Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5
Kediaman Angga Brawijaya dan Andin...
Azka melangkah ke ruang makan dengan wajah sumringah. Hatinya begitu bahagia karena ia semalam dapat mengobrol lebih lama bersama Elma.
Andin dan Angga saling pandang sejenak lalu menoleh ke arah putranya.
Azka mengangkat wajahnya dan menatap heran kedua orang tuanya yang tampak saling diam tanpa ekspresi. "Ada apa, Ma, Pa?"
"Apa benar kamu semalam nonton konser bersama Elma?" tanya Andin.
"Ya," jawab Azka.
"Jauhi dia, Azka!" pinta Andin.
"Ma, aku menyukai Elma. Memangnya aku salah?" tanya Azka kesal.
"Kamu memang salah. Elma itu hanya anak sambungnya Hendra Nata, kami ingin kamu menikah dengan Celina," jawab Andin tegas.
"Berapa kali aku katakan, Ma, Pa. Aku tidak mau menikah dengan Celina, dia itu wanita tak baik. Apa kalian mau memiliki menantu yang sikapnya sombong, arogan dan kasar?" Azka menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Hanya Celina yang dapat membantu perusahaan kita, Azka. Kami mohon terima dia sebagai calon istrimu," sahut Angga memohon.
"Kita tidak perlu mengemis padanya, aku bisa mencari dana buat perusahaan kita, Ma, Pa!" Azka begitu yakin tanpa bantuan Celina, perusahaan yang sedang dipimpinnya akan baik-baik saja.
"Tapi, kami sudah berjanji mau menikahkan kalian!" kata Andin.
"Batalkan!" pinta Azka mantap.
"Papa akan bicara kepada Hendra, apa dia bersedia membatalkan perjodohan putrinya dengan kamu," kata Angga yang tak yakin Hendra sudi membatalkannya.
"Aku bersedia menikah dengan Elma, jika Om Hendra setuju!" ucap Azka sembari membayangkan bersanding dengan Elma di pelaminan.
"Jika kamu tidak jadi menikah dengan Celina maka kamu tak boleh juga menikahi Elma!" kata Andin yang sangat kesal putranya tak mau mendengarkan permintaannya.
"Kenapa begitu, Ma? Mama tega melihat anakmu ini patah hati?" Azka tak percaya ibunya memberikan pilihan sulit.
"Bagaimana dengan Celina, Azka? Dia juga patah hati karena kamu!" tukas Andin.
"Biarkan saja wanita gila itu patah hati, dia sendiri yang terlalu terobsesi kepadaku!" ujar Azka kesal ibunya tak mau merestui cintanya kepada Elma.
"Lebih baik kamu dicintai, Azka!" sahut Angga.
Azka menatap papanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Wanita seperti Celina sebenarnya lebih tulus," jelas Angga menurut pandangannya.
"Dia bukan tulus, tapi terobsesi. Dia cuma ingin memuaskan rasa penasarannya, dia menganggap aku seperti mainan yang harus dimilikinya tanpa memikirkan perasaanku!" kata Azka.
"Terserah kamu saja, Mama tetap tidak mau kamu bersama Elma. Jika kamu tidak berubah pikiran, jangan harap Mama mau bicara denganmu lagi!" ancam Andin, ia beranjak berdiri dan melangkah.
"Mama mau ke mana?" tanya Azka yang takut melihat ibunya marah dan kesal.
"Pilihan kami sepertinya tidak salah, Papa tak bisa membujuk mama kamu untuk merubah pikirannya. Kamu harus pandai mencari cara biar mama kamu bersedia mengganti Celina dengan Elma," jawab Angga yang tak mau membantu putranya, dia membiarkan Azka menyelesaikannya sendiri. Meskipun dia berharap Celina menjadi menantunya karena Andrea adalah adik dari temannya. Dia sudah sangat mengenal keluarga besar Andrea.
-
Di dalam mobil yang berjalan menuju kantor, tatapan Azka mengarah ke jendela sembari memainkan jemari tangan kanannya di area dekat bibirnya. Isi kepalanya terus bekerja memikirkan cara agar kedua orang tuanya mau merestui cintanya dengan Elma. Dia juga berharap, Celina menjauhinya dan mengikhlaskan saudara tirinya menikah dengan dirinya.
"Apa aku harus bertemu dengan Celina?" pikirnya.
