Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Dunia Mulai Bertanya, Siapa Monster Sebenarnya?
Hujan mulai reda.
Namun suasana kota masih terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai.
Jalanan penuh kendaraan militer rusak.
Lampu kota masih mati di sebagian wilayah.
Gedung-gedung tinggi terlihat gelap dan dingin.
Dan di tengah semua kekacauan itu—
semua mata masih tertuju pada satu orang.
Veyra.
Gadis yang bisa menghancurkan dunia…
namun memilih membiarkan musuhnya hidup.
—
Tak ada yang bergerak.
Pasukan masih mematung.
Sniper yang tadi menembaknya bahkan belum sanggup berdiri.
Tangannya gemetar hebat.
Matanya penuh kebingungan.
Karena ia benar-benar yakin tadi akan mati.
Namun Veyra justru memaafkannya.
Dan itu jauh lebih sulit dipahami daripada kekuatannya.
—
“Kenapa…” suara sniper itu pelan sekali.
Veyra menatapnya sebentar.
Lalu menghela napas kecil.
“Karena aku capek lihat orang saling bunuh cuma gara-gara takut.”
Deg.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun seluruh area jadi sunyi setelahnya.
Karena semua orang sadar—
malam ini memang dimulai karena rasa takut.
Takut pada ancaman.
Takut pada kekuatan.
Takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami.
Dan rasa takut itu hampir membuat mereka menciptakan monster yang sesungguhnya.
—
Di pusat komando militer—
suasana jauh lebih kacau.
“Media seluruh dunia sudah menangkap siaran tadi!”
“Video Veyra tersebar di semua platform!”
“Publik mulai mempertanyakan operasi kita!”
Pria misterius itu berdiri diam sambil menatap layar besar.
Di layar—
rekaman Veyra yang membiarkan sniper hidup terus diputar ulang.
Komentar masyarakat mulai bermunculan.
“Kalau dia benar-benar monster, kenapa dia nggak membunuh mereka?”
“Pemerintah sebenarnya nyembunyiin apa?”
“Siapa sebenarnya yang jahat di sini?”
Deg.
Salah satu petinggi militer langsung panik.
“Kita kehilangan kendali narasi.”
Namun pria misterius itu justru tersenyum tipis.
“Kendalinya belum hilang.”
“Lalu kenapa Anda terlihat tenang?!”
Tatapannya tetap pada layar.
“Karena dunia manusia selalu sama.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Mereka akan tetap takut pada sesuatu yang lebih kuat dari mereka.”
—
Dan memang benar.
Meski sebagian orang mulai simpati pada Veyra…
sebagian lain justru makin takut.
Media mulai menyebutnya:
The Digital Ghost
Blue Witch
The Girl Who Shut Down The World
Dan nama yang paling sering muncul—
Zero.
Sosok yang kini dianggap mampu menjatuhkan seluruh peradaban modern hanya dengan satu pikiran.
—
Di jalanan—
Lyra masih berdiri dekat Veyra.
Tatapannya tidak pernah lepas sedikit pun.
Karena ia tahu—
Veyra belum benar-benar stabil.
Cahaya biru di matanya memang meredup…
namun belum hilang.
Dan itu berarti sistem itu masih ada.
Masih menunggu.
—
“Kamu harus istirahat,” kata Lyra pelan.
Veyra tertawa kecil.
“Kayaknya dunia nggak ngasih jadwal cuti buat aku.”
“Kali ini serius.”
“Aku juga serius.”
Tatapan Veyra perlahan naik ke langit.
“Semua ini belum selesai.”
Deg.
Lyra membenci fakta bahwa ia benar.
—
Tiba-tiba—
semua layar kendaraan militer yang rusak kembali menyala sendiri.
Glitch.
Lalu muncul satu simbol aneh.
Lingkaran hitam dengan garis biru di tengah.
Selene langsung menegang.
“...Oh tidak.”
Lyra menoleh cepat.
“Kamu kenal simbol itu?”
Selene tidak langsung menjawab.
Dan itu membuat suasana makin buruk.
“Itu simbol kelompok lama.”
“Kelompok apa?”
Selene menatap layar dengan wajah serius.
“Orang-orang yang bikin proyek Veyra dari awal.”
Deg.
Napas Lyra tercekat.
Karena selama ini—
mereka mengira organisasi itu sudah hancur.
—
Suara baru muncul dari seluruh speaker kendaraan.
Namun kali ini—
bukan suara hologram.
Suara manusia.
Dan jauh lebih dingin.
“Subjek V-27 akhirnya menunjukkan perkembangan di luar prediksi.”
Tubuh Veyra langsung membeku.
V-27.
Nomor lama itu.
Nomor yang ia coba lupakan bertahun-tahun.
—
“Kami sudah menunggu lama untuk ini.”
Suara itu terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuat Veyra merinding.
Karena ia mengenalnya.
Bukan wajahnya.
