Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Sudah tiga hari ini Satria terus berusaha membujuk Vania dan meminta maaf. Vania sadar Resa juga seperti sudah mengerti dengan keadaan Ayah dan Bundanya.
Liliana juga sudah memberinya nasihat untuk membuka diri dan membicarakan dengan baik-baik bersama Satria, termasuk memberi kesempatan pada Irene yang katanya ingin menemuinya.
Selama tiga hari ini pula Satria sering membantu Vania untuk mengurus Resa dirumah. Vania hanya akan berbicara pada Satria jika ada Resa di antara mereka. Selama Satria dirumah pun Vania memilih tidur di kamar Resa.
Pernah di malam setelah dirinya mengunci diri di kamar, ternyata Satria yang menemani Resa seharian. Dan malamnya saat Vania tidur di kamar Resa, putranya itu mengatakan sesuatu yang membuat Vania sesak.
"Bunda jangan bersedih karena Ayah. Bunda punya Resa yang akan selalu melindungi dan membahagiakan Bunda."
Vania sadar Resa jauh lebih memperhatikan perasaannya. Karena itu juga Vania pun memberikan kesempatan untuk Satria juga Irene menemuinya. Vania ingin permasalahan rumah tangganya ini tidak lagi mengikat kebahagiaannya dengan Resa.
.
.
Pulang sekolah, Resa di ajak bermain oleh Liliana juga Sely. Vania sendiri pergi ke restoran tempatnya melakukan janji temu dengan Satria juga Irene.
Saat datang, Vania menanyakan meja reservasi atas nama Satria. Pelayan itu segera menuntun langkah Vania menuju ruang VIP restoran yang tertutup. Mungkin Satria sengaja memilih tempat privasi untuk pembicaraan mereka.
Begitu masuk, Vania di sambut oleh dua orang yang berdiri saat melihat kedatangannya. Vania memejamkan mata sejenak untuk meredam perasaan sesak yang masih bersarang di hatinya.
"Mba Vania." sapa Irene yang langsung menghampiri dan tiba-tiba memeluk tubuhnya begitu saja.
Tubuh Vania kaku juga hatinya. Vania mengepalkan kedua tangannya. Berusaha untuk kuat dan tidak terlihat rapuh di hadapan keduanya.
"Irene, biarkan Vania duduk dulu." titah Satria.
Irene melepaskan pelukannya dan menuntun Vania untuk duduk bersamanya berdampingan dan berhadapan dengan Satria.
Vania masih saja diam tidak menunjukan ekspresi apa-apa.
"Mba mau pesan makan apa?" tanya Irene berusaha untuk mendekatkan diri dengan Vania.
Vania yang semula bertatapan dengan Satria mengalihkan tatapannya pada Irene yang tersenyum tanpa dosa dihadapannya.
"Kamu bisa bersikap biasa saja setelah melakukan ini padaku?" tanya Vania telak.
Dia tidak bisa berbasa-basi, meski wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun. Tapi Vania tidak bisa bersikap pura-pura seperti mereka.
Irene menundukan kepalanya di hadapan Vania. Memberanikan diri menggenggam satu tangan Vania.
"Maafkan Irene Mba." ucap Irene lirih.
Jujur saja Irene juga merasakan sesak di dadanya. Jantungnya sudah berdebar saat melihat wajah Vania saat datang tadi. Meski Vania tidak menunjukan amarah dan kesedihannya, tapi Irene bisa melihat semua itu dari sorot mata Vania padanya.
"Semudah itu meminta maaf." Irene menaikan pandangannya dan bersitatap dengan mata Vania yang sudah mengeluarkan air matanya.
Kekecewaan itu begitu menusuk di hati Irene. Bolehkah Irene menyesal sudah merampas kebahagiaan wanita lain. Dia penyebab hancurnya hati seorang istri juga putranya.
"Maafkan Irene Mba, maaf." Irene langsung bersimpuh di hadapan Vania sambil menangis terisak.
