Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab spesial : Perjamuan di bawah langit desa
Satu tahun setelah kehadiran Al-Fatih kecil di tengah keluarga mereka, sebuah perjamuan sederhana namun sarat makna diadakan di pelataran rumah kayu Ayah dan Bunda. Sore itu, semesta seolah-olah sedang menumpahkan seluruh keindahannya. Matahari nampak seperti emas yang sedang dicairkan di cakrawala, menyentuh pucuk-pucuk pohon jati dengan jemari cahayanya yang hangat. Angin bertiup lembut, membawa aroma daun kering dan wangi nasi yang sedang dikukus di dapur tanah.
Namun, yang membuat sore itu terasa luar biasa bukanlah sekadar pemandangan alamnya, melainkan tamu-tamu yang hadir dengan membawa canggung di wajah mereka. Beberapa mobil mewah terparkir berderet di pinggir jalan desa yang sempit dan berbatu, nampak sangat kontras dengan latar belakang kerbau-kerbau petani yang sedang digiring pulang ke kandang. Teman-teman lama Zayna—kelompok elit Jakarta yang dulu tak pernah lepas dari kehidupan malam yang bising—turun dari kendaraan mereka dengan langkah yang ragu-ragu. Mereka mengenakan pakaian yang tampak terlalu formal dan asing di tengah debu tanah dan suara alam yang jujur.
"Zay... ini benar-benar kamu?" tanya Shila, sahabat terdekat Zayna di masa-masa paling kelamnya di Jakarta. Shila menatap hijab panjang Zayna yang berwarna pastel, yang membingkai wajah Zayna dengan pancaran ketenangan yang tak bisa dibeli dengan kosmetik semahal apa pun. "Aku hampir tidak mengenalimu. Di mana Zayna yang dulu tidak bisa tidur tanpa musik yang memekakkan telinga? Di mana Zayna yang dulu selalu bilang bahwa desa adalah tempat paling membosankan di dunia?"
Zayna tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus, bening, dan dalam, hingga Shila merasa seolah sedang berdiri di depan sebuah telaga yang sangat tenang. "Zayna yang itu sudah lama hanyut di sungai belakang pesantren ini, Shila. Ia sudah lelah berlari dan akhirnya memilih untuk berhenti. Aku yang sekarang jauh lebih bahagia karena aku tidak perlu lagi berpura-pura untuk membuat orang lain terkesan. Di sini, aku belajar bahwa suara paling indah bukanlah musik keras, melainkan suara detak jantung yang sinkron dengan zikir."
Zayna mengajak mereka duduk melingkar di atas tikar pandan yang digelar di bawah pohon sawo yang rimbun. Bunda, yang dulu di Jakarta selalu dikelilingi oleh pelayan berseragam, kini nampak sangat bersahaja. Dengan tangannya sendiri, Bunda menghidangkan pisang goreng, kacang rebus, dan singkong mentega buatannya. Tidak ada piring kristal atau gelas perak; hanya piring kaleng dan gelas-gelas teh tubruk yang mengepulkan uap harum beraroma melati.
"Bunda kelihatan jauh lebih muda dan segar," puji salah satu tamu lainnya dengan nada takjub yang tidak dibuat-buat.
Bunda tertawa kecil, suara tawa yang ringan tanpa beban. Tangannya yang dulu selalu penuh perhiasan, kini nampak bersih dan hangat saat ia mengelus kepala Al-Fatih yang sedang tertidur lelap di pangkuannya. "Rahasianya sederhana, Nak. Dulu Bunda membawa beban berton-ton emas dan gengsi di bahu Bunda. Setiap hari Bunda takut kehilangan itu semua. Sekarang, Bunda hanya membawa tasbih. Ternyata tasbih itu jauh lebih ringan daripada berlian, namun ia sanggup mengikat hati Bunda pada ketenangan yang abadi."
Di sudut pelataran yang lain, Ayah Zayna sedang duduk berbincang dengan seorang pria yang dulu merupakan saingan bisnis terberatnya—pria yang ikut andil dalam menjatuhkan kerajaan bisnis Almeera. Atmosfer di sana sama sekali tidak tegang. Ayah tidak lagi bicara soal dendam, gugatan hukum, atau kerugian materi yang mencapai angka miliaran rupiah. Ia justru nampak sangat akrab, sesekali tertawa kecil sambil menawarkan teh kepada tamunya.
"Aku sudah memaafkan semuanya, bahkan sebelum kamu datang ke sini," ucap Ayah dengan suara yang berat dan berwibawa namun penuh kedamaian. "Harta yang hilang itu Ayah anggap sebagai biaya sekolah untuk belajar cara menjadi manusia yang sesungguhnya. Dulu Ayah punya gedung tinggi tapi Ayah tidak punya waktu untuk melihat bintang. Sekarang, Ayah punya waktu untuk melihat bintang setiap malam. Ambillah aset yang tersisa itu jika memang itu yang kamu cari, karena Ayah sudah punya kekayaan yang tidak akan bisa disita oleh bank mana pun: kebahagiaan saat melihat cucu Ayah tumbuh di tanah yang diberkati ini."
Malam itu ditutup dengan makan malam bersama di bawah langit yang bertabur bintang laksana taburan berlian di atas beludru hitam. Shila dan teman-teman Zayna yang tadinya nampak canggung, mulai melepas sepatu hak tinggi mereka. Mereka merasakan sensasi rumput basah di telapak kaki mereka—sebuah kemewahan alami yang tak pernah mereka rasakan di lantai marmer Jakarta. Untuk pertama kalinya, bisingnya ambisi kota dan sunyinya pemaafan desa melebur menjadi satu simfoni yang indah. Zayna menyadari hari itu, bahwa ia bukan hanya telah menyelamatkan jiwanya sendiri, tapi ia telah menjadi jembatan cahaya bagi teman-temannya yang masih terombang-ambing di tengah samudera duniawi yang penuh kepalsuan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp