Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Tempat untuk Bernapas
Langit sudah gelap ketika Kim Ae Ra akhirnya keluar dari gedung Aegis Corp.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di permukaan kaca gedung tinggi di sekelilingnya. Orang-orang berjalan cepat melewatinya, masih dengan pakaian rapi dan wajah sibuk, seolah energi mereka belum habis meski hari hampir berakhir.
Berbeda dengan dirinya. Ae Ra berdiri beberapa detik di depan pintu gedung, memijat pelipisnya pelan. Hari pertamanya terasa seperti satu bulan penuh.
Mulai dari tatapan sinis karyawan, jadwal rapat yang membingungkan, hingga CEO yang… tidak tahu harus ia sebut apa. Menyebalkan? Menegangkan? Atau terlalu sulit dipahami?
Ia menghela napas panjang.
“Aku benar-benar tidak cocok di sana…”
Bus yang ia tumpangi terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia duduk di dekat jendela, memandangi pantulan wajahnya sendiri—lelah, tapi anehnya masih bertahan.
Saat turun di halte dekat rumah, langkahnya otomatis menuju tempat yang paling familiar. Toserba kecil di sudut jalan. Lampu neon putih menyala terang, suara bel pintu berbunyi ringan ketika ia masuk.
*Klining…*
Aroma ramen instan dan kopi murah langsung menyambutnya. Untuk pertama kalinya hari itu, bahunya terasa sedikit rileks.
“Selamat datang.” Suara laki-laki terdengar dari balik rak minuman.
Ae Ra mengangkat kepala.
Seorang pria mengenakan seragam toserba berdiri sambil menata botol-botol minuman. Tingginya sedang, rambut hitamnya sedikit jatuh menutupi dahi. Wajahnya tidak mencolok, tapi entah kenapa memberi kesan tenang.
Ia menoleh pelan.
“Oh… Ae Ra.” Nada suaranya datar, namun hangat.
“Seo Jun… kau shift malam hari ini?”
Lee Seo Jun mengangguk kecil.
“Iya. Bo Ram bilang kau mulai kerja kantor hari ini.”
Ae Ra langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi kecil dekat kasir.
“Aku hampir mati.”
Seo Jun tidak tertawa. Ia hanya mengambilkan sebotol air dingin lalu meletakkannya di depan Ae Ra tanpa berkata apa-apa. Gerakan sederhana itu terasa… menenangkan.
“Terima kasih,” gumam Ae Ra sambil membuka tutup botol.
Ia minum panjang sebelum menghela napas lega. Seo Jun bersandar ringan di meja kasir.
“Berat?”
Ae Ra tertawa lemah.
“Kalau aku bilang berat, itu masih terlalu ringan untuk menjelaskannya.”
Ia mulai bercerita—tentang kantor besar, orang-orang yang terasa jauh, dan CEO menyebalkan yang ternyata pria arogan kemarin. Seo Jun mendengarkan tanpa memotong. Tatapannya tenang, fokus sepenuhnya padanya.
“…dan semua orang melihatku seperti aku ini penyusup,” akhir Ae Ra pelan.
Hening beberapa detik. Seo Jun akhirnya berkata, “Tapi kau tidak kabur.”
Ae Ra berkedip. “Hah?”
“Kau tetap kembali besok, kan?”
Ia terdiam.
Jawabannya sebenarnya jelas, tapi mendengarnya diucapkan orang lain membuat dadanya terasa hangat.
“Iya… mungkin.”
Seo Jun tersenyum tipis. “Itu sudah cukup.”
Beberapa pelanggan masuk dan keluar. Ae Ra tanpa sadar membantu merapikan barang seperti dulu. Tangannya bergerak otomatis, tubuhnya mengingat ritme lama yang jauh lebih sederhana.
Di tempat ini, tidak ada yang memandangnya aneh. Tidak ada bisikan. Tidak ada tekanan. Hanya suara pendingin dan lampu neon.
Seo Jun memperhatikannya diam-diam. Cara Ae Ra akhirnya tersenyum lagi membuat ekspresinya sedikit melunak. Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar. Ia melihat layar sekilas.
Nomor tak dikenal. Seo Jun berjalan ke luar toko sebelum mengangkatnya.
“Iya.” Nada suaranya berubah lebih rendah.
“…Aku sudah bilang jangan hubungi nomor ini.”
Suara di seberang terdengar samar. Tatapan Seo Jun menjadi dingin sesaat.
“Aku masih di sini. Tidak ada perubahan rencana.” Ia menutup telepon singkat lalu kembali masuk, ekspresinya kembali tenang seperti biasa.
Ae Ra tidak menyadari apa pun.
“Eh, Seo Jun,” panggil Ae Ra tiba-tiba.
“Iya?”
“Menurutmu… orang bisa benar-benar berubah karena pekerjaan?”
Seo Jun berpikir sebentar.
“Bukan pekerjaan yang mengubah orang,” jawabnya pelan. “Biasanya… orang tertentu.”
Ae Ra mengerutkan kening. Jawaban itu terasa anehnya tepat.
Di sisi lain kota, Hyun Jae Hyuk duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu kantor sudah redup, sebagian besar karyawan pulang. Namun ia masih menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca.
Bayangan Ae Ra yang hampir menjatuhkan tumpukan dokumen siang tadi muncul di kepalanya. Tanpa sadar ia tersenyum kecil. Lalu menghela napas.
“Kenapa aku terus memikirkannya…”
Ia berdiri, mengambil jasnya, dan berjalan menuju jendela. Kota Seoul berkilauan di bawah. Perasaan asing mulai tumbuh—sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan sebagai tanggung jawab… ataupun rasa penasaran biasa.
Di kediaman Hyun Jin Suk, laporan baru kembali tiba.
“Gadis itu bertahan sampai akhir hari kerja,” lapor Do Hyun melalui panggilan.
Jin Suk tersenyum tipis.
“Menarik.” Ia menyesap tehnya perlahan.
“Terus awasi. Jangan membantu.”
“Baik, Tuan.”
Malam semakin larut di toserba. Ae Ra berdiri di depan pintu, bersiap pulang.
“Terima kasih sudah mendengarkan,” katanya pada Seo Jun.
Seo Jun mengangguk ringan. “Besok juga pasti berat.”
Ae Ra tertawa kecil.
“Jangan mengutukku sebelum hari dimulai.”
Ia melangkah keluar. Bel pintu kembali berbunyi.
*Klining…*
Seo Jun memperhatikan punggungnya hingga menghilang di ujung jalan. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di sisi jalan seberang. Lampunya redup. Seo Jun berdiri diam. Pintu mobil terbuka sedikit, namun ia hanya menggeleng pelan tanpa mendekat.
Mobil itu akhirnya pergi.
Ia kembali masuk toko, mengambil lap kain, lalu melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun tatapannya sesaat berubah—tenang, tapi jauh lebih dalam dari seorang pekerja paruh waktu biasa. Dan tanpa disadari siapa pun, hidup Kim Ae Ra kini tidak hanya diawasi oleh satu dunia.
Melainkan dua.