebut sambil memperhatikan semua yang dilakukan oleh Xavier.

“Aku baru tahu kalau ada bangsawan yang mau bekerja kasar seperti ini.”

“Tapi sekarang aku cuma prajurit biasa yang masih dalam masa pelatihan,” jawab Xavier tanpa menoleh ke lawan bicaranya.

Cukup lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Xavier memanggil Jax.

“Tolong masukkan ke dalam wadah, lalu tutup sampai rapat. Pastikan tidak ada celah sedikitpun.”

“Memangnya kenapa?” tanya Jax yang benar-benar tidak tahu tentang proses pembuatan acar.

“Kalau sampai ada udara masuk, sia-sia saja usahamu potong lobak semalaman.”

Jax langsung berdiri dan melakukan apa yang diminta oleh Xavier.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!