Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Suasana ruangan Poliklinik 3 seketika menjadi sangat mencekam. Dua petugas keamanan di samping Baskoro saling pandang dengan bingung, lalu menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Dokter Baskoro? Anda kenal pria ini?" tanya salah satu satpam bertubuh kekar.
Baskoro mengusap keringat dingin yang mendadak membasahi dahinya. Ia berusaha keras menguasai diri. "Tidak mungkin," batin Baskoro panik. "Orang yang bangun dari kamar mayat semalam itu pakai kain kafan dan wajahnya pucat! Pria di depanku ini kelihatan sangat sehat dan rapi... Tapi matanya... tatapannya sama persis!"
"Ka-kamu... Siapa kamu sebenarnya?!" bentak Baskoro, menyembunyikan getar ketakutan di suaranya. "Kenapa kamu ada di ruangan ini?!"
Arka menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. Ia melangkah satu tapak ke depan, menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Saya cuma pasien biasa yang sedang berobat, Dok," jawab Arka santai. "Tapi aneh ya... kenapa Dokter Baskoro kelihatan kaget sekali melihat saya? Seperti melihat orang mati yang bangun lagi saja."
Wajah Baskoro kian memerah akibat kombinasi antara panik dan malu. "Jangan berbelit-belit! Hendra! Kenapa ruanganmu berantakan begini?! Dan bau apa ini?!"
Mata Baskoro menyipit tajam begitu menangkap cangkir kopi yang posisinya bergeser dan tempat sampah yang terisi muntahan.
Sudut matanya bergetar hebat. Ia sadar ada yang tidak beres dengan rencana pembungkamannya.
"Dokter Baskoro..." kata dr. Hendra seraya berdiri perlahan dari kursinya.
Walaupun tubuhnya masih agak lemas, tatapan matanya kini dipenuhi keberanian. "Kopi yang Anda suruh perawat bawakan untuk saya tadi pagi... sudah saya amankan."
"Apa maksudmu?!" seru Baskoro menaikkan nada suaranya. "Aku cuma berniat baik memberikanmu kopi!"
"Niat baik atau niat meracuni saya agar rencana manipulasi rekam medis pasien VIP tidak terbongkar?!" tembak Hendra langsung, membuat kedua satpam di ruangan itu melotot kaget.
"Bicara apa kamu?! Kamu sudah gila, Hendra! Efek kelelahan membuatmu hallucinated!" bentak Baskoro panik. Ia memberi isyarat pada kedua petugas keamanan. "Tangkap orang asing ini! Dia menyusup dan mempengaruhi pikiran Dokter Hendra!"
Kedua satpam itu maju mendekati Arka. "Mas, ikut kami ke ruang keamanan sekarang secara baik-baik."
Arka tidak bergeming. Penglihatan medis dan keahlian Sentuhan Pemurni Saraf yang baru diperolehnya membuat refleks tubuhnya berada di tingkat yang jauh berbeda.
[Analisis Saraf Target - Satpam 1 & 2]
Titik Lemah: Ketiak kiri dan Lipatan Siku.
Efek Tekanan: Lumpuh Lengan Sesaat (10 Detik).
Ketika satpam pertama mengulurkan tangan kekarnya untuk memegang bahu Arka, Arka bergerak secepat kilat.
Dengan mengandalkan keahlian barunya, Arka memutar pergelangan tangan satpam itu lalu menotok lembut titik saraf di lipatan sikunya.
Puk!
"Agh!" Satpam pertama itu mendesah kaget. Lengan besarnya mendadak mati rasa dan terkulai lemas di samping tubuhnya seperti ranting kering.
Satpam kedua yang kaget membelalakkan mata dan mencoba menyerang, namun Arka hanya menggeser badannya sedikit, lalu menepuk ringan titik saraf di ketiak satpam tersebut.
Puk!
"Ugh... tangan saya... tidak bisa digerakkan!" seru satpam kedua panik sambil memegangi lengannya yang melorot tak berdaya.
Dokter Baskoro mundur dua langkah hingga punggungnya membentur pintu ruangan. Matanya membelalak tak percaya menyaksikan dua satpam berbadan tegap dilumpuhkan hanya dengan sentuhan jari dalam hitungan detik.
[Ting!]
[Penggunaan Keahlian 'Sentuhan Pemurni Saraf' Berhasil!]
Arka melangkah mendekati Baskoro yang gemetar hebat. Ia merapikan kerah baju Dokter Senior itu dengan gerakan sangat lembut, namun tekanan energinya membuat Baskoro tak sanggup bergerak.
"Dokter Baskoro," bisik Arka tepat di samping telinga dokter tua itu. "Pengetahuan medis itu diberikan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa... bukan untuk memalsukan kematian orang lain, apalagi membunuh rekan sejawat."
"Ka-kamu... setan apa kamu..." bisik Baskoro dengan bibir yang terus bergoyang.
"Saya? Saya cuma 'pengingat' dari masa lalu," balas Arka dingin.
Arka berpaling ke arah dr. Hendra. "Dokter Hendra, ambil cangkir kopi itu. Bawa sampel muntahanmu ke laboratorium luar sekarang juga. Polisi akan sangat tertarik dengan bukti ini."
"Baik, Arka!" tegas Hendra. Dengan cepat ia membungkus cangkir kopi dan barang bukti ke dalam kantong spesimen steril.
Arka lalu menepuk bahu Baskoro sekali lagi. "Nikmati sisa hari-harimu sebagai dokter, Baskoro. Karena sebentar lagi, kamu cuma akan jadi penghuni sel tahanan."
Tanpa membuang waktu, Arka melangkah keluar dari ruangan Poliklinik 3, meninggalkan Baskoro yang terduduk lemas di lantai bersama dua satpam yang masih kebingungan dengan lengan mereka yang lumpuh sementara.
Arka menyusuri koridor rumah sakit dengan senyum tipis di bibirnya. Hari masih pagi, namun ada nyawa dan kebenaran berhasil ia selamatkan.