NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan

KEESOKAN HARINYA

Cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela.

Cheyrin terbangun dengan terkejut karena bangun kesiangan. Ia segera panik. Kelas pagi akan segera dimulai.

Dengan tergesa-gesa ia berlari mengambil tas, merapikan pakaiannya, bahkan tidak sempat mengikat rambut. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Ia juga tidak sempat sarapan.

Cheyrin mengunci pintu rumah dengan cepat, lalu membuka gerbang.

Namun saat gerbang itu terbuka, langkahnya terhenti.

Jayden sudah berada di depan. Ia duduk di atas motor Ninja miliknya.

Wajah Jayden tampak lebih segar. Sepertinya ia sudah pulih.

“Jay?” ucap Cheyrin pelan.

“Lo udah sembuh?” tanyanya lagi.

Jayden mengangkat alisnya sambil tersenyum tipis.

“Udah.”

Cheyrin mengerutkan dahi. “Kenapa gak bilang?”

Jayden meraih helm yang dari tadi digantung di spion, lalu menyerahkannya kepada Cheyrin. “Emang kenapa kalau gak bilang?”

Cheyrin menatap helm itu lama sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Helm lo satu lagi ada sama gue. Sama jaket juga.”

Jayden diam sebentar. Lalu mengambil helm dari tangan Cheyrin dan memakainya.

“Udah buat lo aja.”

Cheyrin masih terdiam. Ia hanya menerima perlakuan hangat Jayden. Pandangannya masih tertuju pada Jayden.

Setelah selesai memakai helm, Cheyrin segera naik dan duduk di belakang motor Jayden.

Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Jayden pagi ini. Lebih tenang. Lebih sabar. Seolah sedang menunggunya.

Mesin motor pun meraung.

DI PERJALANAN MENUJU KAMPUS – PAGI

Sepanjang perjalanan menuju kampus, suasana di antara mereka terasa hening.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Jayden. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada candaan seperti biasanya. Hanya ada suara mesin motor Ninja yang meraung pelan membelah udara pagi.

Cheyrin duduk di belakang dengan kaku. Ia sesekali melirik Jayden melalui spion kiri. Wajah Jayden tertutup helm full face berwarna hitam, sehingga rautnya tidak terlihat. Namun dari cara Jayden mengendarai motor, dari cara pandangannya yang lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun, Cheyrin bisa merasakan sesuatu.

Jayden sedang dingin.

Dinginnya melebihi udara pagi yang menusuk melalui celah-celah jaket Cheyrin. Jarak mereka hanya sejengkal, tetapi rasanya seperti ada tembok besar di antara mereka.

Pikiran Cheyrin berkecamuk. Apa ada yang salah, apa karena malam itu Cheyrin tidak menjawab pertanyaan nya. Atau karena hal lain?.

Namun ia tidak berani bertanya. Suasana ini terlalu berat untuk dipecah dengan pertanyaan bodoh.

Sesampainya di parkiran kampus, Jayden menghentikan motornya. Ia melepas helmnya dengan gerakan yang tenang. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya tampak segar, tetapi sorot matanya datar.

Jayden melirik sekilas ke arah Cheyrin. Tatapan itu singkat. Tidak sedalam biasanya.

“Gue duluan ya.” ucapnya datar.

Cheyrin hanya bisa mengangguk. Tenggorokannya tercekat. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu berbalik dan berjalan menuju gedung dengan langkah pelan.

Di dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.

"Jayden kenapa?"

DI DALAM KELAS – SIANG

Jam pelajaran pertama terasa sangat panjang.

Cheyrin duduk di bangku tengah, buku catatan terbuka di meja tapi matanya kosong menatap papan tulis.

Di depan, dosen sedang menjelaskan teori permintaan dengan suara monoton. Tapi yang masuk ke telinga Cheyrin cuma dengungan samar. Pikiran nya masih tertinggal di parkiran tadi-sikap Jayden yang dingin, dan kecurigaan kecil yang sekarang terasa besar.

"Chey."

Lengan Cheyrin disenggol pelan.

Lisa, teman sebangku yang duduk di sebelahnya, menatapnya dengan alis naik.

"Dari tadi lo melamun. Dosennya udah tiga kali nanya, lo diem aja."