Satria terkejut dengan tindakan Irene. Dia segera menghampiri Irene yang bersimpuh di kaki Vania.
"Irene sayang." lirih Satria.
Deg
Hati Vania kembali tertusuk saat Suaminya dengan jelas memanggil madunya sayang di hadapannya. Vania merasa seperti berada di antara dua orang yang saling mencintai dan dirinya hanyalah tembok yang menghalangi cinta keduanya.
"Bangun Irene."
"Gak Mba, Aku bener-bener minta maaf sama Mba. Aku rela kalau Mas Satria menceraikan Aku asal Mba memaafkan Aku." ungkap Irene sembari sesenggukan.
"Irene." lirih Satria.
"Bangun Irene, cukup." Vania beranjak dari kursinya dan menatap nyalang Irene juga Satria.
.
.
Setelah keadaan Irene yang cukup tenang, Vania menghela nafas pelan.
"Mas, Kita akhiri saja pernikahan ini. Aku tidak akan menuntut apapun dan tidak akan menghalangi kamu bertemu dengan Resa."
Vania berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Tidak ada gunanya dirinya mempertahankan Suaminya sebab dirinya tidak yakin akan menjalani rumah tangga dengan baik jika terus bersama Satria.
Pengkhianatan ini akan terus membayangi Vania jika dirinya tetap bersama Satria. Vania lebih memilih melepaskan daripada menggenggam duri di tangannya.
"Mba, tapi Aku."
"Kau sedang mengandung kan?" potong Vania pada Irene.
"Iya Mba." jawab Irene pelan.
"Mas."
Satria pada akhirnya mengangguk setuju untuk mengakhiri pernikahannya dengan Vania.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, tidak henti-hentinya Irene meminta maaf dan mengatakan ingin tetap berhubungan dengan baik bersama Vania demi Resa.
"Aku tidak akan melarang, tapi Aku mohon berikan waktu untukku memulihkan hatiku." pinta Vania.
Irene dan Satria mengangguk paham. Mereka tidak ingin semakin membuat Vania tersiksa dengan perasaan dan kehancuran rumah tangganya.
"Aku tunggu surat pengadilannya Mas." ucap Vania sebelum pergi dari tempat itu.
.
.
Vania terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang entah dirinya sendiri tidak tahu dimana. Hatinya dingin, pikirannya kusut. Ingin berhenti melangkah namun Vania tetap harus berjalan untuk pulang demi putranya.
Melihat sebuah taman kota, Vania memutuskan untuk berhenti sejenak karena merasa lelah. Wajahnya menengadah memandang langit sore.
"Resa." gumam Vania.
Hanya wajah putranya yang terbayang oleh Vania. Hanya Resa yang menjadi sumber kekuatannya saat ini.
"Vania." sapa seseorang yang membuat Vania menoleh ke sosok pria yang dikenalinya.
"Nathan."
Nathan memberikan satu ice cream cone yang dibelinya di dekat taman. Vania menerimanya dengan kekehan kecil.
"Aku bukan Resa Nathan." ucap Vania tapi tetap memakan ice cream pemberian Nathan.
"Setidaknya Ice cream ini bisa sedikit menghiburmu." jawab Nathan.
Vania mengangguk setuju dan mencoba menikmati ice cream ditangannya.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Vania.
"Aku habis bertemu klien di sekitaran sini. Dan tiba-tiba radarku menuntunku kesini. Ternyata ada Kamu." Penjelasan Nathan kembali membuat Vania tertawa.
"Gombal sekali."
"Aku serius Vania, buktinya Kita bisa bertemu kan."
"Ya ya anggap saja Aku percaya."
Vania dan Nathan tertawa bersama dan menikmati waktu sore itu dengan membicarakan hal-hal yang random.
.
.
......................
Jangan lupa Like nya ya teman-teman.
Terima kasih😊🙏