Azka menggelengkan kepalanya. Menemui Celina hanya akan menambah masalah. Wanita itu pastinya tetap pada pendiriannya yaitu menginginkannya.
Setelah cukup lama memikirkannya, akhirnya Azka kembali menemui Hendra. Dia berharap pria paruh baya itu bersedia menolak permintaan putrinya.
Azka pun mendatangi kantor miliknya Hendra, karena papanya Celina itu tak sempat menemuinya di jam makan siang.
Jam 10 pagi, Azka tiba di kantor Hendra. Dengan melangkah cepat ia menuju ruangan kerja Hendra, dia juga berharap tak bertemu Celina.
"Maaf, Om tak bisa mengajakmu bertemu di luar karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!" kata Hendra saat menyambut Azka di ruangannya.
"Tidak apa-apa, Om. Kebetulan juga jalanan tadi macet, jadinya kami putar arah dan menuju ke sini," ucap Azka karena dia berangkat ke kantor ditemani sopir.
"Ada gerangan apa kamu ingin bertemu dengan Om?"
"Masalah Celina, Om. Aku tidak mencintainya, aku tak mau perjodohan ini dilanjutkan. Tapi, aku bingung bagaimana bicara dengan Celina yang tak mau mendengarkan penjelasanku."
"Om juga bingung, Azka. Celina sangat keras kepala, dia sulit sekali dinasehati. Semua keinginannya harus selalu dituruti. Om juga heran, beberapa tahun ini sikapnya sangat berbeda. Padahal, Celina yang dulu adalah gadis yang ceria, lembut dan tak pernah berkata kasar," ungkap Hendra.
"Memangnya apa penyebab Celina berubah?" Azka penasaran.
Hendra terdiam sejenak menatap Azka, ia tak mungkin menceritakan sebenarnya alasan Celina berubah.
"Om..." panggil Azka pelan karena melihat Hendra melamun.
"Om tidak tahu penyebabnya!" Hendra segera memberikan penjelasan meskipun berbohong.
"Jadi, Om tak bisa membantu aku membatalkan keinginan Celina?" Azka menatap Hendra yang juga tak dapat berbuat apa-apa.
"Om minta maaf, Azka."
Azka memundurkan tubuhnya bersandar ke kursi, kedatangannya menemui Hendra tak menghasilkan apapun.
"Om mohon kamu mau bersedia menikahi Celina. Om juga tidak akan memaksamu buat mencintainya, Om cuma ingin kamu memenuhi permintaannya," kata Hendra.
"Om, aku hanya menyukai Elma. Aku tidak mungkin menikahi Celina tapi hatiku buat wanita lain. Celina pasti tersiksa!"
"Om sudah berkali-kali mengatakan itu, Azka. Dia seakan menutup telinganya, Om tak tahu harus bagaimana mencegahnya," ujar Hendra.
Azka terdiam. Napasnya naik turun. Dia tak berhasil menjauhi Celina dari kehidupannya. Azka mulai berpikir memakai cara lainnya.
Azka keluar dari ruangan kerja Hendra, sialnya di lift ia malah bertemu dengan Celina. Wajah wanita itu begitu senang melihat Azka. "Pasti kedatanganmu buat membahas pernikahan kita, 'kan?"
"Jangan pernah mimpi!!" Azka berkata dengan nada dingin.
Celina malah tersenyum mendengarnya, ia kelihatan tak merasa sakit hati.
"Batalkan rencana ini, Celina. Jikapun kita menikah, aku tidak bisa menjadi suami yang kau inginkan!" ucap Azka kembali mengingatkan wanita disampingnya yang sangat keras kepala.
"Berapa kali aku bilang aku tidak peduli, mau kau mencintaiku atau tidak. Bagiku, menikahimu adalah impianku!" kata Celina tersenyum seringai.
Azka mencoba menahan rasa kesalnya, seandainya Celina bukan seorang wanita mungkin dia akan memberikan satu pukulan buat menyadarkannya.
Pintu lift terbuka, sebelum keluar Celina kembali berkata dengan dingin tanpa senyuman, "Nanti malam kedua orang tuamu akan menemui papaku membahas rencana pernikahan kita. Tak ada penolakan. Jika kau berani lari dariku, jangan harap perusahaan milik keluargamu akan baik-baik saja!"