NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat cinta dari bodyguard

Langkah kaki pelan terdengar di lorong lantai dua. Altair muncul membawa nampan kayu, di atasnya tersaji semangkuk sup hangat, roti, dan segelas air mineral.

Wajahnya tenang, tapi matanya tak luput menangkap satu pemandangan yang tak biasa.

Luciano duduk bersandar pada pintu kamar Alana. Jasnya terlipat rapi di samping, lengan kemejanya digulung sampai siku. Kepalanya sedikit menunduk, satu tangan memegang ponsel yang layarnya sudah lama mati.

Altair berhenti dua langkah dari sana.

“Tuan,” panggilnya pelan, menjaga nada agar tidak terdengar terlalu formal. “Anda belum makan sejak siang.”

Luciano tidak langsung menoleh. “Letakkan saja.”

Altair mendekat dan meletakkan nampan di lantai, lalu duduk berlutut di sampingnya, sikap yang jarang ia lakukan, kecuali saat tahu Luciano benar-benar tidak baik-baik saja.

“Dia masih menangis,” ucap Luciano tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik.

Altair terdiam sejenak. “Nyonya Alana?”

Luciano mengangguk. “Pelan. Ditahan. Seperti orang yang tidak mau terdengar lemah.”

Altair menunduk. “Dia kuat.”

“Justru itu,” sahut Luciano lirih. “Orang kuat kalau patah, suaranya paling sunyi.”

Altair mendorong nampan sedikit lebih dekat. “Makanlah, Tuan. Tubuh Anda tidak akan bertahan kalau terus seperti ini.”

Luciano tersenyum kecil tanpa humor. “Aku tidak lapar.”

“Anda tidak lapar karena Anda lupa,” Altair menatapnya lurus. “Bukan karena tidak butuh.”

Luciano akhirnya melirik makanan itu. Uap hangatnya naik perlahan. Ia mengambil sendok, tapi berhenti di udara.

“Aku melakukan ini karena aku mencintainya, Altair,” katanya pelan, seolah mencari pembenaran. “Kau tahu itu, kan?”

Altair menarik napas panjang. “Saya tahu, Tuan.”

“Tapi?”

“Tapi cinta yang terlalu erat bisa terasa seperti jerat bagi orang yang ingin bernapas.”

Luciano mengeraskan rahangnya. “Aku tidak bisa kehilangan dia.”

Altair menoleh ke pintu kamar. Dari balik kayu itu, terdengar isak yang nyaris tak terdengar.

“Mungkin,” kata Altair hati-hati, “yang Nona Alana butuhkan bukan tembok yang lebih tinggi, tapi kepastian bahwa tembok itu bisa dibuka dari dalam.”

Luciano menatap lurus ke depan. “Aku sudah membuka kandang kobra itu. Aku melepas keluarganya.”

“Dan itu berarti Anda bisa melepaskan lebih,” sahut Altair lembut. “Saat Anda siap.”

Luciano menyendok sup dan akhirnya makan. Satu sendok. Lalu satu lagi. Gerakannya pelan, seperti orang yang sedang memaksa tubuhnya hidup.

“Aku akan menjaga dia,” ucap Luciano tegas. “Bahkan kalau dia membenciku.”

Altair mengangguk. “Saya tahu, Tuan. Karena kalau tidak, Anda tidak akan duduk di sini sepanjang malam.”

Luciano menoleh ke pintu, menempelkan dahinya sebentar ke kayu dingin itu.

“Tidurlah, Alana,” bisiknya hampir tak terdengar. “Aku di sini.”

Altair bangkit perlahan, meninggalkan Luciano dengan makanannya dan obsesi yang kian terang, bukan lagi sekadar bayangan, tapi pengakuan yang hidup, bernapas, dan siap menghancurkan siapa pun yang mencoba mengambil Alana darinya.

***

Pagi datang pelan, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai yang tak sepenuhnya tertutup.

Luciano berdiri di depan pintu kamar Alana dengan nampan di tangannya. Semangkuk bubur hangat, segelas air, dan vitamin, ia menyiapkannya sendiri sejak subuh, setelah semalaman hampir tak bisa memejamkan mata.

Ia membuka kunci perlahan.

“Alana .…” panggilnya lembut sambil melangkah masuk.

Tak ada jawaban.

Luciano tersenyum kecil. “Apa kau masih marah?”