Bukan namanya.
Tapi nadanya.
Nada seseorang yang dulu sering berdiri di balik kaca laboratorium sambil memperhatikannya seperti objek.
—
“...Dokter Arkan.”
Lyra langsung menoleh kaget.
“Dia masih hidup?”
Selene mengumpat pelan.
“Kalau itu benar, kita benar-benar sial.”
—
Layar glitch perlahan.
Lalu wajah seorang pria tua muncul.
Rambutnya sudah memutih.
Tatapannya tajam dan dingin.
Namun senyumnya—
masih sama seperti dulu.
Senyum seseorang yang melihat manusia hanya sebagai eksperimen.
“Sudah lama sekali, Veyra.”
Sunyi.
Pasukan di sekitar saling bingung.
Karena mereka tidak mengerti siapa pria itu.
Namun Veyra mengerti.
Dan itu cukup membuat tubuhnya dingin.
—
“Masih hidup ternyata,” gumam Veyra pelan.
Pria itu tersenyum kecil.
“Sulit mati sebelum melihat hasil penelitian terbesar dalam sejarah.”
Selene langsung mendecakkan lidah.
“Aku resmi benci semua ilmuwan.”
Namun Dokter Arkan mengabaikannya.
Fokusnya hanya pada Veyra.
“Aku bangga padamu.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat mata Veyra berubah dingin.
“Jangan ngomong kayak ayah bangga sama anaknya.”
“Oh?”
“Kamu bukan siapa-siapa buatku.”
Senyum Arkan sedikit memudar.
Namun hanya sedikit.
“Meski begitu… kamu tetap karya terindahku.”
BOOOM!
Seluruh lampu kendaraan langsung pecah bersamaan.
Emosi Veyra melonjak lagi.
Karena kalimat itu—
menjijikkan.
—
“Aku bukan barang.”
“Benar.”
Arkan tersenyum tipis.
“Kamu jauh lebih berharga dari itu.”
“Diam.”
“Kenapa marah?”
Tatapannya perlahan menyipit.
“Bukankah aku yang menciptakanmu?”
Deg.
Kalimat itu membuat seluruh suasana berubah.
Bahkan pasukan militer terlihat tidak nyaman sekarang.
Karena mereka mulai sadar—
semua rumor mungkin benar.
Veyra memang hasil eksperimen.
Dan dunia baru saja melihat penciptanya.
—
Lyra langsung berdiri di depan Veyra.
“Jangan dengarkan dia.”
Namun Arkan malah tertawa kecil.
“Masih setia seperti dulu rupanya.”
Tatapannya beralih ke Lyra.
“Kau masih hidup juga. Menarik.”
Lyra menatap tajam.
“Aku harus hidup supaya bisa memastikan orang kayak kamu jatuh.”
“Sayangnya…”
Senyum Arkan perlahan kembali.
“…dunia sekarang justru membutuhkan orang seperti aku.”
Deg.
—
Tiba-tiba semua layar di kota berubah lagi.
Kini menampilkan data kekacauan global.
Bandara lumpuh.
Ekonomi kacau.
Jaringan dunia tidak stabil.
Negara-negara mulai siaga perang digital.
Dan semua laporan hanya mengarah pada satu hal.
Veyra.
“Atas nama ketakutan,” kata Arkan tenang, “manusia akan saling menghancurkan lagi.”
Tatapannya kembali ke Veyra.
“Dan pada akhirnya…”
Senyumnya melebar sedikit.
“…mereka akan memohon padamu untuk mengambil alih semuanya.”
Sunyi.
Karena sialnya—
itu terdengar mungkin terjadi.
—
Veyra menatap layar lama sekali.
Lalu perlahan tertawa kecil.
Namun kali ini—
tidak ada kemarahan di dalamnya.
Hanya rasa lelah.
“Kalian semua aneh.”
Arkan mengangkat alis.
“Kalian terus bilang dunia rusak…”
Matanya perlahan berubah tajam.
“…tapi kalian sendiri yang bikin dunia jadi kayak gini.”
Deg.
Arkan diam sesaat.
Dan untuk pertama kalinya—
senyumnya sedikit menghilang.
—
Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi—
seluruh langit kota tiba-tiba menyala biru terang.
Semua orang langsung mendongak.
Dan detik berikutnya—
ribuan simbol digital muncul di udara seperti hujan data raksasa.
Pria di pusat komando langsung panik.
“Apa sekarang lagi?!”
Namun wajah Dokter Arkan justru berubah puas.
“Ah…”
Tatapannya kembali pada Veyra.
“Akhirnya dimulai.”
Deg.
Veyra langsung merasakan sesuatu.
Sesuatu yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Bukan dari menara.
Bukan dari jaringan lokal.
Melainkan—
dari luar negeri.
Dari seluruh dunia.
Seseorang…
baru saja mencoba menghubungkan semua jaringan global langsung ke dirinya.