"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Sarapan di pagi ini, terasa sedikit berbeda, kala yang kembali ke setelan awalnya, sementara kanaya berusaha untuk biasa-biasa aja.
Namun mata kanaya tidak bisa berbohong, kalau ia banyak menangis. Walau kanaya sudah berusaha untuk menutupinya, dengan riasan mata yang lumayan tebal.
Tidak ada pembicaraan hangat di meja makan seperti biasa, tidak ada gelak tawa, baik kanaya atau kala masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Kala berangkat kerja tanpa ucapan dan pamit kepada kanaya, dan kanaya tak mengantar kala keluar seperti biasanya.
Setelah keberangkatan kala, kanaya bersiap-siap ingin keluar, tadi ia sudah mengatakan kepada kala kalau hari ini dia ingin bertemu dengan temannya.
Malam tadi, ketika kanaya masih menangis, ferdian menghubunginya. Kanaya hampir menolak panggilan dari pria itu, mungkin ferdian mendengar suara kanaya yang parau, atau memang pria itu memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.
Yah..., hari ini pria itu mengajak kanaya untuk bertemu, dan ia pun mengiyakannya.
Kanaya mematut bayangannya dari kaca ponselnya, mata sembabnya sudah tidak kelihatan.
Kanaya tiba 20 menit lebih awal ke cafe tempat mereka berjanji untuk bertemu, ia memang mempunyai prinsip tidak mau di tunggu, kanaya lebih suka menunggu.
Alunan suara musik pop, mengalun indah di pagi menjelang siang, tamu yang tidak begitu ramai mendukung suasana asri di cafe estetik bernuansa alam itu.
Kanaya masih memeriksa beberapa notifikasi dari ponselnya, ketika ferdi tiba dan duduk dihadapannya, kanaya mendongak dan melihat senyuman yang ramah dari seniornya itu.
"Udah lama dek?", tanyanya sambil melirik jam ditangannya.
"Sepertinya kakak juga gak telat..."
"Heheheh, belum kak, kakak kan tahu kebiasaan aku", tawa kanaya pelan, merapikan posisi duduknya.
"Kok belum pesan apapun?..", tanya ferdi, sambil mengambil daftar menu dari atas meja.
"Belum..kak, lagian aku juga belum begitu lama kok sampai disini"
Sambil menunggu pelayan mengantar pesanan mereka, kanaya bertanya mengapa ferdian mengajaknya bertemu hari ini.
Kanaya menatap seniornya itu dengan serius, ia melihat seniornya itu sedikit gelisah karena pertanyaannya, belum sempat ferdian menjawab, seorang pelayan cafe, mengantar pesanan mereka.
"Terima kasih....", ucap kanaya dan ferdian bersamaan ke pelayan tersebut, yang hanya tersenyum dan mengangguk.
Kanaya dan ferdian, saling menatap dan tersenyum, menyadari ucapan terima kasih yang mereka ucapkan terdengar kompak.
Pria itu mempersilahkan kanaya untuk makan,
"Kakak dengar, adek sudah menikah yah,.."Ujar pria itu sambil menyuap makanannya.
"Terus terang kakak kaget, mendengarnya..",
Kanaya hanya terdiam mendapat pertanyaan itu dari ferdian, ia meletakkan sendoknya, menatap pria itu dengan sendu.
Yah...kanaya bukan tidak tahu, kalau dulu ferdi menyukainya, dulu juga mungkin ia memiliki rasa yang sama. Mata kanaya menelisik ke bola mata ferdian yang menatapnya dengan senyuman khasnya.
Kanaya masih menemukan rasa itu dimata ferdian, mata itu masih menatapnya seperti 4 tahun yang lalu.
Kanaya menghela nafasnya yang mendadak berat.
"Maaf kak..aku tidak mengabari teman-teman, tentang pernikahanku.."
"Berarti benar kalau kala mahendra wirawan itu suami adek?",
"Yah....", angguk kanaya lemah
"tapi cuman tinggal 2 bulan lagi", sahutnya dalam hati.
"Maaf kalau kakak sedikit menyinggung perasaan kamu, tapi terus terang, maaf dek, kakak sedih mendengar pernikahan kamu" ucap ferdian sendu.
Kanaya mendengar ada nada kecewa dalam nada ucapan ferdian.
Pria itu terdiam dalam makannya, kanaya enggan untuk bertanya lagi, ia tidak ingin melihat seniornya itu akan semakin kecewa nantinya.
"Tapi..kita masih bisa bertemankan dek?", tanya ferdian setelah keheningan yang lumayan lama mencengkeram mereka.
Kanaya mendongak, menatap mata ferdian, dan ia mengangguk serta tersenyum indah.
"Tentu ..kak, selamanya kak ferdi itu adalah kakak senior yang paling baik yang aku punya"
Kanaya melihat wajah ferdian tersenyum, tapi dia merasa senyum itu tidak lepas seperti biasanya. Kanaya tahu apa yang dirasakan pria itu, namun ia tidak dapat berbuat banyak.
Kanaya mengajak ferdian berbicara hal-hal random, berusaha mencairkan suasana yang sempat suram tadi. Karena pada dasarnya ferdian adalah pria yang riang, obrolan merekapun mulai terdengar hangat dan nyambung.
Tawa kanaya masih tersisa di wajahnya, suara tawa pun masih menggantung di mulutnya, ketika matanya tak sengaja melihat sepasang wanita dan pria memasuki cafe.
Kanaya melihat wanita itu melingkarkan tangannya di lengan si pria, yang terlihat dingin.
