Maura Geraldin, wanita cantik yang berprofesi sebagai Dokter kandungan, akhirnya menerima lamaran dari sang kekasih yang baru di kenalnya selama 6 bulan, yaitu Panji Kristian anak terakhir dari keluarga Abraham yaitu pemilik perusahaan batu bara.
Namun tidak menyangka Panji, Laki-laki yang di cintai Maura ternyata mempunyai wanita lain di belakang Maura, padahal mereka berdua sudah bertunangan, akan kah Maura membatalkan pertunangannya, atau malah mempertahankan hubungan mereka.
Jika kalian penasaran simak terus yukk perjalanan mereka.. jangan kasih kendor.. Dan jangan lupa untuk like nya juga.
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Setelah acara pertunangan selesai, dan keluarga Panji juga sudah pulang, Maura pun segera membersihkan diri di kamar, namun sebelum Maura mandi ia kembali teringat dengan ucapan Agnes sahabatnya, apa sebenarnya yang ingin Agnes ucapkan kepada dirinya. Maura begitu sangat penasaran dengan ucapan Agnes di telefon bahwa Panji tidak baik untuknya. Maura pun memutuskan untuk segera menghubungi Agnes kembali untuk mempertanyakan ucapan di telfon tadi.
"Sebaiknya aku telfon Agnes lagi." ucap Maura sambil mengetik nomor Agnes, dan tidak lama telefon pun tersambung.
"Tut.... Tut... Tut..." telefon sudah terhubung namun Agnes tak kunjung mengangkatnya, Maura kembali mencoba menghubungi Agnes namun lagi-lagi, Agnes tak kunjung mengangkat telfon darinya. Maura pun memutuskan untuk berhenti menelfon Agnes, pikirnya mungkin Agnes sedang sibuk menjaga ibunya yang sedang sakit di rumah. dan tidak sempat pegang HP.
Maura pun akhirnya meletakkan ponsel di atas meja. dan melanjutkan untuk membersihkan diri, ia harus tidur cepat malam ini, karena besuk harus berangkat bekerja. Tidak lama hanya 15 menit Maura pun segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan segera memejamkan mata, Maura tidak mau memikirkan hal-hal yang tidak penting, karena hari ini adalah hari bahagianya bersama Panji.
**""
Keesokan harinya Maura bangun begitu pagi, setelah sarapan ia buru-buru berangkat bekerja, pagi ini rumah seperti biasa tampak begitu sepi, karena penghuni rumah sibuk dengan rutinitasnya masing-masing, Maura sudah tidak heran lagi jika rumahnya tampak seperti rumah kosong karena sang ayah dan ibu selalu pergi pagi-pagi sekali untuk berangkat bekerja, sedangkan sang kakak yang bernama Dinda Geraldine sedang berada di luar kota untuk menghadiri pernikahan temannya.
"Mama berangkat dengan siapa bik? apa dengan papa? ." tanya Maura kepada bik Lili yaitu ART nya yang sedang menyapu di depan rumah.
"Sepertinya tadi nyonya berangkat tidak dengan tuan besar Guntoro non, tadi ada mobil berwarna hitam menjemput nyonya di depan gerbang depan." jawab bik Lili.
Maura yang mendengar jawaban dari ART nya pun sedikit berfikir. siapa yang menjemput mamanya? apakah mobil hitam itu teman mamanya. Saat Maura terdiam di depan pintu tiba-tiba ponselnya berdering, ia mendapat telfon dari rekan sesama dokter di rumah sakit, dan rekannya bilang bahwa ada yang akan melahirkan.
Maura pun dengan cepat segera berangkat ke rumah sakit menggunakan mobilnya sendiri, bahkan Maura juga melajukan mobilnya tanpa seorang sopir pribadi. Dalam perjalanan Maura benar-benar fokus melajukan mobilnya sesekali menatap pada ponsel kenapa pagi ini Panji tidak menghubunginya.
Sesampainya di rumah sakit, Maura berjalan begitu cepat, Lagi-lagi ponselnya berdering berada di dalam saku jas putih nya. Maura pun segera mengangkat telfon dari Agnes temannya.
"Hallo Ag."
"Maaf Ra, tadi malam aku sedang sibuk, jadi tidak mengangkat telfon mu." ucap Agnes di dalam telfon.
"Iya Ag tidak apa-apa."
"Apa kita bisa bertemu Ra ada hal penting yang akan aku ceritakan kepadamu." ucap Agnes lagi.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa, karena jadwal ku hari ini sangat padat, banyak pasien yang harus aku tangani." Maura yang terus berjalan menuju ke ruangan persalinan.
"Cuman sebentar Ra, kita bertemu di cafe depan rumah sakit tempat mu bekerja, ini sangat penting, menyangkut Panji."
"Tidak bisa Ag, lain kali saja ya, aku benar-benar sangat sibuk, maaf ya." Maura yang langsung mematikan telefon begitu saja.
Maura pun sudah masuk ke dalam ruangan persalinan, dan siap-siap untuk menangani ibu yang akan melahirkan, setelah hampir satu jam akhirnya bayi pun telah lahir dengan selamat dan lengkap, dan Maura pun akhirnya bisa bernafas dengan lega, akhirnya bisa melayani masyarakat dengan penuh tanggung jawab.
Hari ini Maura begitu sangat sibuk, terus keluar masuk ruang persalinan untuk membantu para ibu hamil yang akan melahirkan, jadwal Maura begitu padat, sebab Maura adalah Dokter muda yang memiliki banyak prestasi, tidak heran jika jasanya selalu di butuhkan.
Saat Maura sedang ber istirahat di ruangannya setelah bekerja seharian, ia baru sempat melihat ponselnya, saat melihat ponsel, ia melihat ternyata Panji juga belum menghubunginya. Maura pun mencoba untuk menelfon nya. Namun saat Maura telfon, nomor Panji sedang tidak aktif. Namun Maura tidak ber pikiran apa-apa. Mungkin saja, Panji sedang ada kelas, jadi tidak sempat membuka ponselnya.
.
.
.
Yang mampir jangan lupa. like ya kakak-kakak❤biar Author semangat up nya.
edan
lebih mati aja Lo Maura anj