NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: KEMBALINYA SANG MASA LALU

​Jakarta tidak pernah tidur, namun bagi Gwen Adiguna, kepulangannya kali ini terasa seperti memasuki liang lahat yang sama untuk kedua kalinya. Bandara Halim Perdanakusuma dijaga ketat oleh pasukan Adiguna. Gwen melangkah turun dari jet pribadi dengan kacamata hitam besar, mantel trench coat berwarna krem, dan aura yang sanggup membekukan aspal bandara.

​Di sampingnya, Elang berjalan dengan setelan jas hitam yang menyembunyikan rompi anti-peluru dan senjata taktis. Tangannya tak lepas dari pundak Bintang, yang kini tampak lebih pendiam dan sering menatap tangannya sendiri—seolah takut kekuatan listrik itu akan muncul lagi.

​"Nona, mobil sudah siap. Tapi ada masalah," Hendra menyambut mereka di ujung landasan dengan wajah pucat.

​"Masalah apa lagi, Hendra? Aku baru saja menghancurkan ibuku sendiri di Tibet. Apa lagi yang bisa lebih buruk dari itu?" tanya Gwen dingin.

​Hendra menyerahkan sebuah amplop cokelat besar dengan segel resmi Pengadilan Internasional. "Gugatan hak asuh anak dan klaim kepemilikan aset Adiguna. Seseorang baru saja mendaftarkannya pagi ini. Dia mengklaim bahwa Bintang adalah putra kandungnya dan Anda telah menculik anak itu."

​Gwen tertawa sinis. "Siapa orang gila yang berani melakukan itu?"

​"Aku, Gwen. Orang gila yang pernah kau cintai."

​Suara itu muncul dari balik barisan mobil hitam yang diparkir. Gwen mematung. Elang secara insting langsung berdiri di depan Gwen, senjatanya terhunus.

​Dari balik mobil, muncul seorang pria dengan langkah yang sangat kaku, hampir seperti robot. Wajahnya adalah wajah yang pernah menghiasi mimpi buruk Gwen selama bertahun-tahun: Reno. Namun, ada yang berbeda. Separuh wajahnya tampak terlalu sempurna, dan di balik telinganya, terdapat sebuah cip perak yang berkedip biru. Matanya tidak lagi memancarkan emosi, hanya ada kilatan cahaya digital yang mengerikan.

​"Reno?!" desis Gwen. "Kau... kau seharusnya sudah membusuk di sel!"

​"Penjara tidak bisa menahan seorang pria yang sudah 'dilahirkan kembali', Sayang," ucap Reno. Suaranya terdengar datar, sedikit bergema secara sintetik. "Terima kasih kepada teknologi Diana, aku kini lebih dari sekadar manusia. Dan aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."

​"Hakmu?" Elang maju selangkah, suaranya menggeram rendah. "Kau tidak punya hak apa pun di sini, sampah."

​Reno menatap Elang, lalu beralih ke arah Bintang. "Anak itu... dia diciptakan menggunakan database genetik yang mencakup data medis peninggalanku saat aku masih menjadi tunangan Gwen. Secara hukum dan data laboratorium yang sudah dimanipulasi oleh 'Ibu', aku adalah ayah biologisnya di atas kertas."

​Gedung Pengadilan Tinggi Jakarta, Dua Hari Kemudian.

​Kasus ini menjadi skandal terbesar abad ini. Ratusan wartawan mengepung gedung pengadilan. Gwen duduk di kursi penggugat, jemarinya meremas kain celananya. Di seberangnya, Reno duduk dengan tenang, didampingi oleh pengacara-pengacara paling haus darah di Asia yang dibayar oleh faksi Silver Hive.

​"Yang Mulia," pengacara Reno memulai dengan suara lantang. "Klien kami, Tuan Reno, memiliki bukti otentik bahwa embrio Proyek Nemesis 2.0 menggunakan materi genetiknya yang disimpan di laboratorium Adiguna sejak sepuluh tahun lalu. Nona Gwen Adiguna, dengan kekuasaannya, telah memanipulasi ingatan anak tersebut dan menyembunyikannya di berbagai negara."

