NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus

Pagi itu, rumah Arlan terasa jauh lebih hidup. Kehadiran Bi Ina yang baru kembali dari cutinya membawa energi positif yang luar biasa. Suara denting sudip yang beradu dengan wajan serta senandung kecil Bi Ina dari arah dapur berhasil memecah kesunyian yang biasanya menyelimuti rumah itu.

Hana sudah rapi dengan kemeja flanel dan rok panjang kesayangannya. Hari ini adalah hari penting, UAS terakhir sebelum ia benar-benar terjun ke dunia skripsi yang melelahkan.

"Aduh, Non Hana makin cantik saja ya kalau mau ujian. Semangat ya, Non! Bi Ina doakan supaya nilainya A semua," seru Bi Ina sembari meletakkan piring berisi roti bakar di depan Hana.

Hana tersenyum ceria.

"Makasih ya, Bi. Doanya sangat membantu."

Tak lama, Arlan turun dengan kemeja kerja dan jas yang tersampir di lengannya. Ia tampak begitu berwibawa, sosok "Pak Dosen" yang selalu menjadi idola sekaligus momok di kampus. Arlan duduk di hadapan Hana, ikut menikmati sarapan yang disiapkan Bi Ina.

"Mau berangkat bareng?" tawar Arlan tiba-kira.

Hana yang sedang mengunyah rotinya, seketika berhenti. Ia menggeleng kecil dengan cepat.

"Hana naik motor saja, Mas. Takut telat kalau pakai mobil, kalau pakai motor kan bisa nyalip."

Arlan tersenyum maklum. Ia tahu itu hanya alasan halus. Hana hanya belum siap jika harus menjadi pusat perhatian jika tertangkap basah turun dari mobil dosen populer kampus.

"Hati-hati kalau begitu. Semoga ujiannya lancar."

Namun, rencana Hana berantakan seketika saat ia sudah berada di samping motornya.

"Loh, kok bocor?" keluh Hana lembut.

Hana berjongkok, menekan ban motornya yang ternyata benar-benar kempes total.

Bibir Hana mengerucut tanpa sadar, wajahnya cemberut menatap ban malang itu. Ekspresi yang begitu jujur dan alami itu membuat Arlan yang kebetulan baru saja keluar rumah, tertegun sejenak. Ada rasa gemas yang tiba-tiba menyusup di hati Arlan melihat wajah istrinya yang sedang merajuk pada keadaan.

"Ban motor Hana bocor, Mas," keluhnya sembari menghela napas panjang.

"Yasudah, bareng saya saja. Tidak ada waktu lagi untuk mencari bengkel," ajak Arlan.

"Tapi..."

"Kamu takut orang-orang tahu kalau kita sudah menikah?" Arlan memotong dengan nada tenang. Hana mengangguk kecil.

"Tenang, Hana. Saya tidak akan membuka suara tentang pernikahan kita selama kamu belum siap. Saya akan turunkan kamu sedikit jauh dari gerbang kampus, tapi kamu harus jalan sedikit. Tidak masalah?"

Mendengar solusi itu, wajah Hana langsung cerah. Ia mengangguk mantap.

"Baiklah, Mas. Kita berangkat bareng."

Di dalam mobil, Arlan berusaha mencari topik pembicaraan agar suasana tidak kaku. Ia mulai menyadari bahwa Hana sebenarnya adalah lawan bicara yang menyenangkan jika dipancing terlebih dahulu. Namun, obrolan mereka terhenti saat ponsel Hana berdering.

Tomi is calling...

Hana sengaja mendiamkannya. Ia sudah tahu maksud mantan Presma itu menelepon sepagi ini.

"Kenapa tidak diangkat? Itu Tomi, kan?" tanya Arlan.

"Iya, Mas. Hanya teman," jawab Hana singkat. Namun, ponsel itu terus berdering tanpa henti.

"Angkat saja, mungkin penting," ujar Arlan lagi.

Hana akhirnya mengangkat panggilan itu, dan entah mengapa, ia menyalakan mode loudspeaker. Suara berat Tomi langsung memenuhi kabin mobil.

"Halo, Hana? Kamu berangkat ke kampus aku jemput ya?" tawar Tomi di seberang sana.

Hana melirik Arlan sekilas. Hatinya merasa tidak enak. Tidak pantas rasanya ada lelaki lain yang menawarkan jemputan tepat di depan suaminya, meski Tomi tidak tahu kebenarannya.

"Aku sudah berangkat, Tom. Tidak perlu repot," jawab Hana tegas namun tetap sopan.

"Oh begitu. Kalau gitu pulang nanti aku antar ya, Han?" Tomi masih belum menyerah.

"Tidak perlu, Tomi. Pulang kampus aku ada urusan lain."

"Aku antar ke mana pun kamu mau, Han. Boleh ya?"

Hana menghela napas.

"Tidak perlu, Tom. Aku sudah ada yang menjemput. Maaf aku buru-buru, assalamualaikum," pungkas Hana sebelum memutus sambungan.

Arlan melirik Hana sekilas.

"Pulang kampus kamu mau ke butik?"

"Iya, Mas. Ada banyak urusan di sana."

"Hmm... soal menjemput, siapa yang akan jemput kamu?" tanya Arlan dengan nada yang sengaja dibuat biasa saja, meski sebenarnya ia penasaran.

Hana menoleh, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.

"Kamu... mau jemput aku kan, Mas?"

CIIIITT!

Arlan menginjak rem mendadak. Beruntung jalanan sedang sepi. Kepalanya menoleh cepat ke arah Hana, matanya membelalak kaget. Ia tidak menyangka Hana akan memintanya secara langsung.

"Yaa... aku tidak mungkin minta jemput Papa karena Papa kerja. Dan aku tidak mau berbohong hanya untuk menolak Tomi," jelas Hana santai.

Arlan berdehem, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya.

"Ah, itu... iya, boleh. Kampus sudah dekat, kamu turun di sini saja."

Hana hendak membuka pintu, namun Arlan kembali bersuara.

"Saya hanya mengawas di jam pertama, setelah itu saya ke kantor. Kabari kalau sudah selesai, saya jemput."

Hana mengangguk patuh, lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju gerbang kampus.

Di dalam mobil, Arlan terdiam lama. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang, sebuah debaran yang sangat asing namun terasa familiar.

Ia mengambil sebuah sapu tangan biru muda dari laci mobil, sapu tangan dari masa lalu yang selalu ia simpan. Arlan menggenggamnya erat sembari menatap punggung Hana yang semakin menjauh.

"Saya tidak menyangka... debaran ini bisa muncul kembali," gumam Arlan lirih.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!