NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan tak sengaja

Semakin hari keadaan Leon semakin parah, mual dan muntah semakin mendera Leon sampai harus di rawat inap di rumah sakit selama tiga hari karena dehidrasi.

Hari ini Leon sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena Leon sudah lebih sehat, wajahnya pun sudah tidak pucat lagi.

"Sayang, kamu sebenarnya sakit apa sih, masa mual mual dan muntah tidak ada berhenti nya. " Stela saat sedang merapikan baju kotor milik Leon.

"Memang nya kenapa kalau aku sakit mual dan muntah muntah terus, aku kan tidak meminta mu untuk menemani ku di rumah sakit, karena selama aku sakit, mamah yang selalu menemani aku. " Leon dengan malas menjawab pertanyaan Stela.

"Karena aku sangat kesulitan jika kamu sakit, tidak ada yang memberikan uang untukku, dan tante Erlina yang menemani kamu Itu sudah kewajiban orang tua untuk anaknya. " Stela berbicara seolah tanpa beban.

"Yang ada dalam otakmu itu hanya uang dan uang saja, seharusnya kamu yang menemani aku di selama di rumah sakit, karena kamu tunangan ku. " Jawab Leon.

"Sudahlah, sekarang ayo kita pulang, sudah selesai belum administrasi nya? "

"Mamah yang sedang menyelesaikan nya. Sekarang kamu bantu aku dorong kursi roda ini. "

Dengan malas Stela mendorong kursi roda Leon hingga ke depan lobby rumah sakit sambil menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Tidak lama kemudian nyonya Erlina datang menghampiri Stela dan Leon yang sedang menunggu mobil.

"Sayang, mobil nya belum datang juga? "

"Belum mah, mungkin sebentar lagi. " jawab Leon

Tidak lama kemudian mobil yang di kemudian Ryan sudah datang, lalu berjalan menghampiri Leon dan juga mamahnya serta Stela. Belum juga Ryan berbicara, Stela langsung marah karena Ryan terlambat datang.

"Kamu kalau ga becus bawa mobil ga usah sok sok an mau jemput, kamu tidak lihat aku sampai kering nunggu jemputan!! "

Ryan tidak mempedulikan omongan Stela, karena selama ini Ryan tidak menyukai Stela karena suka berbuat seenaknya.

"Maaf tuan nyonya tadi di jalan sedikit macet karena ada tabrakan beruntun sehingga membuat lalu lintas terganggu. "

"Tidak apa apa Ryan, saya mengerti, sekarang kamu bisa tolong Leon masuk ke dalam mobil"

"Baik nyonya, mari tuan saya bantu naik ke dalam mobil. '

Ryan dengan telaten membantu Leon yang masih terlihat lemah. Walaupun wajahnya tidak terlalu pucat seperti beberapa hari yang lalu.

Dengan perlahan mobil keluar dari gerbang rumah sakit membelah lalu lintas ibu kota yang masih saja macet setiap jalannya.

Satu jam kemudian, mobil sadah sampai di depan gerbang rumah mewah tuan Aditama, seorang security membukakan gerbang agar mobil bisa masuk.

Stela yang sedari tadi hanya diam, karena masih kesal dengan sikap Ryan yang tidak mempedulikan kehadiran nya, dan juga terhadap nyonya Erlina yang tidak membelanya.

"" Stela ayo, kamu mau terus di dalam mobil? " nyonya Erlina bertanya.

"Oh iya mah, Stela turun. '

Dengan wajah cemberut Stela mengikuti langkah Leon masuk ke dalam rumah mewah Leon.

Belum juga duduk, Stela sudah ingin pergi dan tampak gelisah, dengan memberanikan diri Stela pamit pada nyonya Erlina.

" Mah, Stela pamit pulang dulu ya, Stela ada janji sama teman teman. " ucapnya dengan ragu.

