"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Rahasia Di Balik Bilik Kaca
Bau antiseptik yang menyengat langsung menyambut indra penciuman Alea begitu pintu ruang instalasi gawat darurat (IGD) tertutup rapat. Lorong rumah sakit malam itu terasa sangat dingin, sedingin lantai marmer rumah Daddy yang beberapa jam lalu berlumuran darah. Alea duduk di kursi tunggu besi dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Pakaiannya lembap oleh sisa air hujan, dan bercak darah Bima di bagian lengan kemejanya kini telah mengering, berubah warna menjadi cokelat kehitaman yang tampak mengerikan.
Di sampingnya, Revan berdiri bersandar pada dinding semen, menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang tenggelam di saku celana. Tidak ada kata-kata yang keluar di antara mereka. Keheningan di antara keduanya terasa begitu pekat, sarat akan ketegangan yang belum sepenuhnya usai.
Alea menenggelamkan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Daddy yang memucat dan terengah-engah menahan sesak terus berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Diikuti oleh suara bentakannya sendiri saat mengusir Bima. Dada Alea berdenyut nyeri. Rasa bersalah yang teramat besar kini merayap naik, mencekik tenggorokannya hingga ia sulit untuk bernapas.
Pinto ruang tindakan tiba-tiba terbuka, memecah sunyinya lorong. Seorang dokter paruh baya dengan jas putih dan stetoskop yang mengalung di lehernya melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak lelah namun serius.
Alea langsung bangkit berdiri, hampir saja tersandung kakinya sendiri karena lemas. "Dokter... bagaimana keadaan Daddy saya? Bagaimana keadaan Baskara?" tanya Alea beruntun, suaranya parau dan bergetar hebat.
Dokter itu menatap Alea dengan tatapan teduh namun menyimpan keprihatinan yang mendalam. "Apakah Anda putri kandung dari Pak Baskara?"
"Iya, Dok. Saya Alea, putri tunggalnya," jawab Alea cepat, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata.
Dokter itu mengembuskan napas panjang sebelum mulai menjelaskan. "Kondisi fisik Pak Baskara saat ini sudah berhasil kami stabilkan dengan bantuan alat pernapasan dan obat-obatan intravena. Namun, serangan sesak napas akut yang dialaminya tadi bukan sekadar karena faktor stres atau syok biasa, melainkan karena komplikasi dari penyakit jantung koroner stadium lanjut yang dideritanya."
*DEG!*
Kata-kata dokter itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, menghantam kesadaran Alea hingga ia mundur selangkah. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"P-Penyakit... jantung?" beo Alea dengan bibir yang mendadak kelu. "Dok, Anda pasti salah. Daddy saya sehat. Dia tidak pernah mengeluh sakit jantung... dia tidak pernah minum obat jantung..."
Dokter itu menggelengkan kepala pelan, lalu mengeluarkan sebuah papan klip berisi catatan medis dari balik punggungnya. "Pak Baskara sudah menjadi pasien tetap saya selama **dua tahun terakhir ini**, jauh sebelum Anda masuk kuliah. Beliau mengidap penyumbatan pembuluh darah jantung yang cukup signifikan. Selama ini, beliau selalu meminta saya untuk merahasiakan riwayat medis ini dari siapa pun, terutama dari Anda, putrinya. Beliau selalu bilang, *'Saya tidak ingin putri saya cemas dan terganggu sekolahnya, Dok. Biar saya tanggung ini sendiri selama saya masih mampu.'*"
Mendengar penjelasan dokter, pertahanan mental Alea runtuh sepenuhnya. Ia jatuh duduk kembali di kursi besi dengan pandangan mata yang kosong dan hancur. Air matanya mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya yang kuyu.
*Dua tahun.*
Artinya, sejak Alea masih duduk di bangku kelas 3 SMA, di saat ia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian dan mendaftar kuliah, Daddy sudah bertaruh nyawa menahan sakit sendirian demi menjaganya agar tetap fokus belajar. Daddy menyembunyikan rasa sakitnya begitu rapat, membungkusnya dengan senyuman hangat dan pelukan menenangkan setiap kali pulang kerja.
