Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGOBATI JAKA
Vina bersiap untuk pergi ke rumah Jaka. Ia membawa bungkusan kecil yang berisi makanan. Tak ketinggalan juga salep ajaib yang diperolehnya dari sistem. Setelah semuanya siap, ia pun segera berangkat.
"Mau kemana PIn?" tanya Bi Narti yang rumahnya dekat dengan rumahnya. Jarak antar rumah paling sedikit dua puluh meter. Setiap rumah memiliki pekarangan yang ditanami berbagai sayuran.
"Mau menyambangi anak-anak," jawab Vina sambil menghentikan langkahnya. Ia menatap wanita paruh baya itu dengan tersenyum lembut.
"Sampai kapan Kamu tinggal disini?" senyum Vina langsung luntur mendengarnya.
"Memangnya kenapa kalau Aku tetap tinggal bersama Kakek?"
"'Maaf...bukannya Bibi berniat ikut campur," ucap bi Narti tak enak hati. Apalagi melihat ekspresi Vina yang sudah tidak menyenangkan. Jika Ia berbicara panjang lebar lagi takutnya Vina akan marah padanya.
"Tidak masalah. Kalau begitu Saya pergi dulu ya Bi."
Tanpa menunggu jawaban bi Narti , Vina melanjutkan langkahnya. Ditengah perjalanan Vina memikirkan ucapan Bi Narti dengan sungguh-sungguh.
Ia memang tidak bisa hidup seperti ini. Ia harus meminta kepastian tentang hubungannya. Apa pernikahan itu masih bisa dilanjutkan atau memang harus di putuskan. Statusnya tidak boleh menggantung seperti saat ini.
Vina pun berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai di rumah Jaka. Sesampainya disana semua anggota keluarga sedang berkumpul.
"Permisi, " sapa Vina dengan agak canggung. Semua menoleh kearahnya. Bian yang melihat kehadirannya langsung berjalan ke arahnya.
"Tante! " panggil Bian dengan ruang. Vina membawa Bian kedalam gendongannya.
"Sudah baikan? " tanyanya dengan lembut.
"Sedikit sakit, " jawabnya.
"Tante bawa obat. Nanti kita obati ya? "
Bian menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kemudian bersandar dalam pelukan Vina.
Vina membawa Bian masuk ke dalam. Ia memberikan bungkusan yang tadi ia bawa kepada Ibu Jaka.
"Sedikit oleh-oleh buat si kembar, " ucapnya.
"Terima kasih."
Dewi yang sedari tadi diam sebenarnya sudah tidak sabar untuk mengomel. Namun melihat Bian bersikap manja pada Vina, Ia mengurungkan niatnya. Kemudian ia mengingat ucapan ibunya tentang perubahan Vina. Semoga saja apa yang diucapkan ibunya memang benar. Kalau tidak....
"Sama-sama."
"Kamu dari pasar? "
"Benar. Beberapa hari ini saya membuat ting-ting jahe cukup banyak. Jadi saya menjualnya. Lumayan uangnya bisa dipakai buat belanja. "
"Baguslah kalau begitu. Ting-ting jahe buatan Kamu memang enak. Sayang kalau tidak dijual."
Ting-ting jahe yang ia berikan pada Jaka memang tidak hanya di makan oleh Jaka dan si kembar. Tepi kedua orang tua dan adiknya juga ikut mencicipi.
"Sebenarnya saya kesini untuk mengoleskan obat pada si kembar."
"Obat apa? "
"Namanya salep ajaib. Bisa menyembuhkan segala luka, " jawab Vina dengan antusias.
"Kamu bercanda kan? mana ada salep ajaib, " keluh Dewi dengan nada sindiran.
"Siapa juga yang bercanda. Sepulangnya dari pasar tadi Saya membantu orang yang sedang kesusahan. Sebagai hadiahnya beliau memberikan salep ini ."
Vina menunjukkan salep ajaib miliknya. Yang lain menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Kamu yakin salep inj salep ajaib? "
"Bagaimana kalau Kita uji coba dulu? "
"Uji coba pada siapa? "
"Terserah"
"Apa salep ini tidak ada efek sampingnya? "
"Sebenarnya Aku sendiri juga belum tahu. Salep ini kan baru tadi Aku memilikinya. Jadi belum sempat uji coba."
".... "
"Bagaimana kalau Aku sendiri yang mencobanya?"