"Loh kok sudah mau pulang saja, Leon saja baru pulang, seharusnya nya sebagai tunangan dan juga calon istri seharusnya kamu belajar merawat Leon bukan hanya uangnya yang kamu mau. "

 Nyonya Erlina berkata ketus karena sangat kesal dengan kelakuan Stela yang seenaknya saja. Kalau bukan karena suami nya yang ngotot menjodohkan Leon dan Stela, sudah di tendang dari dulu.

"Bukan begitu tante, Stela sudah janji sama mereka jadi ga enak kalau di batalkan. " Stela membela diri.

"Sudah sajalah mah biar kan Stela pergi, Leon bisa sendiri kok. " Sahut Leon yang sudah kesal dengan Stela.

Bagaikan ada angin surga, Stela langsung berdiri dan pamit pulang, nyonya Erlina hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat kelakuan Stela yang di luar nalar.

Ryan hanya tersenyum tipis melihat Stela keluar dengan wajah ceria tidak seperti saat masih harus menemani Leon di rumah sakit.

Nyonya Erlina tidak mau ambil pusing, sekarang yang menjadi perhatian nya adalah Leon putra semata wayangnya yang sedang sakit akibat mengidam.

"Sayang, mamah antar ke atas ya biar kamu istirahat. "

"Tidak usah mah, Leon bisa sendiri kok. Mamah istirahat saja. Dari kemarin mamah jagain Leon terus di rumah sakit. "

"Baiklah sayang, mamah ke kamar dulu, Ryan bisa menolong kamu sayang. "

"Iya mah. "

"Ryan saya ke kamar dulu mau istirahat. "

"Silakan nyonya, biar tuan Leon saya yang bantu. "

Nyonya Erlina meninggalkan Leon dan Ryan untuk istirahat karena badan nya terasa sangat lelah, selama menemani Leon di rumah sakit hanya sendiri karena tuan Aditama sedang keluar negeri.

Hari sudah berganti, hari ini Leon sudah sehat dan akan kembali lagi ke kantor, banyak pekerjaan yang harus di selesai kan. Banyak proyek yang harus di tinjau langsung oleh CEO dan tidak bisa di wakilkan, di antaranya adalah di Kalimantan barat.

"Berkas berkas yang akan di bawa ke Kalimantan sudah selesai? "

"Sudah tuan, tinggal di cek lagi sudah benar atau tidak. " Ryan menyerahkan beberapa berkas untuk di cek kembali oleh Leon.

"Letakkan saja di sana, biar nanti saya cek. "

"Oh iya, nanti tuan Bustami berangkat hari apa, biar saya tidak terlalu lama di sana? "

"Kemarin saya menghubungi asistennya, beliau akan berangkat lusa pagi, sehingga sore hari bisa kembali lagi ke ibukota karena beliau masih banyak pekerjaan yang harus di selesai kan."

"Baiklah, kamu sudah pesan tiket untuk saya lusa? "

"Sudah tuan, kelas executive. "

"Kamar hotel untuk pertemuan juga sudah kamu urus? "

"Semua sudah selesai tuan. "

Selesai melaporkan beberapa hal, Ryan kembali ke ruangannya, namun belum juga sampai di pintu, Leon sudah memanggilnya kembali.

"Ya tuan, apa ada yang harus saya kerjakan lagi? "

"Iya, tolong kamu carikan rujak tumbuk jangan terlalu pedas dan jangan terlalu manis, sekalian tolong belikan kue putu. "

"Rujak tumbuk tuan, dimana saya harus mencari nya? "

"Itu urusan kamu, seperti akan terasa segar kalau makan rujak tumbuk siang siang begini, ditambah kue putu yang masih panas. "

Leon tersenyum sendiri membayangkan jenis makanan yang tiba tiba saja muncul dalam pikiran nya. Ahhhh mungkin ini keinginan si kembar. Leon dalam hatinya.

"Apalagi, kenapa belum berangkat nanti keburu siang."

Ryan masih berpikir kemana harus mencari kedua makanan itu, sedangkan dirinya tidak pernah makan kedua makanan itu.

"Oh ya Ryan, beli putunya yang di gerobak suka di dorong sama mang mang nya. "

"Baik tuan. " Ryan undur diri.

