Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Happy Reading All...
Fajar mulai menyelinap melalui celah-celah jendela batu mausoleum.
Sinar matahari yang redup jatuh tepat di atas makam Grand Duke Alaric Anwealda.
Namun cahaya itu tidak mampu mengusir hawa dingin yang memenuhi ruangan.
Tidak seorang pun berbicara.
Tatapan seluruh ksatria tertuju kepada buku kecil yang masih berada di tangan Agerald.
Rivalt menarik napas panjang.
"Yang Mulia..."
"Kalau tempat ini benar-benar mulai berubah..."
"...mungkin kita tidak punya banyak waktu."
Agerald tetap diam.
Pandangannya masih tertuju pada sampul hitam itu.
Kalimat yang tertulis di sana terus berputar di kepalanya.
Jangan dibaca sebelum mereka kembali.
Siapa mereka?
Dan...
mengapa justru dirinya yang menemukan buku ini?
Perlahan...
ia membuka sampul pertama.
Debu tipis beterbangan.
Aroma kertas tua yang telah berusia ratusan tahun memenuhi udara.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua juga.
Begitu pula halaman ketiga.
Rivalt mengerutkan kening.
"Kosong?"
Agerald membalik halaman berikutnya.
Masih kosong.
Beberapa ksatria mulai saling berpandangan.
"Apakah tintanya telah hilang dimakan usia?"
gumam salah seorang.
Namun Agerald menggeleng.
"Tidak."
"Kertas ini sengaja dibuat kosong."
Ia kembali membalik halaman.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hingga tepat di halaman ketujuh...
muncul sebuah kalimat.
Bukan ditulis dengan tinta hitam.
Melainkan tinta keperakan yang hanya terlihat ketika terkena cahaya matahari.
Seluruh orang langsung mendekat.
Kalimat itu berbunyi—
\> "Apabila engkau dapat membaca tulisan ini... maka ramalanku benar."
Keheningan memenuhi ruangan.
Rivalt membaca ulang perlahan.
"...ramalan?"
Agerald tidak menjawab.
Ia melanjutkan membaca.
\---
\> "Aku adalah Alaric Anwealda."
\> "Apabila engkau menemukan buku ini, berarti ikatan pertama telah retak."
\> "Dan apabila ikatan pertama telah retak..."
\> "...maka mereka telah mulai bergerak kembali."
Napas Rivalt tertahan.
"Mereka lagi..."
Halaman berikutnya dibalik.
Tulisan berikutnya jauh lebih panjang.
\---
\> "Aku tidak mengetahui siapa yang akan membaca catatan ini."
\> "Mungkin putraku."
\> "Mungkin cucuku."
\> "Atau mungkin seseorang yang hidup ratusan tahun setelah aku mati."
\> "Namun siapa pun dirimu..."
\> "Ketahuilah bahwa keluargamu telah berperang melawan mereka jauh sebelum Kekaisaran ini berdiri."
Empat ksatria saling berpandangan.
Tidak seorang pun berani menyela.
Agerald melanjutkan membaca.
Semakin jauh...
wajahnya semakin serius.
\---
\> "Musuh kita bukanlah kerajaan lain."
\> "Bukan pula pemberontak."
\> "Melainkan sekelompok manusia yang ingin mengubah alur kehidupan itu sendiri."
\> "Mereka menyebut dirinya..."
Tulisan itu berhenti.
Terpotong.
Seolah seseorang sengaja merobek bagian bawah halaman.
Rivalt membelalak.
"Robek?"
Agerald membalik halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman setelahnya...
baru kembali berisi tulisan.
Namun kalimat pertama membuat seluruh tubuhnya membeku.
\---
\> "Apabila Kianara telah berubah..."
Agerald mendadak menghentikan napasnya.
Tangannya mengepal.
Rivalt juga membeku.
"Kianara?"
bisiknya lirih.
"Itu..."
"Itu nama Grand Duchess."
Bagaimana mungkin?
Catatan ini ditulis hampir tiga ratus tahun lalu.
Mustahil Alaric mengetahui nama seseorang yang bahkan belum lahir.
Namun tulisan itu terus berlanjut.
\---
\> "...maka itu berarti jiwa yang seharusnya tertidur telah berhasil melawan mereka."
\> "Lindungilah dia."
\> "Apa pun yang terjadi..."
\> "Jangan biarkan ia mati sebelum membuka Gerbang Kedua."
Agerald merasakan jantungnya berdetak begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri.
Kianara.
Nama itu tertulis dengan sangat jelas.
Bukan kebetulan.
Bukan nama yang mirip.
Melainkan benar-benar...
Kianara.
Rivalt perlahan mundur satu langkah.
"Yang Mulia..."
"Saya..."
"...saya rasa kita tidak sedang membaca ramalan."
Agerald perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya jatuh ke arah makam Grand Duke Alaric.
Wajah batu itu tetap tenang.
Tetap diam.
Namun entah mengapa...
untuk sesaat...
ia merasa patung itu sedang menatapnya.
Seolah seorang leluhur yang telah menunggu sangat lama...
akhirnya berhasil menyampaikan pesannya.
Dan di saat yang bersamaan...
jauh di suatu tempat...
di bawah reruntuhan gereja tua...
lingkaran sihir hitam yang retak semalam...
kembali memancarkan cahaya.
Seorang pria berjubah sederhana membuka matanya perlahan.
Sudut bibirnya terangkat.
"Mereka telah menemukan buku itu."
Ia berdiri.
Lalu menatap sebuah cermin hitam yang memperlihatkan bayangan samar mausoleum keluarga Anwealda.
"Terlambat, Alaric."
"Permainan ini..."
"...akan segera dimulai."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...