Namun langkahnya terhenti mendadak. Alana tidak berada di ranjang. Napas Luciano tercekat.

Matanya menyapu ruangan dengan cepat, ranjang rapi, sofa kosong, lalu jatuh pada satu sosok di lantai, meringkuk di dekat jendela.

 Rambut Alana berantakan, pipinya pucat, dan tubuhnya hanya beralaskan lantai marmer yang dingin.

“Alana!” suara Luciano meninggi, panik.

Nampan terjatuh begitu saja ke lantai. Ia berlutut cepat, meraih tubuh Alana yang dingin di bagian tangan, namun saat menyentuh keningnya, Luciano membeku.

Panas. Terlalu panas.

“Tidak… tidak, tidak,” gumamnya kacau.

Luciano segera mengangkat tubuh Alana ke dalam pelukannya. Tubuh itu ringan, terlalu ringan membuat dada Luciano terasa diremas kuat. Ia membaringkan Alana di ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya dengan tangan gemetar.

“Kenapa kau tidur di lantai… bodoh,” bisiknya parau. “Apa kau begitu marah padaku, sehingga menyakiti dirimu sendiri?”

Alana mengerang pelan, keningnya berkerut, bibirnya kering.

Luciano menempelkan punggung tangannya ke kening Alana sekali lagi. Panasnya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Altair!” teriaknya keras, suaranya menggema di lorong. “Panggil dokter sekarang! SEKARANG!”

Tak sampai semenit, langkah kaki tergesa terdengar.

“Tuan—”

“Selimut tambahan! Air hangat! Dan hubungi dokter pribadi, bilang ini darurat!” Luciano menatap Altair dengan mata merah. “Kalau terjadi apa-apa padanya—”

Altair tidak menunggu kalimat itu selesai.

Luciano duduk di sisi ranjang, meraih tangan Alana erat-erat. Tangannya besar, hangat, kontras dengan tangan Alana yang dingin di ujung-ujungnya.

“Ini salahku…” bisiknya, suara pecah. “Aku yang mengurung mu. Aku yang membuatmu tidur di lantai.”

Ia mengusap pipi Alana pelan, sangat pelan, seolah takut menyakitinya. “Kau boleh membenciku… teriak padaku… kabur dariku…” suaranya bergetar, “tapi jangan sakit begini. Jangan membuatku takut seperti ini.”

Alana bergumam pelan, tak sadar. “Dingin…”

Luciano langsung menarik selimut lebih rapat, lalu melepas jam tangannya dan naik ke ranjang, memeluk Alana dari samping, menyalurkan hangat tubuhnya tanpa ragu.

“Maafkan aku,” bisiknya berulang-ulang. “Maaf… maaf…”

Dokter datang tak lama kemudian. Pemeriksaan berlangsung cepat namun menegangkan.

“Demam cukup tinggi,” ujar dokter akhirnya. “Kemungkinan masuk angin berat dan kelelahan. Ia butuh istirahat, cairan, dan pengawasan ketat.”

Luciano mengangguk tanpa berkata apa pun. Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Alana.

“Kalau terlambat sedikit saja,” lanjut dokter, “bisa berbahaya.”

Kalimat itu menghantam Luciano lebih keras dari peluru.

Setelah semua orang keluar, Luciano duduk sendirian di sisi ranjang. Ia menggenggam tangan Alana, menempelkan keningnya ke punggung tangan itu.

“Mulai hari ini,” ucapnya pelan namun penuh tekad, “tidak ada lagi lantai dingin. Tidak ada lagi pintu terkunci.”

Ia menatap wajah Alana yang tertidur lemah.

“Kalau kau ingin melawan, lawan lah aku saat kau sehat,” bisiknya lembut namun penuh obsesi.

“Tapi selama kau di bawah atapku… aku akan memastikan dunia tidak berani menyentuhmu. Bahkan kalau aku harus melukai diriku sendiri karena itu.”

Di pagi yang sunyi itu, obsesi Luciano berubah wujud, bukan berkurang, melainkan semakin dalam, dibalut rasa bersalah, ketakutan dan cinta yang kini tak lagi ia sembunyikan.

Alana terbangun dalam keadaan setengah sadar.

Yang pertama ia rasakan adalah hanga, bukan hangat yang biasa. Ini hangat yang membungkus, menahan, seperti seseorang yang takut melepaskan.

Kelopak matanya bergerak pelan. Pandangannya buram, kepalanya berat, tenggorokannya kering. Ia mengerang kecil.