Dengan perasaan bingung Ryan kembali ke ruangan nya memikirkan tempat orang yang berjualan kue putu dan juga rujak tumbuk.

Tiba tiba saja Ryan teringat dengan Guntur, OB yang dulu pernah menolongnya mencari buah kecapi, siapa tahu dia juga tahu dimana harus mencari tukang kue putu dan juga tukang jualan rujak tumbuk. Ryan segera mengambil ponselnya di dalam laci meja kerjanya, lalu men scrool nama Guntur.

Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya tersambung, "Halo tuan, maaf baru dijawab, tadi saya sedang kerja di lantai lima belas. "

"Sekarang kamu sudah selesai kerjanya? "

"Saya masih ada dua lantai yang harus saya bersihkan. "

"Oh begitu, nanti biar saya yang akan bicara dengan bu Ratna untuk menggantikan pekerjaan kamu. Setelah ini kamu datang ke ruangan saya. "

"Baik tuan sekarang saya ke ruangan tuan, tapi saya akan menyimpan peralatan kebersihan terlebih dahulu dan akan pamit sebentar ke bu Ratna. "

"Ok saya tunggu kamu di ruangan saya, segera. "

Telpon di putuskan secara sepihak oleh Ryan, beberapa saat kemudian Guntur mengetuk pintu ruangan Ryan. "Masuk... "

Guntur masuk dengan sedikit membungkukan badannya. Lalu berdiri di depan meja kerja Ryan.

"Guntur silakan duduk dulu, saya ada sesuatu yang du bicarakan. " Ryan membereskan berkas yang ada di. mejanya.

"Maaf ya, saya selalu merepotkan kamu. " Ruan basa basi.

"Tidak apa apa tuan, saya senang kok bisa membantu tuan. " Guntur terkekeh pelan.

"Begini, tuan Leon ingin makan rujak tumbuk dan juga kue putu keliling, apa kamu tahu do mana kedua makanan itu di jual.? "

"Maaf tuan, kenapa tuan Leon selalu ingin makan makanan yang aneh aneh seperti orang sedang mengidam saja. "

"Entah lah kalau hal itu, karena iru adalah privasi tuan Leon. "

"Bisa gawat kalau Guntur sampai kalau tian Leon memang sedang ngidam, bisa heboh satu kantor. " Gimana Ryan dalam hati.

"Seperti nya saya tahu di mana kedua makanan itu biasa berjualan. " Jawab GUNTUR.

"Benarkah, kalau begitu kita bisa berangkat sekarang sebelum kesiangan. ' Ajak Ryan dengan semangat.

" Baik tuan, kita berangkat sekarang. '

Kemudian kedua nya keluar dari ruangan kantor Ryan, berjalan berdampingan di lobby kantor membuat beberapa karyawan dan juga OB teman teman Guntur saling berbisik melihat kedekatan Guntur dengan Ryan orang kedua di perusahaan itu.

Beberapa saat kemudian, Guntur dan Ryan sudah sampai di tempat tukang rujak tumbuk berjualan, Ryan segera menghampiri penjual rujak serta memesan beberapa porsi, setelah mendapat kan rujak tumbuk, kemudian mencari pedagang kue putu yang ternyata tidak jauh dari tempat mereka membeli rujak.

Ryan merasa puas karena semua pesanan Leon sudah selesai dan sudah di beli semua.

"Guntur, sudah dua kali saya minta tolong kamu dan semuanya selalu berhasil."

"Iya tuan, mungkin itu secara kebetulan saja yang tuan cari saya tahu tempatnya, mudah mudahan kalau tuan membutuhkan sesuatu saya bisa membantu tuan sebisa saya. " Guntur merendah.

"Maaf, Guntur apa kamu punya rekening? "

"Rekening tuan, tapi untuk apa? saya terima gaji masih lama dan masih tengah bulan. "

"Tidak apa apa, mana rekening nya. "

Akhirnya Guntur memberikan nomer rekening yang di minta oleh Ryan, yang memberikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih.