Sementara itu, apa yang dilakukan Alea di tahun pertama kuliahnya ini? Begitu menginjakkan kaki di dunia kampus, ia justru terjebak dalam pusaran gairah dan adiksi terlarang bersama Bima. Hubungan gelap yang baru berjalan beberapa bulan di tahun pertama ini ternyata sudah cukup untuk menghancurkan pertahanan kesehatan Daddy yang rapuh. Dengan bodohnya, Alea mengantarkan dokumen-dokumen penting yang merusak kepercayaan Daddy tepat di bawah hidungnya sendiri.
*Bagaimana bisa aku tidak peka? Bagaimana bisa aku sebuta ini?!* Raung Alea di dalam hatinya yang paling dalam.
Ia mengingat kembali momen-momen selama beberapa bulan ke belakang, di mana Daddy beberapa kali terlihat memegangi dadanya sembari meminum air putih di meja makan, atau saat Daddy pulang dengan wajah yang teramat lelah dan langsung mengunci diri di kamar. Selama ini, Alea selalu mengira itu hanyalah kelelahan biasa akibat urusan bisnis yang menumpuk. Ia terlalu buta karena fokusnya telah teralihkan sepenuhnya oleh perhatian dan dominasi posesif dari Bima. Gairah terlarang di tahun pertama kuliahnya ini telah mengubahnya menjadi putri yang egois, menulikan telinganya dari rintihan sakit sang ayah yang paling menyayanginya.
"Pak Baskara beruntung karena segera dibawa ke sini malam ini," lanjut dokter itu lagi, membuyarkan lamunan hancur Alea. "Jika terlambat lima menit saja akibat tekanan emosi yang terlalu tinggi tadi, jantungnya mungkin tidak akan kuat menahan beban kerja yang berlebihan. Untuk saat ini, beliau harus dirawat intensif di ruang ICU dan sama sekali tidak boleh diberikan tekanan psikologis atau berita yang memicu stres."
"Baik, Dok... terima kasih," bisik Alea dengan sisa tenaga yang ada.
Setelah dokter berlalu kembali ke dalam ruangan, Alea berjalan perlahan menuju bilik kaca besar yang membatasi koridor dengan ruang perawatan intensif. Melalui kaca bening itu, ia bisa melihat tubuh Daddy yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Berbagai macam selang medis menempel di tubuhnya, dan sebuah masker oksigen menutupi sebagian wajah paruh bayanya yang kini tampak sangat menua dan rapuh. Tidak ada lagi sisa-sisa wibawa seorang pengusaha tegas di sana; yang ada hanyalah seorang ayah yang telah dikhianati hingga ke titik nadir hidupnya.
Alea menempelkan telapak tangan di atas kaca dingin tersebut, menata wajah Daddy dengan rasa sakit hati yang teramat pekat. Rasa muaknya pada Bima kini berlipat ganda, namun rasa muaknya pada dirinya sendiri jauh lebih besar. Pria yang ia panggil 'Uncle' itu tidak hanya merusak kesuciannya, melainkan hampir saja merenggut nyawa satu-satunya pelindung sejati yang ia miliki di dunia ini.
Revan melangkah mendekati Alea, berdiri di belakang gadis itu sembari ikut menatap ke dalam bilik kaca. "Kau sudah dengar sendiri, Alea. Ayahmu mempertaruhkan nyawanya sejak kau kelas 3 SMA demi masa depanmu, sementara di tahun pertamamu kuliah... kau malah membiarkan monster seperti Bima mengendalikanmu."
Alea tidak membantah kata-kata Revan. Ia menerima setiap hinaan itu sebagai hukuman yang pantas untuknya. Di depan bilik kaca rumah sakit malam itu, di tengah bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung Daddy yang berbunyi lambat, Alea membulatkan tekadnya. Kabut adiksi yang selama ini membutakan akal sehatnya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kesadaran baru yang dingin dan tajam.
Ia tidak akan pernah kembali ke sangkar emas itu lagi. Jika Bima adalah badai yang siap menghancurkan dunianya, maka malam ini Alea bersumpah akan menjadi benteng terakhir yang berdiri di depan Daddy, bahkan jika ia harus mengorbankan sisa hidupnya sendiri untuk melawan sang predator yang pernah dipujanya.