Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Tua
Malam ini rasa tidak tenang perut Sera rasanya melilit, seperti ada sesuatu yang ingin mendobrak dan mendesak dirinya untuk mengeluarkan sesuatu, "Uh..." ujar nya terbangun dari tidur beberapa menit kemudian dia mengelus perutnya yang buncit, dia tidak bisa tidur sebab merasakan kontrasi beberapa saat, Sera menyadari bahwa tidak lama lagi bayinya kan keluar melihat dunia.
Dengan berjalan tertatih Sera menuju keluar dari kamarnya, menuju kearah barang-barang nya yang telah di siapkan sebelummnya. Dia menyeret tas dengan susah payah, sebab Sera tau tak ada yang akan membantunya kecuali dirinya sendiri bahkan suaminya pun tidak pernah memperdulikannya yang mungkin sedang bersenang-senang dengan kekasihnya itu.
Sera menarik nafasnya kasar selepas memasukkan tas kedalam bagasi mobil, memegangi perutnya yang terus terasa nyeri. Keringat dingin membasahi dahinya dan membuat pakaian terasa lengket. Dia tidak ingin tertinggal dengan waktu seperti cerita-cerita berseliwiran seorang ibu yang melahirkan di jalan, di lansung masuk keruang kemudi ketika nyerinya mulai mereda.
*
Sedangkan di tempat lain, seorang pria yang acak-acakkan seperti orang dalam gangguan jiwa sedang duduk di kursi kebesarannya di balik meja menyadarikan tubuh dengan pikiran yang kacau.
"Tuan, kami belum juga menemukan jejak nyonya, kemungkin nyonya sudah pergi ke luar negeri, atau kota kecil yang sulit kita akses datanya," ujar Robert menunduk dalam merasa sangat bersalah atas kegagalannya.
Dominic nampak membalik kursi dengan dorongan dari sepatu pantofel nya, kemudian melempar map hitam yang sejak tadi Dominic baca. Kali ini tidak dia ingin mengenai ajudannya itu.
Robert nampak pasrah meskipun map yang berujung runcing itu akan mengenai bagian tubuhnya. Namun, untungnya map itu hanya mengenai kakinya sedikit sebab Robert bisa sedikit mengindar tanpa meninggalkan tempatnya.
"Sebegitu saja tidak bisa, mengapa aku harus selalu turun tangan, atau kau dan yang lain ingin di pecat," ujar Dominic dengan suara rendah dan dingin.
Robert masih menunduk dalam, mengintip Dominic di sela rambutnya, terlihat pria duapuluh delapan tahun itu bermata cekung dengan rambut yang berantakan serta coatnya yang tidak rapi tidak seperti Dominic yang ingin terlihat selalu rapi seolah menandakan status nya yang tinggi.
"Siapa yang akan menyelamatkan ku disini, tidak papa dah kalau di pecat dari pada mati konyol," gumam Robert dalam hati dengan anggukkan yang halus berharap Dominic tidak menyadarinya.
"Siapa kau ingin seenak jidat ingin memecat bawahan kau?!" teriak suara nyaring itu memecahkan suasana suram itu.
Dominic melirik dengan tatapan tidak suka seolah ada orang asing yang menganggu nya yang sedang menghukum ajudannya, sedangkan Robert masih melirik sekilas kearah pintu ruangan itu, dan tercengang sebab orang yang berjalan itu adalah nyonya tua, ibunya dominic.
Wanita semakin dengan wajah keriput yang di hiasi gincu berwarna orange blossom. Rambut putih yang di sanggul sedemikian rupa seperti parah konglomerat dan ibu-ibu sosialita sederajat.
Namun yang paling mencolok adalah selendang bulu-bulu berwarna putih mengkilat. melingkar di lehernya, tentu saja dari hewan asli yang harus di sertakan sertifikasi dan sangat mahal.
Sepatu kulitnya yang premium yang berwarna hitam, berdecit di setiap langkahnya. Seolah erangan maut seperti suasana hati sang nyonya tua yang tidak baik- baik saja.
Robert langsung menyadarinya, dan reflek menoleh pada nyonya tua, "Pasti nyonya sudah tau, kalau nyonya Sera meninggalkan rumah," gumamnya dalam hati makin tak tenang.