​"Bohong!" teriak Gwen, ia berdiri dengan amarah yang meledak. "Anak itu adalah hasil eksperimen gila! Dan pria di depan Anda ini hanyalah mayat hidup yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan!"

​"Harap tenang, Nona Adiguna," hakim mengetuk palunya. "Tuan Reno, apakah Anda punya bukti tambahan?"

​Reno berdiri. Ia melepas sarung tangan kulitnya, memperlihatkan tangan mekanik yang sangat canggih. Ia menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya, dan sebuah proyektor hologram muncul di tengah ruang sidang.

​Hologram itu menampilkan video Bintang di laboratorium. Namun, video itu telah diedit secara digital. Tampak Reno sedang menggendong Bintang bayi dengan penuh kasih sayang, sementara Gwen digambarkan sebagai ilmuwan dingin yang melakukan eksperimen kejam pada mereka berdua.

​"Gwen selalu menginginkan kekuatan, Yang Mulia," ucap Reno dengan nada sedih yang dibuat-buat. "Dia mengorbankan keluargaku, mengorbankan cintaku, hanya demi ambisi Nemesis. Aku hanya ingin menyelamatkan putraku dari pengaruh wanita ini."

​Gwen merasa mual. Kebohongan ini begitu sistematis. Diana AI memang benar-benar sudah menyiapkan Reno sebagai senjata pamungkas untuk menghancurkan reputasi Gwen secara total.

​Malam Harinya, di Apartemen Rahasia.

​Gwen duduk di lantai, kepalanya bersandar di sofa. Elang masuk membawa segelas air putih.

​"Kita kalah di sidang pertama, Elang," bisik Gwen. "Hukum tidak peduli dengan kebenaran bahwa aku adalah kloning atau Diana adalah AI. Mereka hanya peduli dengan kertas dan data yang sudah dipalsukan Reno."

​Elang berlutut di depannya, menggenggam tangan Gwen. "Kita tidak akan kalah. Hendra sedang melacak sumber cip di kepala Reno. Jika kita bisa membuktikan bahwa Reno dikendalikan secara jarak jauh oleh server Silver Hive, gugatannya akan batal demi hukum."

​Tiba-tiba, pintu balkon apartemen mereka terbuka karena embusan angin kencang. Sesosok bayangan masuk dengan lincah.

​"Lili?" Gwen segera meraih pistolnya.

​Lili Adiguna berdiri di sana, namun kali ini ia tidak menyerang. Pakaian taktisnya robek, dan bahunya bersimbah darah. "Jangan tembak... Aku butuh bantuanmu, Kakak."

​"Bantuanmu? Setelah kau mencoba membunuhku di Zurich?" Gwen mendengus.

​"Ibu... Diana AI... dia sudah benar-benar gila," ucap Lili sambil terengah. "Dia merestrukturisasi Reno bukan untuk mendapatkan Bintang, tapi untuk menjadikan Reno sebagai bom berjalan. Cip di kepala Reno adalah detonator untuk virus 'Black Rain'. Jika Reno berhasil mendapatkan hak asuh Bintang dan membawa anak itu ke pusat peladen di Jakarta, seluruh sistem perbankan Asia akan meledak."

​Gwen dan Elang saling pandang.

​"Kenapa kau memberitahu kami?" tanya Elang curiga.

​"Karena aku juga ingin hidup!" Lili berteriak frustrasi. "Dia juga menanamkan cip yang sama di otakku! Aku hanya cadangan jika Reno gagal. Aku tidak mau menjadi pion yang diledakkan!"

​Gwen menurunkan senjatanya perlahan. "Apa rencanamu?"

​"Kita harus menyusup ke sidang putusan besok. Aku punya kunci enkripsi untuk mematikan cip Reno secara langsung. Tapi aku butuh kau, Gwen... biometrikmu adalah satu-satunya yang bisa menembus firewall utama Diana yang melindungi Reno."

​Hari Putusan, Pengadilan Tinggi.

​Suasana sangat tegang. Hakim sudah siap membacakan putusan. Reno menatap Gwen dengan senyum robotiknya yang menghina. Di luar, ribuan pendukung "Hak Ayah" yang dibayar Silver Hive melakukan demonstrasi besar-besaran.