“Alana…”

Suara itu langsung membuat tubuhnya menegang.

Luciano.

Ia duduk di sisi ranjang, kemejanya kusut, rambutnya tak serapi biasanya. Lingkar hitam samar tampak di bawah matanya, tanda jelas ia tidak tidur semalaman. Tangannya menggenggam tangan Alana erat, seolah kalau dilepas satu detik saja, Alana akan menghilang.

“Kau sadar,” ucapnya cepat, nada suaranya pecah antara lega dan panik. “Syukurlah…”

Alana mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Luciano menguat dan refleks.

“Jangan,” katanya spontan. Lalu, lebih pelan, “tolong… jangan pergi.”

Alana menatapnya. Lama. Pandangan itu lemah, tapi cukup tajam untuk menusuk.

“Kau mengunciku,” suara Alana serak. “Dan sekarang kau takut kehilanganku?”

Luciano terdiam.

Ia mengangkat tangan satunya, ragu-ragu, lalu menyentuh kening Alana dengan punggung jari. “Kau demam semalaman,” katanya lirih. “Aku hampir kehilangan akal.”

“Hampir?” Alana tertawa kecil, pahit. “Menurutku kau sudah kehilangannya sejak lama.”

Luciano tidak membantah.

“Aku salah,” katanya akhirnya. Kalimat pendek. “Mengurungmu. Membiarkanmu sendirian. Aku kira… aku kira kau akan tidur di ranjang.”

“Aku tidak mau menyentuh apa pun yang terasa seperti milikmu,” jawab Alana jujur. “Termasuk ranjang ini.”

Kalimat itu seperti pisau bagi Luciano menunduk, rahangnya mengeras. “Aku akan memperbaikinya.”

“Kau tidak bisa memperbaiki dengan cara yang sama,” Alana menatap langit-langit. “Mengurungku lebih manis, tapi tetap mengurung.”

Luciano bangkit berdiri. Ia berjalan ke pintu dan melakukan sesuatu yang membuat Alana terdiam.

Ia membuka pintu kamar lebar-lebar.

“Tidak ada kunci,” katanya. “Tidak lagi.”

Alana menoleh cepat.

“Aku tetap memperketat penjagaan,” lanjut Luciano tegas. “Rumah ini. Halaman. Gerbang. Dunia di luar sana tetap berbahaya.”

“Dan aku?”

“Kau bebas berjalan di rumah ini,” katanya tanpa ragu. “Bebas bicara. Bebas marah. Tapi kau tetap di sini.”

Alana terdiam. “Itu masih penjara.”

Luciano menatapnya dalam-dalam. “Ini kompromi. Dan aku bukan orang yang pandai memberi kebebasan tanpa rasa takut.”

Ia mendekat lagi, tapi kali ini berjarak. Memberi ruang meski jelas tidak rela.

“Aku mencintaimu, Alana,” katanya terang-terangan, tanpa metafora. “Dengan cara yang rusak. Aku tahu itu.”

Alana memejamkan mata, air mata mengalir pelan ke pelipis. “Cintamu melelahkan.”

“Aku tahu.” Luciano berlutut di samping ranjang, lebih rendah darinya sekarang. Posisi yang jarang, hampir tak pernah. “Tapi aku tidak tahu cara berhenti.”

Alana membuka mata. Menatapnya.

“Kalau aku sembuh,” katanya pelan, “aku akan mencoba pergi lagi.”

Luciano tidak terkejut. “Dan aku akan mencoba menghentikanmu,” jawabnya jujur. “Bukan dengan kunci. Tapi dengan membuatmu memilih tinggal.”

Kejujuran itu justru membuat dada Alana sesak.

“Minumlah,” kata Luciano, meraih gelas air dan menyodorkannya. Tangannya gemetar halus tak tersembunyi lagi. “Untuk sekarang… sembuhlah dulu. Lawan aku nanti.”

Alana menerima gelas itu. Jari mereka bersentuhan sebentar.

Sentuhan singkat. Di luar kamar, penjagaan semakin rapat.

Di dalam kamar, jarak di antara dua hati justru semakin jelas. Bukan jarak fisik. Melainkan jarak antara cinta dan kebebasan.

Dan Luciano tahu satu hal dengan pasti. Jika suatu hari Alana benar-benar pergi, ia tidak akan mengejar dengan senjata, ia akan mengejar dengan seluruh dirinya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!