Tampa persetujuan, Vina menggigit tangannya sendiri sampai luka dan berdarah. Kemudian tangan yang terlukan ia oleskan sedikit salep. ajaib. Keajaiban pun terjadi.
Luka tadi tadi perlahan menutup dengan sendirinya. Tentu saja itu membuat mereka terkejut.
"Beneran bisa! "seru Dewi dengan antusias. Semoga saja luka di tubuh kakaknya bisa di sembuh kan. Ucapnya di dalam hati.
"Bolehkah Bang Jaka mencobanya? " pinta Dewi dengan tatapan penuh harap.
"Tentu saja, " jawab Vina dengan senang hati. Tujuannya memang mau memberikan salep itu pada Jaka. Karena mereka sudah setuju, Ia tidak perlu lagi memikirkan cara untuk membujuk Jaka agar mau diobati
"Kalau begitu tunggu apa lagi! " seru Ibu Jaka tak kalah antusiasnya dengan Dewi. Meski Pak Budi terlihat tenang, namun dalam lubuk hatinya ia juga menyimpan harapan yang besar. Begitupun dengan Jaka.
Vina mendekati Jaka. Tanpa sadar Jaka mengeratkan pegangan tangannya di selimut.
"Biar Aku sendiri yang mengolesnya, " katanya tanpa ekspresi. Sebenarnya dirinya sangat gugup. Sejak awal menikah Vina tidak pernah mau melayaninya, dikarenakan luka yang ada di tubuhnya. Bagaimana mungkin dia akan membiarkannya mengoleskan salep pada tubuhnya.
"Mana bisa begitu. Biar ibu saja kalau begitu, " kata Ibu Jaka menimpali. Beliau meminta salep itu pada Vina yang dengan senang hati Vani turuti. Bukan hanya Jaka saja yang gugup. Dirinya sampai gemetar karena gugup. Selama dirinya menjadi Viona, meski berkali-kali pacaran tetapi tidak banyak melakukan kontak fisik dengan pacarnya.
Setelah itu Vani menjelaskan tatacara pengolahannya. Semua menyimak dengan serius.
Kemudian Ibu Jaka mempraktekkan apa yang sudah Vina jelaskan.
Namun sebelum itu Ibu Jaka meminta Dewi dan Vina keluar sambil membawa si kembar.
Vina menggendong Bian karena dia sendiri yang memintanya. Sejak Vina menggendongnya pertama kali, Bian tidak lagi merasakan ketakutan. Apalagi setelah menggendongnya pulang pergi ke puskesmas, Bian merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan.
Andin yang juga ingin digendong tetapi tidak berani mengungkapkan, hanya bisa cemberut di gendongan Dewi.
Di dalam rumah, Ibu Jaka mulai mengoleskan salep di tubuh Jaka. Jaka merasakan sensasi dingin sekaligus nyeri yang tak tertahankan. Namun ia mencoba untuk menahannya agar tidak membuat kedua orang tuanya khawatir.
Luka yang ada ditubuh Jaka tidak hanya luka berat saja, tetapi ada yang luka ringan. Meski Ibu Jaka mengoleskan sedikit namun efeknya benar-benar luar biasa. Luka ringan yang dideritanya langsung sembuh. Ketiga orang yang ada di dalam langsung takjub melihatnya. Luka itu tidak hanya sembuh, namun bekas lukanya juga menghilang.
"Benar-benar ajaib! " seru Pak Budi tak bisa menahan kekagumannya.
"Untuk yang lain seperti yang dikatakan Vina, butuh dua kali lagi. Aku tidak menyangka diumur setua ini bisa melihat keajaiban seperti ini."
"Ibu juga, " kata Ibu Jaka dengan mata yang berkaca-kaca. Sekarang putranya memiliki harapan untuk sembuh.
"Menurut Ibu lebih baik pertimbangkan lagi keputusan mu untuk bercerai. Bukan karena salep ini, tetapi Ibu lihat Vina sudah mulai berubah. Anak-anak juga mulai menerimanya."
"Ayah juga berfikir seperti itu. Kalau memang masih bisa dipertahankan maka pertahankan. Tetapi Kami tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu. "
"Jaka akan pikirkan dengan baik."
"Baguslah kalau begitu. Kamu hanya ingin yang terbaik untukmu. Apapun keputusanmu Kami akan mendukung sepenuhnya. "
"Terimakasih Yah... Bu. "
"Semoga kedepannya kehidupanmu bertambah baik. "
"Amin."
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️