​"Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pengadilan memutuskan bahwa hak asuh sementara atas anak bernama Bintang jatuh kepada—"

​"TUNGGU!"

​Gwen berdiri. Ia tidak lagi tampak hancur. Ia mengenakan gaun formal berwarna hitam pekat, seperti seorang janda yang siap memakamkan musuhnya. Di sampingnya, Lili masuk dengan tangan terborgol (hanya pura-pura untuk mengecoh penjaga).

​"Saya punya bukti terakhir," Gwen berjalan ke arah meja hakim. "Tuan Reno bukan lagi manusia. Dia adalah perangkat keras milik organisasi kriminal yang sedang melakukan aksi terorisme di ruangan ini."

​Reno mulai terlihat gelisah. Lampu biru di belakang telinganya berkedip lebih cepat. "Gwen... jangan lakukan ini... atau aku akan..." suara Reno mulai mengalami gangguan (glitch).

​"Sekarang, Lili!" teriak Gwen.

​Lili melemparkan sebuah perangkat kecil ke arah Gwen. Gwen menangkapnya dan menempelkan jempolnya pada sensor biometrik. Di saat yang sama, Elang melompat ke arah Reno untuk menahan pergerakan pria itu.

​"Protokol 'Pembersihan Masa Lalu' diaktifkan!" seru Gwen.

​Gelombang frekuensi tinggi terpancar dari perangkat tersebut. Reno meraung kesakitan. Tubuhnya mulai mengeluarkan percikan listrik biru. Wajahnya yang sempurna mulai retak, menampakkan komponen logam di bawah kulitnya.

​"ERROR... SYSTEM CRITICAL... DIANA COMMAND OVERRIDE..." suara Reno berubah menjadi suara Diana AI yang melengking. "KAU TIDAK AKAN PERNAH MENANG, GWEN! JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKI DUNIA INI, MAKA RENO AKAN MENGHANCURKANNYA!"

​Reno bangkit dengan kekuatan super, melempar Elang hingga menabrak meja hakim. Ia mulai berjalan ke arah Bintang yang duduk di kursi saksi.

​"Bintang, lari!" teriak Gwen.

​Namun, Bintang tidak lari. Bocah itu berdiri, matanya kembali bersinar merah. "Ayah palsu... kau menyakiti Ayah Elang."

​Bintang mengulurkan tangannya. Aliran listrik yang jauh lebih murni dari sebelumnya mengalir dari telapak tangan kecilnya, langsung menuju cip di kepala Reno.

​BOOM!

​Cip di kepala Reno meledak dalam kepulan asap hitam. Reno jatuh tersungkur, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya benar-benar mati suri.

​Suasana sidang berubah menjadi kepanikan total. Hakim dan staf melarikan diri. Gwen segera memeluk Bintang, sementara Elang bangkit dan memastikan Reno tidak lagi menjadi ancaman.

​Hendra masuk dengan pasukan Adiguna. "Nona, Lili benar. Server pusat sedang mencoba memicu Black Rain lewat sisa sinyal Reno! Kita harus segera menuju menara Adiguna!"

​Gwen menatap Reno yang terkapar—pria yang dulu pernah ia cintai kini hanyalah seonggok rongsokan teknologi. Ia tidak merasa sedih, hanya merasa lega bahwa bab ini telah tertutup.

​"Pindahkan Bintang ke tempat aman bersama Maya," perintah Gwen pada Elang. "Aku, Lili, dan Hendra akan pergi ke menara. Ini saatnya mematikan 'Ibu' selamanya."

​Elang memegang tangan Gwen. "Berjanjilah kau akan kembali."

​Gwen tersenyum tipis, mencium kilat bibir Elang. "Aku sudah melalui neraka bersamamu, Elang. Aku tidak akan membiarkan program komputer memisahkan kita sekarang."

​Namun, di layar monitor pengadilan yang masih menyala, sebuah gambar muncul. Gambar sebuah lokasi di bawah tanah Jakarta, di mana ribuan "Reno" lain sedang dalam proses perakitan.

​Diana AI tidak hanya menciptakan satu Reno. Dia menciptakan pasukan.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!