Cheyrin berkedip cepat, sadar kalau kelas tiba-tiba jadi hening. Semua mata menoleh ke arahnya, termasuk Dara yang melirik sinis ke arah nya.

"Eh... iya Bu, maaf," katanya gugup, buru-buru menunduk melihat buku.

Dosen itu cuma menghela napas kecil.

"Kalau ngantuk keluar aja, Cheyrin. Jangan ganggu yang lain."

Cheyrin mengangguk pelan, pipinya panas.

Namun di dalam kepalanya, suara itu terus menggema.

.

.

.

.

Setelah jam pertama selesai, Cheyrin keluar kelas dengan langkah gontai. Kepalanya masih penuh dan pusing, jadi ia memilih pergi ke arah perpustakaan untuk menenangkan diri.

Di lorong dekat taman kampus, ia melihat sekelompok orang duduk melingkar di bawah pohon beringin.

Jayden, Juno, dan Steven ada di sana.

Mereka duduk seperti biasa anak tongkrongan, suara tawa lepas terdengar sampai beberapa meter.

Cheyrin memperlambat langkah. Ia melirik, mencari satu nama yang kini memenuhi isi kepalanya.

Jayden sedang bercerita sesuatu, matanya berbinar, tangannya ikut bergerak menjelaskan. Tidak ada sisa sikap dingin tadi pagi. Di antara teman-temannya, ia kembali menjadi Jayden yang ceria.

Cheyrin melewati mereka pelan, pura-pura fokus ke layar ponsel. Walau sesekali melirik ke arah pohon itu.

Tapi Jayden tidak melihatnya.

Yang melihat justru Steven.

Begitu mata mereka bertemu, Steven mengangkat sudut bibirnya tipis-senyum kecil yang tenang, seperti sapaan diam-diam.

Cheyrin membalasnya kikuk. Hanya anggukan singkat, lalu buru-buru menunduk lagi.

Gerakan kecil itu tidak luput dari Jayden.

Ia yang tadinya tertawa, tiba-tiba berhenti. Sorot matanya tajam mengikuti arah pandangan Steven.

Jayden melihat Steven tersenyum ke arah Cheyrin.

Suasana di di antara mereka seketika berubah sedikit. Juno yang peka langsung melirik ke dua orang itu bergantian, tapi tidak berkomentar.

Cheyrin sendiri sudah mempercepat langkah. Jantungnya berdegup aneh. Ia tidak tahu harus merasa apa-lega karena Jayden akhirnya terlihat baik-baik saja, atau canggung karena situasi yang jadi semakin rumit.

Tanpa menoleh lagi, ia masuk ke gedung perpustakaan dan membiarkan pintu kaca menutup pelan di belakangnya.

Perpustakaan lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada satu atau dua orang. Tempat yang pas untuk Cheyrin menenangkan diri.

Ia berjalan ke lorong paling belakang, matanya menelusuri judul-judul buku.

Berhenti di buku tebal sampul biru. Itu yang dia cari.

Sayangnya ada di rak paling atas.

Cheyrin berjinjit. Jari-jarinya berusaha meraih. Sedikit lagi...

Belum sampai.

Tiba-tiba ada tangan yang terulur dari samping, mengambilkan buku itu dengan mudah.

"Nih."

Cheyrin menoleh kaget. Steven.

Ia terdiam sesaat sebelum menerima buku itu. Jari mereka bersentuhan sedetik. Refleks Cheyrin menarik tangannya.

"Lo kok... ada di sini? Bukannya tadi kalian lagi ngumpul?" tanyanya pelan.

Steven mengangkat bahu, santai. "Udah pada bubar."

"Oh... gitu. Yaudah, makasih ya."

Cheyrin mengangguk kikuk, lalu menoleh ke kanan buat cari meja kosong.

Dan di sana—

Jay berdiri di ambang pintu.

Tangan kanannya mengepal di sisi tubuh. Matanya menatap lurus ke arah mereka. Tepatnya ke tangan Steven yang sedetik lalu nyentuh tangan Cheyrin.

Satu detik. Dua detik.

Tanpa kata, Jay berbalik dan pergi. Langkahnya cepat, menghilang di balik rak.

Cheyrin diam berdiri dengan memegangi buku itu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!