Kanaya ingin membuang pandangannya dengan segera, tetapi mata pria itu sudah menoleh ke arahnya yang sedang menatap mereka.
Ada rasa terkejut ia lihat dimata pria itu, tapi dengan cepat kanaya mengalihkan pandangannya ke ferdi kembali.
Kanaya tidak ingin melihat kemesraan antara kala dan syafira, jujur kanaya tidak siap, hatinya tidak ingin.
"Oh..yah kak, seandainya aku ingin melamar pekerjaan di perusahaan kakak, diterima gak nih?" tanya kanaya iseng.
kanaya ingin mengalihkan perhatian dan hatinya dari sepasang manusia tadi, yang sempat membuat hatinya sakit melihat kedekatan mereka.
"Masa' istri konglomerat mau bekerja dek? " jawab ferdi tersenyum lucu.
"Tapi aku serius loh kak,"
Mendadak ia ingin kembali bekerja. Bagaimanapun, kanaya harus segera mencari pekerjaan, apalagi kontraknya tinggal menyisahkan 2 bulan lagi.
Kanaya merasa tidak mungkin untuk pulang ke kampung, ia takut akan membebani pikiran ibunya yang sering sakit-sakitan.
Ferdian menatap serius ke arah kanaya, menatap mata indah kanaya lekat, seakan mencari kepastian dari pertanyaan dan ucapan gadis itu. Dan ferdian menemukan keseriusan dari sorot mata indah itu.
Helaan nafas terdengar dari mulut ferdian, pria itu yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahan kanaya.
Ferdian yakin pasti kanaya menyembunyikan sesuatu, namun ferdian masih sungkan untuk menanyakannya.
"Hei.....ada kanaya" seru seorang wanita cantik yang menatap ke arah kanaya dan ferdian bergantian.
Kanaya menoleh, ia melihat syafira yang tersenyum padanya dengan senyuman ramah palsunya. Berdiri dengan tangan masih merangkul lengan kekar kala.
Kanaya melihat kala yang masih berdiri dengan sikap kaku dan dinginnya, mata pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Kanaya hanya mengangguk tipis sekedar bersopan santun.
Ferdian menatap kala dengan bingung, menatap kanaya dan kala bergantian.
"Oke...kami kesana yah" pamit syafira, sembari menarik lengan kala melangkah meninggalkan kanaya dan ferdian yang semakin kebingungan.
"Bukankah itu kala dek?..Suami kamu?" tak tahan ferdian akhirnya bertanya kepada kanaya yang mendadak murung.
Kanaya hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ferdian jadi semakin yakin ada yang aneh dengan pernikahan kanaya. ferdian ingin bertanya, namun ia mengurungkannya melihat mood kanaya sudah berubah.
"Ayo..dek, kakak antar pulang" ajak ferdi bangkit dari duduknya dan mencekal pergelangan tangan kanaya dan menariknya lembut.
Kanaya hanya pasrah ketika tangannya di hela ferdian, ia berjalan mengikuti pria itu dan matanya melirik sekilas ke arah tempat duduk kala dan syafira.
Kanaya berharap kala melihatnya, tetapi kala sama sekali tidak melihat kearahnya. Ia benar-benar kecewa, kanaya tahu ternyata dirinya sama sekali tak memiliki arti di mata kala. Dengan gontai ia berjalan disisi ferdian yang masih memegang pergelangan tangannya erat.
Ingin rasanya kala mendatangi kedua manusia itu.
"bisa-bisanya, ia tertawa riang dengan pria lain"
Kala kesal melihat wajah riang kanaya yang tertawa di depan pria asing itu,
"Jadi tadi dia ijin pengen ketemu temannya, dan temannya adalah pria itu"
Kala menatap dengan gusar ke arah kanaya lagi, yang ternyata menyadari kehadirannya. Mata mereka saling menatap, kala merasa tatapan kanaya lebih dingin dari biasanya.
Syafira mengajak kala menuju meja kanaya, kala, sungguh ingin rasanya menusuk mata pria asing yang menatap istrinya dengan pandangan itu.
Berani-beraninya pria ini menatap kanaya penuh cinta, ingin rasanya kala menarik krah pria itu dan mengatakan bahwa kanaya adalah miliknya.
Tapi respon dingin kanaya atas sapaan syafira tadi, menyadarkan kala kalau wanita itu sedang tidak ingin diganggu.
Akhirnya syafira dan kala menuju ke meja mereka sendiri, kala melirik kanaya yang ternyata sedang tersenyum manis kepada pria itu.
Hati kala sakit, hatinya tidak terima, biasanya senyum itu adalah miliknya, yang setiap hari bisa kala nikmati.
Namun mengapa kanaya bisa tersenyum seindah itu, tak habis pikir kala masih saja melirik kearah meja kanaya, berharap wanita itu juga melirik kearahnya.
Tapi harapannya sia-sia, kanaya sama sekali tidak melihat kearahnya lagi.
Tiba-tiba kanaya dan pria itu bangkit dari duduknya, wajah kala memerah jengah, ia marah. Ingin rasanya kala menerjang pria itu, yang berani-beraninya mencengkeram pergelangan tangan kanaya.
Kala ingin mengejar kedua orang itu, namun ia menyadari tiba-tiba, kalau ia nekad melakukannya sudah pasti akan berdampak bagi kanaya.
Tangan kala yang mengepal keras tadi perlahan melemah, dan itu semua tak luput dari mata syafira, yang menatap kala marah. Namum syafira sadar, untuk menaklukkan hati kala, ia harus sabar.
Bersambung....