"Kau?! Apa yang kau lakukan pada menantu ku. Aku tau kau tidak menikahi karena cinta, aku diam saja selama ini sebab aku yakin cinta akan datang dengan perlahan dan aku tidak ingin ikut campur," ujar Margaret.
"... Bagaimana bisa menghamili nya kemudian tidak bertanggung jawab," lanjutnya bersiap mengambil asesoris bulu-bulu yang berada di lehernya.
Dominic menoleh pada ibunya dengan mata yang membulat, meskipun tertutup dengan mata cekung yang terlihat tebal, "Mama tau dimana?!"
"Dari bibi Yuni, kamu lupa ya, bibi Yuni awalnya pengasuh yang hingga dewasa kau bawa kemana-mana, itu aku yang memperkerjakannya duluan, tidak mungkin dia menghianati majikannya," ucap Margaret menyentuh dadanya, kemudian melipat kedua tangannya dan meniup kukunya yang mengkilap seolah meremehkan Dominic.
Dominic terjatuh dari kursi merangkak kearah ibunya seperti seorang anak kecil yang menginginkan selalu, pria itu menarik gaun hitam milik ibunya itu, "Mama tau dia pergi kemana? Izinkan aku menemui Sera, Ma,"
Margaret langsung menghempaskan gaunnya dengan kasar membuat Dominic terhempas kemudian berjalan menuju kursi yang tadi di duduki oleh Dominic penuh dengan keanggunan,
"Kalau aku sudah ku bawah menantu ku, dan ku jadikan anak angkat ku saja, di banding menikahi bajing yang tidak habis dengan cinta pertama nya ini,"
"Ma, jangan ma, aku tidak punya istri lagi nanti," ujar Dominic mencoba berdiri membenarkan coatnya.
Margaret menyentuh map-map di atas meja yang selalu menonton itu tanpa melirik Dominic, "Kau masih ingat dengan wanita itu? Menyebutnya saja aku tak sudi, cih... yang jelas wanita itu meninggalkan mu demi popularitas dan nama besar dengan pergi ke amerika itu," sindir Margaret.
"Aku sudah mengatakan waktu itu, dia wanita tidak benar tidak sesuai dengan status keluarga kita, bermartabat, anggun dan elegan. Dan yang paling tidak aku suka saat dia menjadikan kau sebagai mesin uang--- dengan memberikan banyak alasan yang aku suka, keluaga sakit lah, kurang makan lah, butuh biaya broadcasting mahal,"
Nyonya tua itu kemudian menoleh dengan kasar kearah Dominic, "Kalau tidak bisa akting lebih baik mundur,"
"Ctar..."
Nyonya tua itu memukul bulu-bulunya itu kearah Dominic ternyata sendang bulu-bulu tidak hanya aksesoris yang di sematkan di leher, namun sebuah senjata besi panjang yang tidak terlihat layaknya kemoceng, itulah yang di takutkan Robert sedari tadi.
"Mama, dengarkan penjelasan ku dulu," ujar Dominic memohon dengan sedikit bergetar.
"Penjelasan apa? Aku sudah mendengar semuanya dari Bibi Yuni, kau masih berhubungan dengan wanita itu bahkan sering kerumah membuat Sera stres melihatnya, jelaskan apa lagi hah... Ctar...," ujar Margaret bersahutan dengan hempasan bulu-bulu di tangannya.
"Aku sudah tidak ada hubungannya lagi wanita itu!"
Tangan Nyonya tua itu terhenti, suasana menjadi hening mendadak. Bulu-bulu yang sedari tadi berayun berhenti mendadak, yang hanya beberapa senti di hadapan Dominic. Matanya melirik tajam pada wajah Dominic serat akan rasa tidak percaya.
"Apa yang kau katakan?" jemarinya masih menggenggam erat bulu-bulu itu.
"Aku sudah mengatakannya, aku tidak ingin berhubungan dengan selepas kejadian malam itu," jawab Dominic dengan memilin jari-jarinya.
"Kejadian apa?" tanya Margaret menyipitkan matanya.
"Celesta menghianati ku, dia berhubungan dengan seorang pria dan aku mengintip nya, lalu mendengarkan suami percakapan mereka yang menghinakan diri ku,"
Margaret tertawa dan hampir terjungkal dari kursinya, "Hahaha... Bagus.... Bagus... Akhirnya kau mendapatkan karmanya,"