NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Hari-Hari yang Terlihat Normal

Pagi pertama Rivena di rumah terasa… asing.

Bukan karena rumah itu berubah, melainkan karena tubuhnya kini memiliki ritme sendiri. Ia baru saja menuruni dua anak tangga ketika rasa mual itu datang tanpa aba-aba—cepat, memutar, dan memaksa.

Rivena menutup mulut, berbalik tergesa ke dapur.

Gevano yang sedang menuang kopi hanya sempat berkata, “Ri—”

sebelum suara muntah terdengar jelas.

Ia menepok jidatnya sendiri. “Oke. Kita mulai lagi.”

Beberapa menit kemudian, Rivena duduk di kursi dapur dengan wajah pucat, segelas air di tangan. Rambutnya terurai berantakan, tanpa riasan, tanpa aura strategis yang biasa melekat padanya.

“Aku benci bau kopi,” katanya lirih.

Gevano menatap cangkirnya, lalu dengan ekspresi pasrah, menuangkannya ke wastafel. “Catat. Bau kopi. Dilarang.”

Dari pintu dapur, Varrendra menyaksikan semuanya dengan alis berkerut. Ini versi ibunya yang tidak pernah ia lihat—rapuh, kesal, dan jujur tanpa topeng.

“Ma… mau makan apa?” tanyanya.

Rivena mengernyit, berpikir. “Aku ingin… mangga muda. Tapi jangan terlalu asam. Dan—” ia berhenti, wajahnya berubah. “Tidak. Aku mau sup. Tapi jangan ada bawang.”

Gevano dan Varrendra saling pandang.

“Lima menit lalu kau bilang ingin mangga,” ujar Gevano.

“Sekarang aku tidak mau,” jawab Rivena cepat.

Varrendra menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Baik. Sup tanpa bawang. Aku yang masak.”

Gevano menepok jidatnya lagi. “Ini baru jam tujuh pagi.”

Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama serupa.

Mual datang pagi dan sore. Ngidam muncul dan berubah sebelum sempat dipenuhi. Rivena bisa menangis hanya karena aroma sabun yang salah, lalu tertawa kecil karena Varrendra salah memotong wortel.

Dan di sela semua itu, ada kebahagiaan kecil yang canggung—yang tidak direncanakan, tapi nyata.

                 🐺🐺🐺

Di sekolah, dinamika mulai bergeser.

Nadira duduk dua bangku dari Varrendra. Rambutnya rapi, senyumnya lembut, sikapnya terlalu tenang untuk murid baru. Ia tidak memaksakan kehadiran, tapi selalu ada—memberikan catatan, bertanya pelan, tertawa secukupnya.

“Terima kasih,” kata Varrendra saat Nadira menyerahkan buku yang tertinggal.

“Sama-sama,” jawabnya. “Kau sering lupa.”

Nada itu ringan. Terlalu akrab untuk seseorang yang baru dikenal.

Dari kejauhan, Selvina memperhatikan—tanpa bereaksi. Wajahnya tetap tenang, tapi Raisa yang berdiri di sampingnya merasakan ada sesuatu yang mengganjal.

“Kau kenal dia?” tanya Raisa pelan.

Selvina menggeleng. “Tidak.”

Namun Raisa sudah mulai curiga.

Ia mengenal wajah itu.

Dan rasa tidak nyaman itu semakin kuat ketika ia melihat Nadira berdiri sendirian di lorong, berbicara di telepon dengan suara tertahan.

“Papa bilang jangan terlalu menonjol,” kata Nadira lirih. “Aku cuma ingin sekolah dengan tenang.”

Nama yang disebut di ujung kalimat itu membuat darah Raisa dingin.

Ia tahu suara itu.

Ia tahu pola bicara itu.

                🐺🐺🐺

Malamnya, Raisa tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kamar, membuka kembali potongan ingatan lama—kunjungan singkat ke rumah besar, seorang pria yang terlalu rapi, dan seorang anak perempuan yang tidak pernah diperkenalkan secara resmi.

Potongan itu menyatu dengan menyakitkan.

Anak lain dari ayahnya Selvina.

Raisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ini gila,” bisiknya. “Ini terlalu kejam.”

                🐺🐺🐺

Di rumah, Rivena berdiri di depan kulkas, menatap isinya dengan tatapan kosong.

“Aku ingin… sesuatu,” katanya.

“Apa?” tanya Gevano sabar.

“Aku tidak tahu,” jawab Rivena, hampir menangis.

Varrendra menyodorkan roti tawar. Rivena menciumnya, lalu menggeleng keras. “Tidak. Bau roti membuatku mual.”

Ia berbalik, membuka laci lain, lalu berhenti. Tangannya gemetar.

“Aku capek,” katanya lirih. “Aku capek dengan tubuhku sendiri.”

Gevano mendekat, memeluknya pelan. Tidak ada nasihat. Tidak ada solusi.

Hanya ada diam yang aman.

Varrendra memalingkan wajah. Dadanya sesak oleh perasaan yang tidak ia beri nama—takut, sayang, dan tanggung jawab yang tumbuh tanpa izin.

Di kamarnya malam itu, ponselnya bergetar.

Pesan dari Nadira:

𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢.

Varrendra membalas singkat. 𝐒𝐚𝐦𝐚-𝐬𝐚𝐦𝐚.

Ia menatap layar lebih lama dari seharusnya. Bukan karena tertarik—melainkan karena ada perasaan aneh, seperti seseorang mendekat membawa cerita yang belum siap ia dengar.

                🐺🐺🐺

Keesokan harinya, Raisa menemui Selvina.

“Aku perlu bicara,” katanya. “Tentang Nadira.”

Selvina menatapnya. “Ada apa?”

Raisa menarik napas panjang. “Dia… kemungkinan besar anak dari ayahmu.”

Sunyi.

Wajah Selvina tidak berubah. Terlalu tenang. Terlalu terkendali.

“Aku tahu,” katanya pelan.

Raisa terkejut. “Sejak kapan?”

“Sejak lama,” jawab Selvina. “Aku hanya memilih tidak melihatnya.”

Raisa menggenggam tangannya sendiri. “Dia mulai mendekati Varrendra.”

Selvina mengangguk. “Biarkan.”

“Biarkan?” suara Raisa meninggi.

“Untuk sekarang,” kata Selvina. “Kita tidak mengendalikan segalanya.”

Raisa menatapnya, merasa kehilangan sesuatu yang dulu ia kenal.

               🐺🐺🐺

Di dapur rumah Rivena, dengan panci sup yang hampir gosong, Gevano yang kembali menepok jidat, dan Rivena yang tertawa sambil menahan mual.

Di luar sana, rahasia bergerak pelan.

Mendekat tanpa suara.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!