Guntur sangat terkejut melihat jumlah yang diterimanya sejumlah dua kali gajinya.

"Jangan sampai orang lain tahu karena jika mereka tahu, pasti akan memanfaatkan hal ini, bias baik ataupun bisa juga jahat. "

"Baik tuan, terima kasih semuanya, kebetulan saya sedang membutuhkan uang untuk memperbaiki pompa air di rumah yang rusak dan juga harus bayar SPP anak saya. "

"Iya, itu udah rezekinya anak kamu. "

Ryan tancap gas mobilnya kembali ke kantor untuk menyerahkan pesanan Leon yang pasti sudah sangat gelisah karena belum datang juga.

Hari berganti, hari ini Leon akan berangkat ke Kalimantan berdua dengan Ryan, dan di sana nanti akan bertemu dengan tuan Bustami. Untuk meninjau proyek yang sedang di garap oleh kedua perusahaan raksasa tersebut.

Setelah beberapa jam naik pesawat akhirnya Leon dan Ryan di Kalimantan Barat. Sampai di sana keduanya ke hotel terlebih dahulu untuk makan siang dan juga meeting sebentar untuk membahas tentang proyek yang sedang di lakukan.

"Tuan Leon, anda masih muda namun anda sudah bisa memimpin perusahaan yang sangat besar dengan sangat pesat sekali. " Tuan Bustami memuji Leon yang sangat pintar dalam mengelola perusahaan.

"Saya hanya meneruskan apa yang papah saya rintis tuan, tanpa papah saya tidak ada apa apanya. "

"Anda terlalu merendah tuan Leon. " Tuan Bustami tertawa pelan.

"Mari tuan, kita akan ke lokasi pembangunan apartemen. " Ajak Leon dengan sopan.

"Mari tuan Leon. "

Mereka berangkat dengan menggunakan mobil masing masing dengan di dampingi asistennya. Perjalanan sekitar satu jam. dari hotel ke proyek pembangunan apartement mewah.

Di sana sudah di sambut oleh kepala proyek, meteka melihat pembangunan yang sudah hampir tujuh puluh persen. Sekitar dua jam mereka berada di proyek pembangunan. Setelah puas dengan peninjauan mereka, tuan Bustami pamit undur diri karena ada keperluan yang tidak dapat di wakilkan oleh yang lain.

"Maaf tuan Leon, bukannya saya tidak sopan namun saya harus terbang lagi ke ibukota. Sekali lagi saya minta maaf. " Tuan Bustami bersalaman dengan Leon.

"Baiklah tuan, semoga perjalanan anda lancar sampai ibukota. "

Setelah bersalaman, Tuan Bustami dan asisten nya langsung pulang ke bandara. Sedangkan Leon masih ingin berjalan jalan di tanah Borneo, entah kenapa hatinya tiba tiba saja bergetar seperti ada sesuatu yang menggerakkan nya untuk datang ke suatu tempat.

'Tuan kita akan langsung pulang? "

"Jangan dulu kita akan mampir dulu ke suatu tempat."

"Kemana tuan? "

"Entah lalah saya sendiri tidak tahu nam tempat itu."

"Loh kok? " Ryan bingung mendengar jawaban Leon.

"Hatiku seperti ada yang menarik untuk ke sana."

"Baiklah tuan, kemana saya harus membawa anda. "

"Lurus saja, nanti di depan ada sebuah taman dengan danau, kita pergi ke sana. Dan sepertinya di sana ada tempat yang menjual roti. "

Ryan hanya diam saja, dirinya hanya mengikuti apa yang Leon katakan tanpa berani membantahnya.

Setelah beberapa saat, tempat yang di sebutkan Leon ternyata ada, sana ada taman dan danau juga serta di depan nya ada sebuah toko roti yang tampaknya ramai pengunjung.

"Kita masuk ke toko roti itu. "

Sesaat setelah berada di toko roti itu, Leon seperti orang yang bingung, namun hatinya membawa ke sebuah etalase yang ada roti.

...****************...

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!