Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paradoks
Vanya... Gue pengen punya pacar deh," kata Nana sambil tersenyum malu.
"Yaudah tembak aja cewek yang Lo suka... Trus Lo punya pacar deh," jawab Vanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas soal.
"Kalo cewek yang gue suka nolak gue gimana?"
"Yaudah cari yang lain," jawab Vanya dengan santai.
"Vanya gue serius," kata Nana yang mulai jengkel melihat Vanya yang tidak menganggap serius ucapannya tadi.
"Iya apa?," Pada akhirnya Vanya mengalah, kertas soal yang menjadi primadona di mata Vanya, kini sudah berada di ujung meja.
"kalo misalnya Lo yang Gue tembak.... Lo mau ga terima Gue ?," Tanya Nana dengan hati hati.
"Gue?... Kalo Gue sih males terima Lo, ya emang sih Lo ganteng, pinter, warisan Lo banyak.... Tapi males ah mending juga sama Rio si anak tunggal kaya raya," jawab Vanya sambil meledek Nana.
Sebenarnya Vanya sudah lama tau kalau Nana menyukainya. Namun ia memilih untuk mengabaikan perasaan Nana.
Bukan karena ia tidak menyukai Nana. Tapi Vanya tidak mau jika ia dan Nana berpacaran dan mereka putus maka hubungan persahabatan ia dan Nana akan berakhir juga.
Nana mendengus kesal mendengar jawaban Vanya. Ia tau kalau Vanya sedang meledeknya.
Nana tak pernah menang jika berdebat dengan Vanya.
...☘️☘️☘️...
SMP Permata memiliki kelas unggulan yang berbeda dengan kelas unggulan sekolah lainnya. kelas unggulan pada sekolah lain biasanya siswa siswi berprestasi yang masuk di kelas yang sama. kelas unggulan di SMP Permata sebenarnya memiliki konsep kelas unggulan yang hampir mirip dengan sekolah lainnya, hanya saja siswa yang terpilih di kelas unggulan tetap belajar di kelas reguler. setelah bel pulang sekolah untuk siswa reguler, maka siswa unggulan memiliki jam tambahan.
Siswa unggulan juga tidak belajar semua pelajaran. mereka di bagi menjadi 5 kelas yaitu matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Vanya dan Irgi berada di kelas yang sama, mereka memilih kelas bahasa Indonesia. Farida memilih kelas matematika, ia memang sangat menyukai matematika. sedangkan Nana, ia memilih kelas IPS, alasan nya karena ia kasian melihat kelas IPS yang sangat sedikit peminatnya.
Walaupun mereka tidak berada dalam satu kelas yang sama tapi mereka sering mengikuti kompetisi matematika bersama. seperti pada pagi ini. Nana, Vanya, Farida, dan Irgi di pilih untuk mewakili sekolahnya dalam kompetisi matematika. mereka tampak antusias kecuali Vanya yang memang tidak begitu menyukai kompetisi.
"Berarti kita belajar bareng ya," kata Farida dengan begitu bersemangat.
"yaudah mau dirumah siapa?," tanya Irgi.
Vanya yang mengerti dengan perasaan Farida pun mencoba menyenangkan hati sahabat nya itu.
"Yaudah di rumah Lo aja Gi," kata Vanya sambil melirik kearah Farida.
Farida mulai salah tingkah, ia tak bisa menyembunyikan senyuman genitnya.
"Yaudah deh, ayo cepetan kerumah gue...ntar keburu malam ," kata Irgi sambil berjalan mendahului.
Rumah Irgi cukup besar dan juga sepi. mereka memang tidak salah memilih tempat.
"Pada mau minum apa?," tanya Irgi sambil mengecek isi kulkas.
"Air dingin aja," jawab Nana,Vanya, dan Farida secara serentak.
Irgi menaruh makanan ringan, empat gelas dan satu botol besar yang berisi air mineral dingin di atas meja.
"Irgi... keluarga Lo pada kemana?," tanya Farida yang sedang memperhatikan sekeliling nya.
"Orangtua gue lagi kerja pulangnya malem, kalo Abang gue paling lagi maen di rumah temennya kalo nggak lagi jalan sama ceweknya,"
mereka mulai fokus mengerjakan soal soal latihan yang diberikan Bu asih guru matematika mereka.
Nana selesai pertama. ia memainkan HP nya menunggu teman temannya menyelesaikan soal soal latihan itu. Sesekali ia juga membantu teman temannya menjawab soal yang sulit.
"Bukan begitu caranya," kata Nana dengan sangat lembut.
Vanya yang kaget dengan suara Nana menoleh kearah sumber suara itu.
"DEG, ini manusia apa malaikat sih ganteng banget begini," kata Vanya dalam hati.
Jarak antara Nana dan Vanya sangat dekat. Bahkan Vanya bisa merasakan nafas Nana.
detak jantung Vanya semakin tak terkendali.
Tekanan darah yang mengalir ke otaknya terasa sangat cepat. Vanya benar benar tidak bisa mengontrol dirinya. mungkin saat ini muka Vanya sudah merah seperti kepiting rebus.
Nana tersenyum melihat muka Vanya yang sudah memerah. Nana yakin Vanya mulai tertarik pada dirinya.
"Eh Lo berdua... mau ngapain tuh deket banget," kata Irgi yang menyadarkan Vanya dan Nana.
Vanya dan Nana menjauh setelah mendengar suara Irgi. Vanya terlihat salah tingkah. ia benar benar tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Nana.
begitupula dengan Nana, ia tidak berhenti tersenyum setelah melihat tingkah Vanya yang mulai salah tingkah.
"Lo berdua jangan macem macem ya di rumah gue," ancam Irgi yang tak mau rumahnya ternodai.
"Emang nya gue mau ngapain? gue cuma lagi ngasih tau cara ngejawab itu soal," jawab Nana dengan tenang.
Irgi hanya mendengus mendengar jawaban Nana. Ia malas berdebat dengan manusia es seperti Nana. Irgi heran mengapa hampir semua cewek di sekolahnya menyukai manusia super dingin seperti Nana. Irgi saja yang cowok kesal dengan sikap dingin Nana, bagaimana bisa cewek di sekolahnya tetap sabar menghadapi sikap dinginnya.
Hanya dengan satu orang Nana mau berbicara panjang lebar. Bahkan ia tidak segan segan mencurahkan isi hatinya dan menunjukkan sikap manjanya di depan orang itu. orang itu adalah Vanya, wanita yang selalu membuat Nana tersenyum dan membuat jantungnya berdegup kencang.